Beranda > Blog, SEO > Menuju PLN Bersih dan Melayani

Menuju PLN Bersih dan Melayani

web-banner-PLN-Bersih-850x285Cerita Titi Bejane adalah salah satu karyawan di PLN Berikut infonya :

Ketika mulai bergabung dengan PLN lebih dari 30 tahun yang lalu (pada waktu itu masih berbentuk perusahaan umum), beruntung sekali saya ditempatkan dalam satu unit (sebut saja unit A) yang dipimpin oleh seseorang yang sangat tegas dan terkenal dengan integritasnya. Sampai saat ini saya masih sangat terkesan dengan sikapnya, terutama dalam memegang prinsip bersih dari korupsi. Bingkisan apapun yang diberikan oleh pemborong atau pihak manapun yang diperkirakan mempunyai kepentingan dengan PLN akan dikembalikannya.
Beberapa waktu kemudian saya dimutasikan ke unit PLN lainnya (sebut saja unit B). Astaga, ternyata bos saya yang semula di unit A dimutasikan juga menjadi salah satu unsur pimpinan di unit B. Pimpinan tertinggi di unit B itu juga orang yang bersahaja dan dikenal bersih dari korupsi. Pesan pimpinan tertinggi di unit B yang masih terngiang di telinga mantan anak-anak buahnya adalah, ‘Jangan meminta hadiah atau balas jasa, jangan memerasdan jangan mempersulit kontraktor.’

Kalau digabung dengan sikap mantan bos di unit A, maka lengkaplah semboyan antikorupsi yang menjadi pegangan korps kami di unit B yang menangani pekerjaan dengan nilai raksasa, yaitu, ‘Jangan meminta, bahkan diberi hadiah-pun dari kontraktor, jangan…!’ Bisa dibilang periode balita (bawah lima tahun) pengalaman kerja saya memberi kesan bahwa PLN itu bersih. Pendewasaan berlangsung ketika saya harus mutasi ke unit PLN yang lain lagi (sebut saja unit C). Unit tersebut merupakan suatu unit organisasi yang telah terbentuk cukup lama dengan lingkup pekerjaan yang relatif tetap dan berulang-ulang. Di unit ini (lebih dari 25 tahun yang lalu) saya baru mengetahui belang lingkungan kerja yang sesungguhnya. Ternyata, tidak semua unsur di dalam PLN itu bersih.

Ada oknum dari unsur-unsur tertentu dalam unit C yang kemungkinan bekerjasama untuk memanfaatkan sebagian anggaran tahunan unit C untuk kepentingan diri sendiri ataupun kelompoknya. Pada waktu itu ada yang memberitahu saya bahwa di institusi lainnya, kerjasama ‘kotor’ tersebut lazim dijumpai.Untuk setiap transaksi, pemberi pekerjaan akan menerima komisisekian  persen. Di sini saya baru dapat memahami makna berita di media massa yang terkadang memuat topik tentang komisi sepuluh persen, tentang kebocoran anggaran, dan sebagainya.

Dalam kodisi seperti ini, setiap pegawai yang berada di dalam suatu institusi atau unit seperti di unit C tersebut, memperoleh ujian yang    sesungguhnya; yaitu tetap bertahandalam posisi tetap bersih atau berperan menambah warna hitamdalam lembaran kehidupan PLN. Ketika beberapa waktu yang lalu pemerintah menyuarakan sikaptegas dalam pemberantasan korupsi, saya sempat beranggapan bahwasejak saat itu pula praktek-praktek korupsi dapat dieliminasi sampai ke titik nadir. Namun, kenyataan  bicara lain. Di awal tahun ini,
seorang pegawai yang sudah bekerja di PLN sekitar tujuh tahun, dari suatu bagian yang banyak berinteraksi dengan perusahaan lain, mencurahkan isi hati kepada saya tentang sulitnya tetap bersih di lingkungannya yang kotor. Dia pun bercerita tentang hadiah yang pernah disodorkan oleh seseorang. “Apa yang harus saya lakukan dengan hadiah itu?” dia bertanya gamang.

Saya menjawab, “Jangan diterima. Anda akan merasa lebih  berbahagia kalau Anda mampu menolak pemberian tersebut, dibandingkan  kalau Anda menerima”. Dia terlihat berpikir serius. Saya berharap agar dia dapat  bertahan tetap bersih. Mencermati kondisi yang diuraikan di atas, saya menyimpulkan bahwa untuk mewujudkan kondisi yang bersih di  dalam suatu unit, maka peran pimpinan tertinggi di unit tersebut  sangat menentukan. Apabila pimpinan tertinggi memberi “warna hitam”, maka kemungkinan besar seluruh unit tersebut akan  turut  “berwarna hitam”. Mungkin tetap akan ada beberapa pegawai yang sanggup bertahan dengan prinsip hidup bersih. Namun, dia
tak akan bisa berbuat banyak.Apabila pimpinan tertinggi memberi “warna putih bersih”, maka unit tersebut dipastikan akan memiliki kondisi bersih.

Mungkin ada segelintir pegawai yang mencoba mencoreng  dengan warna hitam. Namun, dengan pengawasan tersistem, warna hitam itu tentunya bisa dilokalisir. Kondisi bersih pada hakekatnya merupakan hasil dari  implementasi sikap hidup yang melayani dan mensyukuri  kasih karunia dan anugerah Tuhan dalam kehidupan seseorang.  Kebijakan PLN dalam memberikan penghasilan yang memadai  bagi para pegawai sesuai dengan tingkat jabatannya, yang dilengkapi dengan fasilitas pemeliharaan kesehatan, seyogyanya sudah membuat para pegawai dapat bekerja dengan tenang  dan penuh rasa syukur. Rasa bersyukur atas segala sesuatu yang  telah diterima dari PLN, seharusnya dapat diwujudkan oleh para pegawai dengan sikap melayani; “Saya melayani pelanggan saya  karena memang saya sudah dibayar untuk maksud tersebut.”  Upaya untuk menanamkan nilai-nilai bersyukur tampaknya  memang tidak biasa bagi sebuah perusahaan. Nilai-nilai itu lebih

sering diutarakan dalam acara-acara ibadah. Akan tetapi demi perwujudan PLN Yang Bersih dan Melayani, kiranya para pimpinan  tertinggi dari Unit-unit PLN tidak segan-segan dan tidak bosan-bosan menanamkan nilai rasa syukur di lingkungan kerja unitnya.

Sumber : Saatnya Hati Bicara

Iklan
Kategori:Blog, SEO
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: