Beranda > Kesehatan, Tesis > Menyusui setelah Persalinan

Menyusui setelah Persalinan

1. Pengertian Menyusui
>> Menyusui adalah cara alami untuk memberikan makanan pada bayi. (Balaskas, 2004).
>> Menyusui segera persalinan adalah sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, bayi harus diserahkan kepada ibunya untuk disusui (Purwanti, 2004).

2. Proses Menyusui
Menyusui tergantung pada gabungan refleks, kerja hormone dan perilaku yang dipelajari ibu dari bayi yang baru lahir dan terdiri dari factor-faktor :
a. Laktogenesis (Permulaan Produksi ASI)
Dimulai pada tahap akhir kehamilan. Kolostrum disekresi akibat stimuli sel-sel alveolar mamaria oleh laktogen plasenta, suatu substansi yang menyerupai prolaktin. Produksi susu berlanjut setelah bayi lahir sebagai proses otomatis selama susu dikeluarkan dari payudara.
b. Proses Susu
Kelanjutan sekresi susu terutama berkaitan dengan :
1) Jumlah produksi hormon prolaktin yang cukup di hipotisis
Anterior

2). Pengeluaran susu yang efisien
Nutrisi maternal dan masukan cairan merupakan factor yang mempengaruhi jumlah dan kualitas susu.
c. Ejeksi Susu
Pergerakan susu dari alveoli (dimana susu disekresi oleh proses ekstrusi dari sel) ke mulut bayi merupakan proses yang aktif didalam payudara. Proses ini tergantung pada refleks let-down secara primer merupakan respons terhadap isapan bayi. Isapan menstimulasi kelenjar hipopisis posterior untuk mensekresi oksitosin. Di bawah pengaruh oksitosin sel-sel disekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui system duktus ke dalam mulut bayi.

d. Kolostrum
Kolostrum kuning kental secara unik sesuai untuk kebutuhan bayi baru lahir. Kolostrum mengandung antibody vital dan nutrisi padat dalam volume kecil, sesuai sekali untuk makanan awal bayi. Menyusui dini yang efisien berkolerasi dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar protein yang tinggi dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif kolostrum untuk mempermudah perjalanan mekonium.

e. Susu Ibu
Pada awal pemberian makanan susu mengandung lebih sedikit lemak dan mengalir lebih cepat dari pada susu yang keluar pada akhir menyusui. Menjelang akhir pemberian makanan, susu sisa ini lebih putih dan mengandung lebih banyak lemak. Kandungan lemak yang lebih tinggi pada akhir pemberian makan memberikan rasa puas pada bayi(Bobak, 2004).

3. Mekanisme Menyusui
Bayi baru lahir yang cukup bulan dan sehat memiliki 3 refleks yang diperlukan untuk membuat proses menyusui berhasil seperti :
1. Refleks mencari (Rooting Refleks)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu ditarik masuk kedalam mulut.

2. Refleks Mengisap (Sucking Refleks)
Teknik menyusui yang baik adalah bila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi. Cukup rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak dipuncak kalang payudara dibelakang puting susu. Puting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan pada langit-langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya dibagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu.

3. Refleks Menelan ( Swallowing Refleks)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung (Soetjiningsih, 2007).

4. Fisiologi Menyusui segera setelah persalinan
Sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kadar prolaktin dalam darah ibu sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, segera posisikan bayi untuk mengisap puting susu secara benar. Ketika bayi mengisap pertama kali, bayi sebenarnya tidak menerima susu. Ternyata implus sensorik pertama harus ditransmisikan melalui saraf somatic dari puting susu ke medula spinalis dan kemudian ke hipotalamus menyebabkan sekresi oksitosin pada saat yang bersamaan ketika hipotalamus mensekresi prolaktin. Oksitosin kemudian dibawa dalam darah ke kelenjar payudara, dimana oksitosin sel-sel miospitel yang mengelilingi dinding luar alvioli berkontraksi untuk mengalirkan air susu ke dalam duktus, kemudian isapan bayi menjadi efektif dalam mengalirkan air susu. Pengisapan pada satu kelenjar payudara tidak hanya menyebabkan aliran air susu pada kelenjar payudara itu tetapi juga pada kelenjar lain (Guyton dan Hall, 1997).

Apabila bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan, hormon prolaktin akan turun dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI baru akan keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat dan bidan memberikan makanan pengganti ASI karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah yang cukup. Bayi yang sudah mendapat susu tambahan akan tertidur dan tidak akan terjadi rangsangan pada puting susu. Dengan tidak ada rangsangan pada puting susu berarti memberikan kadar hormon oksitosin turun secara perlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini akan menyebabkan ASI keluar sedikit bahkan mungkin berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Purwanti, 2004).

Iklan
Kategori:Kesehatan, Tesis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: