Beranda > Menulis > Lisensi Tahun baru

Lisensi Tahun baru

Konon, perayaan pertama tahun baru ini dilakukan oleh bangsa babylonia sebelum masehi (SM). Bangsa ini merayakanya pada tanggal 23 maret, karena saat itu adalah mulainya musim semi dimana lahan siap ditanami. Tahun baru 1 januari adalah warisan dari julius caesar, pada tahun 46 SM, ketika ia menciptakan sistem kalender baru. Kata januari sendiri berasal dari kata janus, nama dewa yang digambarkan memiliki 2 wajah, satu melihat ke depan, dan satu melihat kebelakang.

Tahun baru ini kemudian tidak selalu jatuh pada tanggal 1 januari, namun pernah diubah menjadi tanggal 25 Desember, kemudian tanggal 25 Maret, dan akhirnya pada abad ke 16 umumnya negara-negara barat telah menggunakan sistem penanggalan gregorian menjadi 1 januari sebagai Tahun Baru.

Kebanyakan orang di masa silam atau kaum pagan, penyembah berhala, memulai tahun yang baru pada hari panen. Mereka melakukan kebiasaan untuk meninggalkan masa lalu dan memurnikan dirinya untuk tahun yang baru. Orang persia kuno mempersembahkan hadiah telur sebagai lambang produktivitas. Orang romawi kuno saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci.

Belakangan mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar dewa janus. Orang-orang romawi mempersembahkan hadiah seperti itu. Para pendeta keltik memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada umat mereka, Pada tahun 457 masehi gereja melarang kebiasaan ini yang dianggapnya merupakan kebiasaan kafir.

Sekalipun tahun baru merupakan hari suci umat kristiani, namun perayaan tersebut telah bergesar menjadi tradisi sekuler, seperti di Amerika serikat misalnya, kebanyakan perayaan makam tahun baru, dilakukan dengan melakukan kongkow di pub, bar, tempat hiburan serta pesta-pestat dan ada pula pesta semacam orgyparty dan sebagainya.

Pengaruh budaya luar tersebut begitu terasa seperti yang terjadi di jakarta, malam tahun baru adalah panorama hidup yang sarat desonansi. Ditengah hingar-bingar, menghampar, menggeliat, mendenyutkan banyak peristiwa. Pusat-pusat hiburan menggeliat menawarkan romantisme dan meng-hidupkan atmosfir kemayaan dengan segala bentuk menifestasinya. Menghamburkan uang adalah perkara sepele bagi pemanjaan selera. Ada mabuk-mabukan, ekstasi,seks,judi, dan entah apa lagi. Belum lagi penghamburan BBM, berapa juta liter bensin yang terbuang percuma saat kemacetan merayap di jalan ibukota. Apakah memang kita harus melakukan yang demikian….. ?

Kalaupun kita turut serta, seharusnya hal itu menjadi PENGINGAT pentingnya waktu, dan menjadi momen muhasabah, renungan diri, introspeksi (tafakur) bukan malah menjadikan malam retrospeksi. Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, ” Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti hidup, sebab waktu adalah kehidupan itu sendiri” mudah-mudahan di tahun-tahun mendatang kita sebagai kaum muslim, setidaknya bisa mengingatkan diri kita sendiri, anak-anak kita termasuk karib kerabat untuk tidak larut dalam perayaan tradisi sekuler kaum paganisme, yang mengarah untuk kembali pada zaman jahiliyah. AMIN ya Robbal alamin.

Sumber : http://id.shvoong.com/WebAgents/Redir.aspx?wID=5&tURL=http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2346119-lisensi-tahun-baru/

Iklan
Kategori:Menulis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: