Beranda > Tesis > HUBUNGAN ANTARA MENYUSUI SETELAH PERSALINAN DENGAN KELANCARAN PRODUKSI ASI IBU NIFAS

HUBUNGAN ANTARA MENYUSUI SETELAH PERSALINAN DENGAN KELANCARAN PRODUKSI ASI IBU NIFAS

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sasaran pembangunan Kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM) 2005 – 2009 adalah menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dari 25,8 % pada tahun 2005 menjadi setinggi-tingginya 20 % pada tahun 2009. Karena itu dalam rangka percepatan penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk diperlukan terobosan yang bersifat nasional untuk menggerakkan seluruh masyarakat Indonesia terutama ibu-ibu dengan dukungan suami dan keluarga dalam memberi ASI Eksklusif selama enam bulan kepada bayi (Depkes 2006).

Menyusui secara eksklusif adalah memberi ASI (Air Susu Ibu) kepada bayi selama enam bulan penuh dan bayi tidak mendapat makanan lain selain ASI. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, tidak dapat diganti dengan makanan lainnya selain ASI, dan tidak ada satupun makanan yang dapat menyamai ASI baik dalam kandungan gizinya, enzim, hormon, maupun kandungan zat imunologik dan anti infeksi.
Di Indonesia setiap tahunnya terdapat 10 juta anak dibawah 2 tahun menjadi sasaran ASI. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002, hanya 3,7% bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, sedangkan pemberian ASI pada bayi umur kurang dari 2 bulan sebesar 64 %, antara 2-3 bulan 45,5% antara 4-5 bulan 13,9% dan antara 6-7 bulan 7,8 %. Sementara itu cakupan pemberian susu formula meningkat 3 kali lipat dalam kurun waktu antara 1997 sebesar 10,8% menjadi 32,4%tahun 2002 (Depkes, 2006).

Buruknya pemberian ASI eksklusif di Indonesia disebabkan oleh terbatasnya persediaan pangan ditingkat rumah tangga serta terbatasnya akses balita sakit terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas menyebabkan 5 juta bayi menderita gizi kurang. Padahal kekurangan gizi yang terjadi pada bayi akan berdampak pada gangguan psikomotor, kognitif dan social serta secara klinis terjadi gangguan pertumbuhan. Dampak lainnya, derajat kesehatan dan gizi anak Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat kematian bayi setiap tahun sekitar 132.000 meninggal sebelum usia 1 tahun. Dari seluruh kematian bayi tersebut, lebih dari setengahnya terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk serta penyakit infeksi (Depkes, 2006).

Untuk mencapai tumbuh kembang bayi secara optimal, Indonesia menindak lanjuti dengan menyusun strategi nasional pemberian makanan bayi dan anak yaitu memberi ASI dalam 30 menit setelah kelahiran sampai berumur 6 bulan. sedangkan Makanan Pendamping ASI (MP. ASI) yang cukup dan bermutu dimulai dari umur 6 bulan dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai umur 2 tahun (Depkes 2006).

Kesuksesan program tersebut harus didukung oleh semua pihak yang terkait terutama perawat dan bidan sebagai tenaga pofesi yang mempunyai tanggung jawab pokok terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu harus mampu menerapkan konsep ASI eksklusif agar bayi mendapat nutrisi yang adekuat untuk tumbuh kembangnya.

Keunggulan ASI perlu ditunjang oleh cara pemberian yang benar, misalnya pemberian segera setelah lahir yaitu 30 menit pertama bayi harus disusukan. Isapan bayi ini akan memberikan rangsangan pada hipofise untuk mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon oksitosin bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI yang ada dalam alveoli, lobus serta duktus untuk dikeluarkan melalui puting susu. Keadaan ini akan memaksa hormon prolaktin untuk terus memproduksi ASI. Apabila bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan, hormon prolaktin akan turun sehingga ASI baru keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat atau bidan memberikan makanan tambahan pengganti ASI, karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah yang cukup. Bayi yang sudah mendapat susu tambahan akan tertidur dan tidak terjadi rangsangan pada puting susu. Dengan tidak adanya rangsangan pada puting susu berarti membiarkan kadar hormon oksitosin turun secara perlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini akan menyebabkan ASI yang keluar sedikit bahkan mungkin berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Purwanti, 2004).

Hasil pengambilan data awal pada RSU.pelamonia Makassar, jumlah persalinan pada bulan februari tahun 2007 sebanyak 55 orang. Sedangkan data yang didapatkan melalui wawancara dan observasi pada tiga orang bidan serta tiga ibu nifas di ruang bersalin pada tanggal 8 April 2007 diketahui bahwa setiap bayi yang baru lahir dan normal langsung disusukan pada ibunya dalam 30 menit pertama setelah kelahiran, rata-rata ASI-nya langsung keluar dengan lancar pada hari pertama sampai kedua masa nifas. Namun hal tersebut tidak selalu diterapkan karena ada sebagian ibu-ibu yang menolak untuk menyusui bayinya karena faktor kelelahan yang dialami ibu setelah melahirkan sehingga mereka lebih memilih untuk beristirahat.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10 April 2007 pada tiga orang ibu nifas didapatkan bahwa satu orang ibu yang segera menyusui bayinya setelah persalinan, ASI-nya langsung keluar dengan lancar pada hari pertama persalinan. Sedangkan dua orang ibu nifas yang tidak segera menyusui bayinya setelah persalinan, ditemukan yang seorang ASI-nya mulai keluar pada hari ke 3 dan seorang lagi ASI-nya tidak keluar hingga pulang ke rumah.

Berdasarkan masalah tersebut diatas maka penulis tertarik untuk meneliti, apakah ada hubungan antara pemberian ASI setelah persalinan dengan kelancaran produksi ASI pada ibu nifas ?

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: