Di Sudut Antrian

Yang namanya antrian ada kata menunggu, siang tadi mendatangi sebuah bank pas setibanya masuk ambil nomor antrian dengan kode A 146 dan duduk di tempat antrian begitu banyak kesibukan yang terjadi dalam transaksi ada yang mengirim, penyetoran dan transfer. di sela-sela antrian yang menuggu nomor antrian hingga tak sadar sudah hampir 1 jam menunggu karena para nasabah membludak untuk melakukan tranaksi.

Dalam antrian sempat saya melihat yang berdiri di belakang saya karena tempat duduk sudah terisi semua, berbicara dengan satpam tiba-tiba saya perhatikan laki-laki tersebut mencuri tempat dan pergi ke meja teller dan menyetor buku tabungannya, pada hal dia baru datang tanpa mengambil nomor antrian, petugas pun dengan wajah yang kusam melayani bapak tersebut dengan postur tubuk yang tinggi dan sangat berwibah ternyata bapak itu adalah kepala dinas di salah satu instansi daerah, dalam hati sebelah kiri saya mengatakan wah, orang berpangkat, cuman yang menjadi asumsi saya hanyalah mungkin karena dia sibuk ataukah tak bisa menunggu sepahaman saya adalah pejabat adalah orang yang mengerti dan mampu memahami kondisi yang mereka pimpin tapi hal senada terlihat di hadapan saya tidaklah demikian hanya saya dia tak bisa menggu dan tak mau duduk dalam deretan antrian.

Selang bebrapa memperhatikan bapak tersebut hingga kembali berdiri di hadapan satpan setelah petugas mengcek dari buku tabungan bapak hingga memberikannya kembali dan langsung keluar dalam antrian yang panjang itu. mungkin dari hal ini saya belajar bahwa orang bisa segalanya dengan jabatannya baik di kantor dia bekerja maupun diluar kantor. Akar dalam penegakkan dimensi sosial kenegaraan dan tatakrama dalam sosial tidakklah mudah dalam penerapan. Hingga kini masyrakat kecil hanyalah masyarakat kecil dan yang besar semakin meraja lela dalam menngingkan kemauan mereka. Saya ingat kata-kata pakar penulis buku Alto dia mengatakan bahwa yang menindas dan yang tertindas sama-sama menggunting keadilan.

Iklan