Beranda > Tesis > Faktor Resiko Kejadian Kanker Payudara

Faktor Resiko Kejadian Kanker Payudara

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berlipat ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bias menyebar pada bagian-bagian tubuh lain dan nantinya dapat menyebabkan kematian. Metastase biasa terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati kulit dan di bawah kulit. Akibat penyakit ini penderita bias merasakan nyeri, fungsi dari organ-organ yang terserang menurun hingga bias menyebabkan kematian. (Tapan, 2005)

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia biasanya ditemukan umur 40-49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral atas. (Mansjoer, 2000)

Ciri kanker payudara biasanya merupakan satu gumpalan yang keras yang mungkin melekat pada jaringan-jaringan disekelilingnya. Ada juga kejadian pendarahan sedikit dari putting susu, namun tidak selamanya terjadi demikian terutama dengan tumor yang tidak ganas. Mastitis khonica Sistika adalah suatu kemerosotan saluran payudara yang disebabkan kadar sterogen dalam darah. Keadan seperti ini lebih sering tampak pada wanita yang sudah berusia lebih dari 35 tahun, biasanya mereka mengeluh karena nyeri ringan pada payudara menjelang haid. Penderita mengalami rasa berat dan nyeri pada payudaranya dan acak kali rasa nyeri yang menusuk-nusuk. (Ramli, 2005)
Kanker payudara dapat muncul pada usia berapapun diluar masa kanak-kanak, namun insiden kanker payudara terus meningkat hingga 21 % diantara wanita dan terus menigkat hingga 49 % diantara wanita yang berusia lebih tua. Risiko pada perempuan seumur hidupnya untuk mengalami kanker payudara adalah 1 berbanding 8 wanita. Risiko ini tidak sama untuk semua kelompok usia, risiko untuk mengalami kanker payudara sampai usia 35 tahun adalah 1 dalam 622; risiko mengalami kanker payudara sampai usia 60 tahun adalah 1 dalam 24. (Bustan, 2007)

Kanker payudara dapat terjadi pada pria, pemeriksaan aksila pada pria juga merupakan bagian yang terpenting dari pengkajian fisik. Putting susu dan areola diinspeksi terhadap massa dan lesi. Ginekomastia (kelenjar mamae yang tumbuh secara berlebihan pada pria). Berbeda dengan pembesaran yang lunak, berlemak yang terjadi pada obesitas karena pembesaran yang terjadi berasal dari jaringan bergranular di bawahnya, disekitar areola dunk eras. Prosedur yang sama palpasi pada aksila wanita yang digunakan ketika mengkaji aksila pria. Pengobatan kanker payudara pria juga sama dengan pengobatan kanker payudara pada wanita. Sebagian kanker payudara pada pria ditemukan pada stadium lanjut, kemungkinan karena pria tidak terlalu menyadari tentang benjolan payudara dibanding pada wanita. Sedangkan penyakit ginekomastia atau perkembangan berlebih pada payudara pria yang merupakan kelainan payudara pria pada umumnya. Remaja pria dapat mengalami kondisi ini akibat hormone yang disekresi oleh testis. Gineskomastia biasanya uniteral dan timbul sebagai massa keras, lunak di bawah areola. (Felgelson, 2004)

Kanker payudara pada pria berjumlah 1% dari semua kanker payudara. Gejala-gejalanya dapat mencakup benjolan tidak nyeri di bawah areola, retraksi putting dan ulserasi kulit. Usia rata-rata pada saat didiagnosis adalah 60 tahun. Diagnostik dan modalis pengobatannya adalah sama seperti yang digunakan wanita. Factor resiko dapat mencakup riwayat gondong orkhitis, pemajanan terhadap radiasi, sindrom klinefelter (kondisi kromosom yang mencerminkan penurunan kadar testosterone).

1. Diagnose dini kanker payudara
Bila ingin menemukan program penemuan dini secara menyeluruh maka dianjurkan untuk membuat focus primer dari program tersebut yaitu mendekatkan dan menghubungkan lebih dekat antara penemuan riset kanker dengan menggunakan secara efektif hasil riset tersebut, terutama ditekankan adalah kebutuhan semua komponen kesehatan masyarakat dalam:
a. Pencegaha penyakit kanker
b. Identifikasi penderita
c. Diagnosis secara dini gejala-gejala
d. Pengobatan penyakit kanker
e. Dan rehabilitasi semua penderita kanker
Program penemuan dini penyakit kanker harus dapat mempercepat penggunaan hasil riset kedalam pelaksanaan penanggulangan penyakit kanker. Untuk dapat mencapai tujuan maka aktivitas program digolongkan dalam pencegahan, penemuan diagnosis dini, pretreatment dan evaluasi, pengobatan rehabilitasi dan perawatan seterusnya.

Pencegahan dari suatu penyakit menurut Hammond adalah suatu proses yang terdiri atas empat tahap :
1) Tahap pertama adalah melakukan identifikasi keadaan dimana penyakit tersebut terjadi.
2) Tahap kedua adalah membuat suatu rencana untuk merubah keadaan sedemikian rupa sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit tersebut.
3) Tahap ketiga adalah melaksanakan rencana tersebut bila perlu mengadakan suatu pilot project
4) Tahap keempat adalah mengadakan evaluasi apakah betul rencana itu apabila dilaksanakan akan menghasilkan suatu reduksi dari angka insidensi dan angka kematian dari penyakit tersebut.
Salah satu cara untuk memperbaiki hasil pengobatan adalah penemuan dini yang selektif dengan menentukan kelompok masyarakat yang terbesar kemungkinannya menderita kanker payudara, kemudian mengadakan pemeriksaan dan pengobatan yang terarah serta melakukan follow up yang terperinci.

Beberapa factor resiko pada kanker payudara yang sudah diterima secara luas oleh kalangan oncologist di dunia sebagai berikut:
a) Umur lebih dari 30 tahun mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat kanker payudara dan resiko ini akan bertambah sampai umur 50 tahun dan setelah menopause.
b) Tidak kawin atau nullipara resikonya 2-4 kali lebih tinggi daripada wanita yang kawin dan mempunyai anak.
c) Anak pertama lahir setelah 35 tahun resikonya 2 kali lebih besar
d) Menarche pada umur kurang dari 12 tahun resikonya 1,7-3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan menarche yang dating pada usia normal atau lebih dari 12 tahun.
e) Menopause datang terlambat lebih dari 55 tahun resikonya 2,5-5 kali lebih tinggi
f) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara resikonya 3-9 kali lebih besar.
g) Riwayat keluarga ada yang menderita kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, adik/kakak, resiko 2-3 kali lebih tinggi. Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun, kemudian resiko lebih meningkat 4-6 kali jika kanker payudara dua orang saudara langsung
h) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel proliferative mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara wanita dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini.
i) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun beresiko hamper 2 kali lipat.
j) Obesitas resiko terendah diantara wanita pasca menopause bagaimanapun wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian yang lebih tinggi dan yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat. (Amalia, 2009)

Yayasan kanker payudara Indonesia bekerjasama dengan FKUI/RSCM telah membentuk satu Breast Cancer Task Force di Jakarta. Di pusat pemeriksaan ini terdapat 4 bagian yang malakukan aktivitas penemuan dini kanker payudara yaitu:
1. Bagian wawancara (pertanyaan umum dan terarah sehubungan dengan kanker payudara)
2. Palpasi payudara (mencari benjolan atau kelainan lainnya)
3. Ultrasonografi-mamografi
4. Bagian ini juga mengajarkan pemeriksaan payudara sendiri dimana cara pemeriksaan ini dibagi-bagikan dalam bentuk buku kecil.
Program diagnosis dini terdiri dari diagnosis klinis dan pemeriksaan penunjang
a. Wawancara yaitu pertanyaan umum dan terarah sehubungan dengan kanker payudara
b. Pemeriksaan klinis payudara
Mencari benjolan atau kelainan lainnya karena organ payudara dipengaruhi oleh factor hormonal antara lain estrogen dan progesterone maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin setelah menstruasi ± 1 minggu dari hari terakhir menstruasi. Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka. Penderita duduk dengan tangan jatuh bebas ke samping dan pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi

c. Inspeksi
Simetri payudara kiri kanan, kelainan papilla, letak dan bentuk adakah retraksi putting susu, kelainan kulit, tanda radang, dimpling, ulserasi dan lain-lain.
d. Palpasi
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada, jika perlu bahu/panggung diganjal dengan bantal kecil pada penderita yang payudaranya besar
Pemeriksaan penunjang
1) Mammografi
Suatu teknik pemeriksaan foto rontgen untuk jaringan lunak yang memberikan petunjuk adanya kelainan. Keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder.
Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (stelata), adanya perbedaan yang nyata antara ukuran klinis dan rontgenologis adanya mikroklasifikasi, adanya spekulae dan distri pada struktur arsitektur payudara.
Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan areola, adanya bridge of tumor keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mamma dan adanya metastasis ke kelenjar.

Indikasi mammografi:
a) Adanya benjolan dan rasa tidak enak pada payudara
b) Pada wanita dengan riwayat resiko tinggi untuk mendapatkan keganasan payudara
c) Pembesaran kelenjar getah bening aksila yang meragukan
d) Pada wanita dengan penyebab metastasis tanpa diketahui asal tumor primer
e) Pada penderita dengan kanker phobia
f) Follow up penderita-penderita pasca operasi dengan kemungkinan kambuh atau keganasan payudara yang kontralateral

2) Termografi
Suatu cara yang menggunakan sinar infra red. Pemeriksaan ini ditemukan oleh LAWSON tahun1956 dimana diperlihatkan bahwa:
a) Suhu kanker payudara lebih tinggi dari jaringan sekitarnya
b) Darah vena yang keluar dari lesi kanker lebih panas dari darah arteri yang mendarahi lesi tersebut
c) Perubahan pada termogram yang dapat menimbulkan kecurigaan kepada keganasan adalah sebagai berikut:
1. Adanya bintik-bintik yang mengeluarkan panas
2. Perdarahan yang meningkat setempat disertai lebih banyak pembuluh darah yang melebar
3. Peningkatan suhu secara umum
4. Bertambahnya panas areola mammae
5. Kenaikan suhu disini tidak hanyakhas untuk keganasan tetapi dapat juga terjadi pada setiap peninggian kegiatan sel misalnya abses yang lama.

3) Ultrasonografi
Berdasarkan pemantulan gelombang suara yang berbeda dalam dan kepadatannya, terutama hanya dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan kistik dan hanya dapat membuat diagnose dugaan.
Indikasi USG payudara:
a) Payudara yang padat pada mammografi
b) pada payudara wanita hamil, menyusui dan remaja
c) sarana diagnostic utama pada pada penyakit infeksi payudara
d) evaluasi lesi berbatas tegas pada temuan mamografi dan penyakit fibrokistik
e) Pemeriksaan utama untuk evaluasi pada wanita dengan implant silicon.
f) Penuntun biopsy atau aspirasi

Kelainan yang ditemukan pada USG
1. Tumor jinak payudara
i. Kontur/batas lesi tegas dan teratur (licin)
ii. Bentuk lesi bulat atau oval
iii. Dapat dikompresi dan mobile (tidak terfiksasi)
2. Tumor ganas
i. Batas lesi tidak tegas dan tidak teratur
ii. Ada perubahan vaskularisasi serta adanya gambaran distorsi arsitek parenkim
3. Lesi kistik
i. Bentuk lesi tegas atau licin
ii. Bentuk lesi bulat dan oval
iii. Ekho internal tidak ada atau bebas echo
iv. Tampak posterior enhas yang kuat
4) Xerografi
Suatu fotoelectric imagin system berdasarkan pengetahuan xerofrafi. Ketepatan diagnostic cukup tinggi 95.3% dimana dapat terjadi false positive ±5%.

5) Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radio isotop Tc 99 sestamibi. Pemeriksaan ini mempunyai sensifitas untuk menilai aktifitas sel kanker payudara selain itu dapat pula mendeteksi lesi multiple (Felgelson, 2004)

2. Gejala klinis kanker payudara
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa benjolan pada payudara, erosi atau eksema putting susu, atau berupa perdarahan pada putting susu, umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan mula-mula kecil, makin lama makin besar lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau putting susu. Kulit atau putting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk mengkerut atau timbul borok (ulkus) pada payudara.

Borok semakin lama semakin besar mendalam sering berbau busuk dan mudah berdarah. Rasa sakit dan nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok jika metastase (menyebar) ke tulang-tulang, kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (oedema) pada lengan dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh. (Astana, 2009)
3. Pembagian stadium PORTMANN yang disesuaikan dengan aplikasi klinik
a. Stadium I adalah tumor dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya tidak fiksasi/infiltrasi ke kulit jaringan yang dibawahnya (otot). Besar tumor 1-2 cm, kelenjar getah bening regional belum teraba.
b. Stadium II adalah sesuai dengan stadium I hanya besar tumor 2,5-5cm dan sudah ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas dengan diameter kurang dari 2 cm
c. Stadium III adalah tumor sudah meluas dalam payudara (5-10cm), fiksasi pada kulit atau dinding dada, kulit merah dan ada oedema (lebih dari 1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi dan atau nodul satelit, kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain atau terhadap jaringan sekitarnya. Diameter lebih dari 2,5 cm, belum ada metastasis jauh.
d. Stadium IV adalah tumor seperti pada yang lain (stadium I,II,III). Tetapi sudah disertai dengan kelenjar getah bening aksila supra-klavikula dan metastasis jauh lainnya. (Amalia, 2009)

4. Pengobatan kanker payudara
Ada beberapa cara pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak bergantung kepada stadium klinik antara lain:
1) Pembedahan baik yang bersifat kuratif (menyembuhkan maupun paliatif (menghilangkan gejala-gejala penyakit).
2) Penyinaran, baik yang bersifat kuratif maupun paliatif
3) Khemoterapi/sitostatika yang merupakan pengobatan suportir dan berupa tindakan ablasi melenyapkan atau aditif (penambahan)
4) Imunoterapi, sebagai tindakan untuk menaikkan daya tahan tubuh.
5) Simptomatik, termasuk cara perawatan/penangulan keluhan-keluhan dari penderita kanker payudara yang suda lanjut.
Tujuan perawatan paliatif pada kanker payudara adalah
a) Mempertahankan kualitas hidup si penderita agar tetap baik dan menganggap bahwa kematian adalah proses yang normal.
b) Tidak mempercepat atau menunda kematian.
c) Menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang mengganggu
d) Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya. Dan membantu duka cita keluarganya.

5. Pencegahan
Pada dasarnya pencegahan kanker payudara terdiri atas tiga antara lain:
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai factor resiko dan meningkatkan pola hidup sehat.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan yang dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid yang normal merupakan populasi yan beresiko dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan menggunakan deteksi dini demi mengantisipasi penyebaran kanker. Sehingga timbulnya sel-sel kanker dapat segera diatasi dan dicegah penyebarannya. (Soetjipto,2005)
Menurut Sitorus (2006), pencegahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri, merupakan cara yang tepat bagi seorang wanita dalam mendeteksi apakah ada kelainan pada payudara sendiri. Pelaksanaan pemeriksaan ini tepat dilakukan pada saat setelah menstruasi. Dengan melakukan hal ini setiap wanita akan akrab dengan bentuk payudaranya sendiri, sehingga bila ada kelainan akan segera dirasakan sendiri. Setiap perubahan hendaknya menjadi perhatian.

Langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri antara lain:
1) Berdiri di depan kaca tanpa penutup payudara, perhatikan bentuk payudara dalam posisi biasa. Kemudian angkat kedua belah tangan ke belakang kepala. Sekarang perhatikan apakah ada lekukan, kerutan dalam atau pembengkakan.
2) Letakkan kedua tangan dipinggul dan tekan hingga otot-otot di atas lengan mengeras, lalu perhatikan apakah ada kelainan seperti diatas, masih posisi demikian bungkukkan badan dan tandai apakah ada perubahan yang mencurigakan seperti diatas.
3) Letakkan bahu kiri ke sebuah bantal yang terlipat dan biarkan lengan kiri lurus ke samping. Dengan 3 jari tekanlah payudara dengan gerakan memutar mulai dari atas putting, rasakan apakah ada perubahan berupa benjolan yang sebelumnya tidak pernah ada.
4) Angkat lengan kiri anda gunakan 3 sampai 4 jari tangan kanan anda dengan kuat, hati-hati untuk meraba payudara kiri dengan kuat dan menyeluruh. Mulailah pada tepi luar tekan bagian datar dari jari bergerak melingkar dengan lambat. (Sitorus, 2006)

c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dapat dilakukan melalui individu yang telah didiagnosa positif mengidap kanker payudara. Penanganan yang tepat sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika (obat anti kanker). (Ramli, 2005)

Pencegahan lain yang dapat dilakukan antara lain:
a) Menghindari kehamilan diatas usia 30 tahun pada wanita dengan factor resiko tinggi
b) Menghindari pemakaian obat kontrasepsi hormonal pada kelainan tumor jinak payudara
c) Menghindari pemakaian estrogen pada wanita dengan gros fibrotic payudara
d) Kalau belum punya anak, dianjurkan untuk melahirkan sebelum usia 35 tahun
e) Menganjurkan masektomi untuk kelainan fibrokistik payudara yang luas.
Resiko adalah ukuran statistik dari peluang untuk terjadinya suatu keadaan yang tidak diinginkan dimasa yang akan datang. Sedangkan factor resiko adalah suatu keadaan atau ciri tertentu pada seseorang atau kelompok yang mempunyai hubungan dengan peluang terjadinya suatu penyakit, cacat atau kematian (Mansjoer, 2000)

Kategori:Tesis
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: