Beranda > Kesehatan > PENYAKIT AKIBAT KERJA (Byssinosis)

PENYAKIT AKIBAT KERJA (Byssinosis)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perkembangan industri tektil yang begitu pesat sering kali terlupakan adanya aspek bahaya lingkungan kerja. Bahaya lingkungan kerja ini dapat berupa fisik maupun kimia seperti debu kapas yang akan mengakibatkan penyakit pernafasan . Industri teksil terutama pada bagian spinning/tenun sering dijumpai adanya debu kapas. Penurunan kapasitas vital paru paru pada pekerja pabrik tekstil dapat disebabkan adanya debu kapas tersebut . Untuk itu penulis mengadakan penelitian tentang hubungan antara lamanya pemaparan debu kapas dengan penurunan kapasitas paru paru pada industri tekstil Penelitian ini menggunakan metode observasi partisipasi langsung ( participant observation ) dengan teknik random . Dalam pengukuran kapasitas penurunan kapasitas paru paru menggunakan peralatan mers ev spirometer dan keluhan dari setiap pekerja menggunakanas system quesioner deteksi dini penyakit pernafasan . Hasil perhitungan statistik menunjukan adanya hubungan yang moderat antara waktu pemaparan debu kapas terhadap paru paru dimana para pekerja bagian spinning/pabrik mempunyai kemungkinan yang lebih besar terkena penyakit pernafasan dari pada bagian administrasi. Hal ini disebabkan area kerja bagian spinning/pabrik mempunyai kadar debu yang lebih besar dibandingkan dengan area pekerja administrasi.

Perkembangan industri tekstil di Indonesai telah berkembang sejak th 1970-an Kemajuan dan perkembangan industri tektil telah mempunyai dampak positip dan negatip. Dampak positp adalah untuk pemenuhan kebutuhan sandang di Indonesia serta membuka lapangan pekerjaan. Sedangkan dampak negatip adalah pengaruh dampak lingkungan bagi pekerja itu sendiri ataupun penduduk disekitarnya. Faktor pencemar pada industri tekstil antara lain debu kapas yang akan mempengaruhi derajat kesehatan tenaga kerja . Pada lingkungan industri tekstil sering dijumpai penyakit Byssinosis. Penyakit ini adalah penyakit yang disebabkan penimbunan debu kapas pada paru paru. Gejala klinis Pnemokonis ini berbeda beda , tergantung jumlah timbunan debu pada kapas Secara teoritis jika seorang pekerja terpapar debu kapas dalam waktu lama akan terganggu kesehatannya. Salah satu parameter untuk mengetahui keadaan kesehatan para pekerja yang berhubungan dengan proses pernapasan adalah kapasitas paru paru .

 BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan pustaka
Industri tektil secara umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
1) Spinning ( pemintalan )
2) Weaving ( kain )
3) Dying (pewarnaan kain )
Ketiga bagian tersebut mempunyai pengaruh dampak lingkungan yang
berbeda beda dimana untuk bagian spinning pengaruh dampak lingkungan pada pekerja adalah akibat debu kapas. Sedangkan untuk bagian Weaving dan Dying pengaruh dampak lingkungan pada pekerja adalah akibat cairan kimia dan debu.

1) Proses Produksi Spining dan Weaving
Proses spinning adalah proses pengolahan dari bahan mentah ( kapas ) untuk diubah menjadi kain benang, sehingga pengaruh debu kapas sangat dominant terhadap kesehatan lingkungan .
Secara umum , proses spinning dapat dibagi menajdi 5 bagian yaitu :
a. Proses blowing :
Proses pembukaan bahan baku ( kapas ) yang telah dimampatkan untuk dikembalikan seperti semula
b. Proses carding :
Proses yang bertujuan membersihkan serat serat dan membentuknya menjadi sliver atau benang besar
c. Proses combing :
Proses mensejajarkan serat dan membentuk silver, juga membersihkan kotoran serta seleksi serat-serat yang pendek .
d. Proses drowing
Dari proses combing yang masih belum rata seratnya , maka proses drawing adalah serat serat kembali disejajarkan dan diratakan hingga membentuk benang dalam ukuran yang besar yang disebut sliver
e. Proses roving
Proses yang bertujuan untuk merubah sliver menjadi benang yang lebih kecil ukurannya dan padat
f. Proses ring spinning
Adalah proses pemintalan dimana memintal benang roving menjadi benang yang seperti umum dikenal.

B. Mekanisme pernafasan
Pernafasan secara umum adalah proses terjadinya penukaran gas dalam
jaringan ( pernafasan dalam ) dan yang terjadi dlm paru paru ( pernafasan luar ).
Saluran pernafasan udara terdiri dari beberapa bagian yaitu : hidung , pharink larynk, tracea. Sedangkan paru paru adalah organ respirasi yang paling lunak dan elastis. Kapasitas volume udara dlm paru paru dapat dibagi 4 macam kapsitas yaitu :

1. Volume tidal : merupakan udara yang diinspirasikan dan di ekspresikan disetiap pernafasan normal dan jumlahnya kira kira 5000 ml
2. Volume cadangan inspirasi, merupakan volume tambahan udara yang dapat diinspirasikan diatas volume tidak normal, dan biasanya sama dengan kira2 3000 ml
3. Volume cadangan exspirasi, merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan ekspirasi kuat setelah akhir ekspirasi tidal yang normal
4. Volume sisa adalah volume udara yang masih tersisa di dalam paru paru setelah ekspirasi kuat. Volume ini rata rata 2000 ml

C. Gangguan Pernapasan
Gangguan pernapasan biasanya dirasakan oleh masyarakat awam sebagai sesak napas. Sesak napas dapat disebabkan adanya berbagai kelainan baik pada saluran pernapasan maupun pada kelainan paru paru Dari akibat yang ditimbulkan pada umumnya berbagai jenis gangguan pernapasan dapat dibagi menjadi tiga golongan utama :
a. Yang menyebabkan tidak memadainya ventilasi alveolus
b. Yang mengurangi difusi gas melalui membrane respirasi
c. Yang menurunkan transport oksigen dari paru-paru ke jaringan

D. Penimbunan Debu dalam Paru Paru
Debu adalah partikel partikel zat padat yang disebabkan oelh kekuatan kekuatan alami atau mekanik seperti pengolahan , pengepakan , peledakan bahan organic, dll Debu dengan ukuran lebih10 mikron dapat ditahan oleh bulu-bulu hidung , sedangkan yang berukuran 5 – 10 mikron akan tertahan di jalan pernafasan. Sedangakn debu ukuran 1-3 mikron akan berada di atas permukaan alveoli. Sementara debu ukuran 0.1 – 1 mikron justru tidak mengenadap pada permukaan alveoli. Debu dengan ukuran kurang dari 0.1 mikron dapat masuk dan keluar dari alveoli oleh karena gerak Brown

E. Byssinosis
Byssinosis adalah penyakit yang termasuk dalam Pneumaconiois dimana penyebabnya adalah debu kapas. Masuknya debu kapas dalam udara pernapasan terutama berukuran kecil akan mengakibatkan alveoli tertutupi oleh timbunan debu kapas tersebut. Menurut berat ringannya penyakit, Byssinosis digolongkan kedalam beberapa
Beberapa reaksi diyakini sebagia penyebab munculnya gejala gejala Byssinosis yang antara lain adalah :
a. Efek mekanis debu kapas yang dihurup ke dalam paru paru
b. Akibat pengaruh edotoksin bakteri bakteri kepada alat pernapasan
c. Merupakan gambaran reaksi alergi dari pekerja pekerja kepada debu kapas.
d. Akibat bekerjanya bahan bahan kimia dari debu pada paru paru
e. Reaksi psikis pada para pekerja
Dari teori tersebut dapat diduga bahwa pengaruh debu kapas di tempat kerja akan berakibat menurunnya kapasitas vital paru paru tenaga kerja . Untuk itu sangat perlu adanya pemeriksaan fungsi paru paru tenaga kerja dengan menggunakan Spirometer.

F. Spirometer dan APD ( Alat Pelindung Diri )
Spirometer adalah alat yang biasa dipakai untuk mengukur jalannya udara pernapasan . Merupakan alat simulasi terhadap volume pemasukan dan pengeluaran udara dalam paru-paru yang dilengkapi dengan pencatat. Pemakaian Spirometer sangat mudah dan yaitu dengan meniup udara kedalam Spirometer dan balon akan mengembang dan mendesak pelat metal dimana tangkai pencatat ( recording arm ) yang dilengkapi dengan pena pencatat melekat padanya. Dengan bergeraknya pena metal , maka bergerak pula tangkai dan pena pencatat sehingga hasil bisa dibaca dari kertas pencatat yang tergambar oleh pena pencatat. Alat Pelindung Diri ( APD ) adalah alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang atau tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya dari bahaya di tempat kerja. APD berfungsi mengisolasi tubuh atau bagian tubuh tenaga kerja guna menghindari kontak langsung dengan bahaya di tempat kerja.
Cara cara pemilihan APD harus dilakukan secara hati hati dan memenuhi beberapa kriteria yang diperlukan antara lain :
a. APD harus memberikan perlindungan yang baik terhadap bahaya bahaya yang dihadapi tenaga kerja
b. APD harus memenuhi standart yang telah ditetapkan
c. APD tidak menimbulkan bahaya tambahan yang lain bagi pemakainya yang dikarenakan bentuk atau bahannya yang tidak tepat atau salah penggunaan
d. ADP harus tahan untuk jangka pemakiaan yang cukup lama dan fkesibel

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan analisa data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
a) Adaanya perbedaan kadar debu antara bagian adminsitrasi dan bagian pabrik/spinning dimana bagian pabrik mempunyai kadar debu yang lebih besar dibandingkan pada bagian administrasi , akan tetapi kadar debu masih dibawah ambang batas yang dipersyaratkan oleh pemerintah.
b) Adanya korelasi hubungan antara waktu pemaparan kadar debu dengan keluhan klinis terhadap tenaga kerja terutama pada bagian pabrik/spinning. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa korelasi terbesar adalah adanya gejala klinis reak bagi para pekerja bagian spinning. Untuk bagian adminsitrasi tidak terdapat hubungan yang berarti antara waktu pemaparan kadar debu dengan gejala klinis , hal ini disebabkan kadar debu pada bagian adminstrasi jauh dibawah ambang batas.
c) Adanya keluhan penyakit pernafasan yang lebih banyak pada bagian pabrik / spinning dari pada pada bagian administrasi .
d) Tidak terdapatnya hubungan yang berarti antara masa kerja dengan keluhan klinis pagi pekerja bagian administrasi. Hal ini disebakan kadar debu yang sangat rendah pada bagian administrasi

B. SARAN
a) Hendaknya para pekerja pada bagian pabrik menggunakan masker selama bekerja di lingkungan pabrik untuk mengurangi kadar debu yang masuk ke paru paru
b) Hendaknya masker yang diberikan sesuai dengan standart yang telah ditetapkan oleh pemerintah
c) Hendaknya para pekerja segera memeriksakan diri ke Poliklinik jika ada keluhan keluhan yang berhubungan dengan adanya keluhan pernafasan seperti sesak napas ataupun batuk batuk
d) Lingkungan pabrik harus tetap dijaga kebersihannnya sehingga dapat mengurangi adanya bahaya aspek lingkungan kerja seperti sesak napas dan batuk batuk .

 DAFTAR PUSTAKA

2004 Joko Windarto Posted: Makalah Individu Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana / S3 Institut Pertanian Bogor
Desember 2004 Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (penanggung jawab)
Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto Dr Ir Hardjanto, MS

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: