Arsip

Archive for the ‘Kerohanian’ Category

HIDUP ITU SEPERTI TASBIH

Berawal dan berakhir dititik yang sama.
Bukan tasbih jika cuma 1 butir,bukan hidup jika hanya 1 dimensi.

Kehidupan akan sempurna jika telah melewati serangkaian suka – duka, bahagia-sedih, sukses- gagal, pasang-surut.

Seperti tasbih yang melingkar,hidup juga demikian. Kemanapun kita pergi dan berlari menghindar tetap dalam lingkaran takdir-NYA.

Semoga kita dapat menjalani setiap hari-hari kita dengan kesabaran, ketabahan, keikhlasan dan dengan senyuman
manis yang kita miliki.

Semoga hari-hari kita juga diberikan keberkahan dan
keridhoan ALLAH SWT.

Aamiin

Iklan
Kategori:Agama, Kerohanian

MEWASPADAI JERATAN GURITA BANK

Bapak A ingin membangun rumah, namun dia tidak memiliki cukup uang untuk membeli materialnya. Lalu, dia pun meminjam ke bank untuk membangun rumah.

Bapak B ingin memulai usaha yang membutuhkan modal banyak, maka dia pun meminjam uang di bank. Sedangkan Bapak C terkena musibah, anaknya kecelakaan dan dirawat di rumah sakit sehingga membutuhkan biaya yang tinggi, maka dia pun lari ke bank untuk meminjan uang.

Gambaran di atas adalah sekelumit gambaran keadaan seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Terkadang, seseorang dihadang kebutuhan mendadak yang harus segera ditunaikan, namun dia belum memiliki uang.

Apakah kondisi-kondisi tersebut bisa melegalkan seseorang untuk pinjam uang di bank? Apakah sebenarnya hukum meminjam uang di bank? Terus, bagaimana jika meminjam uang di bank syariat?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tesebut, maka seyogianya kita mengenal apa itu hakikat utang-piutang dalam Islam.

Hakitat utang-piutang

“Utang piutang”, dalam agama kita, adalah ‘memberikan sesuatu yang menjadi hak milik pemberi pinjaman kepada peminjam, dengan pengembalian di kemudian hari, sesuai perjanjian, dengan jumlah yang sama’. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 1.000.000 maka di masa depan si peminjam akan mengembalikan uang sejumlah satu juta juga.

Pada asalnya, hukum utang-piutang adalah sunah bagi pemberi pinjaman, karena memberi pinjaman kepada orang yang membutuhkan adalah bentuk kelembutan dan kasih sayang kepada orang lain yang tertindih kesulitan, termasuk perbuatan saling tolong-menolong antara umat manusia, yang sangat dianjurkan oleh Allah ta’ala, selama (dalam koridor) tolong-menolong dalam kebajikan.

Bahkan, utang-piutang dapat mengurangi kesulitan orang lain yang sedang dirundung masalah serta dapat memperkuat tali persaudaraan kedua belah pihak. Karena itu, meminjam (berutang) adalah perkara yang diperbolehkan, bukan termasuk meminta yang dimakruhkan, selama tidak berutang untuk perkara-perkara yang haram, seperti: narkoba, berbuat kejahatan, menyewa pelacur, dan lain sebagainya.

Adapun hukum memberi pinjaman terkadang bisa menjadi wajib, tatkala memberikan pinjaman kepada orang yang sangat membutuhkan, seperti: tetangga yang anaknya sedang sakit keras dan membutuhkan uang untuk menebus resep obat yang diberikan oleh dokter.

Disyariatkannya utang-piutang adalah berdasarkan firman Allah (yang artinya), “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Q.S. Al-Maidah:2)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa meringankan kesulitan seseorang di dunia, niscaya Allah akan meringankan kesulitannya kelak pada hari kiamat; barang siapa mempermudah urusan seseorang yang sedang terhimpit kesusahan, niscaya Allah akan mempermudah urusannya kelak pada hari kiamat; dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)

Pemberian pinjaman merupakan transaksi yang bertujuan untuk memberi uluran tangan kepada orang yang sedang terhimpit kesusahan, bukan bertujuan untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu, Islam mengharamkan memancing di air keruh, yaitu dengan mencari keuntungan dari piutang karena setiap keuntungan dari piutang adalah riba, dan riba diharamkan oleh syariat Islam.

Para ulama telah menegaskan hukum keuntungan yang didapat dari piutang, melalui sebuah kaidah yang sangat masyhur dalam ilmu fikih, yaitu, “Setiap piutang yang mendatangkan kemanfaatan/keuntungan maka itu adalah riba.”

Kaidah ini menegaskan bahwa keuntungan yang dihasilkan dari utang-piutang, baik berupa materi, jasa, atau yang lainnya adalah haram, karena semuanya termasuk riba yang jelas keharamannya.

Perlu dicamkan, keuntungan dari piutang yang diharamkan adalah keuntungan yang diberikan berdasarkan kesepakatan di dalamnya. Jika pihak peminjam memberikan tambahan kepada pemberi pinjaman tanpa kesepakatan sebelumnya (dan tanpa tuntutan dari pihak pemberi pinjaman), maka hal ini tidak mengapa, karena hal tersebut merupakan bentuk pembayaran utang yang bagus.

Berutang di bank?

Dari penjelasan tadi, bagaimana hukum meminjam uang di bank? Apakah sama antara hukum meminjam uang di bank konvensional dengan bank syariat?

Harus kita tanamkan dalam sanubari kita, bahwa Islam telah memberikan kaidah utama, yaitu: selama akadnya adalah utang-piutang maka setiap keuntungan atau tambahan yang dipersyaratkan atau disepakati oleh kedua belah pihak adalah riba, dan riba itu diharamkan dalam Islam.

Ketika seseorang melakukan transaksi utang-piutang dengan bank, baik bank syariat atau pun bank konvensional, jika utang-piutang itu menghasilkan keuntungan maka keuntungan yang dihasilkan darinya adalah riba. Riba diharamkan dalam Islam, pada keadaan apa pun dan dalam bentuk apa pun; diharamkan atas pemberi piutang dan juga atas orang yang berutang darinya dengan memberikan bunga, baik yang berutang itu adalah orang miskin atau orang kaya. Masing-masing dari keduanya menanggung dosa, bahkan keduanya dilaknat (dikutuk). Setiap orang yang ikut membantu keduanya, mulai dari penulis dan saksinya juga dilaknat.

Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya.’” (H.R. Muslim)

Islam dengan tegas mengharamkan riba, Allah berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang memakan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya bagian yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan melipat-gandakan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang senantiasa berbuat kekafiran/ingkar dan selalu berbuat dosa.” (Q.S Al-Baqarah:275–276)

Jika seseorang beralasan bahwa dirinya tidak ikut memakan riba maka ingatlah firman Allah (yang artinya), “Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (Q.S. Al-Maidah:2)

Ayat ini dengan tegas melarang tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, dan orang yang meminjam uang ke bank berarti telah menolong pihak pemberi utang untuk memakan riba.

Mungkin, ada yang berpendapat, ketika seseorang meminjam uang di bank syariat maka sebenarnya dia tidak melakukan transaksi utang-piutang, namun dia melakukan transaksi mudharabah atau “bagi hasil”.

Perlu ditanyakan, jenis transaksi apa yang dilakukan tersebut? Jika memang transaksi yang dilakukan adalah transaksi “bagi hasil” maka tidak mengapa. Namun, jika ternyata pada hakikatnya yang dia lakukan adalah transaksi utang-piutang, maka setiap keuntungan yang dihasilkan dari piutang adalah riba.

Nah, untuk membedakan antara transaksi utang-piutang dengan transaksi bagi hasil, bisa dicermati dengan dua hal di bawah ini:

Jika bank yang mendatangkan barang, itu adalah perniagaan biasa. Akan tetapi, bila nasabah yang mendatangkan barang maka itu berarti akad utang-piutang.
Bila bank tidak bersedia bertanggung jawab atas setiap komplain terhadap barang yang diperoleh nasabah melalui akad itu (ketika terdapat kerusakan atau pun cacat pada barang), akad yang terjadi adalah utang-piutang. Akan tetapi, bila bank bertanggung jawab atas kerusakan pada barang yang didapatkan nasabah melalui akad itu, berarti akad itu adalah akad perniagaan biasa dan insya Allah halal.

Dua kaidah ini berlaku pada bank konvensional dan bank syariat. Dengan demikian, boleh atau tidaknya meminjam uang di bank, baik bank konvensional maupun bank syariat, tergantung pada bentuk transaksi yang dilakukan nasabah dengan bank. Namun, mayoritas bank melakukan transaksi utang-piutang, bukan bagi hasil. Wallahu a’lam.

Kategori:Agama, Kerohanian

TEMUKAN SOLUSI DALAM ISTIGHFAR. QS: NUH: 10-12

Hidup ini tak pernah lepas dari problem. Semua orang menghadapi problem. Karena problem itu adalah peluang penguatan jiwa, ujian iman, peluang amal, motivasi kreatifitas, dan sederet manfaat lainnya.
Problem hidup adalah nasehat Allah agar hambaNya kembali ke JalanNya, dan meningkatkatkan pendekatan kepadaNya.
Inilah substansi istighfar.


Ucapan Istighfar ialah: ASTAGHFIRULLAHAL LADZI LA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM WA ATUBU ILAIH.
“Aku memohon ampunan Allah Yang Tiada Tuhan Selain Dia Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhlukNya, dan aku bertaubat kepadaNya”.


Istighfar ini dianjurkan untuk kita jadikan sebagai wirid harian.MTapi istighfar ba’da shalat fardhu, lafazhnya hanya: ASTAGHFIRULLAH. Tanpa tambahan.

MARI BERSAMA KITA RAIH SOLUSI ILAHI PENUH BERKAH DENGAN ISTIGHFAR EFEKTIF

Kategori:Agama, Kerohanian Tag:

100shalawat, 100istighfar, 100subhaanallaahi wabihamdih… Sebagai amalan harian…

100shalawat, 100istighfar, 100subhaanallaahi wabihamdih… Sebagai amalan harian…

http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10152635827327564&id=262282047563

Kategori:Kerohanian

Hukum Menyusu Pada Istri dan Status Pernikahannya

Assalamu’alaikum wr. wb. Pak ustadz, saya menikah sudah 5 th dan di karuniai 2 anak, ketika istri sedang masa menyusui pernah kami melakukan hubungan suami istri dan ketika sedang berhubungan itu tanpa sengaja asi istri tertelan oleh saya. Dikarenakan kurang pahamnya saya tentang hal tersebut maka kejadian itu saya anggap hal yang biasa. Tetapi kemarin, saya mendengar ceramah yang menyebutkan bahwa asi istri adalah haram. Pertanyaannya
1. Benarkah asi istri kita haram hukumnya?
2. Bagaimana dengan status pernikahan kami setelah kejadian tersebut karena kami belum tahu hukum tentang asi?
3 Bagaiman solusi atas kejadian tersebut?

Terima kasih untuk jawaban ustadz, wasalam.

Jawaban:
KH. Abdurrahman Navis Lc, MHI
(Direktur Aswaja Center Jawa Timur)

Walaikumussalam warahmatullahi wabarkatuh

Bapak sail yang saya hormati. Syarat-syarat menyusu yang menjadikan mahram ada 5:

a. Usia anak yang menyusu tidak lebih dari 2 tahun Hijriyah. Hal ini didasarkan Q.S. Al-Baqarah ayat 233:

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ} [البقرة: 233]
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan (Al-Baqoroh; 233)

Juga dalam hadits yang diriwayatkan Imam Daruqutni dari Sahabat Ibn Abbas Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hukum persusuan kecuali dalam usia kurang dari dua tahun”

Begitu juga pendapat para ahli fiqh:

فَإِنَّ مِنْ شَرْطِ تَحْرِيمِ الرَّضَاعِ أَنْ يَكُونَ فِي الْحَوْلَيْنِ وَهَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ
“Diantara syarat pengharaman persusuan adalah di masa dua tahun. Ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu (Al-Mughni, vol 18, hlm 82)

b. Air susu berasal dari perempuan yang sudah berumur 9 tahun Hijriyah.
c. Keluarnya susu pada waktu masih hidup.
d. Susu yang diminum sampai ke perut besar atau otak si anak.
e. Masuknya air susu di waktu si anak dalam keadaan hidup dan tidak kurang dari lima kali susuan.

Bapak Sail, baiklah pengasuh jawab pertanyaan anda:

1. Menurut mayoritas ulama (menyatakan) dibolehkan bagi suami untuk menghisap puting istrinya. Bahkan hal ini dianjurkan, jika dalam rangka memenuhi kebutuhan biologis sang istri. Sebagaimana pihak lelaki juga menginginkan agar istrinya memenuhi kebutuhan biologis dirinya.

Adapun suami minum air susu istri, para ulama membolehkan jika membutuhkan, semacam untuk berobat. Akan tetapi, jika tidak ada kebutuhan, ulama di kalangan madzhab Hanafi berselisih pendapat. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang me-makruh-kan. Dalam Al-Fatawa al-Hindiyah (5/356) disebutkan, “Tentang hukum minum susu wanita, untuk laki-laki yang sudah baligh tanpa ada kebutuhan mendesak, termasuk perkara yang diperselisihkan ulama belakangan.”

Tetapi dalam kitab Fathul Qadir (3/446) disebutkan pertanyaan dan jawaban, “Bolehkah menyusu setelah dewasa? Ada yang mengatakan tidak boleh. Karena susu termasuk bagian dari tubuh manusia, sehingga tidak boleh dimanfaatkan, kecuali jika terdapat kebutuhan yang mendesak.”

2. Bila seorang lelaki dewasa yang minum air susu istrinya hal ini tidak berpengaruh terhadap hukum mahram, dalam arti istrinya tidak menjadi ibu susuan karena suaminya sudah lebih dari 2 tahun. karena orang yang sudah dewasa (diatas usia 2 tahun) saat menyusu tidak menjadikan senasab dengan yang disusui. hal ni berdasarkan penjelasan firman Allah SWT:

أما إن كان كبيرا زائدا على الحولين ورضع فإن رضاعه لا يعتبر وذلك لقوله تعالى : { والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين }
“Adapun Jika lelaki yang meneyusu itu sudah dewasa dan lebih dari 2 tahun, maka walaupun menyusu dan minum air susunya tidak menjadikan sesusuan” (alFiqh ‘ala Madzaahi al-Arba’ah IV/126 )

Ibnu Mas’ud juga berfatwa demikian. Malik meriwayatkan;

موطأ مالك (4/ 0)
عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ فَقَالَ إِنِّي مَصِصْتُ عَنْ امْرَأَتِي مِنْ ثَدْيِهَا لَبَنًا فَذَهَبَ فِي بَطْنِي فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا أُرَاهَا إِلَّا قَدْ حَرُمَتْ عَلَيْكَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ انْظُرْ مَاذَا تُفْتِي بِهِ الرَّجُلَ فَقَالَ أَبُو مُوسَى فَمَاذَا تَقُولُ أَنْتَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ لَا رَضَاعَةَ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ فَقَالَ أَبُو مُوسَى لَا تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ مَا كَانَ هَذَا الْحَبْرُ بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ
dari Yahya bin Sa’id berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Abu Musa Al Asy’ari; “Saya pernah menetek pada payudara isteriku hingga air susunya masuk ke dalam perutku?” Abu Musa menjawab; “Menurutku isterimu setatusnya telah berubah menjadi mahram kamu.” Abdullah bin Mas’ud pun berkata; “Lihatlah apa yang telah kamu fatwakan kepada lelaki ini! ” Abu Musa bertanya; “Bagaimana pendapatmu dalam hal ini?” Abdullah bin Mas’ud berkata; “Tidak berlaku hukum penyusuan kecuali bila masih pada masa dua tahun.” Kemudian Abu Musa berkata; “Janganlah kalian menanyakan suatu perkara kepadaku selama orang alim ini (Ibnu Mas’ud) masih berada di tengah-tengah kalian.”

3. jadi bapak tetap menjadi suami isteri yang sah dan tidak menjadi anak sesuaan juga nikahnya tidak batal. solusinya ? ya teruskan rumah tangga bapak denga penuh tanggung jawab dan didiklah isteri dan anaknya serta perbanyaklah bapak belajar agama dan mengamalkannya agar bahagia duniawi dan ukhrawi.

wallahu a’lam bisshawab

Kategori:Agama, Kerohanian

:: Agar TIDUR Anda… Menjadi PELEBUR DOSA ::

Tidak kita pungkiri… Berapa banyaknya dosa kita jalani.
Baik dosa yang disengaja… Maupun yang tidak disengaja.
Cobalah kita renungi dengan jujur… Berapa dosa dari bangun hingga kita tidur.

Dari dosa pikiran, mata, dan telinga… Begitu pula mulut, hati, tangan, kaki, dan yang lainnya.

Bisa jadi dosa karena bermaksiat kepadaNya… Bisa jadi dosa tidak atau kurang mensyukuri nikmatNya.

Oleh karenanya kita harus banyak memita… Agar kita mendapatkan banyak ampunan dariNya.

Jangan lupa untuk berwudu sebelum tidur… Semoga dosa-dosa kita menjadi lebur.

Nabi kita -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

طَهِّرُوا هَذِهِ الأَجْسَادَ طَهَّرَكُمُ اللَّهُ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَبْدٌ يَبِيتُ طَاهِرًا إِلا بَاتَ مَلَكٌ فِي شِعَارِهِ لا يَنْقَلِب سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلا قَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا

Sucikanlah jasad-jasad ini, semoga Allah mensucikan kalian, karena tidaklah seorang hamba tidur malam dalam keadaan suci, melainkan bermalam pula seorang MALAIKAT di sisi pakaiannya, ia tidaklah membolak-balikkan badannya sesaat di malam hari, melainkan malaikat itu mengatakan:

“Ya Allah, AMPUNILAH hambaMu (ini), karena ia tidur malam dalam keadaan SUCI”.

(HR. Thobaroni, dan dihasankan oleh Al-Haitsami dan Syeikh Albani).

By: Ust. Ad Dariny

Kategori:Agama, Kerohanian

Dengarkan Kata Hati, Rasakan Intuisi

Dalam bahasa Latin, intuisi berasal dari kata intueri, yang secara bebas diartikan ‘melihat ke dalam diri kita’ (to contemplate). Carl Gustav Jung,  pakar psikoanalisis dari Swiss, mendefinisikan intuisi sebagai persepsi yang muncul dari pikiran alam bawah sadar manusia dan tidak didasari oleh logika atau perasaan. Intuisi bersumber pada naluri (chakra jantung) yang terhubung pada God Spot atau Kearifan Illahi. “Boleh dibilang, intuisi adalah semacam ‘wahyu Illahi’ (divine),” ujar Noviana Kusumardani, seorang intuition coach.

Sejatinya setiap orang memiliki kepekaan intuisi secara alami. Hanya saja, karena selama ini kita lebih dituntut menggunakan logika dalam berbagai hal, maka kemampuan intuisi kita tidak terasah dengan baik.

Bayangkan, dari bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari, otak kita penuh. Mulai dari menyiapkan sarapan, mengurus keperluan rumah, menyelesaikan pekerjaan di kantor, menghadiri berbagai meeting, bahkan kembali ke rumah pun kita masih harus berkutat di depan komputer. Dalam kondisi seperti ini, kerja otak kiri kita lebih dominan ketimbang otak kanan. Otak kiri merupakan otak akademis yang berisikan logika, analisis, bahasa, dan matematika.

Sementara otak kanan, jika diaktifkan, memiliki kemampuan luar biasa karena
berisikan imajinasi, emosi, intuisi, dan spiritualitas. Kedua bagian otak kita bekerja
secara paralel. “Jadi, kalau kita ingin mendengarkan intuisi (otak kanan), kita harus
secara berkala ‘mematikan’ logika (otak kiri),” kata Novi.

Kategori:Kerohanian, Motivasi