Beranda > Tesis > FAKTOR YANG BERHUBUNGAN KEJADIAN STATUS GIZI PADA ANAK BALITA DI DESA RAJANG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG TAHUN 2011

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN KEJADIAN STATUS GIZI PADA ANAK BALITA DI DESA RAJANG KECAMATAN LEMBANG KABUPATEN PINRANG TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peran gizi dalam pembangunan kualitas SDM telah dibuktikan dari berbagai penelitian. Gangguan gizi pada awal kehidupan akan mempengaruhi kualitas kehidupan berikutnya. Gizi kurang pada balita tidak hanya menimbulkan gangguan pertumbuhan fisik, tetapi juga mempengaruhi kecerdasan dan produktifitas dimasa dewasa. (Supariasa dkk, 2001)
Pengaruh krisis moneter yang menimpa masyarakat indonesia dewasa ini telah menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat dan peningkatan harga pangan dalam kehidupan sehari-hari pengaruh tersebut sangat dirasakan dalam bentuk pengurangan jumlah dan mutu komsumsi makanan sehari (Supariasa dkk, 2001). Kesulitan ini yang akhirnya memperparah keadaan status gizi dan kesehatan anggota keluarga yang tergolong rawan, salah satu diantaranya adalah anak balita Yayasan Mitra Husada, (2003).
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2004 terdapat sekitar 54% balita didasari oleh keadaan gizi yang jelek. Dan di Indonesia menurut Depertemen Kesehatan (2007) pada tahun 2006 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita gizi kurang dan gizi buruk), 3,5 juta anak balita atau sekitar (19,19 %) dalam tingkat gizi kurang, dan 1,5 juta anak balita gizi buruk (8,3 %). Tahun 2008 berdasarkan data SUSENAS prevalensi status gizi anak balita untuk gizi kurang sebesar 19,20 % dan gizi buruk 8,8 %. Tidak ada penurunan yang berantai antara tahun 2006 dan 2008, (http://www luwuutara.go.id.)

Tabel 1.1

Persentase balita menurut status gizi ( BB / U ) dan Kabupaten / Kota di Propinsi Sulawesi Selatan
No Kabupaten / Kota Kategori Status Gizi BB/U
Gizi Kurang

1 Selayar                   6,7
2 Bulukumba           9,9
3 Bantaeng               10,5
4 Jeneponto            14,1
5 Takalar                   18,7
6 Goa                          13,7
7 Sinjai                      10,8
8 Maros                     12,9
9 Pangkajene           13,9
10 Barru                   9,4
11 Bone                    17,8
12 Soppeng             9,2
13 Wajo                     16,0
14 Sidrap                 13,9
15 Pinrang              8,9
16 Engrekan           10,8
17 Luwu                   11,3
18 Tana Toraja       11,6
19 Luwu Utara       10,5
20 Luwu Timur      9,9
21 Makassar           11,4
22 Pare – pare       11,9
23 Palopo                11,3
24 Sulawesi Selatan  12,5 %
25 Indonesia           1310

                      Berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita kabupaten Pinrang tahun 2007, ditemukan balita dengan gizi kurang sebanyak 174 atau 48,60% dari total balita Bawah Garis Merah (BGM) yang berjumlah 358 balita, dan sebanyak 184 balita gizi buruk atau sekitar 51,39% dari total balita BGM. Pada tahun 2008 balita dengan gizi kurang menurun menjadi 172 orang atau 46,36% dari balita BGM yang berjumlah 371 balita, dan balita gizi buruk mengalami peningkatan menjadi sebanyak 199 balita atau sekitar 53,64% dari balita BGM. Sementara itu, pada tahun 2009 balita dengan gizi kurang meningkat menjadi 365 orang atau 81,84% dari balita BGM yang berjumlah 446 balita, dan balita gizi buruk mengalami penurunan menjadi hanya sebanyak 81 balita atau sekitar 18,16% dari balita BGM, (Dinkes Kabupaten Pinrang 2009).

                      Kecamatan Lembang pada tahun 2007 jumlah balita BGM 19 dan gizi kurang 15 balita dan gizi buruk 2 balita dari 4358 balita atau sekitar 0,43 % dan tahun 2008 yaitu jumlah balita BGM 22 balita dan gizi kurang 13 balita dan gizi buruk 2 balita dari 4955 balita atau sekitar 0,44 %, pada tahun 2009 jumlah balita BGM 25 balita dan gizi kurang 29 balita dan gizi buruk 1 balita dari 5311 atau sekitar 0,54%. Dan tahun 2010 jumlah balita BGM 25 dan gizi kurang 33 balita dan gizi buruk 1 balita dari 5365 atau sekitar 0,26%, (Dinkes Kab. Pinrang, 2009).

Berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita Puskesmas Tuppu di Kecamatan Lembang tahun 2007, ditemukan balita dengan gizi kurang sebanyak 15 atau 0,15 % dari total balita Bawah Garis Merah (BGM) yang berjumlah 19 balita, dan sebanyak 2 balita gizi buruk atau sekitar 0,2 % dari total balita BGM. Pada tahun 2008 balita dengan gizi kurang menurun menjadi 13 orang atau 0,13 % dari balita BGM yang berjumlah 22 balita, dan balita gizi buruk 2 balita dan tidak mengalami peningkatan. Sementara itu, pada tahun 2009 balita dengan gizi kurang meningkat menjadi 29 orang atau 0,29 % dari balita BGM yang berjumlah 25 balita, dan balita gizi buruk mengalami penurunan menjadi hanya sebanyak 1 balita atau sekitar o,1 % dari balita BGM, (Dinas Kesehatan Kab. Pinrang, 2009).

Pada tahun 2007, di Desa Rajang ditemukan balita dengan gizi kurang sebanyak 10 atau 0,10 % dari total balita Bawah Garis Merah (BGM) yang berjumlah 11 balita, dan sebanyak 0 balita gizi buruk. Pada tahun 2008 balita dengan gizi kurang peningkatan menjadi 22 orang atau 0,22 % dari balita BGM yang berjumlah 15 balita, dan balita gizi buruk tidak mengalami kenaikan. Sementara itu, pada tahun 2009 balita dengan gizi kurang meningkat menjadi 19 orang atau 0,19 % dari balita BGM yang berjumlah 15 balita, dan balita gizi buruk tidak mengalami perubahan. Pada tahun 2010 balita gizi kurang meningkat menjadi 30 orang atau 20 %. Desa Rajang merupakan desa dengan kasus gizi kurang tertinggi dibandingkan dengan desa – desa lain dalam wilayah kerja Puskesmas Tuppu, (Puskesmas Tuppu, 2010).

               Terdapat banyak faktor yang diduga mempengaruhi kejadian status gizi kurang kurang di Desa Rajang, diantaranya adalah pola makan, pola pengasuhan anak, pendapatan keluarga. Salah satu kejadian yang menentukan status gizi anak balita adalah besarnya asupan makanan. Pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap pemberian makanan dari orang tua kepada anaknya. Pengasuhan anak dapat berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuhan lain dalam hal kedekatan dengan anak, memberikan makanan, merawat kebersihan memberikan kasih sayang dan sebagainya. Kesemuanya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental), status gizi, pendidikan, pengetahuan dan keterampilan tentang pengasuhan anak yang buruk, peran dalam keluarga atau masyarakat, sifat pekerjaan, adat kebiasaan keluarga dan masyarakat dari si ibu dan pengasuh anak, (Depkes RI 2001).

Pola makan mempengaruhi status gizi anak balita secara langsung. Status gizi sangat berperan terhadap kesehatan anak balita, dimana anak balita yang mengalami status gizi kurang cenderung akan mengalami gangguan kesehatan.

                Kardjati, dkk (1985), Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makanan tiap hari olen satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu.
Kejadian pola makana ialah interaksi antara orang tua dan anak soal makanan. Orang tua sebaiknya selalu memberikan perhatian khusus tentang makanan anak. Infeksi tidak ditentukan oleh seberapa lama orang tua berinteraksi dengan anak, tetapi lebih ditentukan oleh kualitas dari intraksi tersebut yaitu pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing dan upaya optimal untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang dilandasi oleh rasa kasih sayang, (Supariasa dkk, 2001).
                 Pola pengasuhan anak adalah aktivitas yang berhubungan dengan pemenuhan pangan, pemeliharahan fisik dan perhatian terhadap anak. Pengasuhan anak meliputi aktivitas perawatan terkait gizi / persiapan makan dan menyusui, pencegahan dan pengobatan penyakit, memandikan anak, membersikan rumah.
                 Berdasarkan pengertian tersebut “ Pengasuhan “ pada dasarnya adalah suatu praktek yang dijalankan oleh orang yang lebih dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan penemuan kebutuhan pangan atau tempat tinggal yang layak, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, (Soetjiningsih, 1995 ).
                 Rendahnya pendapatan keluarga menyebabkan keluarga tidak dapat leluasa membelanjakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga dalam keputusan terakhir keluarga umumnya akan lebih mendahulukan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama makanan (Yayasan Mitra Husada 2003), dalam Tuti Aditama (2004). Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti Faktor yang berhubungan Kejadian Gizi Pada Anak Balita di Puskesmas Tuppu Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti faktor – faktor apakah yang berhubungan dengan Kejadian Status Gizi Pada Anak Balita Umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2011 di tinjau dari Pola makan, Pola Pengasuhan Anak, Pendapatan Keluarga ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
     Untuk mengetahui faktor yang berhubungan kejadian status gizi pada Anak Balita Umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang   Kabupaten Pinrang Tahun 2011
2. Tujuan Khusus
     a. Untuk mengetahui hubungan antar pola makan dengan status gizi pada Anak balita Umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang    Kabupaten Pinrang Tahun 2011.
     b. Untuk mengetahui hubungan antara pola pengasuhan anak dengan status gizi pada anak balita Umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2011.
    c. Untuk mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi pada anak balita Umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2011.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Ilmiah
Hasil penelitian ini akan menambah literature dalam ilmu pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kejadian status gizi kurang pada anak balita dan hasil penelitian dapat dijadikan referensi pada penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini dihararapkan untuk memberikan masukan kepada pihak pemerintah khususnya pemerinta daerah dinas kesehatan kabupaten pinrang mengenai masalah status gizi kurang pada anak balita.
3. Manfaat Bagi Peneliti
Peneliti ini merupakan pengalaman berharga bagi peneliti yang akan menambah pengetahuan mengenai kejadian status gizi kurang pada anak balita dan memperoleh gelar serjana masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Status Gizi

                     Status gizi Balita adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penanggulangan zat-zat gizi. Dibedakan antara status gizi kurang, buruk, baik, lebih (Almatsier, 2001). Status gizi adalah suatu keadaan akibat keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaannya atau, keadaan fisiologi akibat dari tersedianya zat gizi dalam struktur tubuh. Status gizi merupakan gambaran keseimbangan antara kebutuhan terhadap zat gizi dengan penggunaannya dalam tubuh, (Supriasa, 2001).
                     Status gizi merupakan gambaran tentang apa yang dikonsumsi dalam jangka waktu lama. Keadaan gizi merupakan gizi kurang dan gizi lebih. Apabila terjadi kekurangan salah satu zat gizi maka dapat menimbulkan gangguan berupa defesiensi penyakit, (Supriasa, 2002).
Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat – zat yang digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ – organ, serta menghasilkan energi. Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel-variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture, (Supriasa, 2002).
                       Keadaan gizi merupakan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat gizi tersebut, atau keadaan fosiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh, (Supriasa, 2002).

Keadaan gizi seimbang antara zat gizi dengan kebutuhan akan menyebabkan kelainan patologi bagi tubuh manusia, keadaan tersebut malmutrisi. Bentuk kelainan digolongkan menjadi 4 macam yaitu :

1. Undernutrition, yaitu kekurangan komsumsi pangan secara relatif dan absolute dalam bentuk tertentu.
2. Spesifik depesiensi yaitu kekurangan zat gizi tertentu.
3. Overnutrition yaitu kelebihan konsumsi zat gizi dalam priode tertentu.
4. Imbalance, ketidak seimbangan karena disporsi zat gizi tertentu (Supriasa dkk, 2002)
Menurut Supriasa dkk (2002), ada beberapa cara yang dilakukan untuk menilai status gizi adalah :
1. Penilaian status gizi secara langsung
a. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat Gizi, (Supariasa, dkk., 2006).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia yaitu seperti umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal lemak dibawah kulit.
Kombinasi antara beberapa parameter disebut indeks antropometri. Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu:
1) Berat Badan menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah parameter yang sangat labil, dalam keadaan normal dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara komsumsi dan kebutuhan zat gizi tedamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal,terdapat dua kemungkinan perkembangan berat badan,yaitu dapat berkembang secara cepat atau lebih lambat dari keadaan yang normal.
2) Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)
tinggi badan menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal (Tulang). Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh wiring dengan pertambahan umur. Pengaruh defesiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama.
3) Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB)
dalam keadaan normal perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indeks yang independen terhadap umur.
b. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidak cukupan zat gizi . Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, mats, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid, (Supariasa, dkk.,2006).
c. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot, (Supariasa, dkk., 2006).
d. Biofisik
metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (Khususnya, jaringan) dan melihat perubahan struktur darijarinagan. Umumnya digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja endemik.
2. Penilaian Status gizi secara tidak langsung
Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung terbagi atas tiga yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
a. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Pengumpulan data komsumsi makanan yang dapat memberikan gambaran tentang komsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat, keluarga dan individu.
b. Statistik Vital
Pengukuran gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian sebagai akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi, (Supariasa, dkk., 2006).
c. Faktor ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi, (Supariasa, dkk., 2006).
Salah satu standar pengukuran yang digunakan di Indonesia dalam menetapkan kategori status gizi (cut off : berdasarkan kesepakatan gizi, januari 2000) adalah sebagai berikut:
1. Indikator pengukuran BB/U
a. Kurang : < – 2 SD sampai ≥ -3 SD b. Baik : ≥ -2 SD sampai + 2 SD 2. Indikator pengukuran TB/U a. Normal : ≥ -2 SD b. Pendek bila : < -2 SD 3. Indikator pengukuran BB/TB a. Gemuk : > + 2 SD
b. Normal : ≥ -2 SD sampai + 2 SD

c. Kurus : < -2 SD sampai ≥ -3 SD d. Sangat kurus : < -3 SD Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidak seimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai berat, gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.

Secara umum, kurang gizi adalah salah satu istilah dari penyakit malnutrisi energi-protein (MEP), yaitu penyakit yang diakibatkan kekurangan energi protein. Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan gizi yang disebabkan oleh rendahnya komsumsi energi dan protein dalam makanan sehari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) (Direktorat Bina Gizi Masyarakat, 1981).

Kondisi gizi kurang timbul bila energy dan zat gizi lain tidak dikonsumsi dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan untuk fungsi lainnya. Kekurangan energi protein (KEP) merupakan penyakit defisiensi gizi yang paling umum dijumpai di dunia dan perkiraan sekitar seratus juta anak-anak yang menderita gizi kurang pada tingkat sedang dan berat. Kurang gizi dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. kondisi gizi kurang disebabkan oleh masukan (intake) energy dan protein yang kurang dalam waktu yang cukup lama. Gizi kurang disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor pengadaan makanan yang kurang mencukupi suatu wilayah tertentu. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya potensi alam atau kesalahan distribusi. Faktor kedua, adalah dari segi kesehatan sendiri, yakni adanya penyakit kronis terutama gangguan pada metabolisme atau penyerapan makanan. Selain itu, ada tiga hal yang saling kait mengkait dalam hal gizi buruk, yaitu kemiskinan, pendidikan rendah dan kesempatan kerja rendah. Ketiga hal itu mengakibatkan kurangnya ketersediaan pangan di rumah tangga dan pola asuh anak keliru. Hal ini mengakibatkan kurangnya asupan gizi dan balita sering terkena infeksi penyakit, (Mardiansyah, 2008).

Gizi kurang dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling terkait. Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit/terkena infeksi.

a. Asupan yang kurang disebabkan oleh banyak faktor antara lain :

1) Tidak tersedianya makanan secara adekuat, Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial ekonomi. Kadang kadang bencana alam, perang, maupunkebijaksanaan politik maupun ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat identik dengan tidak tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi.

2) Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang, Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu Air Susu Ibu, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak mendapat Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya akan berkonsekuensi terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan.

3) Pola makan yang salah, Pola pengasuhan anak berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat. Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya sebagian anak yang gizi buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk mencari kerja di Kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan anak menderita gizi buruk. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan / adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak . Misalnya kebiasaan memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini, berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak anak daging, telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapat asupan lemak, protein maupun kalori yang cukup.

B. Tinjauan Umum Tentang Pola Makan Dalam kamus bahasa Indonesia.

Pola diartikan sebagai suatu system, cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, pola makan yang sehat dapat diartikan sebagai suatu cara atau usaha untuk melakukan kegiatan makan secara sehat, (Depniknas, 2001).

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Pola makan di suatu daerah berubah – ubah sesuai dengan perubahan faktor atau kondisi setempat yang dapat dibagi dalam dua kelompok. Pertama adalah faktor yang berhubungan dengan persediaan atau pengadaan pangan dalam kelompok ini termasuk faktor geografi, iklim, kesuburan tanah yang dapat mempengaruhi jenis tanaman dan jumlah produksinya di suatu daerah, bahan pangan yang erat kaitannya dengan tinggi rendahnya persediaan disuatu daerah, (Almatsier, 2001). Pola makan adalah jumlah makanan dan jenis serta banyaknya bahan makanan dalam pola pangan, disuatu Negara atau daerah tertentu, biasanya berkembang dari daerah setempat atau dari pangan yang telah ditanam ditempat tersebut untuk jangka waktu yang panjang, (Suhadjo, 2003).

Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang di makan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu, (Kardjati, dalam Asmuliati 2005). Pola makan adalah susunan makanan yang dikonsumsi setiap hari untuk mncukupi kebutuhan tubuh, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kualitas menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam susunan makanan sadangkan kuantitas menunjukkan kuantum masing – masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh, (suhardjo, dalam Dewi Sartika, 2005). Timbulnya masalah gizi disebabkan oleh pola makan yang salah disebabkan karena kurangnya pengetahuan mereka tentang pola makan gizi seimbang, (Rizal, dalam Hariani 2005). Pola makan yang baik selalu mengacu kepada gizi seimbang yaitu terpenuhinya semua zat gizi sesuai dengan kebutuhan dan seimbang. Tidak diragukan, terhadap enam unsur zat gizi yang harus terpenuhi yaitu karbohidrat, protein lemak, vitamin, mineral dan air. Karbohidrat, protein dan lemak merupakan zat gizi makro sebagai sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral mrupakan zat gizi mikro sebagai pengaturan kelancaran metabolisme tubuh, (Muliarini, 2010). Pola hidup yang sehat sangat terkait erat dengan pola makan yang sehat,untuk memiliki pola makan yang sehat, dibutuhkan pemahaman mendasar terkait dengan konsep kesehatan dan konsep makanan yang sehat, (Kusumah, 2007).

Segala yang terkaitan dengan pengaturan makanan (pola makan dan pengaturan jenis makanan beserta kandungan gizi suatu zat makanan) bertujuan untuk mmenuhi keseimbangan zat dalam tubuh kita untuk mencapai kehidupan yang optomal, (Kusumah, 2007). Pola makan harus sesuai dengan siklus pencernaan dan kemampuan fungsi pncernaan, pengaturan pola makan yang anda lakukan dapat dinilai tingkat keberhasilannya, salah satunya adalah dengan melakukan perbandingan nilai postur tubuh, (Kusumah 2007). Pola makan sering kali dikaitkan dengan pengobatan karena makan merupakan penentuan proses metabolisme pada tubuh kita. Pakar kesehatan selama ini menilai 2 bentuk pengobatan yaitu : 1. Pengobatan sebalum terjangkit, yang sering disebut pencegahan. 2. Pengobatan setelah terjangkit, (Kusumah 2007). Kebutuhan zat gizi tubuh hanya akan terpenuhi dengan pola makan yang bervariasi dan beragam, sebab tidak ada satupun asupan makanan yang mengandung makro dan mikronutrien secara lengkap. Oleh karena itu maka semakin beragam, semakin bervariasi dan semakin lengkap jenis makan yang kita peroleh maka semakin lengkapalah perolehan zat gizi untuk mewujudkan keshatan yang optimal, (Muliarini, 2010).

Untuk mewujudkan pola makan gizi seimbangdan sehat ada lima karakteristik yang harus diperhatikan pada saat memilih makanan. Pertama, adekuat : makanan trsbut memberi zat gizi, fiber dan energi dalam jumlah yang cukup. Kedua, seimbang : makan yang harus dipilih harus tidak berlebihan dalam zat gizi yang kurang dalam zat gizi yang lainnya. Ketiga, kontrol kalori : makan tersebut tidak memberikan kalori yang berlebihan atau kurang, untuk mempertahankan berat badan ideal. Keempat, moderat (tidak berlebihan) : makan tidak berlebihan dalam hal lemak, garam, gula dan lainnya. Kelima, bervariasi : makanan yang dipilih berbeda dari hari ke hari, (Hadju, 2001, dalam Hariani, 2004).

C. Umum Tentang Pola Pengasuhan Anak Secara harfiah

Bahasa Indonesia, pola adalah motif, penggambaran, model, cara. Sementara pengasuhan berasal dari kata asuh berarti menjaga, memelihara dan mindidik. Jadi dari harfiah Bahasa Indonesia, praktek pengasuhan anak adalah cara yang diterapkan oleh ibu untuk mendidik anak – anak agar tidak mudah mengalami sakit dengan kondisi badan yang sehat, (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997). Pengasuhan anak adalah aktivitas yang berhubungan dengan pemenuhan pangan, pemeliharan fisik dan perhatian terhadap anak. Pengasuh anak meliputi aktivitas peraatan terkait gizu / persiapan makanan dan menyusui, pencegahan dan pengobatan penyakit, memandikan anak, membersihkan rumah. Berdasarkan pengertian tersebut “Pengasuhan’’ pada dasarnya adalah suatu praktek yang dijalankan oleh orang yang lebih dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan atau tempat tinggal yang layak, higiene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran jasmani, (Soetjiningsih, 1995). Pola pengasuhan merupakan salah satu kejadian pendukung untuk mencapai status yang baik bagi anak. Pola pengasuhan merupakan kejadian pendukung anmun secara tidak langsung. Dengan pola pengasuhan yang baik, maka perkembangan anak juga akan baik. Ahli psikologi perkembangan, dewasa ini menilai secara kritis pentingnya pengasuhan anak oleh orang tuanya. Proses pengasuhan ini erat hubungannya dengan kelekata antara anak dan orang tua dimana proses tersebut melahirkan ikatan emosional secara timbal balik antara bayi atau anak dengan pengasuh (orang tua), (Milis. I, 2004 di dalam Silfiya dkk, 2005). Menurut Eagle 1995 pola pengasuhan adalah aktivitas terhadap anak terkait makanan, aktivitas mandi mereka menderita infeksi Eagle, (1995).

Pola pengasuhan menurut Zeitlin (2000) adalah praktek dirumah tangga yang diwujudkan dengan tersedianya pangan dan perawatan kesehatan serta sumber lainnya untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak. Aspek kunci dalam pola asuhan adalah :

1. Perawatan dan perlindungan bagi bayi

2. Praktek menyusui dan pemberian MP – ASI

3. Pengasuhan psiki-sosial

4. Kebersihan diri dan sanitasi lingkungan

5. Praktek kesehatan dirumah dan pola pencarian pelayanan kesehatan.

D. Tinjauan Umum Tentang Pendapatan Keluarga

a. Pendapatan keluarga merupakan faktor yang paling menentukan kuantitas dan kulitas makanan. Di negara – negara berkembang, masyarakat yang miskin membelanjakan kependapatannya khususnya untuk makanan sekitar 80 %, (Berg. Alan dkk, 1986).

b. Tingkat pengeluaran untuk makanan merupakan kejadian yang dapat menggambarkan keadaan ekonomi suatu keluarga. Semakin besar presentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran (mendekati 100%). Maka keluarga tersebut dapat dikategorikan miskin. Keluarga dikategorikan miskin apabila propersi makanan terhadap total pengeluaran adalah 80% keatas, (Thamrin, 2002).

c. Besarnya dampak krisis mengakibatkan suatu penurunan yang drastis pada pendapatan dan daya beli dari mayoritas penduduk. Memahami dampak krisis ini, memburuknya angka kemiskinan dimana melibatkan mereka yang belum krisis mempunyai tingkat kesejahteraan sangat rawan terhadap gejolak harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengakses pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi masyarakat yang dapat digambarkan secara nyata pada kelompok rawan gizi terutama anak balita termasuk bayi, (Irawan dan Romdiati, 2002 dalam Tuti Aditama, 2004). d. Lebih lanjut Irawan dkk, (2002) dalam mengemukakan bahwa krisis ekonomi yang dilihat dari menurunnya laju pertumbuhan ekonomi di indonesia telah menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk miskin, melalui beberapa mekanisme yang kesemuanya menyebabkan penurunan drastis pada pendapatan dan daya beli dari mayoritas penduduk, khususnya golongan bawah. Menurunnya pendapatan secara negatif berdampak pada kualitas dan pola konsumsi rumah tangga. Dengan tingkat pendapatan yang sangat terbatas, banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah polah makanan pokoknya.

Menurut Martorell (1998) terjadinya perbaikan ekonomi maka akan mengurangi kemiskinan dan selanjutnya akan meningkatkan status gizi serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. E. Tinjauan Umum Tentang Anak Balita Balita adalah anak yang berusia di bawah lima tahun termasuk bayi 1- 12 bulan dan anak umur 1 – 4 tahun yang belum merayakan ulang tahun ke -5, (J. A. Kusin, 1985, dalam Kardjati, dkk, 1985, Tuti Aditama 2004) Menurut Depkes (1992) anak balita adalah semua anak laki – laki dan perempuan yang berumur 12 – 59 bulan. Anak balita merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan dan pesat, sehingga memerlukan zat – zat gizi yang tinggi setiap kilogram berat badannya. Anak balita ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat kekurangan gizi, (Sediaoetama, 2000).

Bila ditinjau dari segi umur, maka anak balita yang sedang tumbuh kembang adalah golongan yang awan terhadap kekurangan energi dan protein, kerawanan pada anak – anak disebabkan oleh hal – hal di sebagai berikut, (Kardjati, dkk, 1985):

a. Kemampuan saluran pencernaan anak yang tidak sesuai dengan jumlah volume makanan yang mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan anak.

b. Kebutuhan gizi anak per satuan berat badan lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa, karena disamping untuk pemeliharaan juga diperlukan untuk pertumbuhan.

c. Segera anak dapat bergerak sendiri, tanpa bantuan orang lain, dia akan mengikuti pergerakan disekitarnya sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya penularan penyakit.

d. Meskipun mempunyai nilai tertentu dalam keluarga, akan tetapi dalam hal penyajian makanan, anggota keluarga yang mempunyai nilai produktif akan mendapatkan pilihan yang terbaik, baru selebihnya yang diberikan pada anggota keluarga yang lain. Masa akan dibawah lima tahun (anak balita, umur 12 – 59 bulan).

Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan gerak halus) serta fungsi ekskresi. Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel – sel otak masih berlangsung dan terjadi pertumbuhan serabut – serabut syaraf dan cabang – cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan – hubungan antar sel syaraf ini sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, sehingga bersosialisasi. Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya. Perkembangan moral serta dasar – dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan / penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari, (Depkes RI, 2006).

Anak kelompok balita di Indonesia menunjukkan prevalensi paling tinggi untuk penyakit kurang kalori protein dan defesiensi vitamin A serta anemia defesiensin Fe. Kelompok umur sulit dijangkau oleh berbagai upaya kegiatan pebaikan gizi dan kesehatan lainnya, karena tidak dapat datang sendiri ke tempat berkumpul yang telah ditentukan tanpa diantar, padahal yang mengantar sedang semua, (Seadiaoetama, 2000). Pada anak balita kekurangan energi dan protein dapat menyebabkan hambatan perkembangan fisik dan kecerdasan, disamping penurunan daya tahan terhadap penyakit yang akhirnya menimbulkan kematian. Anak – anak merupakan calon pewaris dan penerus pembangunan. Pertumbuhan balita dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Faktor dalam dipengaruhi oleh jumlah dan mutu makanan, kesehatan balita (ada / tidaknya penyakit). Sedangkan faktor luar yaitu tingkat ekonomi, pendidikan, perilaku (orang tua / pengasuh), sosial budaya / kebiasaan, kesedian bahan makanan di rumah tangga, (Depkes dan Depsos, 2000).

BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran Varibel yang Diteliti

Status gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama. Keadaan gizi dapat berupa gizi baik (seimbang), gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih, (Supariasa, 2002). Keadaan gizi merupakan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat gizi tersebut, atau keadaan fosiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh, (Supriasa, 2002). Penentuan gizi seseorang ditentukan oleh beberapa kejadian antara lain pola makan, pola pengasuhan anak, pendapatan keluarga, pendidikan orang tua dan pekerjaan. Dari keenam variabel tersebut akan diteliti dengan dasar pemikiran sebagai berikut :

1. Pola Makan Keadaan gizi seseorang dapat dipengaruhi oleh konsumsi makanan dengan berbagai jenis makanan yang biasa dikonsumsi setiap hari. Untuk mengetahui frekuensi konsumsi menurut jenis bahan makanan dan menggali informasi tentang kebiasaan makan menggunakan metode food frekuensy. Secara umum survai konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi pada tingkat kelompok rumah tangga terhadap konsumsi makanan tersebut. (Supariasa dkk, 2001).

2. Pola Pengasuhan Anak Salah satu kejadian yang menentukan status gizi anak balita adalah besarnya asupan anak makanan. Pola pengasuhan anak berpengaruh terhadap pemberian makanan dari orang tua kepada anaknya. Pengasuhan anak dapat berupa sikap dan perilaku ibu atau pengaruh lain dalam hal kedekatan dengan anak, memberikan makanan, merawat kebersihan, memberikan kasih sayang dan sebagainya yang kesemua berhubungan dengan keadan ibu dalam hal kesehatan (fisik dan mental), pendidikan / pengetahuan dan keterampilan tentang pengasuhan anak yang baik, peranan dalam keluarga atau masyarakat, sikap, pekerjaan, dan adat kebiasan keluarga dan masyarakat, (Depkes RI, 2001).

3. Pendapatan Keluarga Pendapatan mempengaruhi penyediaan makanan dalam keluarga. Rendahnya pendapatan keluarga utamanya di pemukiman kumuh menyebabkan mengakibatkan keluarga lebih mendahulukan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama makanan. Pada tingkat pendaptan yang rendah, makanan sumber karbohidrat sebagai sumber energi utama. Dengan meningkatnya pendapatan, makanan karbohidrat yang tadi menurun dan masukan lemak, daging, susu, karbohidrat meningkat.

B. Pola Pikir Variabel Penelitian

Berdasarkan dasar pemikiran variabel penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya diatas maka dapat disusun skema pola pikir variabel sebagai berikut : Keterangan : : Variabel Independen : Variablel Dependen

C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Pola makan Pola makan adalah berbagi informasi yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan oleh anak balita. Kriteria Objektif : Cukup : Apabila nilai skoring responden ≥ 75 % Kurang : Apabila nilai skoring responden < 75 %

2. Pola pengasuhan anak Pola pengasuhan anak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pola asuh dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makanan, merawat dan memberikan kasih sayang. Kriteria Objektif : Cukup : Apabila nilai skoring responden ≥ 66,67 % Kurang : Apabila nilai skoring responden < 66,67 %.

3. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga adalah kemampuan ekonomi keluarga yang diukur dengan presentase total pengeluaran untuk makan perhari (Depkes dan Depsos RI 2000). Kriteria Objektif : Cukup : Apabila presentase pengeluaran untik makanan terhadap total pendapatan perhari dibawah 80 % kurang : Apabila presentase pengeluaran untik makanan terhadap total pendapatan perhari diatas atau sama dengan 80 %

4. Status Gizi Status gizi anak balita adalah keadaan gizi yang dapat dinilai dengan tabel baku rujukan WHO-NCHS. Status anak perempuan dan laki – laki usia 1 – 48 bulan menurut berat badan umur (BB/U). Kriteria Objektif: a. Baik : ≥ -2 SD sampai + 2 SD b. Kurang : < – 2 SD sampai ≥ -3 SD D. Hipotesis Penelitian 1. Hipotesis Null (Ho)

a. Tidak ada hubungan pola makan dengan status gizi pada anak balita umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

b. Tidak ada hubungan pola pengasuhan anak dengan status gizi pada anak balita umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupatn Pinrang.

c. Tidak ada hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi pada anak balita umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

2. Hipotesis Altrnatif (Ha)

a. Ada hubungan pola makan dngan status gizi pada anak balita umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

b. Ada hubungan pola pengasuhan anak dengan status gizi pada anak balita umur 1 – 4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupatn Pinrang. c. Ada hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi pada anak balita umur 1-4 tahun di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang. Interprestasi : Bila p Value < 0,05 maka Ho ditolak, berarti terdapat hubungan yang bermakna antara variabel Dependen dan variabel Independennya, dan Bila p Value > 0,05 maka Ho di terima, berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara varibel Dependen dan Independennya.

BAB IV
METODE PENELITIAN

 

A. Jenis Penelitian

                 Penelitian ini merupakan penelitian survay analitik dengan pendekatan cross secsional study untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan hubungan status gizi dalam peningkatan status gizi balita, dimana data yang menyangkut variabel dependen dan variabel independen akan dikumpul dalam waktu yang bersamaan dan secara langsung.
B. Waktu dan Lokasi penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2010 sampai Januari 2011 di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah semua anak balita (Umur 1 – 4 Tahun) yang bertempat tinggal di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2010.yang berjumlah 150 balita.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah 109 dengan rumus sebagai berikut.

 

a. Besar Sampel
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 109 sampel dengan mnggunakan teknik penarikan besar sampel sebagai berikut :
N ( Burhan Bungin, 2006 )
n =
N (d2) + 1
Keterangan :
n = Jumlah Sampel
N = Jumlah Populasi
d = Tingkat Kepercayaan 0,05
Maka :
150
n =150 (0,052) + 1 150
=150 (0.0025) + 1 150
=0,375 + 1 150
=1,375
= 109
Jadi Jumlah sampel adalah 109 balita.
b. Teknik Penarikan Sampel
Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini yaitu pengambilan secara sistematis (Proportional Stratified Random Sampling) yaitu mengambil sampel secara acak yang mewakili tiap posyandu (Saryono 2008).Untuk menentukan dan menjamin kriteria nilai populasi maka dicaplik sampel tiap starata (posyandu) di rumus sbb:
62Posyandu 1 = X 109 = 45
150 49 Posyandu 2 = X 109 = 35
150 40 Posyandu 3 = X 109 = 29
150 = 109
3. Responden
Responden dalam penelitian ini adalah ibu – ibu yang memiliki balita umur 1- 4 tahun atau pengasuh dari balita yang terpilih menjadi sampel.
D. Pengumpulan dan Penyajian Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa pengumpulan data primer dan sekunder.

 

1. Data Primer
Data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner secara terstruktur dan disertai dengan pengamatan.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang diperoleh dari dinas kesehatan Kabupaten Pinrang, data jumlah balita umur 1 – 4 tahun yang diperoleh dari Puskesmas Tuppu.
E. Instrumen Penelitian
1. Kuesioner
2. Timbangan Injak
3. Microtoize / Pengukuran Tinggi Badan
4. Alat Tulis Menulis.
F. Analisis Data
Analisis data Hipotesis yang diuji adalah Hipotesis nol ( Ho ) dengan derajat kemaknaan ( a ) = 0.05, uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-Square dengan rumus sebagai berikut :
( O – E )2
X2 = ∑
E
Keterangan :
X2 = Nilai Chi Square
O = Nilai yang diamati ( Nilai Observasi )
E = Nilai harapan
∑ = Jumlah
df = Derajat bebas = 1 df = (k-1)(b-1)
k = Kolom
b = Baris
G. Pengolahan dan Penyajian Data
1. Pengolahan Data
Data yang diolah dengan cara manual, dengan mengelompokkan data dari kuesioner dan kemudian diolah dengan menggunakan SPSS.
2. Penyajian Data
Data yang diperoleh disajikan dalambentuk tabel distribusi frekuensi, dan disertai dengan interprestasi.
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan pada bulan Desember Tahun 2010 sampai dengan januari 2011, dengan menggunakan kuesioner faktor Yang Berhubungan Kejadian Status Gizi Pada Anak Balita Di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang 2011. Dengan jumlah sampel sebanyak 109 Responden yang di ambil secara Systematic Random Sampling maka di peroleh hasil pengolahan sebagai berikut:

1. Karakteristik Responden
a. Pendidikan Ibu
Tabel 5.1
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten PinrangTahun 2011
No     Pendidikan Ibu                                n %
1        Tidak tamat sekolah                      2 1,8
2       SD                                                           13 11,9
3       SMP                                                       43 39,4
4      SMA                                                       35 32,1
5      PT                                                           16 14,8
Total                                                              109 100
Sumber : Data Primer

Distribusi responden berdasarkan pendidikan ibu yang tampak pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa jumlah pendidikan ibu yang memiliki jumlah tertinggi adalah ibu yang tamat SMP yaitu sebanyak 43 (39.4 %), sedangkan ibu yang tidak sekolah memiliki jumlah terendah yaitu 2 (1,8 %).

 

Tabel 5.2
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu Di Desa Rajang
Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2011
No             Pekerjaan               n %
1                Urt                             92 84,4
2                Pedagang                6 5.5
3                PNS                           11 10.1
Total                                            109 100
Sumber : Data Primer

Distribusi responden berdasarkan pekerjaan ibu yang tampak pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa pekerjaan ibu sebagai URT memiliki jumlah tertinggi sebanyak 92 (84,4 %), sedangkan pekerjaan ibu sebagai pedagang memiliki jumlah terendah sebanyak 6 (5,5 %).

2. Karakteristik Sampel
a. Umur
Tabel 5.3
Distribusi Sampel Berdasarkan Umur
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011
No             Kelompok Umur (Bulan)               n %
1                  12 – 24                                           52 47.7
2                  25 – 36                                            21 19.3
3                 37 – 48                                              36 33.0
Total           109                                                    100
Sumber : Data Primer
Distribusi sampel berdasarkan kelompok umur yang tampak pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 109 balita yang merupakan sampel, kelompok umur yang memiliki jumlah terbanyak adalah umur 12 – 24 bulan sebanyak 52 (47,7 %) dan kelompok umur yang paling sedikit adalah umur 25 – 36 bulan sebanyak 21 (19,3 %).
b. Jenis Kelamin
Tabel 5.4
Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011
No         Jenis Kelamin                n %
1               Laki – laki                   59 54.1
2              Perempuan            50 45.9
Total 109 100
Sumber : Data Primer
Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin yang tampak pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 109 balita atau sampel, jumlah jenis kelamin laki – laki lebih banyak dari pada jumlah balita yang berjenis kelamin perempuan. Jumlah balita yang berjenis kelamin laki – laki sebanyak 59 (54,1%) dan perempuan sebanyak 50 (45,9 %).

3. Karakteristik Variabel yang diteliti
a. Pola Makan

Tabel 5.5
Distribusi Sampel Berdasarkan Pola Makan
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

 

No       Pola Makan              n %
1          Cukup                     48 44,0
2           Kurang                 61 56,0
Total 109 100
Sumber : Data Primer
Tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa terdapat 48 (44,0 %) balita yang pola makanya dalam kategori cukup dan terdapat 61 (56,0 %) balita yang pola makannya dalam kategori kurang.

b. Pola Pengasuhan Anak

Tabel 5.6
Distribusi Responden Berdasarkan Pola Pengasuhan Anak
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

No         Pola Pengasuhan Anak                 n %
1              Cukup                                           45 41,3
2               Kurang                                       64 58,7
Total           109                                               100
Sumber : Data Primer
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa terdapat 45 (41,3 %) balita yang pola pengasuhannya dalam kategori cukup dan terdapat 64 (58,7 %) balita yang pola pengasuhan anak dalam kategori kurang.

c. Pendapatan Keluarga

Tabel 5.7
Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Keluarga
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

No Pendapatan Keluarga n %
1 Cukup 49 45,0
2 Kurang 60 55,0
Total 109 100
Sumber : Data Primer

Distribusi responden berdasarkan cukup kurangnya pendapatan keluarga yang tampak pada tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 109 balita terdapat 49 (45,0 %) responden yang pendapatan keluarganya dalam kategori cukup dan pendapatan keluarga kurang sebanyak 60 (55,0 %).
d. Status Gizi

Tabel 5.8
Distribusi Sampel Berdasarkan Status Gizi
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

No Status Gizi n %
1 Baik 42 38,5
2 Kurang 67 61,5
Total 109 100
Sumber : Data Primer
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa balita yang berstatus gizi baik 42 (38,5 %)dan balita yang berstatus gizi kurang 67 (61,5%).

4. Hubungan antara variabel penelitian
a. Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi

Tabel 5.9
Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011
No Pola makan Status Gizi Total Nilai uji Chi- Square
Baik Kurang
n % n % N %
1 Cukup 26 23,9 22 20,2 48 44,0 X20,003
2 Kurang 16 14,7 45 41,3 61 56,0
Total 42 38,5 67 61,5 109 100

Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.9 menunjukkan bahwa pola makan pada balita yang cukup lebih banyak dengan pencapaian penerapan status gizi baik sebanyak 26 (23,9 %), status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), sedangkan pada pola makan kurang dengan pencapaian status gizi baik sebanyak 16 (14,7 %), status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %).
Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,003 < nilai alpha (α = 0,05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan antara pola makan dengan status gizi.

b. Hubungan Pola Pengasuhan Anak dengan Status Gizi

Tabel 5.10
Hubungan Pola Pengasuhan Anak Dengan Status Gizi
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

No Pola Pengasuhan Anak Status Gizi Total Nilai uji Chi- Square
Baik Kurang
n % n % N %
1 Cukup 31 68,9 14 6,75 45 41,3 X20,001
2 Kurang 28 17,9 36 23,4 64 58,7
Total 59 31,8 50 61,5 109 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.10 menunjukkan bahwa Pola Pengasuhan Anak pada balita yang cukup lebih banyak dengan pencapaian penerapan status gizi baik sebanyak 14 (43,8 %), status gizi kurang sebanyak 31 (68,9 %), sedangkan pada Pola Pengasuhan Anak kurang dengan pencapaian status gizi baik sebanyak 28 (43,8 %), status gizi kurang sebanyak 36 (56,3 %).

Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,001 < nilai alpha (α = 0,05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan antara Pola Pengasuhan Anak dengan status gizi.

c. Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi

Tabel 5.11
Hubungan Pendapatan Keluarga Dengan Status Gizi
Di Desa Rajang Kecamatan Lembang
Kabupaten Pinrang Tahun 2011

No Pendapatan Keluarga Status Gizi Total Nilai uji Chi- Square
Baik Kurang  n % n % N %
1 Cukup 27 24,8 22 20,2 49 45,0 X20,001
2 Kurang 15 13,8 45 41,3 60 55,0
Total 42 38,5 67 61,5 109 100
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.11 menunjukkan bahwa Pendapatan Keluarga pada balita yang cukup lebih banyak dengan pencapaian penerapan status gizi baik sebanyak 27 (24,8 %), status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), sedangkan pada Pendapatan Keluarga kurang dengan pencapaian status gizi baik sebanyak 15 (13,8 %), status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %).

Hasil uji statistik dengan uji Chi-Square diperoleh nilai p value = 0,001 < nilai alpha (α = 0,05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan antara Pendapatan Keluarga dengan status gizi.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penyajian data penelitian tentang Faktor Berhubungan Kejadian status Gizi Pada Anak Balita di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Tahun 2011 diatas maka dapat dibahas berdasarkan hasil tabel dari variabel penelitian sebagai berikut :
1. Hubungan Pola Makan Dengan Status Gizi
Asupan makanan merupakan aspek yang turut mempengaruhi tumbuh kembang seseorang begitupun pada balita. Namun pada asupan makanan tentunya berbeda pada masa kanak – kanak dengan orang dewasa. Asupan makanan pada balita lebih difokuskan pada aspek pemenuhan nutrisi untuk proses tumbuh kembangnya.
Perbaikan pola makan pada balita akan memberikan pengaruh terhadap status gizinya, dimana pola makan yang kurang akan berdampak pada pertumbuhan balita yang optimal sehingga dapat mempengaruhi perkembangan intelektulitas balita. Ditambah pula dengan bertambahnya umur maka dalam rangka pemenuhan kebutuhan gizi balita yang semakin meningkat maka perlu memperbaiki pola makan sehingga pemenuhan akan nutrisi untuk tubuhnya terpenuhi.
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pola makan pada balita di Desa Rajang Kecamatan Lembang lebih banyak pada kategori kurang sebanyak 61 (56,0 %). Hasil ini berarti bahwa pola makan pada balita yang ada di sana tidak memenuhi syarat, dimana pola makan kurang sehingga kebutuhan energi dan zat gizi tidak mencukupi kebutuhan tubuhnya, dan susunan makanan tidak disesuaikan dengan pola menu seimbang, serta porsi makanan tidak disesuaikan dengan daya terima balita.
Tabel 5.5 Menunjukkan bahwa dari 109 balita terdapat 48 (44,0 %) responden yang pola makannya dalam kategori cukup dan terdapat 61 (56,0 %) responden yang pola makannya dalam kategori kurang. Dari 48 anak balita yang memiliki tingkat pola pengasuhan anak cukup dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), Sedangkan dari 61 balita yang memiliki tingkat pola pengasuhan anak kurang dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %). Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji chi- square diperoleh nilai p value = 0,003 < nilai alpha (α = 0.05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pola makan dengan status gizi balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Asmuliati (2005) dalam penelitiannya tentang Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Anak Umur 12 – 36 Bulan di Desapatikarya Kecamatan Bontosikuyu Kabupaten Selayar Tahun 2005, yang berkesimpulan bahwa terdapat hubungan antara pola makan dengan status gizi balita dan
Masa anak Khususnya masa dibawah lima tahun merupakan masa kritis dalam proses tumbuh kembang anak, hal ini karena masa ini merupakan masa paling cepat untuk pertumbuhan jika usia ini tidak dikelola dengan baik, apalagi kondisi gizinya buruk maka kemungkinan besar akan terjadi gangguan tumbuh kembang anak.
Penelitian ini Juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Inayah Mirzawati (2008) di Desa Bulaksari Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan yang berkesimpulan bahwa ada hubungan antara status gizi dengan pola makan.
Hasil penelitian ini di perkuat oleh pernyataan Muliani Prita (2010) Pola makan yang baik selalu mengacu kepada gizi seimbang yaitu terpenuhinya semua zat gizi sesuai dengan kebutuhan dan seimbang. Tidak diragukan, terhadap enam unsur zat gizi yang harus terpenuhi yaitu karbohidrat, protein lemak, vitamin, mineral dan air. Karbohidrat, protein dan lemak merupakan zat gizi makro sebagai sumber energi, sedangkan vitamin dan mineral mrupakan zat gizi mikro sebagai pengaturan kelancaran metabolisme tubuh.

2. Hubungan Pola Pengasuhan Anak Dengan Status Gizi
Pola pengasuhan merupakan salah satu kejadian pendukung untuk mencapai status yang baik bagi anak. Pola pengasuhan merupakan kejadian pendukung namun secara tidak langsung. Dengan pola pengasuhan yang baik, maka perkembangan anak juga akan baik.
Pola pengasuhan anak berupa sikap dan prilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak, memberikan makanan, merawat, kebersihan, memberikan kasih sayang. Kesemuanya berhubungan dengan keadaan ibu dalam hal kesehatan, status gizi, pendidikan, pengetahuan dan keterampilan dalam pengasuhan anak dengan baik, (Adisasmito Wiku, 2008).
Mengasuh adalah aktivitas yang berkaitan dengan pemberian makanan, pemenuhan akan kebersihan dari pola pengasuhan anak, waktu tidur anak, waktu mandi dan makanan yang dikonsumsi, serta aktivitas yang berhubungan dengan faktor yang sangat penting berupa pemenuhan kebutuhan pangan agar kondisi kesehatan anak tidak memperihatinkan.
Mengasuh sebenarnya tidak dimulai sejak lahir, tapi sejak anak keluar dari kandungan ibu. Ibu biasanya menjadi orang pertama dan utama bagi anak. Dimasa kanak – kanak, ibu sangat berperan sebagai perawat utama, dengan demikian ibu dituntut untuk tahu dan dapat memenihi kebutuhan fisik dan fisikis anak, agar tidak terjadi gizi kurang.
Faktor yang mempengaruhi buruknya keadaan gizi balitah adalah pola asuh yang kurang, komsumsi gizi yang tidak cukup, serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai, yang pada akhirnya berdampak pada kematian, (Adisasmito, 2008).
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pola asuh di Desa Rajang Kecamatan Lembang lebih banyak pada kategori kurang sebanyak 64 (58,7 %). Hasil ini berarti pola asuh anak balita kurang, dimana ibu sebagai pengasuh kurang memberikan perhatian khusus terutama dalam hal pemberian makanan, merawat dan memberikan kasih sayang.
Pola asuh anak sangat mempengaruhi aupan makanan yang di konsumsi, karena sebaik – baiknya pola pengasuhan anak maka semakin baik pula pola makan anak sehingga pemenuhan akan nutrisi untuk tubuhnya terpenuhi dan status gizi anak pun baik.
Tabel 5.6 Menunjukkan bahwa dari 109 balita terdapat 45 (41,3 %) responden yang pola pengasuhan anak dalam kategori cukup dan terdapat 64 (58,7 %) responden yang pola pengasuhan anak dalam kategori kurang. Dari 45 anak balita yang memiliki tingkat pola pengasuhan anak cukup dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 35 (32,1 %), Sedangkan dari 64 balita yang memiliki tingkat pola pengasuhan anak kurang dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 32 (29,4 %). Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji chi- square diperoleh nilai p value = 0,003 < nilai alpha (α = 0.05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pola pengasuhan anak dengan status gizi balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Endang Suwiji (2006) Hubungan Pola Pengasuhan Anak Gizi Dengan Peraktek Pemberian Makanan Pada Anak Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Medang Kabupaten Blora dan Ritayanti Lubis (2008) Hubungan Pola Pola Pengasuhan Anak Dengan Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Pantai Cermin Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat, yang menyatakan ada hubungan Pola Pengasuhan Anak dengan Status Gizi.

3. Hubungan Pendapatan Dengan Status Gizi
Pekerjaan dan pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor yang menentukan daya beli untuk memenuhi kebutuhan – kebutuhan di dalam rumah tangga. Bagi keluarga dengan pendapatan rendah dapat mempengaruhi kebutuhannya dengan sangat minim.
Rendahnya pendapatan keluarga merupakan tantangan lain yang menyebabkan keluarga tidak mampu makan dalam jumlah yang diperlukan . Rendahnya pendapatan itu mungkin disebabkan tidak bekerja atau susahnya memperoleh lapangan kerja tetap sesuai yang diinginkan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pendapatan keluarga di Desa Rajang Kecamatan Lembang lebih banyak pada kategori kurang sebanyak 64 (58,7 %). Hasil ini berarti pendapatan keluarga kurang, dimana pendapatan suatu keluarga merupakan salah satu unsur yang dapat mempngaruhi status gizi. Hal ini menyangkut daya beli keluarga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan.
Tabel 5.7 Menunjukkan bahwa dari 109 balita terdapat 49 (45,0 %) responden yang pendapatan keluarganya dalam kategori cukup dan terdapat 60 (55,0 %) responden yang pendapatan keluarganya dalam kategori kurang. Dari 49 anak balita yang memiliki tingkat pendapatan keluarga cukup dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 22 (20,2 %), Sedangkan dari 60 balita yang memiliki tingkat pendapatan keluarga kurang dengan memiliki status gizi kurang sebanyak 45 (41,3 %). Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji chi- square diperoleh nilai p value = 0,001 < nilai alpha (α = 0.05) sehingga Ho di tolak dengan interpretasi bahwa terdapat hubungan pendapatan keluarga dengan status gizi balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Ninik Asri Rokhana (2005) dalam penelitiannya tentang Hubungan Antara Pendapatan Keluarga Dan Pola Asuh Gizi Dengan Status Gizi Balita Di Betokan Demak yang menyatakan ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita,
Pendapatan suatu keluarga merupakan salah satu unsur yang dapat mempngaruhi status gizi. Hal ini menyangkut daya beli keluarga untuk memenuhi kebutuhan konsumsi makanan.
Penelitian ini sejalan dengan Nana Adriana (2007) dalam penelitiannya Hubungan Asupan Makanan dan Status Gizi Balita Usia 12 – 59 Bulan pada Kluarga Miskin di Desa Sawerigadi Kecamatan Muna Kabupaten Brangka Sulawesi Tenggara yang menyatakan ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita
Hasil penelitian ini diperkuat oleh pernyataan Berg (1986) Dalam Prianto (2005) Keluarga miskin akan membelanjakan sebagian besar dari pendapatannya untuk makanan. Jika terjadi pertambahan atau peningkatan pendapatan, maka presentase pengeluaran akan kebutuhan lain semakin meningkat. Namun adapula keluarga yang berpendapatan cukup tinggi tetapi asupan makanannya kurang karena yang dibelanjakan untuk mengkonsumsi makanan belum cukup memenuhi kriteria.
Tingkat pendapatan yang rendah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap status gizi keluarga. Keutuhan akan pangan sering kali tidak mencukupi kebutan anggota, (Sari Prianto, 2005).

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

 

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penyajian data penelitian tentang Faktor Yang Berhubungan Kejadian Status Gizi Pada Anak Balita, dengan variabel penelitian Pola Makan, Pola pengasuhan anak, Pendapatan keluarga dan status gizi dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Ada hubungan antara pola makan dengan status gizi balita di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
2. Ada hubungan antara Pola pengasuhan anak dengan status gizi di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.
3. Ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan status gizi balita di Desa Rajang Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang.

B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, penarikan kesimpulan diatas, makan saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Agar lebih berupaya untuk dapat menyusun dan menyediakan menu makanan yang variatif dengan kandungan gizi seimbang sehingga kebutuhan zat gizi terutama energi, dan protein dapat dipenuhi secara baik dan optimal agar dapat meningkatkan status gizi balita.
2. Bagi ibu yang pola pengasuhannya kurang terhadap anak, terutama dalam hal pemberian makanan, dan makanan yang dikonsumsi sebaiknya lebih diperhatikan agar kondisi anak tidak memperihatinkan.
3. Bagi ibu yang sebagai pengatur keuangan hendaknya dapat mengalokasikan atau menyisihkan sebagian pendapatan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan baik.

 

 

 

 

 

 

Iklan
Kategori:Tesis
  1. Fergie
    18 Desember 2012 pukul 1:39 pm

    thank you :*

    Fergie

  2. 4 Juni 2014 pukul 3:45 am

    bisa mnt daftar pustakanya , ada sebagian artikel yg saya ingin gunakan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: