Sperma Pria Uzur Berkontribusi Turunkan Gen Cacat pada Anak

Tidak ada aturan yang mengatakan pada usia berapa sebaiknya pasangan memiliki anak, namun semakin tua umur semakin tinggi pula kemungkinan untuk menurunkan gen cacat pada anak.

Dikatakan oleh Professor John MacGrath seorang psikiater dan ahli epidemiologi dari Universitas Queensland, Australia, ada hubungan kuat antara bermacam-macam masalah neurologis seperti skizofrenia dan autisme dengan umur ayah saat terjadi pembuahan.

“Di masa lalu, kita berpikir bahwa umur ayah bukanlah penyebabnya. Ternyata kita salah, jam biologis ternyata juga berjalan bagi para pria” ujar MacGrath seperti dilansir dari ABC, Senin (16/6/2014).

MacGrath menjelaskan bahwa meskipun pada pria produksi sperma tidak terbatas, namun bukan berarti pabrik sperma pada pria bernama spermatogonia yang ‘menulis’ gen pada sperma tidak akan mengalami kesalahan dalam fungsinya. Tiap spermatogonia mereplikasi informasi genetik, ada kemungkinan terjadi kesalahan dalam bentuk mutasi.

Saat mutasi gen terjadi pada sel telur atau sperma, mutasi yang dinamakan mutasi de novo tersebut berkemungkinan akan diwarisi oleh bayi.

Penelitian pada tahun 2012 yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature, menggambarkan bagaimana gen ayah berperan lebih besar pada mutasi de novo. Para peneliti mengambil sampel orang tua sehat namun memiliki anak dengan autis atau skizofrenia dari Iceland, mereka kemudian menjejerkan keseluruhan 78 genom dari ayah, ibu dan anak. Hasilnya sekitar 97 persen mutasi de novo pada anak berasal dari sang ayah.

Peneliti juga mengestimasi angka mutasi yang seorang pria akan wariskan pada anaknya dapat meningkat hingga dua kali lipat tiap 16,5 tahun. Pada umur 20 seorang pria dapat mewariskan sekitar 25 gen mutasi, namun pada umur 40 tahun mutasi gen yang diwariskan dapat mencapai sekitar 65.

Berkaitan dengan temuannya itu, John MacGrath mengatakan bukan berarti dirinya mendorong nikah pada usia muda. “Kami belum siap untuk memberikan anjuran untuk calon orangtua tentang usia optimal bagi pria untuk memiliki anak. Ada faktor lain selain usia yang memiliki resiko lebih besar seperti makanan, olahraga, alkohol, dan rokok yang juga dapat mempengaruhi kualitas sperma,” ujarnya.

Sumber

Iklan