Beranda > Berita > Kisah Akil Mochtar, Refly Harun, dan Bupati Simalungun

Kisah Akil Mochtar, Refly Harun, dan Bupati Simalungun

Akil pernah berkata, “Saya terlalu murah untuk harga Rp20 miliar.”

200289_ketua-mahkamah-konstitusi--mk--akil-mochtar_663_382
VIVAnews – Nama Akil Mochtar sempat ramai diberitakan tahun 2010. Kala itu, Akil yang sudah menjadi hakim konstitusi mengaku pernah dituduh Refly Harun sebagai makelar kasus untuk memenangkan perkara di Mahkamah Konstitusi (MK).

Refly Harun bukan nama baru di MK. Pernah menjadi staf ahli MK, Refly kala itu menjadi pengacara Bupati Simalungun JR Saragih. Di sebuah media nasional edisi 25 Oktober 2010, Refly menulis artikel opini berjudul: ‘MK Masih Bersih?’

Artikel ini menuai kontroversi karena MK sebagai produk reformasi masih dikenal sebagai peradilan modern yang bersih. Tak tinggal diam, MK kemudian meminta Refly membuktikan tulisannya itu dengan membentuk tim investigasi karena kasus tersebut kemudian menyeret sejumlah nama hakim konstitusi, terutama Akil Mochtar.

Akil Mochtar memang menjadi salah satu hakim yang menangani gugatan Bupati Simalungun Jopinus Ramli Saragih pada April 2010. Berdasar pengakuan dua pengacara, Refly Harun dan Maheswara Prabandono, ke tim investigasi hakim konstitusi, Bupati Simalungun meminta Refly untuk menurunkan biaya pengacara menjadi Rp 2 miliar. Pasalnya, Bupati Simalungun itu akan memberikan Rp 1 miliar ke seorang hakim MK. “Dalam pembicaraan itu disebut nama saya,” kata Akil, kala itu.

Akil yang tak terima namanya diseret-seret, mempertanyakan mengapa kasus suap ini baru diungkap Refly setelah sekian lama, melalui media massa pula. “Kenapa diam saja, kenapa menunggu dulu, kenapa nulis di koran dengan opini, kenapa bentuk tim, itu yang akan saya laporkan,” ujar Akil.

Tak hanya itu yang membuat Akil berang. Dia mengaku pernah dituduh Refly Harun menjadi makelar kasus untuk memenangkan perkara di MK. “Itu omong kosong. Memang buktinya ada?” kata Akil, 3 November 2010.

Akil menceritakan bahwa dirinya dituduh mengatur perkara dengan anggota Panitia Pemilihan Kecamatan. Padahal, kata Akil, dirinya kerap menerima pesan singkat, misalnya dari Papua yang mengancam keluar dari NKRI jika dikalahkan MK.

“Ada juga yang SMS, perkara Marauke mengeluarkan uang Rp20 miliar untuk Pak Akil, Hamdan, Ibu Maria, Pak Alim. Bayangkan, SMS seperti itu apakah kita langsung percaya? Itu SMS ditunjukan langsung ke saya,” ungkapnya.

Menurut Akil, melakukan transaksi suap senilai Rp20 miliar tidaklah mudah. Sebab, jika ingin dimasukkan ke rekening sendiri di bank harus diverifikasi terlebih dahulu. “Saya tidak punya uang Rp20 miliar di rekening. Dan saya terlalu murah untuk harga Rp20 miliar,” ucapnya.

Akil pun meminta Refly untuk melakukan klarifikasi atas tuduhannya itu. Akil balik menuding, tuduhan itu dilayangkan Refly karena sengketa Pilkada di Papua ditangani Refly selaku pengacara salah satu pihak. “Itu kan subyektif, tidak benar, bohong, karena dia kalah.”

Tim Investigasi
Ketua MK Mahfud MD kala itu langsung mengangkat Refly Harun, yang juga seorang pakar hukum tata negara, sebagai ketua tim investigasi pengungkapan markus di MK. Refly ditunjuk sekaligus untuk membuktikan tulisan opininya di sebuah media massa.

Mahfud MD memberi Refly waktu sebulan untuk membuktikan opininya tersebut. Untuk membantu Refly, MK menunjuk sejumlah tokoh dan pakar, yakni Bambang Widjajanto, Adnan Buyung Nasution, Bambang Harymurti, dan Saldi Isra. Bambang kini menjadi Wakil Ketua KPK.

Hasilnya, tim investigasi tidak beerhasil mnemukan bukti tudingan Refly. Berbekal hasil investigasi itu, Akil kemudian melaporkan Refly dan Bupati Simalungun JR Saragih ke KPK, 10 Desember 2010 atas dugaan percobaan penyuapan.

Diberitakan sebelumnya, Akil terjaring operasi tangkap tangan KPK pada Rabu malam 2 Oktober 2013. Bersama Akil, penyidik KPK juga menangkap empat orang lainnya, salah satunya adalah anggota DPR dari Fraksi Golkar Chairun Nisa.

Akil ditangkap setelah menerima uang sekitar Rp3 miliar dari Chairun dan pengusaha Cornelis di rumah dinas Akil, Jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan, semalam.

Hingga Kamis siang, Akil dan sejumlah orang yang diamankan dalam operasi tangkap tangan ini masih berstatus terperiksa. Mereka diperiksa intensif di Gedung KPK. Penyidik punya waktu 1×24 jam untuk menentukan apakah ada indikasi tindak pidana korupsi. (sj)

Sumber: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/448845-kisah-akil-mochtar--refly-harun--dan-bupati-simalungun
Iklan
Kategori:Berita
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: