Arsip

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia

1. Pola Makan

Menurut Nugroho (2000) secara umum kebutuhan nutrisi pada lansia adalah sebagai berikut :

a. Kebutuhan kalori pada lansia; laki-laki 2.100 kalori sedangkan perempuan 1.700 kalori. Kebutuhan kalori ini dapat di modifikasi tergantung keadaan lansia.
b. Karbohidrat, 60% dari jumlah kalori yang dibutuhkan.
c. Lemak, tidak dianjurkan karena menyebabkan hambatan pencernaan dan terjadinya penyakit, 15% – 20% dari total kalori yang dibutuhkan.
d. Protein, untuk mengganti sel-sel yang rusak, 20% – 25% dari total klori yang dibutuhkan.
e. Vitamin dan mineral, sama dengan kebutuhan orang usia muda.
f. Air, 6 – 8 gelas per hari.
Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati (1985) dalam berbagai nformasi yang memberikan gambaran mengenai makan dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu.

Tips hidup sehat sehubungan dengan makanan adalah pada jam makan selingan, yaitu antara jam 9 – 10 pagi dan jam 3 – 4 sore hindari memakan makanan tinggi kaloriseperti wafer, donat, cokelat, es krim, dan lain-lain, dan sebagai penggantinya adalah buah-buahan tinggi serat tetapi rendah kalori. Hindari makan malam yang terlalu dekat dengan waktu tidur, paling sedikit 3 jam sebelumnya, karena pada waktu tidur aktivitas tubuh sangat rendah sehingga penyerapan makanan menjadi paling banyak. (…..06 Agustus 2007,http.//www.waspada.go.id. diakses 1 mei 2010)

Menurut Moehji (2003) berbagai kondisi dan masalah yang dialami lansia mengharuskan dilakukannya pengaturan makanan untuk menegah terjadinya gangguan kesehatan selanjutnya. Petunjuk yang dapat digunakan dalam mengatur makanan bagi lansia :
a. Penggunaan bahan makanan sumber karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh sebagai sumber karbohidrat adalah nasi, roti, mie, bihun, kentang, makaroni, dan gula. Dengan diharuskannya membatasi kandungan energi dalam makanan, maka penggunaan bahan makanan sumber karbohidrat juga harus dibatasi.

b. Kandungan lemak dalam makanan
Dalam hal penggunaan lemak ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
1) Kadar lemak total dalam makanan dianjurkan tidak melebihi 20% dari total energi dalam makanan. Jadi seorang laki-laki lansia dengan berat badan 60 kg dan tinggi 162 cm memerlukan 2200 kalori sehari, maka kalori yang berasal dari lemak lebih dari 450 kalori setara dengan 50 gr lemak total yang ada dalam makanan.

2) Kandungan asam lemak dalam makanan
Dalam lemak makanan terdapat senyawa yang disebut asam lemak. Ada dua macam asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh harus dibatasi karena akan menyebabkan tingginya kadar lemak dalam darah yang dapat mempermudah terjadinya pengerasan pembuluh darah (atherosklerosis).

a. Penggunaan susu sebagai zat kapur
Untuk mencegah terjadinya kekurangan zat kapur dapat digunakan susus tak berlemak (susu non-fat) melalui pemberian 1 gelassetiap hari.

b. Konsumsi sayur-mayur
Berbagai jenis sayur-mayur merupakan sumber mineral disamping serat yang sangat banyak fungsinya untuk lansia. Disamping dapat mencegah konstipasi, serat diperlukan untuk mengatur gula darah, menghambat penyerapan lemak dan kolesterol dan mencegah penyakit kanker usus. Karena itu konsumsi sayuran dalam jumlah yang cukup sangat dianjurkan untuk lansia.

c. Konsumsi buah-buahan sebagai sumber vitamin
Buah-buahan diperlukan baik sebagai sumber vitamin maupun sebagai sumber serat makanan. Buah-buahan seperti pisang, pepaya, semangka, mangga atau buah-buahan lain yang lunak sangat baik diberikan pada lansia.

d. Konsumsi garam
Konsumsi garam dibatasi ecukupnya saja, kecuali jika ada tanda-tanda hipertensi atau penyakit ginjal yang mengharuskan pantang garam.

f. Konsumsi teh, kopi dan minuman lain
Pemberian teh, kopi dalam jumlah yang terbatas tidak akan menimbulkan kesulitan. Sebaliknya ada kafein dan thein dalam kopi dan teh selain memberikan stimulasi yang membawa pengaruh baik, juga akan memberikan kepuasan psikologis. Pada lansia, konsumsi air harus dijaga dalam jumlahyang cukup agar jumlah urine yang keluar setiap hari berkisar antara 1,5 sampai 2 liter.

g. Konsistensi, porsi dan frekuensi makan
Semakin tua, konsistensi makanan harus semakin lunak. Bahan makanan yang sukar dicernasebaikya tidak diberikan. Porsi makanan tiap kali makan juga tidak terlalu besar sehingga saluran pencernaan tidak bekerja terlalu berat. Karena porsi makanan diberikan tiap kali makan harus kecil, maka frekuensi makan harus diperbanyak, yaitu dengan memberikan makanan selingan diantara waktu makan.

2. Pengetahuan
Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa tingkat pengetahuan sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, semakin tinggi pendidikan akan semakin baik tingkat pemahaman tentang suatu konsep, cara pemikiran dan pemeriksaan yang tajam dengan sendirinya memberikan persepsi yang baik terhadap obyek yang diamati.
Dalam hal ini lansia hrus bisa memahami dan mengerti tentang pentingnya status gizi bagi tubuh dan keberlangsungan hidupnya. Dengan mengetahui dan memahami amsalah ini, maka perlu adanya upaya untuk mengajarkan bagaimana lansia tersebut dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat yang penting bagi tubuhnya seperti : kebutuhan akan Karbohidrat, Lipid atau Lemak, Protein, Vitamin, Air dan Mineral sesuai dengan standar normal asupan tubuh akan pemenuhan gizi.

3. Gangguan fisik
Masa Lansia sering dimaknai sebagai masa kemunduran, terutama pada keberfungsian fungsi-fungsi fisik. penyebab fisik kemunduran ini merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus tetapi karena proses menua.
Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :

a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.

b. Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan menurunnya nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.

c. Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.

d. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.

e. Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.

f. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai tujuan (apraksia) dan gangguan dalam menyususn rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan, daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam emlakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti sosial lainnya.

g. Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga bekurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

h. Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Masalah gizi yang dihadapi lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya. (lenteraimpian, februari 27, 2010)

Pernak pernik kebutuhan keluarga

Banyak diantara kita saling membutuhkan kebutuhan yang carang kita temui namun bisa didapat hanya di salah satu tempat yang khusus disediakan bagi yang ingin melengkapi kebutuhan dan keharmonisan rumah tangganya, tepat dikatakankan bahwa keluarga harmonis menuju kesejahteraan. tanpa itu kita tidak bisa dipungkiri.

Dalam mewujudkan keluarga harmonis dan sejahtera dibutuhkan tenaga suplei untuk menikmati momen bersama keluarga diantaranya dekat dengan keluarga dan selalu menghabiskan bersamanya. sebuah hal yang sangat istimewah dan pasti membawa rasa damai ditengah keluarga . yang mendorong kita dalam memilih setiap momen adalah ketika kedekataan dan rasa harmonis itu tumbuh dengan sendirinya dibantu dengan berbagai kebutuhan yang dibutuhkan untuk lengkapnya saya akan mengajak anda untuk melihat sisi langsung dari pernak pernik kebutuhan keluarga harmonis dan sejahtera kita ke TKP klik disini

Keuntungan menyusui segera setelah melahirkan

a. Bagi Bayi
1) Melindungi bayi dari infeksi
2) Bayi mendapat terapi psikologis berupa ketenangan dan kepuasan
3) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu feses pertama bayi
4) Fungsi koordinasi saraf menelan, mengisap dan bernapas lebih cepat sempurna.
5) Saat terbaik bagi bayi menerima berbagai stimulus, seperti sentuhan kulit, mencium aroma khas ibunya, merasakan kehangatan dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenalnya sejak masih dalam kandungan, sehingga otak dan system saraf berkembang dengan optimal.
6) Meningkatkan kelekatan antara ibu dan bayi sehingga menumbuhkan rasa percaya pada sang bayi karena ia tahu bahwa ada seseorang yang selalu ada saat ia butuhkan (Handjani, 2005).

b. Bagi Ibu
1) Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula. Hal ini karena hormon oksitosin yang merangsang kontraksi otot-otot di saluran ASI sehingga ASI terperas keluar dan juga akan merangsang kontraksi rahim.
2) Mencegah anemia defisiensi zat besi. Bila perdarahan pasca persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka resiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang.
3) Menimbulkan perasaan dibutuhkan. Rasa bangga dan bahagia karena dapat memberikan sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayinya.
4) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. Penelitian membuktikan bahwa ibu yang memberikan ASI secara ekslusif memiliki resiko kanker payudara dan ovarium 25 % lebih kecil bila dibandingkan ibu yang tidak menyusui secara eksklusif (Handjani, 2005).

c. Bagi Keluarga
1) Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, kayu bakar atau minyak untuk merebus air atau peralatan.
2) Bayi sehat berarti mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan dan berkurangnya kekuatiran bayi akan sakit.
d. Bagi Masyarakat dan Negara
1) Menghemat distribusi Negara karena tidak perlu mengimport susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya.
2) Bayi sehat membuat Negara lebih sehat.
3) Memperbaiki kemampuan hidup anak dengan menurunkan kematian.
4) Melindungi lingkungan karena tidak ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk memenuhi air susu dan peralatannya. ASI adalah sumber daya yang terus menerus diproduksi dan baru (Roesli, 2000).

Kategori:Kesehatan, Tesis Tag:, , , ,

Menyusui setelah Persalinan

1. Pengertian Menyusui
>> Menyusui adalah cara alami untuk memberikan makanan pada bayi. (Balaskas, 2004).
>> Menyusui segera persalinan adalah sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, bayi harus diserahkan kepada ibunya untuk disusui (Purwanti, 2004).

2. Proses Menyusui
Menyusui tergantung pada gabungan refleks, kerja hormone dan perilaku yang dipelajari ibu dari bayi yang baru lahir dan terdiri dari factor-faktor :
a. Laktogenesis (Permulaan Produksi ASI)
Dimulai pada tahap akhir kehamilan. Kolostrum disekresi akibat stimuli sel-sel alveolar mamaria oleh laktogen plasenta, suatu substansi yang menyerupai prolaktin. Produksi susu berlanjut setelah bayi lahir sebagai proses otomatis selama susu dikeluarkan dari payudara.
b. Proses Susu
Kelanjutan sekresi susu terutama berkaitan dengan :
1) Jumlah produksi hormon prolaktin yang cukup di hipotisis
Anterior

2). Pengeluaran susu yang efisien
Nutrisi maternal dan masukan cairan merupakan factor yang mempengaruhi jumlah dan kualitas susu.
c. Ejeksi Susu
Pergerakan susu dari alveoli (dimana susu disekresi oleh proses ekstrusi dari sel) ke mulut bayi merupakan proses yang aktif didalam payudara. Proses ini tergantung pada refleks let-down secara primer merupakan respons terhadap isapan bayi. Isapan menstimulasi kelenjar hipopisis posterior untuk mensekresi oksitosin. Di bawah pengaruh oksitosin sel-sel disekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui system duktus ke dalam mulut bayi.

d. Kolostrum
Kolostrum kuning kental secara unik sesuai untuk kebutuhan bayi baru lahir. Kolostrum mengandung antibody vital dan nutrisi padat dalam volume kecil, sesuai sekali untuk makanan awal bayi. Menyusui dini yang efisien berkolerasi dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar protein yang tinggi dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif kolostrum untuk mempermudah perjalanan mekonium.

e. Susu Ibu
Pada awal pemberian makanan susu mengandung lebih sedikit lemak dan mengalir lebih cepat dari pada susu yang keluar pada akhir menyusui. Menjelang akhir pemberian makanan, susu sisa ini lebih putih dan mengandung lebih banyak lemak. Kandungan lemak yang lebih tinggi pada akhir pemberian makan memberikan rasa puas pada bayi(Bobak, 2004).

3. Mekanisme Menyusui
Bayi baru lahir yang cukup bulan dan sehat memiliki 3 refleks yang diperlukan untuk membuat proses menyusui berhasil seperti :
1. Refleks mencari (Rooting Refleks)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu ditarik masuk kedalam mulut.

2. Refleks Mengisap (Sucking Refleks)
Teknik menyusui yang baik adalah bila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi. Cukup rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak dipuncak kalang payudara dibelakang puting susu. Puting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan pada langit-langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya dibagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu.

3. Refleks Menelan ( Swallowing Refleks)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung (Soetjiningsih, 2007).

4. Fisiologi Menyusui segera setelah persalinan
Sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kadar prolaktin dalam darah ibu sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, segera posisikan bayi untuk mengisap puting susu secara benar. Ketika bayi mengisap pertama kali, bayi sebenarnya tidak menerima susu. Ternyata implus sensorik pertama harus ditransmisikan melalui saraf somatic dari puting susu ke medula spinalis dan kemudian ke hipotalamus menyebabkan sekresi oksitosin pada saat yang bersamaan ketika hipotalamus mensekresi prolaktin. Oksitosin kemudian dibawa dalam darah ke kelenjar payudara, dimana oksitosin sel-sel miospitel yang mengelilingi dinding luar alvioli berkontraksi untuk mengalirkan air susu ke dalam duktus, kemudian isapan bayi menjadi efektif dalam mengalirkan air susu. Pengisapan pada satu kelenjar payudara tidak hanya menyebabkan aliran air susu pada kelenjar payudara itu tetapi juga pada kelenjar lain (Guyton dan Hall, 1997).

Apabila bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan, hormon prolaktin akan turun dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI baru akan keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat dan bidan memberikan makanan pengganti ASI karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah yang cukup. Bayi yang sudah mendapat susu tambahan akan tertidur dan tidak akan terjadi rangsangan pada puting susu. Dengan tidak ada rangsangan pada puting susu berarti memberikan kadar hormon oksitosin turun secara perlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini akan menyebabkan ASI keluar sedikit bahkan mungkin berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Purwanti, 2004).

Kategori:Kesehatan, Tesis

Pengertian Kelancaran ASI

Pengeluaran ASI dikatakan lancar bila produksi ASI berlebihan yang
ditandai dengan ASI akan menetes dan akan memancar deras saat diisap bayi (Purwanti, 2004).

3. Jenis-jenis ASI

a. ASI stadium I
ASI stadium I adalah kolostrum yang merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning-kuningan yang pertama disekresikan oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat setelah melahirkan.
b. ASI stadium II
Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur disekresikan pada hari keempat sampai hari kesepuluh masa laktasi.
c. ASI stadium III
ASI stadium III adalah ASI matur yang disekresikan pada hari ke sepuluh dan seterusnya. ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (soetjiningsih, 1997).

4. Komposisi ASI
a. Protein
Protein dalam ASI jumlahnya lebih rendah dibandingkan dengan protein dalam susu sapi. Merupakan bahan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena merupakan kelompok protein yang sangat halus, lembut dan mudah dicerna sehingga hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi. Kandungan protein dalam ASI terdiri dari :

1) Gammaglobulin yang memberikan perlindungan terhadap infeksi. Jenis protein ini juga membuat konsistensi ASI menjadi pekat ataupun padat sehingga bayi lebih lama merasa kenyang. ASI juga mengandung protein jenis Alfa Laktalbumin yang melindungi bayi dari alergi.

2) Asam amino taurin yang merupakan bahan baku untuk pertumbuhan sel otak, retina dan konjugasi bilirubin. Pada bayi baru lahir biasanya menunjukan peningkatan bilirubin karena mereka baru mendapat trauma pada saat melalui jalan lahir (Adanya pendarahan), sedangkan pada usus bayi belum menstimulasi vitamin K untuk proses pembekuan darah. ASI mengandung taurin yang cukup tinggi, ini akan membantu menurunkan kadar bilirubin yang tinggi dalam tubuh bayi. Sedangkan vitamin K yang dibutuhkan untuk pembekuan darah harus dibantu asupan dari luar.

3) Asam amino sistin sangat penting untuk pertumbuhan otak.

4) Tirosin dan fenilalanin dengan kadar yang sangat rendah menguntungkan untuk bayi terutama bayi prematur, karena pada bayi prematur, kadar tirosin yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan otak.

5) Laktoferin yang berfungsi mengangkut zat besi dari ASI ke sistem peredaran darah bayi sehingga zat besi akan lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan bayi. Laktoferi juga merupakan pelindung karena membiakan bakteri, yang dalam sistem pencernaan bayi tubuh akan menghancurkan bakteri yang jahat itu .

6) Poliamin dan nukleotid yang sangat penting untuk sintesis protein dalam ASI.

7) Lisozim merupakan salah satu kelompok antibody alami dengan kadar yang cukup tinggi, bersama-sama dengan system komplemen dan SIgA berhasiat memecahkan dinding sel bakteri (Bakteriolitik) dari kuman-kuman gram positif.

b. Karbohidrat
Karbohidrat yang utama terdapat dalam ASI adalah laktosa. Kadar Laktosa dalam ASI lebih tinggi bila dibandingkan dengan air susu sapi. Hal ini sangat menguntungkan karena laktosa ini oleh fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Adanya asam laktat ini memberikan suasana asam dalam usus bayi sehingga memberikan beberapa keuntungan antara lain :
1) Penghambatan pertumbuhan bakteri yang patologis.
2) Memacu pertumbuhan mikro organisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin.
3) Memudahkan terjadinya pengendapan dari Ca-caseinat
4) Memudahkan absorpsi dari mineral, misalnya kalsium, fosfor dan magnesium.
Laktosa ini juga relatif tidak larut sehingga waktu proses digesti didalam usus bayi lebih lama tetapi dapat diabsorpsi dengan baik oleh usus bayi. Selain laktosa yang merupakan 7 % dari total ASI juga terdapat glukosa, galaktosa dan glukosamin. Galaktosa ini penting untuk pertumbuhan otak dan medula spinalis.

c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI merupakan sumber kalori yang utama
bagi bayi dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (A,D,E dan K).
Keistimewaan dalam ASI anatara lain :
1) Bentuk emulsi lebih sempurna, hal ini disebabkan karena ASI mengandung ensim lipase yang memecah trigliserida menjadi gliserida dan kemudian menjadi monogliserida sebelum pencernaan diusus terjadi.
2) Kadar asam lemak tak jenuh terdapat dalam kadar yang tinggi, dan yang terpenting adalah asam linoleat yang akan memacu perkembangan otak bayi. Kolestrol diperlukan untuk melinisasi susunan saraf pusat dan diperkirakan juga berfungsi dalam pembentukan enzim untuk metabolisme kolestrol yang akan mengendalikan kadar kolestrol dikemudian hari (Mencegah asteriosklerosis pada usia muda).

d. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Total mineral selama masa laktasi adalah konstan, tetapi beberapa meineral yang spesifik kadarnya tergantung dari diit dan stadium laktasi. Garam organik yang terdapat dalam ASI terutama adalah kalsium, kalium dan natrium dari asam klorida dan fosfat.

e. Air
Kira-kira 88 % dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk melarutkan zat-zat yang terdapat didalamnya. ASI merupakan sumber air yang secara metabolik adalah aman. Air yang relatif tinggi dalam ASI akan meraedakan rangsanga haus dari bayi.

 f. Vitamin
Vitamin dalam ASI dapat dikatakan lengkap. Vitamin A,D dan C cukup, sedangkan golongan Vitamin B, kecuali riboflavin dan asam pantothenik adalah kurang.

g. Kalori
Kalori dalam ASI relatif rendah, hanya 77 kalori/100 ml ASI 90 % berasal dari karbonhidrat dan lemak, sedangkan 10 % berasal dari protein (Soetjiningsih, 1997).

5. Keuntungan Pemberian ASI
a. Steril, aman dari pencemaran kuman.
b. Selalu tersedia dalam suhu yang optimal.
c. Produksi disesuaikan dengan kebutuhan bayi.
d. ASI merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan datang.
e. ASI mengandung antibody yang tertinggi yang siap memberikan perlindungan bagi bayi ketika bayi dalam kondisi lemah.
f. Mencegah arteriosclerosis pada usia muda dengan adanya enzim yang mencerna kolestrol.
g. Mengandung tripsin inhibitor sehingga hidrolisis protein dalam usus bayi menjadi kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibody pada bayi.
h. Kekebalan bayi bertambah dengan volume kolostrum meningkat, akibat isapan bayi yang baru lahir secara terus-menerus (Soetjiningsih, 1997).

6. Indikator Kelancaran ASI
a. ASI dapat merembes keluar melalui puting susu.
b. Sebelum disusukan payudara merasa tegang.
c. Bayi akan buang air kecil 6 – 8 kali dalam sehari.
d. Turgor kulit dan tonus otot bayi baik
e. Perilaku bayi yang penuh semangat pada waktu menyusui.
f. Bayi tampak puas yang ditandai dengan :
1) Bayi akan segera tertidur
2) Tidak sering menangis
3) Suka bersosialisasi
g. Terdapat kenaikan berat badan rata-rata 500 gram per bulan (Soetjiningsih, 2007).

Kategori:Kesehatan Tag:,

Sperma Pria Uzur Berkontribusi Turunkan Gen Cacat pada Anak

Tidak ada aturan yang mengatakan pada usia berapa sebaiknya pasangan memiliki anak, namun semakin tua umur semakin tinggi pula kemungkinan untuk menurunkan gen cacat pada anak.

Dikatakan oleh Professor John MacGrath seorang psikiater dan ahli epidemiologi dari Universitas Queensland, Australia, ada hubungan kuat antara bermacam-macam masalah neurologis seperti skizofrenia dan autisme dengan umur ayah saat terjadi pembuahan.

“Di masa lalu, kita berpikir bahwa umur ayah bukanlah penyebabnya. Ternyata kita salah, jam biologis ternyata juga berjalan bagi para pria” ujar MacGrath seperti dilansir dari ABC, Senin (16/6/2014).

MacGrath menjelaskan bahwa meskipun pada pria produksi sperma tidak terbatas, namun bukan berarti pabrik sperma pada pria bernama spermatogonia yang ‘menulis’ gen pada sperma tidak akan mengalami kesalahan dalam fungsinya. Tiap spermatogonia mereplikasi informasi genetik, ada kemungkinan terjadi kesalahan dalam bentuk mutasi.

Saat mutasi gen terjadi pada sel telur atau sperma, mutasi yang dinamakan mutasi de novo tersebut berkemungkinan akan diwarisi oleh bayi.

Penelitian pada tahun 2012 yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Nature, menggambarkan bagaimana gen ayah berperan lebih besar pada mutasi de novo. Para peneliti mengambil sampel orang tua sehat namun memiliki anak dengan autis atau skizofrenia dari Iceland, mereka kemudian menjejerkan keseluruhan 78 genom dari ayah, ibu dan anak. Hasilnya sekitar 97 persen mutasi de novo pada anak berasal dari sang ayah.

Peneliti juga mengestimasi angka mutasi yang seorang pria akan wariskan pada anaknya dapat meningkat hingga dua kali lipat tiap 16,5 tahun. Pada umur 20 seorang pria dapat mewariskan sekitar 25 gen mutasi, namun pada umur 40 tahun mutasi gen yang diwariskan dapat mencapai sekitar 65.

Berkaitan dengan temuannya itu, John MacGrath mengatakan bukan berarti dirinya mendorong nikah pada usia muda. “Kami belum siap untuk memberikan anjuran untuk calon orangtua tentang usia optimal bagi pria untuk memiliki anak. Ada faktor lain selain usia yang memiliki resiko lebih besar seperti makanan, olahraga, alkohol, dan rokok yang juga dapat mempengaruhi kualitas sperma,” ujarnya.

Sumber

Kategori:Kesehatan

Tinjauan Umum Tentang Lanjut Usia

a. Definisi Lanjut Usia
Defenisi usia tua beragam tergantung pada kerangka pandang individu. Orang tua yang berusia 35 tahun dapat dianggap muda bagi anaknya dan muda bagi orang tuanya. Orang sehat, aktif berusia 65 tahun mungkin menganggap usia 75 tahun sebagai permulaan lansia. Ketika usia pensiun ditentukan pada usia 65 tahun melalui legislasi sosial security pada tahun 1930-an, maka masyarakat Amerika Serikat menerima usia 65 tahun sebagai awal usia tua.

b. Teori-Teori Proses Menua
Menurut Nugroho (2000) sebenarnya secara individual tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda, dimana masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda.
Beberapa teori berikut menjelaskan tentang proses menua :

a) Teori Biologi
1) Teori Genetik dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang deprogram oleh molekul-molekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin.
2) Pemakaian dan Rusak
Menurut ini kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
3) Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, yang disebut teori akumulasi atau sisa.
4) Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
5) Tidak ada perlindungan terhadap; radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi.
6) Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto immune Theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
7) Teori Immunologi Slow Virus
System imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

8) Teori Stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
9) Teori Radikal Bebas
Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
10) Teori Rantai Silang
Sel-sel tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan, dan hilangnya fungsi.
11) Teori Program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

b) Teori Kejiwaan Sosial
1) Aktivitas atau kegiatan (Activity Theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
2) Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori-teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
3) Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan isekitarnya.

c) Batasan-Batasan Lanjut Usia
Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan. Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur:
a. Batasan usia menurut WHO meliputi :
1) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
2) Lanjut usia (erderl) antara 60 dan 74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old) antara 75 dan 90 tahun.
4) Lanjut usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
b. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai berikut: “Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.” Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 BAB I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut Usia adalah seseorang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.”

Kategori:Kesehatan