Beranda > Menulis > Hanya kamu yang bisa

Hanya kamu yang bisa

Iya, Hanya Kamu yang bisa
melukis senyum terbaik dalam sejarah percintaan beberapa kali ada awan memayungi pandanganku, menghalangi mataku menatapmu
beberapa kali pula kuundang angin menyapa, jangan melangkah terlalu jauh sebab aku terlalu lemah untuk mengejar jejakmu. Aku meras atak sanggup jika kenangan yang pernah tercoret di kehidupan awal pertama kita hingga sekarang.

Sebab hanya kamu yang bisa menafasi setiap udara yang kuhirup kamu pula yang mampu melepaskan nadi-nadi yang terpasang renggang diantara jemariku, kau ibarat seorang ibu yang memperhatikan sang anaknya, kadang pula kau sebagai sahabat terdekat yang memberikan sumbangsih alur positif untuk kehidupan selanjutnya dan kadang pula kau sebagai musuh yang menurungkan perasaan untuk selalu bersama sampai akhir kelak dalam para kehidupan kita.

Tapi itulah kehidupan tak ada jalan yang begitu mudah di lewati semuanya punya rintangan, batu kerikil yang menganjal, ibarat kata orang bijak indahnya taman kesuksesaan yang dihiasi dengan bunga-bunga kegagalan.

Kini ku bersimpuh dan berusaha untuk membahagiakanmu semampu aku, karena Cinta ini seputih salju pada dongeng-dongeng yang diceritakan pujangga-pujangga cinta yang terkemuka. Hanya saja beberapa kali kita mencoba, dengan sengaja atau tidak mewarnainya dengan biru langit, hitam amarah atau coklat asmara.

Ny…..!!!
Cinta ini tetap putih meski ada gelisah yang perlahan-lahan menjelma naluri ini. Benih-benihnya kerap kau tanam di antara gurat-gurat masalah, di antara kita. Ingin aku menggugurkannya sebelum ia terlahir. Tapi kunanti ia, sehebat apa dia bisa merobohkan hingga terlahir rasa rindu kembali.

Sebab hanya kamu yang bisa menafasi setiap udara yang kuhirup kamu pula yang mampu melepaskan nadi-nadi yang terpasang renggang diantara jemariku hingga kau kembali meluruskan, tapi terkadang akulah yang belum bisa menangkap dan membaca bahasa-bahasa normatif yang kau berikan padaku pada hal jalur sebenarnya tujuan kita sama.

Ny…!!!
Perasaan ini semurni embun yang perlahan jatuh di subuh hari. Bulir-bulirnya mendinginkan jiwa-jiwa yang  penghapus kesadaran. Sayangnya mentari terlalu pagi datang, embun-embun beterbangan ke awan. Berulang kali aku berusaha mengejar, mengepakkan sayap yang kau beri. Tapi aku harus menunggu esok. Mereka pasti kembali. Mereka tak akan ingkar ikrar. Aku yakin.

Tapi aku yakin, ada cinta yang mampu memanggilmu kembali
meski engkau telah berlayar begitu jauh ke samudra yang tak kukenal
ada cinta terindah yang kupunya yang bisa menarikmu kembali ke pelukku
Ya, Ke pelukku Hunny!!!

Iklan
Kategori:Menulis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: