Beranda > Doa > Tasawuf dalam Perspektif Budaya dan Pendidikan

Tasawuf dalam Perspektif Budaya dan Pendidikan

Oleh:
Dr. Reni Marlinawati

 A. Pendahuluan
Tasawuf dengan segala dimensinya merupakan bagian dari ajaran Islam yang mempunyai corak tersendiri. Kehadiran tasawuf dalam dunia Islam merupakan upaya mencari jalan keluar terhadap berbagai keserakahan duniawi. Pada generasi awal para sufi, upaya jalan keluar ini tak berbenturan dengan ulama, namun perjalanan berikutnya tasawuf seakan menjadi duri dalam daging bagi ulama. Alih-alih menjadi jalan keluar bagi persoalan umat, yang terjadi malah sebaliknya, perbedaan semakin meruncing dan tak jarang memakan korban.

Harus diakui secara jujur, ada upaya baik sengaja maupun tidak sengaja untuk terus mempertentangkan antara ulama dengan kaum sufi. Tuduhan dan fitnah satu dengan yang lainnya seakan sudah menjadi biasa. Dengan demikian, persoalan umat bukan semakin berkurang, sebaliknya malah semakin bertambah.

Dalam kesempatan ini saya tidak ada mempertentangkan antara paham sufi dan ulama, karena antara ulama dan sufi bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Saat ini saya ingin menyampaikan apa yang saya pahami tentang tasawuf dari bahan bacaan yang saya baca. Dalam panelaahan ini tentu saya akan melihat tasawuf dalam perpektif budaya dan pendidikan.

B. Memahami Hakikat Tasawuf
Dalam berbagai buku teks tasawuf, kata ini biasanya dirujukan kepada beberapa kata dasar. Termasuk di dalam kata Shaff (baris, dalam shalat) karena dianggap kaum sufi berada dalam shaf pertama. Atau Shuf, yakni bahan wol atau bulu domba kasar yang biasa mencirikan pakaian kaum sufi. Atau juga ahl al-Shuffah, yakni para zahid (pezuhud) dan zahid (ahli ibadah) yang tak punya rumah dan tinggal di serambi masjid nabi.1

Tapi, pada umumnya, berbagai definisi itu mencakup atau mengandung makna shafa (suci), wara (kehati-hatian ekstra untuk tidak melanggar batas-batas agama), dan ma’rifah (pengetahuan Ketuhanan atau tentang hakikat segala sesuatu). Tapi, kepada apapun dirujukan, semua sepakat bahwa kata ini terkait dengan akar shafa yang berarti suci. Pada gilirannya, ia akan bermuara pada ajaran al-Qur’an tentang penyucian hati (lihat al-Qur’an surat al-Syams, ayat 7-10).2

Pada dasarnya tasawuf adalah upaya para ahlinya untuk mengembangkan semacam disiplin (riyadhah) – spiritual, psikologis, keilmuan dan jasmaniah – yang dipercayai mampu mendukung proses penyucian jiwa atau hati sebagaimana diperintahkan dalam kitab suci tersebut.3

Definisi lain juga diberikan oleh ahli tasawuf seperti Martin Lings dan Annemarie yang mempunyai makna yang hampir sama.

Sufism is nothing other than Islamic mysticism, which means that it is the central and most powerful current of that tidal wave which constitutes the Revelation of Islam; and it will be clear from what has just been said that to affirm this is in no sense a depreciation, as some appear to think.4

Mysticism can be defined as love of the Absolute – for the power that separates true mysticism from mere ascetism is love. Divine love makes the seeker capable of bearing, even of enjoying, all the pains and afflictions that God showers upon him in order to tes him and ti purify his soul. 5

Sedangkan Prof Mulyadhi Kartanegara, melihat tasawuf sebagai salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual dari Islam. Spiritualitas ini dapat mengambil bentuk yang beraneka ragam di dalamnya.
1. Dalam kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya;
2. Dalam kaitannya dengan kehidupan, tasawuf lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia yang fana;
3. Dalam kaitannya dengan pemahaman keagamaan, tasawuf lebih menekankan aspek esoteric ketimbang eksoterik;
4. Dalam kaitannya dengan penafsiran lebih menekankan penafsiran batin ketimbang penafsiran lahir.

Dari definisi di atas tentang tasawuf, dapat diambil garis tengahnya yaitu tasawuf lebih menekankan spiritualitas dalam berbagai aspeknya. Hal ini disebabkan karena para ahli tasawuf, yang kita sebut sufi, memercayai keutamaan “spirit” ketimbang “jasad”, memercayai dunia spiritual ketimbang dunia material. Secara ontologism mereka percaya bahwa dunia spiritual lebih hakiki dan riil dibanding dengan dunia jasmani. Bahkan sebab terakhir dari segala yang ada ini, yang kita sebut Tuhan, juga bersifat spiritual.6

Lebih jauh menurut Prof Mulyadhi, para sufi menyebut dirinya sebagai “ahl haqiqah”. Penyebutan ini mencerminkan obsesi mereka terhadap kebenaran yang hakiki. Karena itu, mudah dipahami kalau mereka menyebut Tuhan dengan “al-haqq”. Obsesi terhadap hakikat (realitas absolut) ini tercermin dalam penafsiran mereka terhadap formula “la ila ha illa Allah”. Penafsiran terhadap kalimat tauhid tersebut merupakan penafian terhadap eksistensi dari yang selainNYA. Allah adalah mutlak, sedangkan alam adalah nisbi. Allah ibarat matahari, sedangkan alam adalah cahayanya. Matahari tidak bergantung keberadaannya pada cahayanya, tetapi cahaya sangat bergantung pada matahari. Sifat dirinya adalah niscaya atau wajib, sedangkan sifat dasar alam adalah mungkin pada dirinya.7

Tasawuf dalam konteks ke Indonesiaan bukanlah sesuatu yang baru. Para pejuang Islam terdahulu pada umumnya adalah kalangan sufi. Diantara mereka adalah sebagai berikut:

Wali Songo
Syekh Siti Jenar
Hamzah Fansuri
Syamsudin Sumatrani
Nurudin al-Raniri
‘Abd al-Rauf Singkel
‘Abd al-Shamad al-Palimbani
Muhammad Nafiz al-Banjari
Syekh Yusuf al-Makasari
Daud al-Fatani
Ismail al-Minangkabawi
‘Abd al-Wahab Rokan dari Langkat
Syekh Ahmad Khatib Sambas
Abd al-Karim Banten
Syekh Muslin Ibn Abd al-Rahman dari Mranggen, Demak, Jawa Tengah
K.H. Romly Tamim dari pesantren Darul Ulum, Jombang
K.H.A. Shohibulwafa Tajul ‘Arifin dari Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat.8

Seorang ulama besar di Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan sebutan Buya Hamka, yang juga baru saja menerima gelar sebagai pahlawan nasional, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap tasawuf. Sebagai bukti kecintaannya terhadap tasawuf Hamka menulis rubrik tasawuf modern antara tahun 1937 sampai 1938 dalam majalah yang diasuhnya yaitu majalah Pedoman Masyarakat.

Meski mencintai tasawuf, namun Hamka memberikan catatan kritis terhadap tasawuf yang banyak menyimpang dari ajaran Islam. Menurut Hamka, kalangan sufi hendak memerangi hawa-nafsu,dunia dan setan, tetapi kadang-kadang mereka tempuh jalan yang tidak digariskan oleh agama. Terkadang mereka haramkan kepada diri sendiri barang yang dihalalkan Tuhan, bahkan ada yang tidak mau lagi mencari rezeki, menyumpahi harta, membelakangi hura-hura dunia, membenci kerajaan. Sehingga kemudiannya, ketika bala tentara Mongol masuk ke negeri Islam, tidak ada lagi senjata yang tajam buat menangkis, sebab orang telah terbagi dan terpecah.9

Selain kritik yang disampaikan oleh Hamka, masih ada beberapa lagi masalah yang menjadikan kritikan kalangan ulama terhadap kaum sufi. Salah satu masalah yang kontroversial tentang tasawuf adalah anggapan bahwa kaum sufi menyepelekan keharusan menaati kewajiban-kewajiban syari’at. Barangkali tak ada anggapan tentang tasawuf yang lebih salah dari ini.

Kritik atau bahkan tuduhan tersebut, bukan sesuatu yang mengada-ada, sikap kurang mementingkan syari’at seolah-olah shalat, puasa dan berbagai bentuk ibadah mahdhah itu hanyalah untuk orang awam. Dengan kata lain, seseorang yang sudah mencapai maqam paling tinggi dalam tasawuf tidak lagi perlu syari’at. 10

Jika kita telaah secara seksama pandangan kaun sufi terhadap syari’at sangat jelas, yaitu syari’at merupakan fondasi untuk menuju hakikat. Karenanya, tak ada satupun tokoh tasawuf sepanjang sejarang yang pernah menyatakan atau menunjukan sikap meremehkan syari’at. Kaum sufi pada saat yang sama dikenal sebagai abid atau ubbad (para ahli ibadah) melalui penyelenggaraan ibada-ibadah syar’i. Makin sufi seseorang, makin intens ibadah-ibadah dilakukannya. Atau, diungkapkan secara lain, tingkatan kesufian seseorang justru ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Bagi kaum sufi, syari’at adalah landasan tasawuf (thariqah) sedang thariqah adalah jalan menuju hakikat11 (haqiqah atau kebenaran sejati).12

Kritik yang sangat tajam, sehingga menimbulkan pandangan yang negatif terhadap kaum sufi, bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Menurut Annemarie Schimmel13 dan juga Haidar Bagir, berpandangan bahwa hal itu lahir dari adanya suatu kelompok tertentu dalam sejarah tasawuf yang disebut sebagai Malamati (yang mendedahkan diri terhadap celaan orang). Seperti namanya kelompok ini berpendapat bahwa, untuk dapat terjauhkan dari dunia dan dekat kepada Allah, mereka harus mendedahkan diri mereka kepada celaan-celaan orang. Makin banyak dicela dan makin rendah kedudukan mereka ditengah-tengah manusia, menurut pendapat kelompok ini makin mungkin mereka untuk bersikap rendah diri dihadapan Allah SWT. Meski pendapat seperti ini, bukannya sama sekali tak berdasar, terkadang ia diselewengkan. Ada sekelompok diantara orang-orang yang mengaku sufi seperti ini (bisa disebut mutashawifiin, kaum “sok sufi”) menampilkan diri sebagai orang-orang yang tidak menjalankan perintah syari’at, agar menurut pengakuan mereka orang menganggap buruk dan mencela mereka.14

Selanjutnya, disamping adanya ritual-ritual tertentu yang dianggap bertentangan dengan praktik-praktik ajaran Islam. Sekurangnya ada tiga hal penting yang sering dipersoalkan orang mengenai tarekat ini: pertama, soal otoritas guru yang mutlak tertutup dan cenderung bisa diwariskan. Kedua, soal bai’at yang menuntut kepatuhan mutlak seorang murid kepada sang guru, seperti mayat di depan pemandinya; dan ketiga, soal keabsahan (validitas) garis silsilah guru yang diklaim oleh setiap tarekat sampai kepada Nabi SAW. Mengenai yang ketiga, memang di dunia tarekat ada beberapa contoh silsilah lengkap, disusun sebelum abad ketigabelas yang bersambung kepada Nabi SAW, namun banyak kritik yang mencurigai otentisitas sejarah silsilah itu.15

Dalam bukunya The Sufi Orders in Islam, J.Spencer Trimingham, seperti dikutip Haidar Bagir, seorang sejarawan tasawuf, menyatakan bahwa “tarekat pada mulanya adalah metode gradual, kontemplatif dan penyucian diri (thariqah): sekelompok murid berkumpul mengelilingi seorang guru sufi terkemuka, bersama-sama menempuh pelatihan ruhani, namun sama sekali tak terkait dengan bentuk bai’at apapun, “ia menyebut tarekat periode pertama ini (thariqah) sebagai “suatu ungkapan keberagamaan pribadi murni…yang bersebrangan dengan pelembagaan agama berdasarkan otoritas manusia.16 “ Pada periode kedua, sekitar abad keduabelas, pelatihan ruhani itu kemudian mengalami pelembagaan berdasarkan garis silsilah guru dan kewajiban bai’at. Akibatnya, pada periode ketiga, sekitar abad kelimabelas tarekat berubah menjadi struktur organisasi yang hierarkis (tha’ifah). Menurut Trimingham, menjamunya organisasi hierarki tarekat – yang menjadi menyerupai organisasi gereja dan cenderung dipimpin secara turun temurun, dengan makam para walinya sebagai pusat berdosa – praktis membawa kemunduran tasawuf dari nilai-nilai murninya.17

Belum lagi kritik-kritik serta pandangan negatif terhadap kalangan sufi diluruskan, kalangan sufi sendiri – khususnya dilevel akar rumput – terjadi penyimpangan yang sangat eksesif, dengan diperkenalkannya praktik-praktik pemujaan wali, promosi cara hidup miskin, dan kecaman terhadap kehidupan dunia dalam segala aspeknya. Di sisi lain dibelahan dunia Islam, lahir paham Wahabi yang secara khusus menentang penyimpangan kaum sufi. Sayangnya, konflik antara Wahabiyyah dan Tasawuf akhirnya hanya menghasilkan pelecehan secara semena-mena atas tasawuf, disitu pihak, dan kengototan dengan tasawuf- eksesif dipihak penganut tradisionalnya. 18

Apa yang menjadi kritik terhadap tasawuf di atas, maka Buya Hamka menyatakan, jika ada tasawuf menyimpang dari syari’at, maka tasawuf yang demikian tidaklah berasal dari ajaran Islam. Zuhud yang melemahkan itu bukanlah bawaan Islam. Semangat Islam ialah semangat berjuang, semangat berkorban, bekerja, bukan semangat malas, lemah-paruh dan melempem.19

Sebagai bukti kecintaan Hamka terhadap tasawuf, maka Hamka ingin membersihkan berbagai penyimpangan yang ada pada tasawuf. Hamka mengatakan, kita tegakan kembali maksud semula dari tasawuf20 , yaitu membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggikan derajat budi; menekankan segala kelobaan dan kerakusan, memerangi syahwat yang berlebih dari keperluan untuk kesentosaan diri.21

Mengingat kaum sufi adalah sebuah realita, maka eksistensinya tidak bisa dinafikan. Menjadi tugas kita semua untuk mengembalikan ajaran tasawuf pada jalan yang benar. Seorang sufi yang baik bukan hanya makhluk spiritual melainkan sekaligus social, yang mementingkan amal-amal saleh yaitu amal-amal untuk memperbaiki kwalitas lingkungan hidup kita. Secara social seorang sufi adalah orang yang punya concern atau keprihatinan social yang amat tinggi terhadap kaum dhu’afa dan mustadh’afiin. Ia sadar bahwa semua ‘ibadah mahdhah – akan tak berarti apa-apa, jika tidak memperhatikan dan memberikan makan orang miskin. Lebih dari itu, ia harus secara habis-habisan mengupayakan, agar orang lain juga memberikan perhatian kepada orang-orang papa dan tertindas seperti ini.

Seorang sufi yang benar sama sekali tidak menyangkal kehidupan dunia melainkan justru menjadikannya wahana untuk bertemu dengan Allah SWT. Jika diperlakukan dengan benar dunia adalah wahana bagi orang beriman untuk mendapatkan kejayaan diakhirat dan bukan sebaliknya, menjadi sumber keburukan.22

Seorang sufi yang individualistis, cuma berzikir tanpa mengurusi masyarakat dilingkungannya, sesungguhnya bukan seorang sufi. Sufi yang baik, bisa ditemui diperusahaan-perusahaan, bahkan mungkin ia adalah eksekutif di sebuah perusahaan besar. Kita mungkin tidak tahu bahwa ia mendapatkan gaji besar dan menggunakan sebagian besar gajinya untuk menolong orang-orang yang tidak mampu. Orang seperti ini, adalah seorang sufi yang baik, bukan para pengemis yang minta-minta kepada orang lain. 23

Tasawuf yang benar identik dengan agama Islam per se. Bukan tasawuf yang akhirnya menyebabkan kaum muslim mundur, menjadi antidunia, menjadi orang-orang miskin, anti rasionalisme, anti sains, tidak mengurusi masyarakat dan hanya menyibukan dirinya dengan berzikir, berwirid di pojok-pojok masjid tanpa memedulikan keadaan sekelilingnya. Seorang sufi tentu menekankan zikir, seperti Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka dikatakan sebagai rahib di malam hari. Tapi, di siang hari, mereka menjadi ksatria-ksatria, pejuang-pejuang social yang melakukan reformasi, untuk memperbaiki kwalitas masyarakatnya. Bahkan, seperti Rasulullah, kalau perlu berperang demi membela diri atau membebaskan kaum tertindas.24

C. Tasawuf dalam Perspektif Budaya
Setelah pemahaman tasawuf yang benar telah dipaparkan di atas, sekarang kita telaah dalam perspektif budaya Indonesia. Budaya adalah sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, music kepercayaan mempunyai kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologis dari sistem pengetahuan masyarakatnya. 25

Di sisi lain, al-Farouqi melihat bahwa kebudayaan adalah kesadaran akan nilai-nilai dalam kesemestaannya, yang pada tingkat terendah mengandung makna suatu kesadaran intuitif dari identitas nilai dan urutan tingkat yang sesungguhnya dari setiap nilai, serta kewajiban seseorang untuk mengejar dan mewujudkan nilai-nilai itu. 26

Yang menarik adalah kebudayaan Indonesia, menurut Sutan Takdir Alisyahbana, itu bukanlah sesuatu yang padu dan bulat, tetapi adalah sesuatu yang terjadi dari berbagai-bagai unsur yang tersusun bersimpang siur di seluruh Indonesia. Unsur sejarah yang menentukan kebudayaan Indonesia dapat kita bagi menjadi empat lapis yaitu:
1. Kebudayaan Indonesia Asli
2. Kebudayaan India
3. Kebudayaan Arab-Islam
4. Kebudayaan Modern Eropa-Amerika. 27

Sebelum kebudayaan India datang ke Indonesia, kebudayaan asli Indonesia dapat dikatakan mempunyai cara berpikir yang kompleks, yaitu bersifat keseluruhan dan emosional, yaitu amat dikuasai oleh perasaan. Dengan kata lain, pendekatan intuisi dalam kebudayaan asli Indonesia lebih dominan ketimbang nalar atau logika. Dengan demikian kedudukan agama, dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan menjadi amat penting. Kepercayaan kepada roh-roh dan tenaga-tenaga yang gaib meresapi seluruh kehidupan, baik kehidupan manusia seorang-seorang, maupun kehidupan masyarakat sebagai keseluruhan. 28

Karena kedudukan agama yang sangat kuat dalam kebudayaan Indonesia asli itu, telah selayaknya bahwa kehidupan ekonomipun rapat berjalin, malahan sering ditentukan oleh syarat-syarat agama. Orang memilih hari baik untuk memulai suatu usaha, berdasarkan kepercayaan kepada yang gaib. Tiap-tiap membuat rumah, perahu atau apapun, mesti disertai upacara agama. Dalam ekonomi ini amat penting kedudukan mantra-mantra dan sajian-sajian untuk memperoleh bantuan tenaga kudus yang baik, maupun untuk menolak pengaruh-pengaruh yang jahat. 29

Sebagai kebudayaan yang ekspresif yang dikuasai oleh intuisi perasaan, dan fantasi, tentulah tenaga penciptaan kesenian yang berdasarkan intuisi, perasaan dan fantasi itu amat besar. Bentuk dari pada seni yang rapat berjalin dengan agama adalah mitos, yang mengisahkan kejadian segala sesuatu dari bumi, manusia, hewan hingga adat istiadat yang kudus. Mitos itu biasanya diulang-ulang dalam upacara pada hari-hari yang penting dalam kehidupan masyarakat. 30

Jika penelaahan terhadap tasawuf dilihat dari budaya Indonesia, maka ada aspek kimiawi yang sama antara tasawuf dengan budaya Indonesia asli yaitu dominannya aspek intuisi dibandingkan aspek nalar. Hal inilah yang menjelaskan mengapa masyarakat Indonesia ketika Islam datang dapat dengan mudah menerima agama Islam.

Meski memiliki unsur kimiawi yang sama dengan budaya Indonesia asli, namun sayang kedatangan Islam ke Indonesia terbilang “lambat”. Sebab Islam yang datang ke Indonesia adalah Islam yang telah dikuasai sepenuhnya oleh golongan agama yang ortodoks maupun golongan ahli fiqih setelah mundurnya keberanian dan kecakapan berpikir filsafat dan ilmu pada umat Islam. Akibatnya masyarakat Islam Indonesia tidak pernah mengalami masa kemajuan filsafat dan ilmu, sehingga ketika manusia Eropa dari Renaissance datang kemari, kerajaan Islam satu persatu dengan mudah dapat dikalahkan.31

Dengan kata lain, jika tasawuf dilihat dalam perspektif budaya, maka ada sinergitas anatar nilai-nilai tasawuf yang intuitif dengan budaya asli Indonesia yang juga intuitif. Namun Takdir menyanyangkan kedatangan Islam ke Indonesia lebih berorientasi pada fiqih dan bukan para filusuf atau para sufi yang ilmuwan. Akibatnya masyarakat muslim Indonesia, seakan kehilangan jejak bagaimana memajukan Islam di bumi Nusantara.

D. Tasawuf dalam Perspektif Pendidikan
Tasawuf pada dasarnya adalah sebuah model pendidikan, namun pendidikan model tasawuf sulit diterima sebagai model pendidikan akademik. Sebab apa yang akan didapat dari model pendidikan tasawuf tidak dapat diukur dalam pendidikan modern dewasa ini. Sebagai contoh, Makrifat adalah sejenis pengetahuan dengan mana para sufi menangkap hakikat atau realitas yang menjadi obsesi mereka. Makrifat berbeda dengan jenis pengetahuan yang lain, karena ia menangkap objeknya secara langsung, tidak melalui “representasi”, sedangkan objek-objek intuisi, hadir begitu saja dalam diri orang itu, dank arena itu sering disebut ilmu “hudhuri” dan bukan ilmu “hushuli”, yakni ilmu yang diperoleh melalui latihan dan percobaan.32

Perbedaan makrifat dan jenis pengetahuan yang lain adalah cara memperolehnya. Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras, seperti belajar, merenung dan berpikir keras melalui cara-cara yang logis. Jadi manusia memang betul-betul berusaha dengan segenap kemampuanya untuk memperoleh objek pengetahuannya. Tetapi makrifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya bergantung pada kemurahan Tuhan.33

Model pendidikan tasawuf sebenarnya juga pernah diterapkan dalam model pendidikan kepribadian masyarakat Jawa dikalangan Istana. Dalam peristilahan Jawa kita mengenal sejumlah kata yang menunjukan betapa petingnya pendidikan yang membuat orang waskita, wicaksana, wirya, dan sampurna. Kata-kata seperti kawaskitaan, kawicaksanaan, kawiryan, dan kasampurnan merupakan atribut dari mereka yang kepribadian sempurna, salah satu syarat bagi kepemimpinan. Kualitas kepribadian itu bukanlah keterampilan, atau keahlian sebuah profesi, tetapi syarat umum bagi manusia ‘Jawa’, beradab.34

Transisi model pendidikan tasawuf ke arah pendidikan modern sebenarnya terjadi di dunia pendidikan pesantren. Menurut Kuntowijoyo, pendidikan pesantren berhasil menciptakan jenis kepribadian tersendiri, tidak diragukan. Kata-kata kunci seperti tawadhu (rendah hati) ikhlas, sabar, memenuhi etika hidup para santri. Lukisan-lukisan mengenai kepribadian seseorang digambarkan melalui perwatakan para Nabi atau para Orang Suci dari sahabat Nabi.35

Selain mempelajari etika yang berdasarkan agama, di pesantren juga diajarkan mata pelajaran formal lingkungan pesantren, itu jelas merupakan mata ajaran humaniora yang terpadu dengan agama, maka kehidupan kultural di lingkungan pesantren membantu penyelenggaraan pendidikan humaniora secara informal. Banyak sekali pengalaman kemanusian yang didapat oleh para santri pada waktu belajar dan sesudah belajar. Upacara-upacara peringatan hari-hari besar yang diadakan sepanjang tahun merupakan pengalaman keagamaan sekaligus pengalaman kemanusian yang khas pesantren. Dalam kumpulan cerita pendek Jamil Suherman, Umi Kalsum, dilukiskan diantaranya upacara mauludan yang memperingati kelahiran Nabi di Pesantren Jawa Timur. Bagi para santri dan penduduk desa pesantren umumnya malam mauludan adalah peristiwa yang paling mengesankan dalam hidup; keramaian terdiri dari arak-arakan selamatan dan berpuncak pada upacara pembacaan tarikh nabi. Pendidikan kemanusian juga tercermin dalam berbagai kisah sejarah nabi dan para sahabatnya.36

Lebih jauh, peranan pesantren dalam mentransformasikan model pendidikan tasawuf kepada masyarakat mempunyai peranan yang penting.Sejarah menunjukan bahwa peranan pesantren bagi kehidupan orang Jawa di pedesaan sangat penting. Budaya pesantren juga dialirkan kepedesaan. Sampai sekarang bentuk-bentuk kesenian yang ada di desa dan sangat dipengaruhi oleh pesantren ialah solawatan dalam berbagai variasinya.37

Hubungan antara tradisi pesantren dengan pedesaan dapat pula dilihat dari mata rantai persaudaraan tarekat. Gerakan-gerakan tarekat menjadi begitu penting di masa lalu dan masih sangat penting juga di masa kini. Tarekat yang mempunyai disiplin keras merupakan pendidikan yang efektif bagi para pesertanya. Melalui sebuah bai’at hubungan antara guru, (mursyid) dan murid merupakan ikatan seumur hidup. Dan melalui pemberian ijazah tuntunan dari guru kepada murid itu diberikan. Mata rantai antara murid wakil guru (badal mursyid) dan murid merupakan hubungan kemanusian dan spiritual yang mengikat. Tujuan zuhud yaitu menghidarkan diri dari kesenangan duniawi, menjadi puncak etik pengikut tarekat, sedangkan kesempurnaan spiritual dinyatakan dalam berbagai tingkatan (maqam) rohaniah. Dengan gambaran tentang pesantren dan budayanya menjadi terang, bagaimana sumbangan pesantren dalam kehidupan masyarakat pedesaan sebagai tempat bermuaranya semua kreatifitas budaya.38

E. Kesimpulan
Banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari tasawuf. Saat ini bukan saatnya lagi kita memperdebatkan atau mempersoalkan tasawuf yang hanya akan membuang-buang waktu saja. Saatnya kini kita mengambil apa yang baik dari tasawuf dan meninggalkan apa yang tidak sejalan dengan syari’at. Sebaliknya, bagi kalangan sufi untuk terus meningkatkan ukhuwah islamiyah dan menjadi semakin terbuka (inklusif), bukan sebaliknya menutup diri (eksklusif) seakan kebenaran hanya miliknya. Para sufi terdahulu Syekh Abdul Qadir Djaelani, Hamzah Fansuri serta tokoh sufi lainnya, adalah para sufi yang patut dicontoh dalam akhlaknya serta ketawadhu’annya. Para tokoh sufi tersebut betapa hancur perasaannya dan sedih, manakala mereka dikultuskan, dipuja serta dipuji bahkan sering melampaui Rasulullah sendiri.

Melalui penjelasan di atas bahwa ajaran tasawuf dalam perpektif budaya Indonesia sama sekali tidak ada pertentangan, yang terjadi justru malah sebaliknya, ada persenyawaan yang sangat kuat antara keduanya. Persenyawaan intuisi ini jika dikelola dengan baik, maka tak menutup kemungkinan muslim Indonesia akan menemukan kejayaannya yang tak sama dengan kejayaan muslim di tempat lain.

Model pendidikan tasawuf yang menekankan peran intuisi merupakan kebalikan dari model pendidikan barat yang mengutamakan intelektual. Namun dalam konteks Indonesia kedua model pendidikan ini harus dapat disatukan. Pesantren dalam hal ini adalah labolatorium yang sangat istimewa dalam melakukan transformasi antara pendidikan model barat dan pendidikan model tasawuf.

Rujukan
• Alisyahbana, Sutan Takdir (1982) Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat Dari Segi Nilai-Nilai, Dian Rakyat, Jakarta.
• Bagir, Haidar (2005), Tasawuf, Arasy Mizan, Bandung.
• Farouqi, Ismail R (1991) Islam dan Kebudayaan, Mizan, Bandung.
• Hamka, (1987) Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta.
• Kartanegara, Mulyadhi (2006) Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga, Jakarta.
• Kuntowijoyo, (1999) Budaya dan Masyarakat, Tiara Wacana, Yogyakarta.
• Lings, Martin (1975), What Is Sufism?, George Allen and Unwin, Cambridge.
• Mulyati, Sri (2006) Tasawuf Nusantara, Kencana, Jakarta.
• Nasr, Seyyed Hossein (Editor), (2003) Ensiklopedia Spiritualitas Islam, Mizan.
• Schimmel, Annemarie (1975) Mystical Dimensions of Islam, The University of North Carolina Press, Chapel Hill, USA.

Footnote:

Haidar Bagir, Tasawuf, Arasy Mizan, Bandung, 2005, hal.89.
Haidar, ibid,. hal.90.
Haidar, ibid,. hal.92.
Martin Lings, What Is Sufism?, George Allen and Unwin, Cambridge, 1975, hal.15
Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, The University of North Carolina Press, Chapel Hill, USA, 1975, hal.4.
Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Erlangga, Jakarta, 2006, hal.1-3
Mulyadhi, ibid,. hal.6-8.
Sri Mulyati, Tasawuf Nusantara, Kencana, Jakarta, 2006, hal.VII-VIII.
Hamka, Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1987, hal. 14.
Haidar, Op Cit,. hal.200.
Hal ini dapat kita lihat dari seorang sufi generasi pertama yaitu ‘Abd al-Qadir Jilani (470-561 H/1166-1077M) Jalan hidup religiusnya serta ketulusan hatinya telah membuat orang-orang semasanya terpesona, yang berkerumun mengelilinginya. Ia amat teliti dalam mengisi tiap menit kehidupannya dengan tuntunan syari’at dan sekaligus menuntut pengikutnya untuk juga mentaati hal tersebut secara ketat. Ia berpandangan bahwa syari’at merupakan sine qua non bagi segala bentuk kemajuan spiritual dan kebudayaan. Pendekatan ini tidak hanya menjembatani jurang yang membentang antara fuqaha dan para sufi, tetapi sekaligus juga menciptakan keseimbangan dikalangan hali fiqih dalam memahami hukum Islam, antara yang menekankan esensi (ruh, spirit) dan yang menekankan teks. Lihat, Khaliq Ahmad Nizami, Tarekat Qadiriyah, dalam, Seyyed Hossein Nasr (Editor), Ensiklopedia Spiritualitas Islam, Mizan, 2003, hal.8.
Haidar, ibid,. hal.139-141.
Annemarie, ibid,. hal. 23.
Haidar, ibid., hal.143-144.
Haidar, ibid., hal.178-180.
Hal yang sama juga disampaikan Seyyed Hossein Nasr, selama empat sampai lima abad pertama Islam, pengajaran tasawuf dilakukan oleh seorang guru individual kepada kumpulan muridnya. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Signifikansi Spiritual Dalam Kebangkitan dan Perkembangan Tarekat-Tarekat Sufi, dalam Seyyed Hossein Nasr (Editor), Ensiklopedia Spiritualitas Islam, Mizan, 2003, hal.3 .
Haidar, ibid., hal.177-178.
Haidar, ibid., hal.59.
Hamka, op.cit., hal. 15.
Menurut Buya Hamka, asal mulanya kaum sufi adalah ketika Islam berada dalam masa keemasannya dan kemajuannya banyak kalangan merasa bingung. Kekayaan bertimbun masuk ke dalam dunia Islam, kehidupan sangat mewah sehingga mahar al-Ma’mun kepada Bauran anak wajirnya saja lebih semiliun dinar. Di samping itu dalam majlis Istana terjadi bantahan ahli-ahli fikir tentang Ketuhanan, apakah Tuhan itu mentakdirkan juga akan kejahatan manusia. Tentang manusia sendiri, apakah masih tetap Islam kalau sekiranya dia mengerjakan dosa besar dan lain sebagainya. Sehingga kadang-kadang dapat menimbulkan sengketa dan perbantahan yang menyebabkan lalai mengerjakan ibadat. Tentu saja timbul golongan yang merasa jemu melihat itu, lalu menyisihkan dirinya. Maka menjauhkan diri dari orang dunia dari orang yang katanya pintar, tetapi telah terlampau pintar, atau orang yang dilalaikan hartanya.
Hamka, ibid., hal. 17.
Haidar, op.cit., hal.206.
Haidar, ibid., hal.211.
Haidar, ibid., hal.212.
Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1999, hal.XI.
Ismail R Farouqi, Islam dan Kebudayaan, Mizan, Bandung, 1991, hal.7.
Sutan Takdir Alisyahbana, Sejarah Kebudayaan Indonesia Dilihat Dari Segi Nilai-Nilai, Dian Rakyat, Jakarta, 1982, hal.7.
Sutan, ibid., hal.17.
Sutan, ibid., hal.22.
Sutan, ibid., hal.22.
Sutan, ibid., hal.39-40.
Mulyadhi, op.cit., hal.10-11.
Mulyadhi, ibid., hal.13.
Kuntowijoyo, op.cit., hal.39.
Kuntowijoyo, ibid., hal.46.
Kuntowijoyo, ibid., hal.45.
Kuntowijoyo, ibid., hal.46.
Kuntowijoyo, ibid., hal.47.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: