Arsip

Archive for the ‘Tesis’ Category

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN An. “Y” DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI DBD DIRUANG PERAWATAN ANAK LONTARA IV BAWAH RS. Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak merupakan individu yang berbeda dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0 – 1 tahun), usia bermain/ toddler (1 – 2,5 tahun), pra sekolah (2,5 – 5 tahun), usia sekolah (5 – 11 tahun), hingga remaja (11 – 18 tahun). Rentang ini berbeda antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial (Alimul Aziz, 2008).

Demam berdarah dengue paling sering menyerang anak yang berusia kurang dari 15 tahun, walaupun juga menyerang orang dewasa. DHF ditandai dengan munculnya awitan akut demam yang disertai dengan tanda dan gejala yang tidak spesifik (Widyastuti Palupi, 2004).

Kejadian luar biasa (KLB) penyakit dengue serupa dengan DHF yang dicatat pertama kali terjadi di Australia tahun 1897. Penyakit perdarahan serupa juga berhasil dicatat pada tahun 1928 saat terjadi epidemi di Yunani dan kemudian di Taiwan tahun 1931. Epedemi DHF pertama yang berhasil dipastikan dicatat di Filipina antara tahun 1953 – 1954. Selanjutnya, KLB besar DHF yang mengakibatkan banyak kematian terjadi disebagian besar negara Asia Tenggara, termasuk India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Srilanka, dan Thailand juga di Singapura, Kamboja, China, Laos, Malaysia, Filipina, dan Vietnam di wilayah pasifik barat. Selama 20 tahun terakhir, terjadi peningkatan yang tajam pada insidensi dan penyebaran DHF secara geografis, dan beberapa negara Asia Tenggara (Widyastuti Palupi, 2004) .

Menurut data Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pada awal 2007 ini saja jumlah penderita DBD telah mencapai 16.803 orang dan 267 orang di antaranya meninggal dunia (Guide Survival, 2008).

Di Sulawesi Selatan pada tahun 2003, jumlah kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada 26 kabupaten/ kota sebanyak 2.636 penderita dengan kematian 39 orang (1,48%). Pada tahun 2004 sebanyak 2.598 penderita dengan kematian 19 oarang (0,7%), untuk tahun 2005 tercatat jumlah penderita DBD sebanyak 2.975 dengan kematian 57 orang (1,92%). Tahun 2006 sebanyak 2.426 penderita (22,6%) dengan angka kematian 0,7%. Pada tahun 2007 kasus DBD meningkat dengan jumlah kasus sebanyak 5.333 kasus (http://dinkes-sulsel.go.id).

Di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar data mengenai DBD pada 7 bulan terakhir (Januari – Juli) 2010 sebanyak 84 orang. Dimana pada anak laki-laki mencapai 47 kasus (56%), anak perempuan mencapai 37 kasus (44%). Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah yang disebabkan oleh virus dengue. Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan keturunan (herediter).

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul, “Asuhan Keperawatan Pada An. “Y” dengan Gangguan Sistem Hematologi DBD di Ruang Perawatan Anak Lontara IV Bawah Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan program Diploma III Keperawatan.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI XVI

Kategori:Tesis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN An. ”H” DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE DI RUANG PERAWATAN ANAK LONTARA IV BAWAH RS.Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
P E N D A H U L U A N

A. Latar Belakang
Anak merupakan masa depan bangsa dan Negara (Dunia) yang berhak atas pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan spesifikasinya pada tahap usianya. Anak bukan miniatur orang dewasa, harta dan kekayaan orang tua yang nilainya dihitung secara ekonomi, tetapi anak adalah makhluk yang unik, bio, psikososial, kultural, spiritual anak. Dalam proses perkembangan 0-18 tahun mempunyai ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan perilaku sosial. Dimana anak merupakan unit keluarga dalam suatu kultur dan masyarakat.(A.Aziz Alimul Hidayat, 2005).
Filosofi keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada keluarga. Perawat professional harus mampu memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif dengan penuh kreativitas dan senantiasa dilandasi rasa tulus dan ikhlas dengan tujuan untuk menjamin mutu perawatan dan juga meningkatkan standarisasi keperawatan.
Konsep keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan yang bersifat profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia (biologis, psikologis, sosial dan spritual). Lingkungan yang tidak bersih, tempat-tempat gelap atau semak-semak dan kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari merupakan tempat bersarangnya vector penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
Keperawatan anak merupakan hubungan antara perawat dengan anak, perawat dengan keluarga, perawat tidak semata-mata merawat anak selama sakit, tetapi bertanggung jawab secara keseluruhan yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan anak lainnya agar berfungsi lebih efektif dalam merawat anak, perawat mempunyai professional untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkwalitas penerapan asuhan keperawatan anak. Perawat perlu melaksanakan aplikasi ilmu yang komprehensif yaitu bio, psikososial, dan spiritual. Dalam perkembangan kesehatan tidak lepas dari masalah masyarakat dan lingkungan, seperti kasus Demam Berdarah Dengue yang mana disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypt.(Supartini yupi, 2004).
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan masalah serius pada anak karena banyak insiden angka kesakitan disamping kurang pengetahuan masyarakat tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
Dari 32 provinsi yang ada, terdapat 8 provinsi yang melapor pada bulan juni, 10 provinsi yang melapor bulan juli dan 12 provinsi melapor bulan agustus menemukan kasus (suspek + DBD + DBD syok). Total kasus ( Suspek + DBD + DBD Syok) sebanyak dari provinsi yang melapor tersebut ditemukan penambahan jumlah kasus yang tertinggi pada bulan agustus yaitu pada provinsi DKI Jakarta dari 420 kasus bulan juli menjadi 1092 kasus bulan agustus (160%) kemudian disusul provinsi Sulawesi Utara dari 8 kasus bulan juli menjadi 15 kasus, bulan agustus 88%.(Depkes RI,2005).

Di Asia tenggara diperkirakan setiap tahun terdapat sekitar 50-100 juta kasus demam dengue (DD) dan tidak kurang dari 500.000. kasus DBD atau demam berdarah memerlukan perawatan di rumah sakit. Dalam kurun waktu 10-25 tahun ini, DBD merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak di asia tenggara.(WHO).
Jumlah kasus DBD di indonesia dari waktu ke waktu terus bertambah, tetapi jumlah korban jiwa akibat serangan penyakit berbahaya ini cenderung menurun dengan terus bertambahnya penderita DBD. Prevalensi penyakit ini pada tahun 2007 tercatat 71 orang per 100.000, sedangkan jumlah korban meninggal dunia mencapai 1,010% per 100 penderita.
Kabupaten/Kota di provinsi Sulawesi Selatan yang melaporkan DBD periode Januari-Desember sebanyak 23 kasus. Jumlah penderita sebanyak 239 penderita, pada tahun 2006 mengalami penurunan sekitar 71,25%, jumlah penderita turun sebesar 58,65% dan angka kematian mengalami penurunan sekitar 55,56%. (www.google.com).
Data mengenai DBD pada 6 bulan terakhir (Januari-Juli) 2009 Di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar sebanyak 236 orang

Selengkapnya klik disini

Kategori:Tesis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN An.”A” DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI LEUKEMIA DI RUANGPERAWATAN ANAK LONTARA IV ATAS RS.Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi(0-1 tahun), usia bermain/todler(1-2,5tahun), pra sekolah(2,5-5tahun), usia sekolah(5-11 tahun), hingga remaja(11-18 tahun). Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Da am proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola koping dan prilaku. (A. Aziz alimul hidayat, 2005).

Dalam keperawatan anak, yang menjadi individu (klien) dalam hal ini adalah, anak diartikan sebagai seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun dalam masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Demikian juga halnya perkembangan kognitif yang cepat dan ada kalanya perkembanagan kognitif yang lambat. Hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh latar belakang anak. Perkembangan konsep diri ini sudah ada sejak bayi, akan tetapi belum terbentuk secara sempurna dan akan mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan usia pada anak.
Untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal maka keperawatan adalah salah satu komponen pembangunan di bidang kesehatan yang perlu dilaksanakan karena pelayanan keperawatan yang diberikan kepada manusia secara utuh meliputi, bio, psiko, sosial, dan spirit.
Ciri fisik adalah semua anak mungkin pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan system imun yang berbeda. Pada anak sangat rentang terkena penyakit salah satunya leukemia.

Leukemia adalah suatu penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel-sel hemapoetik, penyebabnya hingga saat ini belum diketahui secara pasti,tetapi bisa disebabkan oleh faktor gejala kliniknya yaitu pucat mendadak, panas dan perdarahan.
Menurut data Badan Kesehatan Dunia/WHO, jumlah total penderita penyakit leukemia di dunia mencapai sekitar 500-600 juta orang.Setiap angka kelahiran dari 1 juta jumlah penduduk di dunia akan terlahir 120 anak penderia kanker darah.bahkan jumlah penderia di indonesia 30-50 %. (The International Confedaration Of Chilboard Cancer Farent Organization tgl 25 juli 2010).

Di Sulawesi Selatan khususnya di rumah sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, berdasarkan data yang didapatkan dari catatan medical record jumlah pasien leukemia dari enam bulan terakhir ini tercatat laki-laki sebanyak 84 pasien dan perempuan sebanyak 63 pasien maka jumlah penderita penyakit leukemia di sulawesi selatan khususnya di RS. DR. Wahidin sudirohuso

Berdasarkan latar belakang diatas penulis menyusun karya tulis ilmia dengan judul “ Asuhan Keperawatan Klien An. “A” Dengan Gangguan System Hematologi : Lukemia di Ruang Perawatan Ankan Lontara 4 Lantai 2 RS. DR. Wahidin sudirohusodo Makassar.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI XIV

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN BY. “A” DENGAN LEUKEMIA DI RUANG PERAWATAN ANAK LONTARA IV ATAS PERJAN RS. DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan berdasarkan visi pembangunan kesehatan dalam Indonesia sehat 2010 adalah mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki target kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia. (Depkes, 1999)
Untuk dapat mewujudkan visi Indonesia sehat 2010, ditetapkan empat misi pembangunan kesehatan meliputi menyelenggarakan pembangunan berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau serta memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya (Depkes, 1999).
Salah satu masalah kesehatan yang sering diderita oleh individu adalah gangguan sistem hematologi khususnya leukemia. Beberapa faktor yang ikut mempengaruhi terjadinya leukemia yaitu faktor sosial budaya, ekonomi, lingkungan fisik, dan biologis. Leukemia disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor exogen seperti: sinar radiasi, bahan kimia (bensol, arsen, preparat sulfat) dan faktor endogen seperti : ras, kelainan kromoson, dan hereditor dan terjadi pada golongan umur di bawah 15 tahun dengan puncaknya antara usia 2 dan 6 tahun karena defisiensi sistem imun. Penyakit ini perlu mendapat perhatian karena diturunkan dari kedua orang tua (carrier). Dan tingkat kematian sangat tinggi karena biaya yang tidak terjangkau oleh masyarakat negara berkembang khususnya Indonesia.
Insiden penyakit leukemia di Indonesia pada tahun 2004 menduduki peringkat tertinggi kanker pada anak. Namun, penanganan pada kanker darah pada anak di Indonesia masih lambat, itulah sebabnya lebih dari 60 % anak penderita kanker darah yang ditangani secara medis sudah memasuki stadium lanjut. Kanker darah atau leukemia banyak dijumpai pada anak-anak sekitar 25 – 30 % anak terkena leukemia dari total seluruh kanker anak. Angka tertinggi yang dilaporkan antara usia 3 – 6 tahun anak lelaki lebih banyak terkena leukemia dibandingkan perempuan. Kendati kanker pada anak cukup jarang, namun hingga kini penyebab kanker sendiri belum diketahui dengan pasti, namun penyakit ini bisa dilihat dari faktor resiko, seperti genetika atau keturunan dan lingkungan antara lain : infeksi virus, bahan kimia atau obat, radiasi, makanan dan sebagainya.
Keperawatan kanker adalah suatu area praktik yang mencakup semua kelompok usia dan spesialisasi keperawatan serta dilakukan dalam beragam tatanan perawatan pelayanan kesehatan, meliputi rumah, komunitas, institusi perawatan akut dan pusat-pusat rehabilitasi. Bidang atau spesialisasi keperawatan kanker, atau keperawatan onkologi, memiliki perkembangan yang sejajar dengan onkologi medis dan kemajuan terapeutik utama yang telah terjadi dalam perawatan individu dengan kanker (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
Menurut data bagian Medical Record Perjan RS. DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tahun 2003 (Januari – Desember) tercatat jumlah penderita leukemia sebanyak 88 orang dan pada tahun 2004 dari Januari sampai Nopember, jumlah penderita leukemia sebanyak 91 orang yang terdiri dari 79 orang laki-laki (86,81 %) sedangkan pasien perempuan sebanyak 12 13,18 %). Ini menunjukkan bahwa penderita leukemia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Berdasarkan hal tersebut di atas dan hasil penentuan kasus, maka penulis menyusun karya tulis dengan judul “Asuhan keperawatan pada klien By. “A” dengan Leukemia di Ruang Perawatan anak RS. Perjan RS. DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar”.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI XIII

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TN. “R” DENGAN TRAUMA TUMPUL ABDOMEN DI RUANG PERAWATAN LONTARA II BEDAH DIGESTIVE RS DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kecelakaan atau trauma yang terjadi pada abdomen, umumnya banyak diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada kecelakaan kendaraan bermotor, kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol merupakan kekuatan yang menyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul setir mobil atau benda tumpul lainnya

Trauma pada penduduk sipil masih tetap merupakan penyebab kematian pada seluruh kelompok umur. Terutama pada kelompok umur dibawah umur 45 tahun. Lebih dari seperdua pasien-pasien trauma merupakan akibat kecelakaan lalu lintas, selebihnya akibat terjatuh, luka tembak dan luka tusuk, keracunan, luka bakar, dan tenggelam. Trauma abdomen dan pelvis merupakan penyebab terbanyak kehilangan nyawa yang bersifat tragis, trauma abdomen yang tidak diketahui (luput) masih tetap menjadi momok sebagai penyebab kematian yang seharusnya bisa dicegah (preventable death). Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2000).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya mengungkapkan bahwa kecelakaan lalu lintas di Eropa menewaskan 350 orang per hari atau 127.000 setiap tahun dengan korban yang rata–rata mengalami trauma tumpul sebanyak 30,9 %. (dikutip dari Satrio Widianto, Pikiran Rakyat 25 Januari 2005). (Amrizal, 2009)

Data kepolisian RI menunjukkan, terdapat rata-rata 29 orang meninggal dunia setiap hari akibat kecelakaan di jalan raya. Sedangkan kecelakaan itu sendiri, per tahunnya rata-rata mencapai 14.604 kejadian dan yang mengalami cedera abdomen sebanyak 52,6 % dengan jumlah korban meninggal dunia 10.696 jiwa. Tingginya angka kecelakaan di jalan raya sesungguhnya bukan hanya milik Indonesia (Amrizal, 2009)

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk menyusun karya tulis ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Klien Tn. “R” dengan Trauma Tumpul Abdomen di Ruang Perawatan Lontara II Bedah Digestive RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

B. Tujuan penulisan

1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Tn. “R” dengan trauma tumpul abdomen.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI XII

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn “H ” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN “ KOLELITIASIS “DI RUANG PERAWATAN BEDAH DIGESTIV LONTARA.II RS.DR.WAHIDIN SUDIROHUSODO M A K A S S A R

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di negara barat sedangkan di Indonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi penelitian batu empedu masih terbatas. Batu empedu sering ditemukan di negara maju dan jarang ditemukan di negara-negara berkembang. Namun dengan membaiknya keadaan sosial ekonomi, perubahan menu makanan ala barat serta perbaikan sarana diagnosis khususnya ultrasonografi, prevalensi penyakit batu empedu di negara-negara berkembang cenderung meningkat. (www.happywithavis.multiply.com, 28 Juli 2009)

Kolelitiasis atau batu kandung empedu di Amerika Serikat diperkirakan 20 juta orang yaitu 5 juta pria dan 15 juta wanita. Pada pemeriksaan autopsy di Amerika, batu kandung empedu ditemukan pada 20 % wanita dan 8 % pria. (http://medlinux.blogspot.com.2009)
Insiden batu kandung empedu di Indonesia belum diketahui dengan pasti, karena belum ada penelitian. Banyak penderita batu kandung empedu tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan pada waktu dilakukan foto polos abdomen, USG, atau saat operasi untuk tujuan yang lain.

Setelah dilakukan case control retrospektif terhadap pasien kolesistisis yang dirawat di RSMS Purwokerto periode 1 April 2007 – 1 Mei 2008, didapatkan insidensi pasien wanita lebih banyak dibanding laki-laki. jumlah pasien wanita sebanyak 38 dengan pasien laki-laki 21 orang dari total 59 pasien. Jumlah pasien wanita 64,4% dan jumlah pasien laki-laki 35,6%. Tampak jumlah pasien wanita 1,8 kali lebih besar dibanding pasien laki-laki. (www.happywithavis.multiply.com, 2008)

Berdasarkan data yang diperoleh dari rekam medik rumah sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tahun 2009 (periode Januari 2009 s/d Juli 2009) menurut golongan umur 30-49 tahun sebanyak 11 orang (68,75%), umur 50-69 tahun sebanyak 4 orang (25%), umur 70-89 tahun sebanyak 1 orang (6,25%), sedangkan menurut golongan jenis kelamin, laki-laki sebanyak 6 orang (37,5%), perempuan sebanyak 10 orang (62,5%)dengan jumlah total 16 orang pasien. (Data rekam medik RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, 2009)
Berdasarkan data tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk mengangkat kasus yang berjudul “Asuhan Keperawatan pada Klien Tn”H” dengan gangguan sistem pencernaan, Kolelitiasis di ruang perawatan Bedah Digestiv Lontara II Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar”.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan umum
Dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan system pencernaan kolelitiasis.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI XI

KEPERAWATAN PADA KLIEN NY ”M” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : CHOLELITIASIS POST OP LAPARATOMY DI RUANG PERAWATAN BEDAH DIGESTIF LONTARA II LANTAI ATAS BLU RS Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO M A K A S S A R

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan yang optimal, maka keperawatan merupakan salah satu komponen pembangunan di bidang kesehatan yang perlu dilaksanakan karena pelayanan keperawatan yang diberikan kepada manusia meliputi biopsiko sosial dan spiritual dapat menanggung proses penyembuhan penyakit klien. Perawat harus berpartisipasi secara aktif untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit yang berfokus pada masalah kesehatan klien dan keluarga mencakup aspek : Preventif (pencegahan), Kuratif (Pengobatan dan Penyembuhan), Rehabilitatif (Pemulihan) dan Promotif (Promosi untuk Peningkatan Kesehatan). Hal tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian penduduk, salah satunya adalah menurunkan angka kematian karena factor penyakit pada gangguan sistem pencernaan khususnya kholelitiasis.

Kholelitiasis/batu empedu merupakan timbunan kristal di dalam kandung empedu atau di dalam saluran empedu, yang dapat menyebabkan reaksi inflamasi akut atau kronik. Kholelitiasis biasanya terbentuk dalam kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu, hal ini dapat terjadi karena adanya gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu, statis empedu dan infeksi kandung empedu. Kholelitiasis dapat disebabkan oleh kolesterol. Dimana kolesterol yang berlebihan akan mengendap di dalam kandung empedu.

Batu empedu tidak lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda tetapi insidennya semakin sering pada individu berusia di atas 40 tahun. Sesudah itu, insiden kholelitiasis semakin meningkat hingga suatu tingkat yang diperkirakan bahwa pada usia 75 tahun satu dari tiga orang akan memiliki batu empedu.

Berdasarkan data yang diperoleh di Indonesia, jumlah penderita batu empedu cenderung meningkat, diantaranya hampir 50% pasien batu empedu tidak merasakan gejala, 30% dengan gejala nyeri, dan 20% pasien berkembang menjadi komplikasi. Hal ini terutama disebabkan pengaruh perubahan gaya hidup. Misalnya, gaya hidup yang banyak makanan cepat saji yang dapat menyebabkan prevelensi kegemukan. (www.seputar-indonesia.com)

Berdasarkan data yang diperoleh dari medical record di RSUP.Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Bahwa kurun waktu periode Januari-Desember 2005 didapatkan kholelitiasis sebanyak 78 orang, diantaranya yaitu umur: 15-24 ;2 orang, 25-44; 23 orang, 45-64; 41 orang, > 65; 12 orang. Laki-laki : 36 orang, perempuan : 42 orang, diantaranya ada yang meninggal 1 orang.
Dan periode Januari-Desember 2007 sebanyak 57 orang, diantaranya
yaitu : perempuan 55 orang, laki-laki 2 orang.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI X

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY “ M “ DENGAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI CA. OVARIUM DIRUANG PERAWATAN GINEKOLOGI LONTARA IV LONTARA 2 RS. DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam meningkatkan derajat kesehatan, terutama dalam pelayanan keperawatan yang merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena melalui asuhan keperawatan yang baik dan berkesinambungan, maka kebutuhan bio, psiko, sosial, spiritual, dan cultural dapat terpenuhi. (A. Azis Alimul H,2004)
Hepatitis B merupakan suatu penyakit hati yang disebabkan oleh “virus hepatitis B”(VHB), suatu anggota family Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi serosis hati atau kanker hati. Mula-mula dikenal sebagai “serum hepatitis” dan telah menjadi epidemic pada sebagian asia dan afrika. Hepatitis B telah menjadi endemic di tiongkok dan berbagai Negara asia.(www.yahoo.com)
Insiden hepatitis virus yang terus meningkat semakin menjadi masalah kesehatan. Penyakit tersebut penting, karena sudah ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya absen dari sekolah atau pekerjaan untuk waktu yang lama. 60 – 90% dari kasus-kasus Hepatitis virus diperkirakan berlangsung tanpa dilaporkan. Meskipun kurang lebih 50% orang dewasa di Amerika Serikat telah memiliki antibody terhadap virus Hepatitis B banyak orang yang tidak dapat mengingat kembali episode atau kejadian sebelumnya yang memperlihatkan gejala hepatitis (Brunnert dan Suddarth, volume 2).
Penyakit hati yang kronis, termasuk sirosis hepatis, berada dalam urutan kesembilan sebagai penyakit yang paling sering menyebabkan kematian di Amerika Serikat. Kurang lebih 46% dari kematian tersebut berkaitan dengan konsumsi alcohol. Angka penyakit hati kronis untuk laki-laki adalah dua kali lipat lebih tinggi daripada untuk wanita, penyakit hati kronis lebih tinggi dijumpai pada populasi Afro – Amerika daripada kulit putih (CDC, 1993).(Brunnert And Suddarth, 2001 volume 2).
Sementara jumlah penderita Hepatitis A, B, C di Indonesia mencapai sekitar 10% dari total 225 juta penduduk (www.Google.com).
Menurut Buku Register Lontara I Interna Atas RS.DR.Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk periode 2007. Jumlah penderita yang dirawat sebanyak 1.662 orang sedangkan jumlah penderita hepatitis sebanyak 43 orang (2,6%). Tahun 2008, jumlah penderita yang dirawat sebanyak 1.682 orang sedangkan jumlah penderita hepatitis sebanyak 20 orang (1,18%), tahun 2009 bulan januari – juni jumlah penderita yang dirawat sebanyak 1.194 orang, sedangkan penderita hepatitis sebanyak 17 orang (1,42%)
Dan perincian penderita hepatitis berdasarkan jenis kelamin adalah sebagai berikut : pada tahun 2007 laki-laki sebanyak 25 orang (1,50%), perempuan sebanyak 18 orang (1,07%). Tahun 2008 laki-laki sebanyak 12 orang (0,71%), perempuan sebanyak 8 orang (0,47%). Tahun 2009 periode januari-juni laki-laki sebanyak 9 orang (0,75%), perempuan sebanyak 7 orang (0,58%)
Dengan melihat kenyataan ini maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN.”I” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN HEPATITIS B DI RUANG LONTARA 1 INTERNA ATAS RS.DR.WAHIDIN SUDIROHUSODO”

Selengkapnya kli disini

Kode KTI IX

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Keperawatan adalah sebagai bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian intergral dari pelayanan kesehatan tang didasari kepada ilmu keperawatan dan kiat keperawatan yang berbentuk bio, psioko, social, spiritual dan komprehensif serta ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
Pada hakikatnya keperawatan merupakan suatu ilmu dan kiat, profesi yang berorientasi pada pelanyanan, memiliki empat tingkatan klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat), serta pelayanan yang mencakup seluruh pelayanan kesehatan serta menyeluruh. (A. Asis alimul Hidayat,2004, hal 14).

Untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat banyak hal yang perlu di perhatikan, salah satu di antaranya yang di pandang mempunyai peranan yang cukup penting ialah menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Adapun yang di maksud dengan pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang di selenggarakan secara sendiri, atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307).

Insiden apendisitis akut lebih tinggi pada negara maju daripada Negara berkembang, namun dalam tiga sampai empat dasawarsa terakhir menurun secara bermakna, yaitu 100 kasus tiap 100.000 populasi mejadi 52 tiap 100.000 populasi. Kejadian ini mungkin disebabkan perubahan pola makan, yaitu negara berkembang berubah menjadi makanan kurang serat. Menurut data epidemiologi apendisitis akut jarang terjadi pada balita, meningkat pada pubertas, dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa. Insiden apendisitis sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa prapuber, sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2, kemudian angka yang tinggi ini menurun pada pria.

Data dari unit medikal record di Rumah sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode tahun 2009 dari bulan 1-6 jumlah kasus apendisitis sebanyak 21 kasus dan yang paling dominan pasien yang paling banyak adalah laki-laki yang berumur 13-30 tahun. ( sumber Medical Record Rs. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, 2009).

B. RUMUSAN MASALAH
Apendisitis merupakan suatu penyakit gangguan sistem pencernaan yang memerlukan suatu asuhan keperawatan yang baik dan berkesinambungan. Dalam menegakkan suatu proses keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Oleh karena itu dalam penulisan ini, masalah yang di bahas yaitu Bagaimanakah Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Apendisitis Di Ruang Perawatan Lontara 2 Atas Bedah Digestif RS.Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI VIII

Kategori:Tesis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. “S” DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN “ CA. RECTI ” DI RUANG PERAWATAN BEDAH DIGESTIV LONTARA II ATAS RS. Dr.WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

ABSTRAK

Karya Tulis Ilmiah, 10 Agustus 2009
RAHMAN

Asuhan keperawatan pada Tn”S” dengan gangguan sistem pencernaan “Ca. Recti” di ruang perawatan bedah digestiv di Lontara II atas RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar.
101 halaman, 5 tabel dan 2 lampiran
Ca. Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khususnya menyerang rektum yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali selain itu Ca.Recti juga merupakan tumor ganas terbanyak diantara tumor saluran cerna. Insiden penderita Ca. Recti dirawat di ruang perawatan bedah digestive Lontara II atas RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Sejak tanggal 1 Januari sampai dengan 30 juni 2009 sebanyak 23 penderita Ca. Recti dari 1086 kunjungan rawat inap di ruang perawatan bedah digestiv yang terdiri dari 18 pasien laki-laki dan 5 pasien perempuan serta penderita rata-rata berumur diatas 50 tahun.
Tujuan dari penulisan ini dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kelainan pada sistem pencernaan terutama pada rektum sebagai organ yang mempunyai peranan penting dalam proses pengeluaran sisa hasil metabolisme dalam tubuh manusia sehingga dapat memberikan pelaksanaan asuhan keperawatan secara nyata pada klien dengan gangguan sistem pencernaan “Ca. Recti” dimana masalah keperawatan yang ditemukan pada klien Tn”S” adalah nyeri, nutrisi kurang dari kebutuhan, resiko infeksi dan kecemasan. Dalam uraian landasan teori didapatkan beberapa kesenjangan, hal ini disebabkan karena respon manusia terhadap penyakit berbeda-beda dan juga disebabkan akibat pada landasan teori dijelaskan Ca. Recti pre operasi sedangkan pada kasus dijelaskan Ca. Recti post.operasi.
Dalam evaluasi catatan perkembangan pada klien Tn”S” dengan gangguan sistem pencernaan “Ca. Recti” hanya ada 1 diagnosa yang teratasi dan ada 3 diagnosa yang tidak teratasi, hal ini disebabkan akibat waktu dan juga kondisi klien
Dari uraian diatas penulis menyarankan kepada pengelola institusi agar dimasa yang akan datang memberikan waktu yang cukup dalam pelaksanaan studi kasus dalam menerapkan asuhan keperawatan kepada klien dengan Ca. Recti guna meningkatkan ilmu dan kiat keperawatan.

Selengkapnya klik disini

Kode KTI VII

Kategori:Tesis
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 101 pengikut lainnya.