Beranda > Entrepreneur, Sosial > Menyoal Bisnis Sosial sebagai Sebuah Solusi

Menyoal Bisnis Sosial sebagai Sebuah Solusi

Berbicara mengenai masalah kemiskinan dan indeks kualitas sumber daya manusia, tentu tidak terlepas dari kondisi perekonomian sebuah Negara. Selain itu, indikator-indikator seperti kondisi sosial, politik, serta keamanan juga menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan. Di Indonesia sendiri jumlah penduduk prasejahtera mencapai 29,89 juta orang (12,36 persen) per September 2011. Jika dibandingkan dengan penduduk prasejahtera pada bulan Maret 2011 yang berjumlah 30,02 juta orang (12,49 persen), jumlah tersebut sebetulnya berkurang 0,13 juta orang. Kendati demikian, angka 0,13 juta tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata mengingat hal itu juga merupakan persoalan yang cukup pelik dan patut dipecahkan. Bahkan sebaliknya, ekonom dari Econit, Dr Hendri Saparini, menjelaskan bahwa jumlah masyarakat prasejahtera sebenarnya jauh lebih besar jika orang yang mendekati garis kemiskinan turut dihitung. Jika diasumsikan satu keluarga beranggotakan empat orang dari 17,5 juta keluarga penerima beras miskin, maka sesungguhnya jumlah masyarakat prasejahtera di Indonesia mencapai 70 juta jiwa. Dari sini kita dapat melihat bahwa sebetulnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah.

Jika kita mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada krisis global di tahun 2008, maka persoalan ekonomi dan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Dua variabel ini saling terikat satu sama lain karena saling memiliki pengaruh yang cukup signifikan jika keduanya mengalami perubahan. Maka salah satu solusi jangka panjang yang ditawarkan dalam memecahkan persoalan ekonomi dan sosial sebuah Negara adalah dengan mengembangkan konsep bisnis sosial.

Konsep bisnis sosial pertama kali digagas oleh Muhammad Yunus dengan proyek bisnis sosial pertamanya, Bank Grameen di Bangladesh. Bank ini sengaja didirikan untuk membantu orang-orang paling miskin disekitarnya dengan memberikan kredit mikro. Pada tahun 2006, bisnis sosial yang digagasnya ini ternyata berbuah Hadiah Nobel Perdamaian atas upayanya menciptakan manfaat ekonomi dan sosial bagi rakyat miskin.

Menurut Muhammad Yunus, terdapat dua jenis bisnis sosial. Pertama, perusahaan berorientasi keuntungan yang dimiliki oleh kaum papa untuk memenuhi misi sosialnya yaitu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Kedua, bisnis yang memenuhi kriteria berikut: tidak ada keuntungan yang dibagikan kepada investor dan pemilik perusahaan; mandiri secara keuangan; bertanggung jawab secara ekologi; bisnis tersebut harus didedikasikan untuk kepentingan sosial; bisnis tersebut memberikan gaji kepada karyawan lebih baik daripada gaji rata-rata; dan bisnis tersebut harus dijalankan dengan ikhlas. Dilihat dari tujuannya maka logika bisnis sosial berbeda dengan logika organisasi nirlaba maupun bisnis konvensional. Sasaran bisnis sosial adalah untuk memecahkan masalah sosial dengan menggunakan metode bisnis. Jadi, bisnis sosial dikelola secara profesional, seperti halnya bisnis konvensional, namun tidak bertujuan memaksimalkan laba, melainkan kemanfaatan sosial. Sehingga bisnis sosial berusaha mengubah pengertian pelaku bisnis dari sudut pandang “mencari profit” menjadi “membantu masyarakat luas”. Jika bisnis komersil menekankan pada kapitalisasi dan mengandalkan jaminan untuk membangun kepercayaan, lain lagi dengan bisnis sosial yang justru menekankan pada rasa saling percaya dan kebersamaan. Dalam praktiknya, konsep bisnis sosial difokuskan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat prasejahtera dengan program-program yang berkesinambungan, dan pada saat yang bersamaan meningkatkan kesadaran sosial di antara pelaku bisnis.

Merujuk pada penjelasan di atas, maka sejak akhir 2010, Putera Sampoerna Foundation (PSF) bertransformasi dari organisasi filantropi menjadi sebuah institusi bisnis sosial. PSF memiliki fokus dan tujuan untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan Indonesia yang berkualitas dan pelaku wirausahawan handal demi menghadapi tantangan global. Melalui empat pilar utama pada pendidikan, pemberdayaan perempuan, kewirausahaan, serta bantuan kemanusiaan, PSF memberdayakan masyarakat dengan program-program yang berkesinambungan demi meningkatkan taraf hidup orang banyak dan mencapai visinya. Dari sisi pendidikan, misalnya, PSF membuka program School Development Outreach (SDO). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara holistik yang memusatkan pada pengembangan kualitas tenaga pendidikan, pengembangan kurikulum, hingga sistem manajemen sekolah di Indonesia. Di bidang pemberdayaan perempuan, PSF mendirikan Sahabat Wanita yang memberikan pelatihan dan pembiayaan mikro kepada perempuan yang tergabung dalam Yayasan Sahabat Wanita di Tangerang. Kemudian, untuk menjembatani para wirausahawan yang memiliki ide bisnis cemerlang untuk mengakses kapital, PSF melalui MEKAR entrepreneur network mempertemukan para pemilik ide tersebut dengan para calon investor. Beberapa program ini merupakan contoh nyata implementasi konsep bisnis sosial, dimana pendapatan dari program tersebut digunakan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan sosial berkesinambungan demi kepentingan masyarakat Indonesia.

Sosialisasi mengenai evolusi PSF menjadi bisnis sosial tidak berlangsung satu malam. Komunikasi yang intensif bahwa terdapat perbedaan besar antara bisnis profit dan bisnis sosial masih sangat diperlukan. Terlebih lagi masih banyak kesimpangsiuran pemahaman mengenai CSR (Corporate Social Responsibility) dan bisnis sosial. Menurut Muhammad Yunus, CSR merupakan bagian dari perusahaan atau korporasi yang fokusnya adalah memaksimalkan profit. Dalam praktiknya, mereka mengalokasikan sejumlah dana untuk kepentingan sosial. Sementara bisnis sosial, seperti apa yang dilakukan oleh PSF, memiliki konsep di mana semua aktivitas bisnis yang dijalankan adalah sepenuhnya untuk kepentingan sosial dan kebaikan bersama dan secara profesional. Harapannya, melalui aktivitas yang dijalankan, PSF dapat berkontribusi dalam perubahan Indonesia yang lebih baik. Agar masyarakat luas semakin memahami konsep bisnis sosial, PSF terus mengupayakan edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan untuk tercapainya perubahan mindset, bahwa hidup bukan sekadar mencari keuntungan.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: