Arsip

Archive for the ‘Menulis’ Category

Beri tanda tanya?

Mengenal sesuatu bukan hanya bisa dilihat dari luarnya saja, menarrik betul ketika mengenal insan manusia yang sungguh ciptaan yang begitu sempurna. kesempurnaan ciptaan ini sungguh kesyukuran kepada kta sebagai manusia.

Mengenal manusia sebenarnya cukup rumit ketika tidak memahami apa yang seharusnya kita ingin ketahui, lebih-lebih jikalau memang tidak pernah ada niat untuk mempeljarinya.

Salah satu tanda tanya besar ketika manusia tidak sama dengan apa yang ada, karena kodrat manusia adalah sama, yang bisa membedakan dari semuanya hanya pola fikir yang dibumbuhi dengan pengalaman yang dipagari dengan hati yang bersih.

Yang merubah manusia hanyalah hasyrat nafsu dalam dirinya, ketika pikiran disimpan di matanya, atau pikirannya disimpan di telinganya. lebih jua ketika pikirannya ada di mulut oraang.

Mari bertarung dalam konsep kehidupan semangat melangkah mewujudkan citra kita sebagai hamba yang mampu memberikan sedikit manfaat kepada sesama, hilangkan tanda tanya sebagai manusia yang bukan manusia, bagaimana kita seharusnya menjadi manusia sebenarnya.

 

 

Iklan

Senyumlah

Kita tidak pernah merasakan hal indah kedalam hidup ketika apa yang membuat diri ini menjadi langkah yang akan membentuk sabotase diri menuju hal-hal yang berguna baik untuk diri maupun untuk orang banyak.

Ketika lemparan senyum kepada orang yang jira temui aka memberikan nuangsa harapan menuju kwjayaan diri melebihi segalanya akan membuat hati dan optimis diri melangkah ke arah selanjutnya.

Senyum adalah senjata yang paling ampuh dalam melangkah ke arah yang membuat bathin Menjadi ceria dan penuh semangat melangkah apa pun yang akan kita lewati menuju perubahan yang maksimal.

Kategori:Menulis

Menulis Bersama Penulis Profesional

dsc02946Pengusaha senior yang sukses seperti Bob Sadino ini pastilah kaya pengalaman dan wawasan. Namun, orang-orang sukses seperti Om Bob ini tidak selalu memiliki waktu dan keterampilan untuk menuliskan sendiri kisah hidupnya. Mereka membutuhkan penulis profesional untuk mengabadikan buah pikirnya.

“Anda harus melakukan hal yang anda pikir tidak dapat anda lakukan.”
Eleanor Roosevelt

Menulis buku bersama penulis profesional adalah alternatif terakhir yang sebenarnya hanya perlu dipilih jika kita benar-benar sudah angkat tangan dengan keseluruhan proses penulisan buku. Namun, ini bukan cara yang sama sekali harus dihindari. Bahkan, bagi orang-orang yang sangat sibuk, menulis bersama penulis profesional ini dapat menjadi salah satu pilihan yang efisien dan efektif. Karena berbagai alasan mereka sama sekali tidak bisa meluangkan waktu untuk menulis dengan baik. Mau tak mau, demi sebuah impian, menggunakan jasa penulis profesional adalah alternatif yang sah.

Tidak dimungkiri, bagi sebagian orang, menulis sama sekali asing dan begitu sulit untuk dikerjakan. Ketika mereka belajar menulis dari nol, ada saja kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Sementara pada waktu mereka memaksakan diri menulis buku, akhirnya toh tetap sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Padahal, menulis benar-benar diinginkan dan diyakini akan mendatangkan nilai tambah. Dalam situasi seperti ini, tidak berarti orang harus berhenti atau mengubur keinginannya untuk membuat sebuah buku.

Di sinilah peran penting para penulis profesional. Ada tiga model penggunaan tenaga profesional. Pertama, jika waktu luang untuk menulis sama sekali tidak ada, kita bisa menggunakan jasa seorang ghost writer (penulis bayangan). Seorang ghost writer adalah penyedia jasa penulisan dengan profesional fee tertentu, yang dapat diminta menulis untuk dan atas nama kita. Klien cukup memberikan outline, bahan-bahan penulisan, dan menyampaikan tujuan-tujuan penulisan buku. Berikutnya, si penulis bayangan akan membuatkan tulisan berdasarkan pesanan dan bahan-bahan tersebut, hingga menjadi sebuah buku yang sesuai dengan keinginan klien. Ini memang cara menulis buku yang paling tidak merepotkan.

Kedua, kita dapat mengajak seorang penulis profesional sebagai co-writer atau penulis pendamping. Di sini kita mengajak seorang penulis profesional untuk berdiskusi, menetapkan tujuan penulisan buku, mengumpulkan bahan, dan menulis bersama-sama. Prakteknya, kebanyakan penulis pendampinglah yang menjalankan seluruh proses penulisan buku, sementara penulis utama hanya menyediakan bahan-bahan tertulis atau memberikan wawancara. Penulis pendamping di sini hampir sama fungsinya dengan penulis bayangan. Bedanya, nama si penulis pendamping harus dicantumkan di buku bersama si penulis utama.

Ketiga, kita dapat menggunakan jasa editor profesional. Jika kita mampu menyelesaikan draft awal buku dengan baik, namun untuk pengayaan, editing redaksional, dan gaya bahasa, kita merasa kurang PD atau sudah tidak punya waktu lagi, solusinya adalah memanfaatkan jasa seorang editor profesional. Sebenarnya di setiap penerbit buku disediakan seorang editor untuk mengolah dan merapikan setiap naskah buku yang masuk. Tetapi bukan rahasia lagi kalau naskah buku yang sudah rapi memang lebih disukai oleh semua penerbit. Bukan berarti naskah yang rapi editingnya akan selalu diterima penerbit. Tapi naskah seperti ini memang memudahkan dan mempercepat pekerjaan penerbit.

Jika model pertama dan kedua yang dipakai, kita dapat menyerahkan sepenuhnya proses penulisan kepada si penulis bayangan. Sementara untuk model ketiga berarti kita harus menyediakan waktu lebih banyak untuk menulis sendiri dan kemudian menggunakan editor untuk merapikan tulisan. Prinsipnya, memanfaatkan jasa penulis atau editor profesional berarti harus bekerjasama dengan mereka. Kualifikasi tenaga profesional sudah bisa dikenali saat kita menggunakan jasa mereka untuk menggali gagasan melalui teknik wawancara. Namun ada perbedaan prinsip antara kemampuan mewawancarai dengan kemampuan menulis. Orang yang mampu mewawancarai tidak otomatis mampu menulis dengan baik, begitu pula sebaliknya. Namun yang terbaik adalah jika kedua-duanya dikuasai oleh si profesional pilihan kita.

Bagaimana memilih penulis profesional yang bisa bekerja sama dengan kita? Idealnya, kita bisa menggunakan para penulis yang sudah pernah menghasilkan buku-buku bagus. Lebih baik lagi bekerjasama dengan penulis buku-buku best seller. Jika kita belum punya brand di dunia penulisan non fiksi, co-branding dengan penulis best seller akan memberi keuntungan tersendiri. Keuntungan itu adalah naiknya brand kita karena bersanding dan bekerjasama dengan penulis yang terbukti karyanya laris di pasaran.

Untuk penulisan biografi misalnya, baik untuk memilih penulis-penulis biografi yang pernah menulis biografi orang-orang ternama. Sebut misalnya, Ramadhan KH, Usamah Hisyam, Nurinwa, Her Suharyanto, Hubertine Endah, dll. Kualitas penulisan mereka tentu saja bisa diandalkan. Ramadhan KH misalnya, dikenal sebagai penulis biografi yang andal, dan tentu saja namanya punya nilai jual. Buku-buku biografi yang dia tulis biasanya mendapat apresiasi positif. Maklum, sebagai sastrawan Ramadhan dikenal mampu menulis dengan gaya yang khas, mendalam, namun enak dibaca.

Dari mana mendapatkan kontak para penulis buku profesional? Tidak terlalu sulit. Kita bisa mendapatkannya di setiap buku di bagian profil penulis. Biasanya di profil itu ada alamat email, website, atau bahkan kontak telepon yang bisa dihubungi. Kita pun bisa menghubungi klub-klub menulis, sekolah atau kursus-kursus menulis, atau penerbit-penerbit buku untuk mendapatkan nama-nama penulis biografi yang bagus. Saya sendiri bersama sejumlah rekan wartawan membentuk Jakarta Writers Club (JW Club), sebuah klub yang menyediakan jasa penulisan profesional, konsultansi publishing, dan book coaching. Klien yang pernah dan sedang kami garap datang dari beragam profesi, mulai dari pakar, eksekutif bisnis, trainer, akademisi, dan sejumlah profesi lainnya.

Pilihan lain, kita bisa memanfaatkan para wartawan setingkat redaktur, apalagi yang memegang desk yang sebidang dengan tema garapan buku kita. Namun kita tidak perlu khawatir seandainya tidak berhasil menemukan wartawan yang sebidang. Umumnya wartawan adalah para penulis generalis, fast learner, sanggup melakukan riset dalam waktu cepat, dan mereka memang sering di-rolling bidang atau cakupan reportasenya. Dengan jam terbang cukup, mudah bagi mereka untuk mempelajari dan menuliskan bahan-bahan tulisan kita sehingga menjadi buku yang utuh.

Tak hanya wartawan tetap sebuah media masa, kita juga bisa menggunakan jasa para wartawan atau penulis lepas yang biasa menulis feature (karangan khas), menulis kolom-kolom di surat kabar, majalah, tabloid, atau website. Sejumlah freelance editor yang biasa menangani in-house magazine (penerbitan internal) perusahaan-perusahaan maupun lembaga-lembaga tertentu juga menguasai bidang penulisan seperti ini.

Fee untuk penulis buku profesional bervariasi, tergantung dari ketersediaan bahan-bahan penulisan, banyaknya materi yang dibutuhkan, tingkat kesulitan atau kerumitannya, waktu yang dibutuhkan, dan sifat riset yang harus dilakukan. Model ghost writer, co-writer atau hanya editing juga berpengaruh. Penulis-penulis tertentu yang sudah punya nama dan pernah menghasilkan buku best seller mungkin akan menetapkan profesional fee yang lebih besar dibanding misalnya dengan para penulis baru yang belum terkenal.

Saya amati, menulis bersama profesional lumayan populer bagi orang-orang sibuk seperti tokoh masyarakat, pengusaha, selebritis, pekerja profesional, para trainer, dll. Termasuk tokoh politik, yang umumnya suka dengan pilihan pragmatis. Buku berjudul Muhammad Amin Rais Putera Nusantara yang diluncurkan akhir 2003 lalu, dibuat oleh tim khusus yang melibatkan penulis berpengalaman seperti M. Nadjib, yang sudah menghasilkan 50 buku tentang Amin Rais. Buku yang ditujukan untuk mem-branding Amien Rais tersebut memang menyasar gelar Pemilu 2004 lalu. Penyusunannya makan waktu satu setengah tahun dan materi digali melalui wawancara serta pelibatan diri tim penulis dalam kegiatan-kegiatan Amien Rais.

Berikutnya artis kawakan Lenny Marlina juga meluncurkan otobiografi berjudul Si Lenny dari Ciateul (2004) setebal 288 dengan harga Rp 150 ribu. Lenny sendiri bukanlah artis yang kering prestasi sehingga kisah hidupan layak untuk dibukukan. Tidak tanggung-tanggung, buku yang didesain khusus untuk menyambut ulang tahun yang ke-50 waktu itu, dikerjakan oleh sebuah tim penulis yang terdiri dari Titie Said, Lies Said, Yuni, Muthiah Alhasany, dan Titien Sukmono. Sejumlah selebritis lain yang juga membukukan kisahnya adalah Titik Puspa, Krisbiantoro, Dorce Gamalama, Ratih Sang, Oky Asokawati, Krisdayanti, Helmy Yahya, dll.

Menulis bersama penulis profesional kadang bisa melambungkan nama seseorang. Robert T. Kiyosaki tak akan pernah bisa menyelesaikan buku-buku best seller-nya jika tidak mendapat bantuan dari rekan penulisnya Sharon L. Lecthter. Begawan marketing Hermawan Kartajaya juga membutuhkan back up riset dari rekan-rekannya di Mark Plus untuk menghasilkan best seller seperti Marketing in Venus. Sementara Suryadi Sasmita menggandeng Paulus Winarto (penulis dan trainer) untuk menulis buku Top Secrets of Success.

Sekali lagi, bekerja bersama profesional sangatlah membantu kita. Jadi, cara-cara yang saya sebutkan tersebut absah dan sama sekali tidak mengurangi nilai bukunya. Perbedaannya hanyalah, secara pribadi kita akan jauh lebih puas jika mampu sepenuhnya menulis buku itu sendiri. Kita bisa menikmati sebuah idealisme dan proses pembelajaran yang komplit dari sebuah kegiatan menulis buku. Tak lebih![Edy Zaqeus: http://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Manakala waktu sangat terbatas sementara keinginan menulis sangat tinggi, menulis bersama penulis profesional adalah pilihan yang bijaksana.
  2. Jika bermaksud menulis bersama penulis profesional, pilihlah penulis dengan reputasi dan kemampuan bagus.
  3. Kenalilah mitra penulis profesional dengan baik karena anda akan berbagi gagasan dan wawasan dalam melahirkan sebuah buku.
  4. Pilihlah mitra penulis profesional yang dapat mempermudah hubungan dengan penerbit buku.
  5. Ajaklah mitra anda untuk tidak sekadar menulis buku, tetapi menulis buku best seller.
Kategori:Menulis

Kuncinya sediakan waktu

“Apa pun yang bisa anda lakukan, atau anda impikan bisa anda lakukan, mulailah. Keberanian mempunyai kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban di dalam dirinya.”
J.W. von Goethe
(Pengarang Jerman)

Judul bab yang sedang anda baca ini aslinya adalah “Tak Perlu Nunggu Dipenjara”. Judul ini muncul saat saya berkelakar dengan sejumlah rekan yang banyak idenya, tapi tak jua mampu menelorkan sebuah buku pun. Saya teringat Arswendo Atmowiloto yang dapat “menikmati” hari-harinya di penjara dan justru mampu menuangkan kisahnya dalam buku Menghitung Hari – Hikmah Kebijaksanaan dalam Rumah Tahanan/Lembaga Pemasyarakatan. Mengapa mengambil contoh kisah Arswendo untuk bab ini? Waktu memang jadi masalah bagi orang-orang yang sangat sibuk sekaligus ingin menulis sendiri bukunya.

Tetapi, saya ingin menegaskan, asal ada tekad dan hasrat yang kuat, persoalan waktu pasti bisa ditaklukkan. Bab ini sengaja disusun khusus untuk memecahkan persoalan waktu. Memang, hampir semua orang sibuk dengan berbagai aktivitas harian sehingga waktu untuk membaca, apalagi menulis, sering tidak tersedia secara memadai. Tapi asalkan kita berani memerinci atau menghitung secara persis waktu paling efektif yang digunakan untuk bekerja, pasti akan kita temukan sisa waktu yang bisa dialokasikan untuk aktivitas penulisan buku. Bahkan, dari pengalaman saya membantu sejumlah klien, setelah mengikuti langkah-langkah sebagaimana saya sarankan, nyatalah bahwa waktu yang tersedia untuk menulis cukup lumayan.

Bagaimana mengukur kita punya waktu atau tidak? Sebenarnya ada tiga tipe orang sibuk. Pertama, tipe orang-orang yang sibuk total. Mereka ini hampir mustahil mengalokasikan waktu yang memadai untuk beraktivitas di luar urusan keseharian mereka. Kedua, tipe orang yang sibuk tetapi masih punya sedikit saja waktu luang, yang biasanya dihabiskan untuk rekreasi bersama keluarga atau menjalankan hobinya. Ketiga, tipe orang sibuk yang masih punya sedikit waktu luang, namun belum dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Nah, mereka yang totaly and extremely busy, tentu tak bisa dipaksa untuk membaca apalagi menulis. Tipe pertama harus dibantu seorang profesional, sementara tipe kedua dan ketiga berkemungkinan besar mampu menulis bukunya sendiri.

Baik, mari kita telisik, apakah waktu menulis itu ada atau tidak. Silakan sediakan selembar kertas dan pensil, lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini. Contoh-contoh pertanyaan ini ditujukan untuk orang-orang kantoran umumnya, tetapi bisa dimodifikasi menurut jenis pekerjaan, profesi, atau aktivitas lainnya. Cobalah menghitung rata-rata penggunaan waktu efektif dan sisa waktu yang mungkin ada dalam setiap jenis kegiatan yang ditanyakan:

Menghitung Penggunaan Waktu Efektif

 

 

Jenis Kegiatan

 

 

Menit Dipakai

 

Menit Sisa

Dari bangun pagi sampai ke kamar mandi
Dari kamar mandi sampai berganti baju/selesai berias
Waktu untuk sarapan pagi di rumah
Waktu dalam perjalanan ke kantor
Waktu ‘pemanasan’ sebelum mengerjakan pekerjaan kantor
Waktu yang biasa digunakan untuk rapat
Waktu yang dihabiskan untuk ngobrol atau makan siang
Waktu lembur di kantor
Perjalanan dari kantor ke rumah
Waktu untuk keluarga sebelum pergi tidur
Total waktu tidur dalam semalam

Jumlah

Nah, silahkan dihitung dan dievaluasi, apakah benar waktu yang ada sudah terkelola secara efektif dan maksimal. Jika kita teliti lebih jauh, kemungkinan besar kita masih bisa menemukan celah-celah waktu senggang dalam lima hari kerja kita. Khusus para profesional yang bekerja di Jakarta dan kota-kota besar umumnya, waktu tempuh dari rumah ke kantor atau sebaliknya, biasanya cukup panjang. Waktu di jalan itulah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menulis.

Tetapi di mana pun, walau hanya lima atau sepuluh menit, sisa waktu tetap bisa dimanfaatkan untuk merekam dan mengolah ide-ide tulisan. Kita juga bisa meneliti lagi, apakah seluruh aktivitas harian kita menuntut konsentrasi penuh, atau malah bisa disambi untuk melakukan aktivitas lainnya. Celah-celah waktu itu perlu dideteksi, dijumlahkan, dan hasilnya mungkin bisa dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas pengolahan ide atau menulis.

Sasaran kita berikutnya adalah memeriksa waktu libur; hari sabtu dan minggu. Mungkin ada yang terpaksa harus lembur atau ada kegiatan perusahaan pada hari libur. Ada juga yang memanfaatkan waktu libur khusus untuk istirahat, menjalankan hobi, berlibur bersama keluarga, atau malah untuk perjalanan dinas ke luar kota. Ini hal biasa bagi orang-orang sibuk. Walau demikian, kita tetap perlu menghitung celah waktu yang bisa kita dapatkan untuk menulis sesuatu. Memang tidak harus aktivitas menulis. Celah waktu juga bisa digunakan untuk pengamatan, menggali bahan, mencari ilham, membuat butiran ide (pointers), atau mendiskusikan ide dengan orang lain.

Aktivitas keseharian yang sangat menyibukkan sekalipun, sebenarnya bisa kita sinkronkan dengan proses kreatif kita dalam mencari ide penulisan buku. Semisal kita sedang mendiskusikan pekerjaan dengan rekan-rekan kerja. Tiba-tiba terlintas sebuah judul atau tema buku yang menarik. Jika temanya relevan, maka saat jeda kita bisa meminta komentar atau feedback mereka. Pertanyaan atau lontaran ide selintas saja kadang mendapat komentar yang cukup panjang. Adakalanya komentar-komentar itu bermanfaat, mempertajam, atau malah menggugurkan ide kita. Tak masalah bukan? Memanfaatkan waktu-waktu senggang seperti itu bisa kita lakukan di mana saja, di mobil, kafe, dalam lift, atau saat mengobrol di pojok-pojok ruang merokok. Suasana keakraban dalam pergaulan bisnis memungkinkan kita melemparkan topik-topik yang mudah sekali menarik minat orang untuk mengomentarinya.

Sambil mendengarkan pendapat orang-orang di sekitar kita, proses kreatif bisa berlangsung pula. Kita tinggal mengolah atau mencernanya dengan ide-ide sendiri. Dari cara-cara seperti ini kita bisa mendapatkan bahan tulisan gratis, berkesempatan menguji gagasan sendiri, dan yang pasti tidak kehilangan waktu kerja efektif. Menguji gagasan itu sangat penting. Terlepas feedback yang didapat nyambung atau tidak, namun aktivitas simultan ini benar-benar bisa merangsang proses kreatif kita.

Nah, jika kita mampu menjadikan segala medan, waktu, dan orang sebagai stimulator proses kreatif, yang bisa berjalan bersamaan secara selaras, maka menulis buku menjadi hal yang sangat mudah diwujudkan. Yang dibutuhkan kemudian adalah menetapkan waktu-waktu khusus, katakanlah 1-2 jam setiap harinya, untuk fokus menyusun bahan dan menuliskannya. Kita bisa mulai dengan sedikit ‘memaksa diri’ untuk menyelesaikan minimal satu halaman tulisan per satu kesempatan menulis. Ada beberapa teknik yang bisa kita pelajari. Semisal teknik penggalian ide, mengkonkretkan ide ke dalam butir-butir pemikiran, menyusun pointers menjadi outline (kerangka) buku, memilih bentuk buku, teknik menggali bahan tulisan, dan teknik penulisan cepat yang terbukti bisa mempermudah kita membuat naskah buku.

Pengalaman Hari Subagya, penulis buku laris Time to Change (BIP, 2005) dan Success Proposal (BIP, 2005) cukup menarik disimak. Hari selalu disibukkan oleh berbagai urusan di kantornya, yaitu sebuah perusahaan kosmetik papan atas. Sebagai seorang muslim, setiap malam ia bangun jam 2 dini hari untuk menjalankan sholat dan berdoa. Setelahnya, Hari selalu mendapatkan kondisi mental yang pas sekali untuk menulis. Maka, naskah Time to Change yang terdiri atas 99 tulisan inspiratif dan telah tiga kali cetak ulang itu berhasil diselesaikannya hanya dalam waktu tiga bulan. “Saya sedang mood dan menargetkan sehari menyelesaikan tiga bab,” jelas Hari kepada saya. Dengan pola yang sama, Hari berhasil menyelesaikan naskah buku berikutnya Success Proposal dalam waktu sebulan.

Sementara penulis produktif Anand Krishna –mantan pengusaha yang kini menekuni dunia meditasi dan spiritualitas– memilih untuk mendisiplinkan diri, yaitu selalu menyediakan waktu selama empat sampai lima jam setiap harinya untuk menulis. Ia biasa menulis antara jam 10 malam hingga dini hari. Kadang pagi pun ia gunakan untuk menulis. Hasilnya, tak kurang dari 40 buku telah diselesaikannya dan buku-buku tersebut ternyata disambut baik oleh pasar. Bahkan Anand berhasil menciptakan pasar tersendiri bagi buku-bukunya, yaitu mereka yang haus akan spiritualitas. Beberapa bukunya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan sempat ramai dibicarakan adalah 99 Nama Allah bagi Orang Modern, Membuka Pintu Hati: Surah Al-Fatihah bagi Orang Modern, Telaga Pencerahan di Tengah Gurun Kehidupan: Apresiasi Spritual terhadap Taurat, Injil, dan Al-Quran, Islam Esetoris: Kemuliaan dan Keindahan, dan Isa: Hidup & Ajaran Sang Mahisa. Buku-buku kontroversial tersebut laris, dikoleksi, dan terus dicari-cari orang.

Nah, teknik yang dipaparkan di atas sebenarnya bukan bertujuan untuk merampok waktu-waktu produktif atau waktu rekreasi kita. Justru yang ditawarkan adalah pemanfaatan waktu secara simultan antara proses kreatif menulis buku dengan segala kesibukan yang tak mungkin ditinggalkan. Prinsipnya adalah mengajak kita melakukan dua aktivitas pada saat yang sama atau hampir bersamaan, berikut menyediakan waktu khusus dan terprogram untuk menuntaskan dan mengolah bahan-bahan yang kita peroleh dari aktivitas sebelumnya.

Nah, sesibuk apa pun anda, rasanya selalu ada celah waktu untuk menulis. Kini yang perlu digembleng adalah motivasi, kedisiplinan berlatih mengeksplorasi ide, kemauan menuliskannya, dilanjutkan dengan penyusunan naskah buku dengan teknik-teknik yang mudah dan praktis.[Edy Zaqeus: http://rcmbb.wordpress.com/%5D

 

Tips:

  1. Efektifkan waktu kerja dan hindari adanya waktu yang terbuang sia-sia.
  2. Teliti setiap celah kegiatan dan temukan waktu-waktu luang yang selama ini tak termanfaatkan.
  3. Setiap hari sediakan waktu khusus menulis, bahkan bila waktu itu hanya cukup untuk menulis sebuah paragraf.
  4. Cobalah untuk menggali atau merangkai gagasan tulisan secara simultan saat anda sedang asyik mengerjakan aktivitas lain.
  5. Setiap penulis dituntut untuk membuat komitmen waktu penulisan, jadi buatlah komitmen waktu untuk menulis.
Kategori:Menulis

Bagaimana menembus penerbit

dewi

Sahabat saya Alexandra Dewi, penulis buku-buku gaya hidup, semula tidak percaya kalau tulisannya diminati penerbit. Namun, kekuatan tema dan gaya tutur tulisan selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi penerbit. Kini naskahnya selalu ditunggu-tunggu penerbit.

“Jangan sekali-kali menyerah, jangan sekali-kali menyerah, jangan, jangan, jangan, jangan dalam hal apa pun besar maupun kecil, penting atau sepele–jangan sekali-kali menyerah.”

Winston Churchill

(Negarawan Inggris)

Sekarang setelah naskah buku kita rampung, pekerjaan berikutnya adalah menerbitkan naskah tersebut. Bab ini hanya menyajikan sekilas mengenai proses penerbitan dan kriteria-kriteria apa saja yang biasa dipakai penerbit untuk menerima atau menolak sebuah naskah buku. Hal yang sifatnya sangat teknis tidak dibahas di sini karena informasi tersebut bisa diakses di website masing-masing penerbit.

Ada dua cara menerbitkan buku. Pertama kita mengajukan naskah buku kita ke penerbit tertentu untuk diterbitkan. Atau  kedua, kita menerbitkan sendiri naskah kita (self publishing). Mari kita mulai pembahasan dengan pilihan pertama.

Mengajukan penerbitan buku ke penerbit dapat ditempuh dalam dua cara. Pertama, naskah diterbitkan oleh penerbit di mana seluruh biaya percetakan, distribusi, sampai promosi ditangani penerbit. Kedua, penerbitan bersama, misalnya dalam bentuk patungan biaya cetak, sementara urusan distribusi dan promosi ditangani penerbit. Untuk melakukan kedua pilihan ini, kita tinggal menghubungi kantor penerbit yang kita pilih, kemudian kita bisa mengadakan janji pertemuan untuk membahas teknis rencana penerbitannya.

Kabar gembira bagi para penulis, saat ini dunia penerbitan di Indonesia sudah sedemikian pesat perkembangannya. Setiap tahun banyak penerbit baru bermunculan, sementara penerbit-penerbit mapan juga semakin eksis. Yang cukup fenomenal adalah pertumbuhan penerbit-penerbit independen di Yogyakarta yang jumlahnya mencapai ratusan. Semua penerbit itu terus-menerus mencari naskah-naskah baru, karena hanya dengan naskah baru penerbit dapat mempertahankan bisnisnya. Dan ini memberikan pilihan yang luas bagi penulis.

Namun masing-masing penerbit memiliki kriteria-kriteria berbeda menyangkut naskah yang hendak diterbitkan. Kriteria Gramedia Pustaka Utama (GPU) misalnya, berbeda dengan kriteria kelompok penerbit Mizan, Kharizma, Gema Insani Press, atau Buana Ilmu Populer (BIP). Kriteria penerbit-penerbit besar umumnya juga berbeda sekali dengan penerbit-penerbit kecil atau penerbit yang baru berkiprah di industri perbukuan. Sebelum mengirimkan naskah, ada baiknya kita sedikit mengenali tipe buku-buku dari katalog (sudah banyak yang tersedia secara online) yang diterbitkan oleh penerbit yang dituju.

Sejumlah penerbit besar yang saya sebut di atas memiliki kriteria penilaian berbeda dalam penerimaan naskah. Namun berdasarkan pengamatan saya, ada kriteria-kriteria dasar yang dikehendaki oleh semua penerbit. Di antaranya adalah:

  1. Dari sisi pemasaran, naskah mempunyai segmen pembaca yang jelas dan luas.
  2. Naskah buku berpotensi laku keras di pasaran.
  3. Buku berisi hal-hal baru yang menarik perhatian publik.
  4. Memiliki keunikan dan kelebihan dibanding buku sejenis yang sudah terbit.
  5. Kualitas penulisan dan bahasanya bagus, sistematis, aktual, disertai data-data yang lengkap (foto, ilustrasi, tabel, diagram, dll).
  6. Naskah memiliki segi kemanfaatan yang tinggi bagi pembaca.
  7. Memiliki judul yang menarik, memancing, dan sugestif.
  8. Dari sisi produksi, naskah mudah diproduksi dan tidak memberatkan penerbit dari sisi biaya cetak.

Selain itu, biasanya pengajuan naskah perlu dilengkapi surat pengantar, biodata lengkap penulis, serta informasi-informasi tambahan mengenai naskah buku kita. Bisa pula kita tambahkan informasi yang menunjukkan atau menerangkan tentang keunikan, aktualitas, peluang pasar, segmentasi, dan strategi promosi yang kita usulkan untuk membuat buku tersebut cepat diserap oleh pasar.

Pikiran-pikiran tambahan dari penulis dibutuhkan oleh penerbit. Penerbit Mizan misalnya, meminta penulisnya menyertakan usulan-usulan atau ide-ide publisitas dan promosi. Sementara Gramedia Pustaka Utama akan senang sekali dan berharap penulisnya bersedia ikut aktif menjadi pemasar atau membantu upaya promosi. Naskah kita juga memiliki keunggulan di mata penerbit, misalnya, jika sudah dipesan dalam jumlah besar atau mendapat endorsement dari lembaga terkenal, para pakar, pengamat, tokoh terkenal, atau penulis lain yang relevan.

Proyeksi laku tidaknya buku kita di pasaran nanti biasanya menjadi pertimbangan utama penerbit-penerbit mapan. Memang, mereka bisa berkompromi dengan naskah yang potensi pasarnya tidak terlalu menjanjikan, namun dari segi kualitas isi diakui sangat berbobot dan dibutuhkan oleh kelompok masyarakat tertentu. Namun, anggaran penerbit sangat terbatas untuk melayani buku-buku ‘idealis’ semacam ini.

Pilihan lain, kita bisa bekerjasama menerbitkan buku dengan penerbit mapan. Katakanlah kita memiliki rekan-rekan seprofesi atau komunitas yang dipastikan mampu menyerap 30-40 persen dari total buku yang dicetak. Dalam kasus seperti ini, biasanya penerbit akan tertarik bekerjasama dengan kita. Kadang penerbit juga bersedia meminjamkan namanya untuk buku yang kita cetak dengan biaya sendiri. Sebagai imbalan, kita memberikan buku (dalam jumlah yang disepakati) yang kita cetak itu kepada penerbit bersangkutan untuk mereka edarkan di pasaran. Penerbit cukup diuntungkan dengan bentuk kerjasama seperti ini.

Hal yang perlu dicatat, penerbitan buku melalui penerbit-penerbit besar dan mapan biasanya cukup makan waktu. Tak jarang penulis buku harus menunggu  setengah hingga setahun lebih baru kemudian bukunya diterbitkan. Masuk waiting list ini tidak hanya terjadi pada penulis-penulis baru, tetapi juga pada penulis yang sudah punya nama sekalipun. Alasannya, jumlah buku yang dicetak oleh penerbit-penerbit besar itu memang sangat banyak. Selain itu, prioritas mereka biasanya pada tema-tema buku yang sedang ngetren, yang dipastikan bakal laku keras di pasaran. Sementara topik-topik alternatif, yang masih belum jelas potensi pasarnya, atau jika penulisnya relatif belum punya nama, prioritasnya agak di belakang.

Nah, celah inilah yang belakangan dimanfaatkan betul oleh penerbit-penerbit kecil yang jauh lebih agresif dan cepat dalam menerbitkan buku. Mereka tidak pandang bulu apakah itu pengarang baru atau yang sudah punya nama. Asal tema bukunya menarik, mereka cukup berani berspekulasi menerbitkannya. Mereka sangat aktif mencari naskah-naskah baru dari penulis-penulis potensial yang sering lolos dari bidikan penerbit-penerbit mapan. Dan belakangan semakin banyak saja penulis sukses yang diorbitkan oleh penerbit-penerbit kecil. Contoh menarik untuk kasus ini adalah sukses spektakuler penerbit Galang Press (Yogyakarta) saat menerbitkan buku Jakarta Undercover, yang sebelumnya ditolak oleh penerbit-penerbit besar di Jakarta.

Saat ini tak jarang penulis-penulis ternama juga memanfaatkan penerbit-penerbit kecil sebagai alternatif. Kecepatan dalam proses penerbitan menjadi salah satu pertimbangan utama. Apalagi, konsumen buku kita saat ini cukup menghargai kehadiran penerbit-penerbit kecil yang mampu menawarkan tema-tema atau judul-judul alternatif. Jika kita memilih penerbit kecil, maka kita harus melihat pada kekuatan dan kemampuan mereka dalam mendistribusikan buku, kemampuan menghasilkan cetak buku berkualitas, dan sistem pembayaran royaltinya harus lebih menarik dan fair. Sebagian penerbit kecil berani memberikan royalti di atas 10 persen (angka mati penerbit-penerbit besar di Jakarta), yaitu antara 11-15 persen serta memberikan down payment royalti sekitar 25 persen dari total buku yang dicetak.

Kalau tidak mau dipusingkan oleh syarat-syarat penerbit, pilihan lain adalah menerbitkan dan memasarkan sendiri buku kita. Yang mesti kita lakukan adalah mencari percetakan yang bisa mencetak buku sesuai keinginan kita. Biasanya, percetakan menyediakan tenaga yang mengurusi lay out, setting, pembuatan film, dan grafis, sehingga kita tidak perlu pusing memikirkan proses percetakannya. Dunia penerbitan buku sudah berkembang pesat, sehingga mencari percetakan buku di kota besar bukan hal yang sulit. Bahkan percetakan-percetakan buku sekarang banyak tersebar sampai ke kota-kota kecil.

Jika yakin naskah kita memiliki potensi pasar yang sangat bagus, punya saluran-saluran pemasaran tersendiri, punya komunitas sebagai target market, dan memiliki dukungan finansial untuk mencetak maupun mempromosikan sendiri bukunya, kita tak perlu ragu untuk menerbitkan buku sendiri. Praktisi atau konsultan publishing bisa dikontak untuk memberikan analisis, saran, dan bantuan. Konsultan publishing bahkan bisa menangani buku mulai dari proses editing hingga ke distribusi. Langkah ini jelas akan mempermudah dan menghemat energi kita.

Menerbitkan buku sendiri (self publishing) termasuk juga memasarkannya, kini menjadi salah satu alternatif dan banyak dipilih oleh penulis-penulis yang punya personal brand bagus. Dewi Lestari atau Dee punya kisah sukses saat menerbitkan dan memasarkan sendiri novel Supernova. Cetakan pertama 5.000 eksemplar ludes di pasaran, dan kemudian dicetak ulang hingga mencapai angka 32.000 eksemplar. Andrias Harefa dengan bukunya berjudul Pesona Bisnis Direct Selling & MLM  juga menangguk untung besar dengan mencetak dan memasarkannya sendiri ke beberapa perusahaan DS/MLM besar di Indonesia. Sementara Abu Al-Ghifari, penulis buku-buku islami juga cukup sukses dengan Mujahid Press, sebuah independent publishing yang didirikannya di Bandung. Dalam dua tahun usianya, penerbit itu berhasil menerbitkan tak kurang dari 108 judul buku dan Abu sendiri telah menghasilkan 50-an judul buku.

Sukses penerbitan sendiri juga dialami oleh novel Eiffel I’m in Love karya Rachmania Arunita atau buku-buku Aa Gym yang diterbitkan kelompok usahanya sendiri (MQ Publishing). Hermawan Kartajaya dengan MarkPlus-nya pun telah membuat divisi publishing untuk menerbitkan buku-buku marketing. Sementara buku ESQ dan ESQ Power yang ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Ary Ginanjar juga suskes besar di pasaran. Hingga Mei 2005 lalu, ESQ yang pertama kali dicetak tahun 2001 dikabarkan telah terjual hingga 250.000 eksemplar. Ini membuktikan bahwa bisnis perbukuan masih sangat menawan untuk diterjuni.

Dalam perkiraan saya, membuat self publishing atau mendirikan independent publishing akan menjadi tren ke depan. Akan semakin banyak kaum profesional seperti trainer, business coach, public speaker, pendakwah, penghobi, lembaga pelatihan, intitusi bisnis, institusi akademik, keagamaan, dll, yang lebih memilih menerbitkan sendiri buku-bukunya. Alasannya, menulis dan menerbitkan buku sudah sedemikian mudahnya. Peluang bisnis di dunia penerbitan juga sangat menarik untuk ditekuni. Sementara, sudah banyak pula penulis atau konsultan publishing yang siap membantu pribadi dan lembaga mewujudkan keinginan tersebut.

Jadi, sekarang ini kita punya banyak pilihan jika ingin menerbitkan naskah buku. Bisa memilih penerbit besar, penerbit kecil, atau malah menerbitkan sendiri. Sekali lagi, industri perbukuan nasional sedang berkembang pesat. Ratusan penerbit menanti naskah-naskah baru untuk diterbitkan. Ini peluang yang luar biasa bagi para penulis. Nah, selamat memanfaatkan peluang ini dan semoga anda berhasil membuat buku best seller.[Edy Zaqeus: http://rcmbb.wordpress.com/%5D

Tips:

  1. Jika anda menginginkan brand bagus, pastikan penerbit besar dan berpengalaman yang menerbitkan buku anda.
  2. Jika brand bukan pertimbangan utama, tetapi kecepatan lebih penting, anda dapat memilih penerbit kecil.
  3. Jangan putus asa jika naskah ditolak penerbit. Perbaiki dan tawarkan ke penerbit-penerbit lain.
  4. Jika anda mempunyai komunitas atau target pembaca yang pasti, menerbitkan buku sendiri akan lebih menguntungkan.
  5. Jika memilih self publishing, ada baiknya anda memanfaatkan konsultan publishing untuk mempermudah dan mempercepat proses percetakan maupun pendistribusian.

Kategori:Menulis

CARA GAMPANG MENULIS BUKU BEST SELLER

18 Juli 2008 – 10:59   (Diposting oleh: Editor)

Salah satu pertanyaan dari para profesional yang paling sering mampir ke saya adalah yang seperti ini: Bagaimana sih cara menulis buku yang mudah itu? Memang, saya termasuk salah satu penulis yang paling demen memprovokasi kalangan tersebut supaya menulis buku. Bukan cuma menulis buku biasa, tapi menulis buku bestseller, lho! Sekalipun itu baru pengalaman menulis buku yang pertama, saya tetap menegaskan, “Beranilah bermimpi menjadi penulis buku bestseller!”

Sementara lupakan saja soal definisi bestseller. Yang penting, cita-citakan dulu buku kita akan laris di pasaran, lalu beranikan mental, niatkan segera, dan mulai sekarang juga dengan menulis apa pun yang menggoda kita untuk menulis. Sengaja saya dorong-dorong supaya para profesional itu berani menggagas buku bestseller. Mengapa? Ya, supaya semangatlah menulisnya. Kalau menulis tanpa semangat, jangan harap ada roh semangat pula dalam karya kita. Kalau hasil tulisan tidak memiliki roh atau gereget tertentu, mana ada orang yang mau beli dan membacanya, kan?

Balik lagi ke soal bagaimana cara menulis buku yang mudah, saya pun berani menyatakan bahwa menulis buku bestseller itu mudah. Sampai-sampai saya bersama Andrias Harefa (penulis 30 buku laris) mengadakan workshop berjudul “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller”, yang pada Agustus 2008 nanti memasuki Angkatan Ke-5. Nah, bagaimana kesan para peserta workshop tersebut? Umumnya mereka sadar dan menjadi yakin, ternyata menulis buku bestseller itu memang mudah. Bagaimana itu? Saya akan kupas beberapa di antaranya dalam artikel ini.

Pertama, kalau mau menulis buku bestseller, cobalah yakin sejak awal bahwa kita semua berpeluang dan mampu melakukan hal tersebut. Penulis senior atau bahkan penulis pemula sekalipun, semuanya punya peluang yang sama untuk menggebrak pasar. Kalau sudah punya keyakinan, cobalah terus memeliharanya, lalu tambahkan dengan semangat yang sungguh-sungguh dialirkan dalam setiap langkah penulisan nantinya.

Kedua, miliki perspektif menulis buku itu mudah, yaitu sekadar aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan. Caranya, pandanglah buku itu hanya sebagai kumpulan bab atau tulisan pendek. Sementara, bab atau tulisan pendek itu sendiri hanyalah kumpulan dari paragraf (alinea), paragraf itu sendiri hanya kumpulan dari beberapa kalimat, kalimat hanya kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari beberapa huruf.

Jadi, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sejumlah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sesederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit.

Ketiga, pilih tema yang pas dengan mempelajari sejarah sekaligus tren tema-tema buku bestseller. Menyangkut sejarah buku bestseller, pasti akan kita temukan tema-tema betseller yang bisa berulang. Sementara soal tren, pasti efek tarikan atas buku betseller yang sedang bergaung. Artinya, kalau ada tema buku bestseller sedang moncer di pasaran, tak menutup kemungkinan tema yang sama juga lagi digemari dan dicari. Jadi, ini peluang bagi penulis-penulis lain yang tajam penciumannya atas selera dan tren pasar.

Keempat, setelah berhasil memilih tema, buatlah outline atau kerangka tulisan. Untuk apa? Untuk mempercepat proses penulisan dan menata supaya tulisan tidak melebar ke mana-mana. Outline bisa dibuat berdasarkan cara atau gaya penulisan kita. Ada yang mampu menulis dengan baik kalau didasari oleh outline yang detail, tapi ada yang lebih efektif dengan outline sederhana. Apa pun pilihannya, efektivitas penulisan tetap menjadi pertimbangan utama. Makanya, bagi yang merasa bisa menulis dengan lebih baik dan cepat tanpa outline, ya abaikan saja outline ini.

Kelima, pilih teknik penulisan buku yang paling efektif dan efisien. Maksudnya? Pilih teknik penulisan yang paling cocok buat kita, paling membuat kita bersemangat, paling mudah dilakukan, dan tentu saja efisien secara waktu. Soal teknik ini menjadi krusial sifatnya bila kita sedang mengejar atau mengikuti tren buku tertentu. Contoh, penulisan buku berbasiskan teknik wawancara, teknik menulis cepat, dan teknik kompilasi artikel/tulisan pendek adalah teknik yang paling cocok untuk menyasar tren buku bestseller.

Keenam, kuasai teknik menulis cepat. Teknik ini didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide dasar dan yang paling orisinal harus segera dituliskan supaya tidak menguap. Yang terpenting adalah menuliskan gagasan ketika kita sedang dalam kondisi dibanjiri oleh ide. Soal pengayaan isi dan penyuntingan bisa dilakukan pada tahapan berikutnya. Contoh aplikasi teknik ini adalah; sekali duduk atau menulis, selesailah satu tulisan (artikel) atau bab. Sekali menguasai teknik menulis cepat, masalah penundaan dan kemacetan bisa lebih mudah dihindari atau diatasi.

Ketujuh, alirkan gairah, semangat, visi, dan misi dalam setiap tulisan kita. Salah satu rahasia keberhasilan buku-buku bestseller adalah pada kemampuannya dalam “berbicara” atau menjalin hubungan emosional dengan para pembacanya. Buku yang mengesankan adalah buku yang mampu memengaruhi dan menggerakkan pembacanya dalam beragam cara.

Bagaimana caranya? Ya, selain bisa mengungkapkan pikiran-pikiran atau ide-idenya, penulis harus mampu mentransfer antusiasme, keyakinan, visi-visi, dan kejujurannya kepada pembaca. Kalau sudah begini, tanpa disuruh pun akan ada banyak pembaca yang merekomendasikan buku kita nantinya.

Kedelapan, kuasai teknik pengayaan dan penyuntingan naskah, serta sediakan waktu yang cukup untuk mengolah naskah kita. Naskah yang ditulis dengan cepat biasanya bolong di sana-sini. Pada tahap penyuntingan dan pengayaan inilah kita harus bisa mengerjakan PR kita; mengecek kembali sistematika tulisan, judul bab dan subbab, mengecek ketepatan teori dan pendekatan, kelengkapan data maupun variasi contoh kasus, pengembangan gaya bahasa populer, termasuk soal tata bahasa, dll. Pada tahap ini pula kita berkesempatan untuk meneliti dan merasakan ulang apakah naskah kita sudah cukup “berbicara” kepada calon pembaca nantinya.

Kesembilan, pilih judul yang paling pas. Bila perlu, adakan survei dengan menyodorkan sekurang-kurangnya sepuluh nomine judul. Saya yakin, ada beberapa judul yang benar-benar memiliki efek sugestif kepada para calon pembacanya. Silakan pelajari daftar buku laris versi koran-koran atau majalah, pasti mudah ditemukan judul-judul sejenis itu.

Memang judul bukan faktor yang paling menentukan, tetapi tetap saja, judul yang pas akan menjadi iklan utama bagi sebuah buku. Buku, sama halnya dengan produk lainnya, sekalipun bagus isi/kualitasnya bisa saja tidak dilirik konsumen karena iklan atau judulnya tidak memberikan impresi/kesan kesan yang bagus.

Kesepuluh, bekerjasamalah dengan editor atau penerbit. Setelah berusaha memaksimalkan semua potensi karyanya, setiap penulis harus bekerjasama dengan editor atau penerbit supaya potensi bestseller naskahnya semakin maksimal. Para editor dan penerbit berpengalaman biasanya memiliki data, informasi, atau pengalaman dalam mengolah naskah menjadi buku bestseller. Di sinilah peran mereka dalam men-dandani naskah kita supaya memiliki format, tampilan, atau kemasan yang menjual. Kadang mereka membutuhkan ide-ide orisinal kita, kadang justru kitalah yang harus berkompromi dengan strategi mereka. Semuanya butuh kerjasama demi hasil maksimal dan menguntungkan kedua belah pihak.

Nah, apakah dengan menjalankan langkah-langkah di atas dipastikan bisa menghasilkan buku bestseller? Saya katakan tidak ada jaminan. Kadang berhasil, kadang juga tidak. Masih banyak variabel yang memengaruhi dan menentukan. Tetapi kepada setiap penulis saya selalu katakan, itulah area atau variabel yang bisa kita kontrol dan maksimalkan potensinya. Setelahnya hanyalah hasil interaksi di pasar.

Namun, saya berani pastikan, menulis buku dengan cara atau strategi seperti di atas sanggup memberikan pengalaman yang sangat menggairahkan. Saya, sejumlah penulis dan penerbit, serta para klien saya, merasakan betul manfaatnya. Selamat menulis buku bestseller![ez]

* Edy Zaqeus adalah seorang trainer, editor, konsultan penulisan dan penerbitan, penulis beberapa buku bestseller, editor Pembelajar.com, dan bisa dijumpai di blog penulisannya di Ezonwriting.wordpress.com. Ia dapat dihubungi di email: edzaqeus@gmail.com.

Catatan: artikel sudah diperbaiki dan dimuat juga di majalah MATABACA Edisi Juli 2008.

Kategori:Menulis

Dua Kiat dari Andrea Hirata agar Tulisan Anda Tembus Meja “Best Seller”

Untuk dapat menembus peringkat “best seller” sungguh bukan perkara yang mudah. Hal ini tentu menjadi pengalaman hampir seluruh insan yang bergerak di bidang industri buku global. Saking susahnya, tak jarang para editor, atau pun penulis berusaha menebak-nebak buku sejenis apa yang sebenarnya diinginkan oleh para pembaca. Apakah novel roman, fiksi, epik, biografi, buku agama, dongeng, komik, atau kategori yang lainnya.

Andrea Hirata, sebagai salah satu penulis Indonesia yang bukunya mampu menembus pasar global (internasional) melalui Laskar Pelangi-nya, memberikan dua kiat kepada siapa pun yang ingin meneguk untung besar dan mampu menduduki posisi tembus meja “best seller”, seperti dilansir oleh Antaranews.com pada Senin (18/02/13). Apa sajakah itu? Berikut saya paparkan khusus untuk Anda.

Hal pertama yang harus diperhatikan seorang penulis ketika naskahnya ingin tembus pasar global adalah dengan melihat peta industri buku dengan jeli dan teliti. Dalam hal ini penulis harus mencari tahu mengenai jenis buku apa saja yang kiranya diminati oleh para pembaca secara luas, bukan hanya di dalam negeri sendiri, tapi juga skala yang lebih besar lagi, yaitu untuk pasar dunia.

Oleh karena itu, penulis sebaiknya sering berkunjung ke berbagai toko buku, baik on line maupun offline. Dengan begitu, penulis akan tahu, mana buku yang sudah menjadi best seller dan “laku” di pasar dan mana buku yang belum menembus posisi itu. Dengan perbandingan ini, penulis juga akan tahu bentuk atau kemasan buku seperti apa yang dapat menarik khalayak, baik itu cover, gambar, ilustrasi, sinopsis, dan yang lainnya.

Kedua adalah isi karya itu sendiri yang bersifat menyeluruh (semua kalangan dapat merasakan manfaat dari apa yang dibaca), dengan tidak mengenal suku atau batas wilayah tertentu. Seperti tema, pesan moral, alur cerita, tokoh, dan unsure intrinsik lainnya yang dapat diuraikan dan digambarkan dengan luas, sehingga dapat “menyentuh” semua lapisan masyarakat. Baik dari kalangan bawah, menengah, atas, dan sebagainya.

Tertarik untuk mencoba? Jangan sungkan-sungkan mampir ke toko buku, dan jelilah memilih buku berkualitas yang akan Anda jadikan peta dalam membuat tulisan. (Lina Sellin)

Sumber : http://mizan.com

Kategori:Menulis