Beranda > Tesis > Masalah Gizi Lansia

Masalah Gizi Lansia

Lanjut usia dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan, bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik baik anatoni maupun fungsional. (Soediaoetama, 2000)

Gangguan kesehatan yang terjadi pada lansia adalah akibat terjadinya perubahan struktur tubuh disamping karena kemunduran fungsi berbagai alat tubuh dan disebut penyakit deneratif. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi gizi yaitu :
Menurunnya kebutuhan zat gizi

Penurunan kebutuhan energi disebabkan menurunnya aktifitas fisik pada lansia disamping menurunnya metabolisme basal. Makanan yang mengandung lemak lebih disenangi para usia lanjut selain karena gurih juga makanan lebih empuk. Kondisi demikian itu memicu naiknya masukan lemak makanan yang memicu baiknya kadar lemak dan kolesterol darah yang merupakan awal dari penyakit jantung koroner. Demikian pentingnya pembatasan konsumsi energi pada lansia terbukti dari hasil penelitian Schlenker terhadap sejumlah wanita.
Gangguan kemampuan menikmati cita rasa makanan.

Penelitian oleh Cohen dan Gitman menunjukkan pada usia lanjut 39,9% wanita dan 25,8% pria mengalami kemunduran indera pengecap. Dan indera yang paling banyak terganggu adalah indera pengecap rasa manis dan rasa asin. Karena itu pada usia lanjut, makanan yang bercita rasa atau aroma keras lebih disenangi. Pemakaian garam, gula dan berbagai bumbu penyedap jadi lebih tinggi.

1. Penurunan fungsi saluran pencernaan

Penurunan fungsi saluran pencernaan pada usia lanjut menyebabnya berkurangnya sekresi getah cerna. Erajat keasaman cairan lambung berkurang dan hal itu menyebabkan terganggunya penyerapan zat kapur, zat besi dan mineral lain. Lembaga Usia Amerika Serikat menduga anemia gizi merupakan salah satu penyebab terjadinya “sindrom otak” pada usia lanjut, seperti mudah lupa, kepikunan dan sebagainya. Gastritis kronis dan konstipasi juga berkenan dengan penurunan fungsi saluran pencernaan.

2. Gangguan keseimbangan hormonal

Pada usia lanjut produksi berbagai hormon sangat menurun. Produksi hormon tioksin, insuli, adrenalin, glucagon, epinephrin, progesteron, testostero\n, dan hormon lain sangat menurun pada usia lanjut sehingga keseimbangan hormon dalam tubuh terganggu. Hal ini membawa dampak terhadapmetabolisme zat gizi, sehingga penyakit gangguan metabolisme lebih sering trjadi pada lansia. (Moehji, 2003)

3.Penilaian Status Gizi Lansia
Penilaian status gizi berdasarkan pemeriksaan yang telah lazim tersedia. Namun penilaian antropometris dan baku nilai hanya berlaku bagi mereka yang berusia 55 tahun kebawah. Lebih tua dari itu, sebagian besar indikator menjadi tidak sensitif dan tidak tepat kerna sekuruh aspek fisik dan mental pada lansia ikut melemah dimakan usia. (Perry dan Potter, 2008)

Untuk memantau status gizi orang dewasa, Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah jenis antopometri yang direkomendasikan oleh International Dietary Energi Concultancy Group (1987). Cara ini kemudian diterima oleh WHO dan FAO dan sekarang dipakai di seluruh dunia. Ukuran status gizi orang dewasa menggunakan indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus :

IMT = (BB (kg))/(〖TB (m〗^2))
Dengan kategori indeks massa tubuh sebagai berikut :
< 17,00 : Kurus sekali
17,0 – 18,4 : Kurus
18,5 – 25,0 : Normal
25,1 – 27,0 : Gemuk
>27,0 : Gemuk sekali

Mendapatkan angka yang tepat untuk tinggi badan lansia merupakan persoalan yang pelik, karena hilangnya mineralisasi vertebra dan volume diskus invertebralis yang berakibat hilangnya tinggi badan. Namun tulang-tulang panjang, mempertahankan panjang dewasanya. Chumlea, Roche, dan Steinbaugh (1985) memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi lutut (panjang dari telapak kaki ke paha anterior dengan kedua pergelangan kaki dan lutut tertekuk pada sudut 90 derajat).

Untuk wanita :
Perkiraan TB dalam cm = 84,88 + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) + (-0,24 x Usia dalam tahun)
Untuk pria :
Perkiraan TB dalam cm = 60,65 + (2,04 x tinggi lutut dalam cm)

Tidak mungkin mengukur tinggi lutut secara akurat jika individu tersebut mengalami kontraktur yang parah atau cacat lainnya. Bagi individu-individu ini, haboubi, haudson, dan pathy (1990) telah mengembangkan suatu nomogram untk memperkirakan tinggi badan berdasarkan panjang rentang tangan. Yang dimaksudkan dengan panjang rentang lengan (PRT) yaitu jarak antara incisura jugularis hingga keujung jari tengah dengan rumus sebagai berikut :

TB = [0,73 x (2 x 1⁄2 PRT)] + 0,43
Berat badan lansia berubah seiring dengan proses penuaan akibat penyusutan massa otot. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3% sementara massa lemak meningkat 2% dari berat badan per dekade setelah usia 30 tahun (Forbes dkk, 1991). Penyusutan massa otot ditaksir mencapai 5 kg (untuk wanita) sampai 12 kg (untuk pria) pada usia 25 – 70 tahun, sementara otot mengerut sampai 40%.
Berat badan lansia sebaiknya ditimbang setiap minggu yang dirawat di rumah sakit atau yang diasuh di panti werda, dan cukup 2 – 3 bulan bagi lansia yang sanggup melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk menentukan resiko masalah gizi perubahan berat badan merupakan indikator yang pekamengingat berat badan ideal lansia sangat sulit ditentukan. Cara yang paling sederhana untuk menentukan berat badan lansia yaitu dengan menggunakan rumus Broca yang telah dimodifikasi oleh Katsura.

BBN = TB – 105 (untuk TB < 160 cm)
BBN = TB – 110 (untuk TB > 160 cm)
Untuk memperoleh hasil yang paling mendekati kebenaran, penimbangan sebaiknya diulang sebanyak 3 kali. BBI dan BBn harus dikoreksi dengan perkiraan berat bagian tubuh yang telah di amputasi ,jika pasien atau obyek pemeriksaan pernah di ampuatasi.

Masalah Gizi pada Lansia
Lanjut usia dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan, bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik baik anatoni maupun fungsional. (Soediaoetama, 2000)

Gangguan kesehatan yang terjadi pada lansia adalah akibat terjadinya perubahan struktur tubuh disamping karena kemunduran fungsi berbagai alat tubuh dan disebut penyakit deneratif. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi gizi yaitu :
Menurunnya kebutuhan zat gizi

Penurunan kebutuhan energi disebabkan menurunnya aktifitas fisik pada lansia disamping menurunnya metabolisme basal. Makanan yang mengandung lemak lebih disenangi para usia lanjut selain karena gurih juga makanan lebih empuk. Kondisi demikian itu memicu naiknya masukan lemak makanan yang memicu baiknya kadar lemak dan kolesterol darah yang merupakan awal dari penyakit jantung koroner. Demikian pentingnya pembatasan konsumsi energi pada lansia terbukti dari hasil penelitian Schlenker terhadap sejumlah wanita.
Gangguan kemampuan menikmati cita rasa makanan.

Penelitian oleh Cohen dan Gitman menunjukkan pada usia lanjut 39,9% wanita dan 25,8% pria mengalami kemunduran indera pengecap. Dan indera yang paling banyak terganggu adalah indera pengecap rasa manis dan rasa asin. Karena itu pada usia lanjut, makanan yang bercita rasa atau aroma keras lebih disenangi. Pemakaian garam, gula dan berbagai bumbu penyedap jadi lebih tinggi.

Penurunan fungsi saluran pencernaan
Penurunan fungsi saluran pencernaan pada usia lanjut menyebabnya berkurangnya sekresi getah cerna. Erajat keasaman cairan lambung berkurang dan hal itu menyebabkan terganggunya penyerapan zat kapur, zat besi dan mineral lain. Lembaga Usia Amerika Serikat menduga anemia gizi merupakan salah satu penyebab terjadinya “sindrom otak” pada usia lanjut, seperti mudah lupa, kepikunan dan sebagainya. Gastritis kronis dan konstipasi juga berkenan dengan penurunan fungsi saluran pencernaan.

Gangguan keseimbangan hormonal
Pada usia lanjut produksi berbagai hormon sangat menurun. Produksi hormon tioksin, insuli, adrenalin, glucagon, epinephrin, progesteron, testostero\n, dan hormon lain sangat menurun pada usia lanjut sehingga keseimbangan hormon dalam tubuh terganggu. Hal ini membawa dampak terhadapmetabolisme zat gizi, sehingga penyakit gangguan metabolisme lebih sering trjadi pada lansia. (Moehji, 2003)

Penilaian Status Gizi Lansia
Penilaian status gizi berdasarkan pemeriksaan yang telah lazim tersedia. Namun penilaian antropometris dan baku nilai hanya berlaku bagi mereka yang berusia 55 tahun kebawah. Lebih tua dari itu, sebagian besar indikator menjadi tidak sensitif dan tidak tepat kerna sekuruh aspek fisik dan mental pada lansia ikut melemah dimakan usia. (Perry dan Potter, 2008)

Untuk memantau status gizi orang dewasa, Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah jenis antopometri yang direkomendasikan oleh International Dietary Energi Concultancy Group (1987). Cara ini kemudian diterima oleh WHO dan FAO dan sekarang dipakai di seluruh dunia. Ukuran status gizi orang dewasa menggunakan indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus :
IMT = (BB (kg))/(〖TB (m〗^2))
Dengan kategori indeks massa tubuh sebagai berikut :
< 17,00 : Kurus sekali
17,0 – 18,4 : Kurus
18,5 – 25,0 : Normal
25,1 – 27,0 : Gemuk
>27,0 : Gemuk sekali
Mendapatkan angka yang tepat untuk tinggi badan lansia merupakan persoalan yang pelik, karena hilangnya mineralisasi vertebra dan volume diskus invertebralis yang berakibat hilangnya tinggi badan. Namun tulang-tulang panjang, mempertahankan panjang dewasanya. Chumlea, Roche, dan Steinbaugh (1985) memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi lutut (panjang dari telapak kaki ke paha anterior dengan kedua pergelangan kaki dan lutut tertekuk pada sudut 90 derajat).

Untuk wanita :
Perkiraan TB dalam cm = 84,88 + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) + (-0,24 x Usia dalam tahun)
Untuk pria :
Perkiraan TB dalam cm = 60,65 + (2,04 x tinggi lutut dalam cm)

Tidak mungkin mengukur tinggi lutut secara akurat jika individu tersebut mengalami kontraktur yang parah atau cacat lainnya. Bagi individu-individu ini, haboubi, haudson, dan pathy (1990) telah mengembangkan suatu nomogram untk memperkirakan tinggi badan berdasarkan panjang rentang tangan. Yang dimaksudkan dengan panjang rentang lengan (PRT) yaitu jarak antara incisura jugularis hingga keujung jari tengah dengan rumus sebagai berikut :

TB = [0,73 x (2 x 1⁄2 PRT)] + 0,43
Berat badan lansia berubah seiring dengan proses penuaan akibat penyusutan massa otot. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3% sementara massa lemak meningkat 2% dari berat badan per dekade setelah usia 30 tahun (Forbes dkk, 1991). Penyusutan massa otot ditaksir mencapai 5 kg (untuk wanita) sampai 12 kg (untuk pria) pada usia 25 – 70 tahun, sementara otot mengerut sampai 40%.
Berat badan lansia sebaiknya ditimbang setiap minggu yang dirawat di rumah sakit atau yang diasuh di panti werda, dan cukup 2 – 3 bulan bagi lansia yang sanggup melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk menentukan resiko masalah gizi perubahan berat badan merupakan indikator yang pekamengingat berat badan ideal lansia sangat sulit ditentukan. Cara yang paling sederhana untuk menentukan berat badan lansia yaitu dengan menggunakan rumus Broca yang telah dimodifikasi oleh Katsura.

BBN = TB – 105 (untuk TB < 160 cm)
BBN = TB – 110 (untuk TB > 160 cm)
Untuk memperoleh hasil yang paling mendekati kebenaran, penimbangan sebaiknya diulang sebanyak 3 kali. BBI dan BBn harus dikoreksi dengan perkiraan berat bagian tubuh yang telah di amputasi ,jika pasien atau obyek pemeriksaan pernah di ampuatasi.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: