Archive

Archive for the ‘Tesis’ Category

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia

1. Pola Makan

Menurut Nugroho (2000) secara umum kebutuhan nutrisi pada lansia adalah sebagai berikut :

a. Kebutuhan kalori pada lansia; laki-laki 2.100 kalori sedangkan perempuan 1.700 kalori. Kebutuhan kalori ini dapat di modifikasi tergantung keadaan lansia.
b. Karbohidrat, 60% dari jumlah kalori yang dibutuhkan.
c. Lemak, tidak dianjurkan karena menyebabkan hambatan pencernaan dan terjadinya penyakit, 15% – 20% dari total kalori yang dibutuhkan.
d. Protein, untuk mengganti sel-sel yang rusak, 20% – 25% dari total klori yang dibutuhkan.
e. Vitamin dan mineral, sama dengan kebutuhan orang usia muda.
f. Air, 6 – 8 gelas per hari.
Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati (1985) dalam berbagai nformasi yang memberikan gambaran mengenai makan dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu.

Tips hidup sehat sehubungan dengan makanan adalah pada jam makan selingan, yaitu antara jam 9 – 10 pagi dan jam 3 – 4 sore hindari memakan makanan tinggi kaloriseperti wafer, donat, cokelat, es krim, dan lain-lain, dan sebagai penggantinya adalah buah-buahan tinggi serat tetapi rendah kalori. Hindari makan malam yang terlalu dekat dengan waktu tidur, paling sedikit 3 jam sebelumnya, karena pada waktu tidur aktivitas tubuh sangat rendah sehingga penyerapan makanan menjadi paling banyak. (…..06 Agustus 2007,http.//www.waspada.go.id. diakses 1 mei 2010)

Menurut Moehji (2003) berbagai kondisi dan masalah yang dialami lansia mengharuskan dilakukannya pengaturan makanan untuk menegah terjadinya gangguan kesehatan selanjutnya. Petunjuk yang dapat digunakan dalam mengatur makanan bagi lansia :
a. Penggunaan bahan makanan sumber karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh sebagai sumber karbohidrat adalah nasi, roti, mie, bihun, kentang, makaroni, dan gula. Dengan diharuskannya membatasi kandungan energi dalam makanan, maka penggunaan bahan makanan sumber karbohidrat juga harus dibatasi.

b. Kandungan lemak dalam makanan
Dalam hal penggunaan lemak ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu :
1) Kadar lemak total dalam makanan dianjurkan tidak melebihi 20% dari total energi dalam makanan. Jadi seorang laki-laki lansia dengan berat badan 60 kg dan tinggi 162 cm memerlukan 2200 kalori sehari, maka kalori yang berasal dari lemak lebih dari 450 kalori setara dengan 50 gr lemak total yang ada dalam makanan.

2) Kandungan asam lemak dalam makanan
Dalam lemak makanan terdapat senyawa yang disebut asam lemak. Ada dua macam asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh harus dibatasi karena akan menyebabkan tingginya kadar lemak dalam darah yang dapat mempermudah terjadinya pengerasan pembuluh darah (atherosklerosis).

a. Penggunaan susu sebagai zat kapur
Untuk mencegah terjadinya kekurangan zat kapur dapat digunakan susus tak berlemak (susu non-fat) melalui pemberian 1 gelassetiap hari.

b. Konsumsi sayur-mayur
Berbagai jenis sayur-mayur merupakan sumber mineral disamping serat yang sangat banyak fungsinya untuk lansia. Disamping dapat mencegah konstipasi, serat diperlukan untuk mengatur gula darah, menghambat penyerapan lemak dan kolesterol dan mencegah penyakit kanker usus. Karena itu konsumsi sayuran dalam jumlah yang cukup sangat dianjurkan untuk lansia.

c. Konsumsi buah-buahan sebagai sumber vitamin
Buah-buahan diperlukan baik sebagai sumber vitamin maupun sebagai sumber serat makanan. Buah-buahan seperti pisang, pepaya, semangka, mangga atau buah-buahan lain yang lunak sangat baik diberikan pada lansia.

d. Konsumsi garam
Konsumsi garam dibatasi ecukupnya saja, kecuali jika ada tanda-tanda hipertensi atau penyakit ginjal yang mengharuskan pantang garam.

f. Konsumsi teh, kopi dan minuman lain
Pemberian teh, kopi dalam jumlah yang terbatas tidak akan menimbulkan kesulitan. Sebaliknya ada kafein dan thein dalam kopi dan teh selain memberikan stimulasi yang membawa pengaruh baik, juga akan memberikan kepuasan psikologis. Pada lansia, konsumsi air harus dijaga dalam jumlahyang cukup agar jumlah urine yang keluar setiap hari berkisar antara 1,5 sampai 2 liter.

g. Konsistensi, porsi dan frekuensi makan
Semakin tua, konsistensi makanan harus semakin lunak. Bahan makanan yang sukar dicernasebaikya tidak diberikan. Porsi makanan tiap kali makan juga tidak terlalu besar sehingga saluran pencernaan tidak bekerja terlalu berat. Karena porsi makanan diberikan tiap kali makan harus kecil, maka frekuensi makan harus diperbanyak, yaitu dengan memberikan makanan selingan diantara waktu makan.

2. Pengetahuan
Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa tingkat pengetahuan sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, semakin tinggi pendidikan akan semakin baik tingkat pemahaman tentang suatu konsep, cara pemikiran dan pemeriksaan yang tajam dengan sendirinya memberikan persepsi yang baik terhadap obyek yang diamati.
Dalam hal ini lansia hrus bisa memahami dan mengerti tentang pentingnya status gizi bagi tubuh dan keberlangsungan hidupnya. Dengan mengetahui dan memahami amsalah ini, maka perlu adanya upaya untuk mengajarkan bagaimana lansia tersebut dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung zat-zat yang penting bagi tubuhnya seperti : kebutuhan akan Karbohidrat, Lipid atau Lemak, Protein, Vitamin, Air dan Mineral sesuai dengan standar normal asupan tubuh akan pemenuhan gizi.

3. Gangguan fisik
Masa Lansia sering dimaknai sebagai masa kemunduran, terutama pada keberfungsian fungsi-fungsi fisik. penyebab fisik kemunduran ini merupakan suatu perubahan pada sel-sel tubuh bukan karena penyakit khusus tetapi karena proses menua.
Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua. Antara lain :

a. Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah, mengakibatkan juga jumlah cairan tubuh yang berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis menetap. Oleh karena itu, pada lansia seringkali terlihat kurus.

b. Penurunan indera penglihatan akibat katarak pada lansia sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn yang juga menyebabkan menurunnya nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.

c. Dengan banyaknya gigi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang dapat berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.

d. Penurunan mobilitas usus, menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan, serta susah BAB yang dapat menyebabkan wasir.

e. Kemampuan motorik menurun, selain menyebabkan menjadi lamban, kurang aktif dan kesulitan menyuap makanan, juga dapat mengganggu aktivitas kegiatan sehari-hari.

f. Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak, yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek, melambatnya proses informasi, kesulitan berbahasa, kesulitan mengenal benda-benda, kegagalan melakukan aktivitas yang mempunyai tujuan (apraksia) dan gangguan dalam menyususn rencana, mengatur sesuatu, mengurutkan, daya abstraksi, yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam emlakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun. Gejala pertama adalah pelupa, perubahan kepribadian, penurunan kemampuan untuk pekerjaan sehari-hari dan perilaku yang berulang-ulang, dapat juga disertai delusi paranoid atau perilaku anti sosial lainnya.

g. Akibat proses menua, kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga bekurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran natrium sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.

h. Incontinentia urine (IU) adalah pengeluaran urin diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut, sehingga usia lanjut yang mengalami IU seringkali mengurangi minum yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Masalah gizi yang dihadapi lansia berkaitan erat dengan menurunnya aktivitas biologis tubuhnya. (lenteraimpian, februari 27, 2010)

Tinjauan Tentang Lanjut Usia

a. Definisi Lanjut Usia

Defenisi usia tua beragam tergantung pada kerangka pandang individu. Orang tua yang berusia 35 tahun dapat dianggap muda bagi anaknya dan muda bagi orang tuanya. Orang sehat, aktif berusia 65 tahun mungkin menganggap usia 75 tahun sebagai permulaan lansia. Ketika usia pensiun ditentukan pada usia 65 tahun melalui legislasi sosial security pada tahun 1930-an, maka masyarakat Amerika Serikat menerima usia 65 tahun sebagai awal usia tua.

b. Teori-Teori Proses Menua

Menurut Nugroho (2000) sebenarnya secara individual tahap proses menua terjadi pada orang dengan usia berbeda, dimana masing-masing lanjut usia mempunyai kebiasaan yang berbeda.
Beberapa teori berikut menjelaskan tentang proses menua :

a) Teori Biologi

Teori Genetik dan Mutasi (Somatic Mutatie Theory)

  1. Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang deprogram oleh molekul-molekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin.
  2. Pemakaian dan Rusak
    Menurut ini kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (terpakai).
  3. Pengumpulan dari pigmen atau lemak dalam tubuh, yang disebut teori akumulasi atau sisa.
  4. Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan.
  5. Tidak ada perlindungan terhadap; radiasi, penyakit, dan kekurangan gizi.
  6. Reaksi dari kekebalan sendiri (Auto immune Theory)
    Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada jaringan tubuh yang tidak tahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan tubuh menjadi lemah dan sakit.
  7. Teori Immunologi Slow Virus
    System imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.
  8. Teori Stres Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha dan stress menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
  9. Teori Radikal Bebas Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) mengakibatkan oksidasi oksigen bahan-bahan organic seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.
  10. Teori Rantai Silang Sel-sel tua atau usang, reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan, dan hilangnya fungsi.
  11. Teori Program Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah sel-sel tersebut mati.

b) Teori Kejiwaan Sosial

  1. Aktivitas atau kegiatan (Activity Theory)
    Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung. Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut banyak dalam kegiatan sosial.
  2. Kepribadian Berlanjut (Continuity Theory)
    Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini merupakan gabungan dari teori-teori di atas. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimilikinya.
  3. Teori Pembebasan (Disengagement Theory)
    Putusnya pergaulan atau hubungan dengan masyarakat dan kemunduran individu dengan individu lainnya. Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan isekitarnya.

c) Batasan-Batasan Lanjut Usia
     Mengenai kapankah orang disebut lanjut usia, sulit dijawab secara memuaskan.  

Dibawah ini dikemukakan beberapa pendapat mengenai batasan umur:

a. Batasan usia menurut WHO meliputi :
1) Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
2) Lanjut usia (erderl) antara 60 dan 74 tahun.
3) Lanjut usia tua (old) antara 75 dan 90 tahun.
4) Lanjut usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
b. Menurut UU No. 4 tahun 1965 pasal 1 dinyatakan sebagai berikut: “Seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.” Saat ini berlaku UU No. 13 tahun 1998 BAB I pasal 1 ayat 2 yang berbunyi “Lanjut Usia adalah seseorang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.”

Kategori:Tesis, Uncategorized

Faktor Resiko Kejadian Kanker Payudara

Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus tumbuh berlipat ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara. Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bias menyebar pada bagian-bagian tubuh lain dan nantinya dapat menyebabkan kematian. Metastase biasa terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang, paru-paru, hati kulit dan di bawah kulit. Akibat penyakit ini penderita bias merasakan nyeri, fungsi dari organ-organ yang terserang menurun hingga bias menyebabkan kematian. (Tapan, 2005)

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia biasanya ditemukan umur 40-49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral atas. (Mansjoer, 2000)

Ciri kanker payudara biasanya merupakan satu gumpalan yang keras yang mungkin melekat pada jaringan-jaringan disekelilingnya. Ada juga kejadian pendarahan sedikit dari putting susu, namun tidak selamanya terjadi demikian terutama dengan tumor yang tidak ganas. Mastitis khonica Sistika adalah suatu kemerosotan saluran payudara yang disebabkan kadar sterogen dalam darah. Keadan seperti ini lebih sering tampak pada wanita yang sudah berusia lebih dari 35 tahun, biasanya mereka mengeluh karena nyeri ringan pada payudara menjelang haid. Penderita mengalami rasa berat dan nyeri pada payudaranya dan acak kali rasa nyeri yang menusuk-nusuk. (Ramli, 2005)
Kanker payudara dapat muncul pada usia berapapun diluar masa kanak-kanak, namun insiden kanker payudara terus meningkat hingga 21 % diantara wanita dan terus menigkat hingga 49 % diantara wanita yang berusia lebih tua. Risiko pada perempuan seumur hidupnya untuk mengalami kanker payudara adalah 1 berbanding 8 wanita. Risiko ini tidak sama untuk semua kelompok usia, risiko untuk mengalami kanker payudara sampai usia 35 tahun adalah 1 dalam 622; risiko mengalami kanker payudara sampai usia 60 tahun adalah 1 dalam 24. (Bustan, 2007)

Kanker payudara dapat terjadi pada pria, pemeriksaan aksila pada pria juga merupakan bagian yang terpenting dari pengkajian fisik. Putting susu dan areola diinspeksi terhadap massa dan lesi. Ginekomastia (kelenjar mamae yang tumbuh secara berlebihan pada pria). Berbeda dengan pembesaran yang lunak, berlemak yang terjadi pada obesitas karena pembesaran yang terjadi berasal dari jaringan bergranular di bawahnya, disekitar areola dunk eras. Prosedur yang sama palpasi pada aksila wanita yang digunakan ketika mengkaji aksila pria. Pengobatan kanker payudara pria juga sama dengan pengobatan kanker payudara pada wanita. Sebagian kanker payudara pada pria ditemukan pada stadium lanjut, kemungkinan karena pria tidak terlalu menyadari tentang benjolan payudara dibanding pada wanita. Sedangkan penyakit ginekomastia atau perkembangan berlebih pada payudara pria yang merupakan kelainan payudara pria pada umumnya. Remaja pria dapat mengalami kondisi ini akibat hormone yang disekresi oleh testis. Gineskomastia biasanya uniteral dan timbul sebagai massa keras, lunak di bawah areola. (Felgelson, 2004)

Kanker payudara pada pria berjumlah 1% dari semua kanker payudara. Gejala-gejalanya dapat mencakup benjolan tidak nyeri di bawah areola, retraksi putting dan ulserasi kulit. Usia rata-rata pada saat didiagnosis adalah 60 tahun. Diagnostik dan modalis pengobatannya adalah sama seperti yang digunakan wanita. Factor resiko dapat mencakup riwayat gondong orkhitis, pemajanan terhadap radiasi, sindrom klinefelter (kondisi kromosom yang mencerminkan penurunan kadar testosterone).

1. Diagnose dini kanker payudara
Bila ingin menemukan program penemuan dini secara menyeluruh maka dianjurkan untuk membuat focus primer dari program tersebut yaitu mendekatkan dan menghubungkan lebih dekat antara penemuan riset kanker dengan menggunakan secara efektif hasil riset tersebut, terutama ditekankan adalah kebutuhan semua komponen kesehatan masyarakat dalam:
a. Pencegaha penyakit kanker
b. Identifikasi penderita
c. Diagnosis secara dini gejala-gejala
d. Pengobatan penyakit kanker
e. Dan rehabilitasi semua penderita kanker
Program penemuan dini penyakit kanker harus dapat mempercepat penggunaan hasil riset kedalam pelaksanaan penanggulangan penyakit kanker. Untuk dapat mencapai tujuan maka aktivitas program digolongkan dalam pencegahan, penemuan diagnosis dini, pretreatment dan evaluasi, pengobatan rehabilitasi dan perawatan seterusnya.

Pencegahan dari suatu penyakit menurut Hammond adalah suatu proses yang terdiri atas empat tahap :
1) Tahap pertama adalah melakukan identifikasi keadaan dimana penyakit tersebut terjadi.
2) Tahap kedua adalah membuat suatu rencana untuk merubah keadaan sedemikian rupa sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit tersebut.
3) Tahap ketiga adalah melaksanakan rencana tersebut bila perlu mengadakan suatu pilot project
4) Tahap keempat adalah mengadakan evaluasi apakah betul rencana itu apabila dilaksanakan akan menghasilkan suatu reduksi dari angka insidensi dan angka kematian dari penyakit tersebut.
Salah satu cara untuk memperbaiki hasil pengobatan adalah penemuan dini yang selektif dengan menentukan kelompok masyarakat yang terbesar kemungkinannya menderita kanker payudara, kemudian mengadakan pemeriksaan dan pengobatan yang terarah serta melakukan follow up yang terperinci.

Beberapa factor resiko pada kanker payudara yang sudah diterima secara luas oleh kalangan oncologist di dunia sebagai berikut:
a) Umur lebih dari 30 tahun mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk mendapat kanker payudara dan resiko ini akan bertambah sampai umur 50 tahun dan setelah menopause.
b) Tidak kawin atau nullipara resikonya 2-4 kali lebih tinggi daripada wanita yang kawin dan mempunyai anak.
c) Anak pertama lahir setelah 35 tahun resikonya 2 kali lebih besar
d) Menarche pada umur kurang dari 12 tahun resikonya 1,7-3,4 kali lebih tinggi daripada wanita dengan menarche yang dating pada usia normal atau lebih dari 12 tahun.
e) Menopause datang terlambat lebih dari 55 tahun resikonya 2,5-5 kali lebih tinggi
f) Pernah mengalami infeksi trauma atau operasi tumor jinak payudara resikonya 3-9 kali lebih besar.
g) Riwayat keluarga ada yang menderita kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, adik/kakak, resiko 2-3 kali lebih tinggi. Resikonya meningkat dua kali jika ibunya terkena kanker sebelum berusia 60 tahun, kemudian resiko lebih meningkat 4-6 kali jika kanker payudara dua orang saudara langsung
h) Riwayat penyakit payudara jinak. Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel proliferative mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara wanita dengan hyperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami penyakit ini.
i) Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun beresiko hamper 2 kali lipat.
j) Obesitas resiko terendah diantara wanita pasca menopause bagaimanapun wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian yang lebih tinggi dan yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat. (Amalia, 2009)

Yayasan kanker payudara Indonesia bekerjasama dengan FKUI/RSCM telah membentuk satu Breast Cancer Task Force di Jakarta. Di pusat pemeriksaan ini terdapat 4 bagian yang malakukan aktivitas penemuan dini kanker payudara yaitu:
1. Bagian wawancara (pertanyaan umum dan terarah sehubungan dengan kanker payudara)
2. Palpasi payudara (mencari benjolan atau kelainan lainnya)
3. Ultrasonografi-mamografi
4. Bagian ini juga mengajarkan pemeriksaan payudara sendiri dimana cara pemeriksaan ini dibagi-bagikan dalam bentuk buku kecil.
Program diagnosis dini terdiri dari diagnosis klinis dan pemeriksaan penunjang
a. Wawancara yaitu pertanyaan umum dan terarah sehubungan dengan kanker payudara
b. Pemeriksaan klinis payudara
Mencari benjolan atau kelainan lainnya karena organ payudara dipengaruhi oleh factor hormonal antara lain estrogen dan progesterone maka sebaiknya pemeriksaan payudara dilakukan disaat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin setelah menstruasi ± 1 minggu dari hari terakhir menstruasi. Penderita diperiksa dengan badan bagian atas terbuka. Penderita duduk dengan tangan jatuh bebas ke samping dan pemeriksa berdiri di depan dalam posisi yang lebih kurang sama tinggi

c. Inspeksi
Simetri payudara kiri kanan, kelainan papilla, letak dan bentuk adakah retraksi putting susu, kelainan kulit, tanda radang, dimpling, ulserasi dan lain-lain.
d. Palpasi
Penderita berbaring dan diusahakan agar payudara jatuh tersebar rata di atas lapangan dada, jika perlu bahu/panggung diganjal dengan bantal kecil pada penderita yang payudaranya besar
Pemeriksaan penunjang
1) Mammografi
Suatu teknik pemeriksaan foto rontgen untuk jaringan lunak yang memberikan petunjuk adanya kelainan. Keganasan akan memberikan tanda-tanda primer dan sekunder.
Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (stelata), adanya perbedaan yang nyata antara ukuran klinis dan rontgenologis adanya mikroklasifikasi, adanya spekulae dan distri pada struktur arsitektur payudara.
Tanda-tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papilla dan areola, adanya bridge of tumor keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglanduler tidak teratur infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mamma dan adanya metastasis ke kelenjar.

Indikasi mammografi:
a) Adanya benjolan dan rasa tidak enak pada payudara
b) Pada wanita dengan riwayat resiko tinggi untuk mendapatkan keganasan payudara
c) Pembesaran kelenjar getah bening aksila yang meragukan
d) Pada wanita dengan penyebab metastasis tanpa diketahui asal tumor primer
e) Pada penderita dengan kanker phobia
f) Follow up penderita-penderita pasca operasi dengan kemungkinan kambuh atau keganasan payudara yang kontralateral

2) Termografi
Suatu cara yang menggunakan sinar infra red. Pemeriksaan ini ditemukan oleh LAWSON tahun1956 dimana diperlihatkan bahwa:
a) Suhu kanker payudara lebih tinggi dari jaringan sekitarnya
b) Darah vena yang keluar dari lesi kanker lebih panas dari darah arteri yang mendarahi lesi tersebut
c) Perubahan pada termogram yang dapat menimbulkan kecurigaan kepada keganasan adalah sebagai berikut:
1. Adanya bintik-bintik yang mengeluarkan panas
2. Perdarahan yang meningkat setempat disertai lebih banyak pembuluh darah yang melebar
3. Peningkatan suhu secara umum
4. Bertambahnya panas areola mammae
5. Kenaikan suhu disini tidak hanyakhas untuk keganasan tetapi dapat juga terjadi pada setiap peninggian kegiatan sel misalnya abses yang lama.

3) Ultrasonografi
Berdasarkan pemantulan gelombang suara yang berbeda dalam dan kepadatannya, terutama hanya dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan kistik dan hanya dapat membuat diagnose dugaan.
Indikasi USG payudara:
a) Payudara yang padat pada mammografi
b) pada payudara wanita hamil, menyusui dan remaja
c) sarana diagnostic utama pada pada penyakit infeksi payudara
d) evaluasi lesi berbatas tegas pada temuan mamografi dan penyakit fibrokistik
e) Pemeriksaan utama untuk evaluasi pada wanita dengan implant silicon.
f) Penuntun biopsy atau aspirasi

Kelainan yang ditemukan pada USG
1. Tumor jinak payudara
i. Kontur/batas lesi tegas dan teratur (licin)
ii. Bentuk lesi bulat atau oval
iii. Dapat dikompresi dan mobile (tidak terfiksasi)
2. Tumor ganas
i. Batas lesi tidak tegas dan tidak teratur
ii. Ada perubahan vaskularisasi serta adanya gambaran distorsi arsitek parenkim
3. Lesi kistik
i. Bentuk lesi tegas atau licin
ii. Bentuk lesi bulat dan oval
iii. Ekho internal tidak ada atau bebas echo
iv. Tampak posterior enhas yang kuat
4) Xerografi
Suatu fotoelectric imagin system berdasarkan pengetahuan xerofrafi. Ketepatan diagnostic cukup tinggi 95.3% dimana dapat terjadi false positive ±5%.

5) Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radio isotop Tc 99 sestamibi. Pemeriksaan ini mempunyai sensifitas untuk menilai aktifitas sel kanker payudara selain itu dapat pula mendeteksi lesi multiple (Felgelson, 2004)

2. Gejala klinis kanker payudara
Gejala klinis kanker payudara dapat berupa benjolan pada payudara, erosi atau eksema putting susu, atau berupa perdarahan pada putting susu, umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan mula-mula kecil, makin lama makin besar lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada kulit payudara atau putting susu. Kulit atau putting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau kecoklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk mengkerut atau timbul borok (ulkus) pada payudara.

Borok semakin lama semakin besar mendalam sering berbau busuk dan mudah berdarah. Rasa sakit dan nyeri pada umumnya baru timbul kalau tumor sudah besar, sudah timbul borok jika metastase (menyebar) ke tulang-tulang, kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening di ketiak, bengkak (oedema) pada lengan dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh. (Astana, 2009)
3. Pembagian stadium PORTMANN yang disesuaikan dengan aplikasi klinik
a. Stadium I adalah tumor dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya tidak fiksasi/infiltrasi ke kulit jaringan yang dibawahnya (otot). Besar tumor 1-2 cm, kelenjar getah bening regional belum teraba.
b. Stadium II adalah sesuai dengan stadium I hanya besar tumor 2,5-5cm dan sudah ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas dengan diameter kurang dari 2 cm
c. Stadium III adalah tumor sudah meluas dalam payudara (5-10cm), fiksasi pada kulit atau dinding dada, kulit merah dan ada oedema (lebih dari 1/3 permukaan kulit payudara), ulserasi dan atau nodul satelit, kelenjar getah bening aksila melekat satu sama lain atau terhadap jaringan sekitarnya. Diameter lebih dari 2,5 cm, belum ada metastasis jauh.
d. Stadium IV adalah tumor seperti pada yang lain (stadium I,II,III). Tetapi sudah disertai dengan kelenjar getah bening aksila supra-klavikula dan metastasis jauh lainnya. (Amalia, 2009)

4. Pengobatan kanker payudara
Ada beberapa cara pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak bergantung kepada stadium klinik antara lain:
1) Pembedahan baik yang bersifat kuratif (menyembuhkan maupun paliatif (menghilangkan gejala-gejala penyakit).
2) Penyinaran, baik yang bersifat kuratif maupun paliatif
3) Khemoterapi/sitostatika yang merupakan pengobatan suportir dan berupa tindakan ablasi melenyapkan atau aditif (penambahan)
4) Imunoterapi, sebagai tindakan untuk menaikkan daya tahan tubuh.
5) Simptomatik, termasuk cara perawatan/penangulan keluhan-keluhan dari penderita kanker payudara yang suda lanjut.
Tujuan perawatan paliatif pada kanker payudara adalah
a) Mempertahankan kualitas hidup si penderita agar tetap baik dan menganggap bahwa kematian adalah proses yang normal.
b) Tidak mempercepat atau menunda kematian.
c) Menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang mengganggu
d) Berusaha agar penderita tetap aktif sampai akhir hayatnya. Dan membantu duka cita keluarganya.

5. Pencegahan
Pada dasarnya pencegahan kanker payudara terdiri atas tiga antara lain:
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan karena dilakukan pada orang yang sehat melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan pada berbagai factor resiko dan meningkatkan pola hidup sehat.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan yang dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid yang normal merupakan populasi yan beresiko dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan dengan menggunakan deteksi dini demi mengantisipasi penyebaran kanker. Sehingga timbulnya sel-sel kanker dapat segera diatasi dan dicegah penyebarannya. (Soetjipto,2005)
Menurut Sitorus (2006), pencegahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan payudara sendiri, merupakan cara yang tepat bagi seorang wanita dalam mendeteksi apakah ada kelainan pada payudara sendiri. Pelaksanaan pemeriksaan ini tepat dilakukan pada saat setelah menstruasi. Dengan melakukan hal ini setiap wanita akan akrab dengan bentuk payudaranya sendiri, sehingga bila ada kelainan akan segera dirasakan sendiri. Setiap perubahan hendaknya menjadi perhatian.

Langkah-langkah pemeriksaan payudara sendiri antara lain:
1) Berdiri di depan kaca tanpa penutup payudara, perhatikan bentuk payudara dalam posisi biasa. Kemudian angkat kedua belah tangan ke belakang kepala. Sekarang perhatikan apakah ada lekukan, kerutan dalam atau pembengkakan.
2) Letakkan kedua tangan dipinggul dan tekan hingga otot-otot di atas lengan mengeras, lalu perhatikan apakah ada kelainan seperti diatas, masih posisi demikian bungkukkan badan dan tandai apakah ada perubahan yang mencurigakan seperti diatas.
3) Letakkan bahu kiri ke sebuah bantal yang terlipat dan biarkan lengan kiri lurus ke samping. Dengan 3 jari tekanlah payudara dengan gerakan memutar mulai dari atas putting, rasakan apakah ada perubahan berupa benjolan yang sebelumnya tidak pernah ada.
4) Angkat lengan kiri anda gunakan 3 sampai 4 jari tangan kanan anda dengan kuat, hati-hati untuk meraba payudara kiri dengan kuat dan menyeluruh. Mulailah pada tepi luar tekan bagian datar dari jari bergerak melingkar dengan lambat. (Sitorus, 2006)

c. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier dapat dilakukan melalui individu yang telah didiagnosa positif mengidap kanker payudara. Penanganan yang tepat sesuai dengan stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup penderita serta mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak telah jauh bermetastasis, dilakukan tindakan kemoterapi dengan sitostatika (obat anti kanker). (Ramli, 2005)

Pencegahan lain yang dapat dilakukan antara lain:
a) Menghindari kehamilan diatas usia 30 tahun pada wanita dengan factor resiko tinggi
b) Menghindari pemakaian obat kontrasepsi hormonal pada kelainan tumor jinak payudara
c) Menghindari pemakaian estrogen pada wanita dengan gros fibrotic payudara
d) Kalau belum punya anak, dianjurkan untuk melahirkan sebelum usia 35 tahun
e) Menganjurkan masektomi untuk kelainan fibrokistik payudara yang luas.
Resiko adalah ukuran statistik dari peluang untuk terjadinya suatu keadaan yang tidak diinginkan dimasa yang akan datang. Sedangkan factor resiko adalah suatu keadaan atau ciri tertentu pada seseorang atau kelompok yang mempunyai hubungan dengan peluang terjadinya suatu penyakit, cacat atau kematian (Mansjoer, 2000)

Kategori:Tesis

Keuntungan menyusui segera setelah melahirkan

a. Bagi Bayi
1) Melindungi bayi dari infeksi
2) Bayi mendapat terapi psikologis berupa ketenangan dan kepuasan
3) Membantu mengeluarkan mekonium yaitu feses pertama bayi
4) Fungsi koordinasi saraf menelan, mengisap dan bernapas lebih cepat sempurna.
5) Saat terbaik bagi bayi menerima berbagai stimulus, seperti sentuhan kulit, mencium aroma khas ibunya, merasakan kehangatan dan mendengar denyut jantung ibu yang sudah dikenalnya sejak masih dalam kandungan, sehingga otak dan system saraf berkembang dengan optimal.
6) Meningkatkan kelekatan antara ibu dan bayi sehingga menumbuhkan rasa percaya pada sang bayi karena ia tahu bahwa ada seseorang yang selalu ada saat ia butuhkan (Handjani, 2005).

b. Bagi Ibu
1) Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula. Hal ini karena hormon oksitosin yang merangsang kontraksi otot-otot di saluran ASI sehingga ASI terperas keluar dan juga akan merangsang kontraksi rahim.
2) Mencegah anemia defisiensi zat besi. Bila perdarahan pasca persalinan tidak terjadi atau berhenti lebih cepat, maka resiko kekurangan darah yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang.
3) Menimbulkan perasaan dibutuhkan. Rasa bangga dan bahagia karena dapat memberikan sesuatu dari dirinya demi kebaikan bayinya akan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayinya.
4) Mengurangi kemungkinan kanker payudara dan ovarium. Penelitian membuktikan bahwa ibu yang memberikan ASI secara ekslusif memiliki resiko kanker payudara dan ovarium 25 % lebih kecil bila dibandingkan ibu yang tidak menyusui secara eksklusif (Handjani, 2005).

c. Bagi Keluarga
1) Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, kayu bakar atau minyak untuk merebus air atau peralatan.
2) Bayi sehat berarti mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan dan berkurangnya kekuatiran bayi akan sakit.
d. Bagi Masyarakat dan Negara
1) Menghemat distribusi Negara karena tidak perlu mengimport susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya.
2) Bayi sehat membuat Negara lebih sehat.
3) Memperbaiki kemampuan hidup anak dengan menurunkan kematian.
4) Melindungi lingkungan karena tidak ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk memenuhi air susu dan peralatannya. ASI adalah sumber daya yang terus menerus diproduksi dan baru (Roesli, 2000).

Kategori:Kesehatan, Tesis Tags: , , , ,

Menyusui setelah Persalinan

1. Pengertian Menyusui
>> Menyusui adalah cara alami untuk memberikan makanan pada bayi. (Balaskas, 2004).
>> Menyusui segera persalinan adalah sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, bayi harus diserahkan kepada ibunya untuk disusui (Purwanti, 2004).

2. Proses Menyusui
Menyusui tergantung pada gabungan refleks, kerja hormone dan perilaku yang dipelajari ibu dari bayi yang baru lahir dan terdiri dari factor-faktor :
a. Laktogenesis (Permulaan Produksi ASI)
Dimulai pada tahap akhir kehamilan. Kolostrum disekresi akibat stimuli sel-sel alveolar mamaria oleh laktogen plasenta, suatu substansi yang menyerupai prolaktin. Produksi susu berlanjut setelah bayi lahir sebagai proses otomatis selama susu dikeluarkan dari payudara.
b. Proses Susu
Kelanjutan sekresi susu terutama berkaitan dengan :
1) Jumlah produksi hormon prolaktin yang cukup di hipotisis
Anterior

2). Pengeluaran susu yang efisien
Nutrisi maternal dan masukan cairan merupakan factor yang mempengaruhi jumlah dan kualitas susu.
c. Ejeksi Susu
Pergerakan susu dari alveoli (dimana susu disekresi oleh proses ekstrusi dari sel) ke mulut bayi merupakan proses yang aktif didalam payudara. Proses ini tergantung pada refleks let-down secara primer merupakan respons terhadap isapan bayi. Isapan menstimulasi kelenjar hipopisis posterior untuk mensekresi oksitosin. Di bawah pengaruh oksitosin sel-sel disekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan susu melalui system duktus ke dalam mulut bayi.

d. Kolostrum
Kolostrum kuning kental secara unik sesuai untuk kebutuhan bayi baru lahir. Kolostrum mengandung antibody vital dan nutrisi padat dalam volume kecil, sesuai sekali untuk makanan awal bayi. Menyusui dini yang efisien berkolerasi dengan penurunan kadar bilirubin darah. Kadar protein yang tinggi dalam kolostrum mempermudah ikatan bilirubin dan kerja laksatif kolostrum untuk mempermudah perjalanan mekonium.

e. Susu Ibu
Pada awal pemberian makanan susu mengandung lebih sedikit lemak dan mengalir lebih cepat dari pada susu yang keluar pada akhir menyusui. Menjelang akhir pemberian makanan, susu sisa ini lebih putih dan mengandung lebih banyak lemak. Kandungan lemak yang lebih tinggi pada akhir pemberian makan memberikan rasa puas pada bayi(Bobak, 2004).

3. Mekanisme Menyusui
Bayi baru lahir yang cukup bulan dan sehat memiliki 3 refleks yang diperlukan untuk membuat proses menyusui berhasil seperti :
1. Refleks mencari (Rooting Refleks)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu ditarik masuk kedalam mulut.

2. Refleks Mengisap (Sucking Refleks)
Teknik menyusui yang baik adalah bila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi. Cukup rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak dipuncak kalang payudara dibelakang puting susu. Puting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan pada langit-langit keras. Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya dibagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu.

3. Refleks Menelan ( Swallowing Refleks)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung (Soetjiningsih, 2007).

4. Fisiologi Menyusui segera setelah persalinan
Sebagai upaya untuk tetap mempertahankan kadar prolaktin dalam darah ibu sebelum setengah jam pertama setelah persalinan, segera posisikan bayi untuk mengisap puting susu secara benar. Ketika bayi mengisap pertama kali, bayi sebenarnya tidak menerima susu. Ternyata implus sensorik pertama harus ditransmisikan melalui saraf somatic dari puting susu ke medula spinalis dan kemudian ke hipotalamus menyebabkan sekresi oksitosin pada saat yang bersamaan ketika hipotalamus mensekresi prolaktin. Oksitosin kemudian dibawa dalam darah ke kelenjar payudara, dimana oksitosin sel-sel miospitel yang mengelilingi dinding luar alvioli berkontraksi untuk mengalirkan air susu ke dalam duktus, kemudian isapan bayi menjadi efektif dalam mengalirkan air susu. Pengisapan pada satu kelenjar payudara tidak hanya menyebabkan aliran air susu pada kelenjar payudara itu tetapi juga pada kelenjar lain (Guyton dan Hall, 1997).

Apabila bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan, hormon prolaktin akan turun dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI baru akan keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat dan bidan memberikan makanan pengganti ASI karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah yang cukup. Bayi yang sudah mendapat susu tambahan akan tertidur dan tidak akan terjadi rangsangan pada puting susu. Dengan tidak ada rangsangan pada puting susu berarti memberikan kadar hormon oksitosin turun secara perlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini akan menyebabkan ASI keluar sedikit bahkan mungkin berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Purwanti, 2004).

Kategori:Kesehatan, Tesis

HUBUNGAN ANTARA MENYUSUI SETELAH PERSALINAN DENGAN KELANCARAN PRODUKSI ASI IBU NIFAS

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sasaran pembangunan Kesehatan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJM) 2005 – 2009 adalah menurunkan prevalensi gizi kurang pada balita dari 25,8 % pada tahun 2005 menjadi setinggi-tingginya 20 % pada tahun 2009. Karena itu dalam rangka percepatan penurunan prevalensi gizi kurang dan gizi buruk diperlukan terobosan yang bersifat nasional untuk menggerakkan seluruh masyarakat Indonesia terutama ibu-ibu dengan dukungan suami dan keluarga dalam memberi ASI Eksklusif selama enam bulan kepada bayi (Depkes 2006).

Menyusui secara eksklusif adalah memberi ASI (Air Susu Ibu) kepada bayi selama enam bulan penuh dan bayi tidak mendapat makanan lain selain ASI. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, tidak dapat diganti dengan makanan lainnya selain ASI, dan tidak ada satupun makanan yang dapat menyamai ASI baik dalam kandungan gizinya, enzim, hormon, maupun kandungan zat imunologik dan anti infeksi.
Di Indonesia setiap tahunnya terdapat 10 juta anak dibawah 2 tahun menjadi sasaran ASI. Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002, hanya 3,7% bayi yang memperoleh ASI pada hari pertama, sedangkan pemberian ASI pada bayi umur kurang dari 2 bulan sebesar 64 %, antara 2-3 bulan 45,5% antara 4-5 bulan 13,9% dan antara 6-7 bulan 7,8 %. Sementara itu cakupan pemberian susu formula meningkat 3 kali lipat dalam kurun waktu antara 1997 sebesar 10,8% menjadi 32,4%tahun 2002 (Depkes, 2006).

Buruknya pemberian ASI eksklusif di Indonesia disebabkan oleh terbatasnya persediaan pangan ditingkat rumah tangga serta terbatasnya akses balita sakit terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas menyebabkan 5 juta bayi menderita gizi kurang. Padahal kekurangan gizi yang terjadi pada bayi akan berdampak pada gangguan psikomotor, kognitif dan social serta secara klinis terjadi gangguan pertumbuhan. Dampak lainnya, derajat kesehatan dan gizi anak Indonesia masih memprihatinkan. Hal ini ditandai dengan tingginya tingkat kematian bayi setiap tahun sekitar 132.000 meninggal sebelum usia 1 tahun. Dari seluruh kematian bayi tersebut, lebih dari setengahnya terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk serta penyakit infeksi (Depkes, 2006).

Untuk mencapai tumbuh kembang bayi secara optimal, Indonesia menindak lanjuti dengan menyusun strategi nasional pemberian makanan bayi dan anak yaitu memberi ASI dalam 30 menit setelah kelahiran sampai berumur 6 bulan. sedangkan Makanan Pendamping ASI (MP. ASI) yang cukup dan bermutu dimulai dari umur 6 bulan dan tetap meneruskan pemberian ASI sampai umur 2 tahun (Depkes 2006).

Kesuksesan program tersebut harus didukung oleh semua pihak yang terkait terutama perawat dan bidan sebagai tenaga pofesi yang mempunyai tanggung jawab pokok terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu harus mampu menerapkan konsep ASI eksklusif agar bayi mendapat nutrisi yang adekuat untuk tumbuh kembangnya.

Keunggulan ASI perlu ditunjang oleh cara pemberian yang benar, misalnya pemberian segera setelah lahir yaitu 30 menit pertama bayi harus disusukan. Isapan bayi ini akan memberikan rangsangan pada hipofise untuk mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon oksitosin bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI yang ada dalam alveoli, lobus serta duktus untuk dikeluarkan melalui puting susu. Keadaan ini akan memaksa hormon prolaktin untuk terus memproduksi ASI. Apabila bayi tidak mengisap puting susu pada 30 menit pertama setelah persalinan, hormon prolaktin akan turun sehingga ASI baru keluar pada hari ketiga atau lebih. Hal ini akan memaksa perawat atau bidan memberikan makanan tambahan pengganti ASI, karena bayi tidak mendapat ASI dalam jumlah yang cukup. Bayi yang sudah mendapat susu tambahan akan tertidur dan tidak terjadi rangsangan pada puting susu. Dengan tidak adanya rangsangan pada puting susu berarti membiarkan kadar hormon oksitosin turun secara perlahan dalam peredaran darah sehingga ASI dalam lobus tidak terperas yang mengakibatkan hormon prolaktin akan turun dan hilang dari peredaran darah. Keadaan ini akan menyebabkan ASI yang keluar sedikit bahkan mungkin berhenti sebelum bayi berumur enam bulan (Purwanti, 2004).

Hasil pengambilan data awal pada RSU.pelamonia Makassar, jumlah persalinan pada bulan februari tahun 2007 sebanyak 55 orang. Sedangkan data yang didapatkan melalui wawancara dan observasi pada tiga orang bidan serta tiga ibu nifas di ruang bersalin pada tanggal 8 April 2007 diketahui bahwa setiap bayi yang baru lahir dan normal langsung disusukan pada ibunya dalam 30 menit pertama setelah kelahiran, rata-rata ASI-nya langsung keluar dengan lancar pada hari pertama sampai kedua masa nifas. Namun hal tersebut tidak selalu diterapkan karena ada sebagian ibu-ibu yang menolak untuk menyusui bayinya karena faktor kelelahan yang dialami ibu setelah melahirkan sehingga mereka lebih memilih untuk beristirahat.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 10 April 2007 pada tiga orang ibu nifas didapatkan bahwa satu orang ibu yang segera menyusui bayinya setelah persalinan, ASI-nya langsung keluar dengan lancar pada hari pertama persalinan. Sedangkan dua orang ibu nifas yang tidak segera menyusui bayinya setelah persalinan, ditemukan yang seorang ASI-nya mulai keluar pada hari ke 3 dan seorang lagi ASI-nya tidak keluar hingga pulang ke rumah.

Berdasarkan masalah tersebut diatas maka penulis tertarik untuk meneliti, apakah ada hubungan antara pemberian ASI setelah persalinan dengan kelancaran produksi ASI pada ibu nifas ?

Masalah Gizi Lansia

Lanjut usia dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan, bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik baik anatoni maupun fungsional. (Soediaoetama, 2000)

Gangguan kesehatan yang terjadi pada lansia adalah akibat terjadinya perubahan struktur tubuh disamping karena kemunduran fungsi berbagai alat tubuh dan disebut penyakit deneratif. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi gizi yaitu :
Menurunnya kebutuhan zat gizi

Penurunan kebutuhan energi disebabkan menurunnya aktifitas fisik pada lansia disamping menurunnya metabolisme basal. Makanan yang mengandung lemak lebih disenangi para usia lanjut selain karena gurih juga makanan lebih empuk. Kondisi demikian itu memicu naiknya masukan lemak makanan yang memicu baiknya kadar lemak dan kolesterol darah yang merupakan awal dari penyakit jantung koroner. Demikian pentingnya pembatasan konsumsi energi pada lansia terbukti dari hasil penelitian Schlenker terhadap sejumlah wanita.
Gangguan kemampuan menikmati cita rasa makanan.

Penelitian oleh Cohen dan Gitman menunjukkan pada usia lanjut 39,9% wanita dan 25,8% pria mengalami kemunduran indera pengecap. Dan indera yang paling banyak terganggu adalah indera pengecap rasa manis dan rasa asin. Karena itu pada usia lanjut, makanan yang bercita rasa atau aroma keras lebih disenangi. Pemakaian garam, gula dan berbagai bumbu penyedap jadi lebih tinggi.

1. Penurunan fungsi saluran pencernaan

Penurunan fungsi saluran pencernaan pada usia lanjut menyebabnya berkurangnya sekresi getah cerna. Erajat keasaman cairan lambung berkurang dan hal itu menyebabkan terganggunya penyerapan zat kapur, zat besi dan mineral lain. Lembaga Usia Amerika Serikat menduga anemia gizi merupakan salah satu penyebab terjadinya “sindrom otak” pada usia lanjut, seperti mudah lupa, kepikunan dan sebagainya. Gastritis kronis dan konstipasi juga berkenan dengan penurunan fungsi saluran pencernaan.

2. Gangguan keseimbangan hormonal

Pada usia lanjut produksi berbagai hormon sangat menurun. Produksi hormon tioksin, insuli, adrenalin, glucagon, epinephrin, progesteron, testostero\n, dan hormon lain sangat menurun pada usia lanjut sehingga keseimbangan hormon dalam tubuh terganggu. Hal ini membawa dampak terhadapmetabolisme zat gizi, sehingga penyakit gangguan metabolisme lebih sering trjadi pada lansia. (Moehji, 2003)

3.Penilaian Status Gizi Lansia
Penilaian status gizi berdasarkan pemeriksaan yang telah lazim tersedia. Namun penilaian antropometris dan baku nilai hanya berlaku bagi mereka yang berusia 55 tahun kebawah. Lebih tua dari itu, sebagian besar indikator menjadi tidak sensitif dan tidak tepat kerna sekuruh aspek fisik dan mental pada lansia ikut melemah dimakan usia. (Perry dan Potter, 2008)

Untuk memantau status gizi orang dewasa, Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah jenis antopometri yang direkomendasikan oleh International Dietary Energi Concultancy Group (1987). Cara ini kemudian diterima oleh WHO dan FAO dan sekarang dipakai di seluruh dunia. Ukuran status gizi orang dewasa menggunakan indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus :

IMT = (BB (kg))/(〖TB (m〗^2))
Dengan kategori indeks massa tubuh sebagai berikut :
< 17,00 : Kurus sekali
17,0 – 18,4 : Kurus
18,5 – 25,0 : Normal
25,1 – 27,0 : Gemuk
>27,0 : Gemuk sekali

Mendapatkan angka yang tepat untuk tinggi badan lansia merupakan persoalan yang pelik, karena hilangnya mineralisasi vertebra dan volume diskus invertebralis yang berakibat hilangnya tinggi badan. Namun tulang-tulang panjang, mempertahankan panjang dewasanya. Chumlea, Roche, dan Steinbaugh (1985) memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi lutut (panjang dari telapak kaki ke paha anterior dengan kedua pergelangan kaki dan lutut tertekuk pada sudut 90 derajat).

Untuk wanita :
Perkiraan TB dalam cm = 84,88 + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) + (-0,24 x Usia dalam tahun)
Untuk pria :
Perkiraan TB dalam cm = 60,65 + (2,04 x tinggi lutut dalam cm)

Tidak mungkin mengukur tinggi lutut secara akurat jika individu tersebut mengalami kontraktur yang parah atau cacat lainnya. Bagi individu-individu ini, haboubi, haudson, dan pathy (1990) telah mengembangkan suatu nomogram untk memperkirakan tinggi badan berdasarkan panjang rentang tangan. Yang dimaksudkan dengan panjang rentang lengan (PRT) yaitu jarak antara incisura jugularis hingga keujung jari tengah dengan rumus sebagai berikut :

TB = [0,73 x (2 x 1⁄2 PRT)] + 0,43
Berat badan lansia berubah seiring dengan proses penuaan akibat penyusutan massa otot. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3% sementara massa lemak meningkat 2% dari berat badan per dekade setelah usia 30 tahun (Forbes dkk, 1991). Penyusutan massa otot ditaksir mencapai 5 kg (untuk wanita) sampai 12 kg (untuk pria) pada usia 25 – 70 tahun, sementara otot mengerut sampai 40%.
Berat badan lansia sebaiknya ditimbang setiap minggu yang dirawat di rumah sakit atau yang diasuh di panti werda, dan cukup 2 – 3 bulan bagi lansia yang sanggup melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk menentukan resiko masalah gizi perubahan berat badan merupakan indikator yang pekamengingat berat badan ideal lansia sangat sulit ditentukan. Cara yang paling sederhana untuk menentukan berat badan lansia yaitu dengan menggunakan rumus Broca yang telah dimodifikasi oleh Katsura.

BBN = TB – 105 (untuk TB < 160 cm)
BBN = TB – 110 (untuk TB > 160 cm)
Untuk memperoleh hasil yang paling mendekati kebenaran, penimbangan sebaiknya diulang sebanyak 3 kali. BBI dan BBn harus dikoreksi dengan perkiraan berat bagian tubuh yang telah di amputasi ,jika pasien atau obyek pemeriksaan pernah di ampuatasi.

Masalah Gizi pada Lansia
Lanjut usia dimasukkan ke dalam kelompok rentan gizi, meskipun tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan badan, bahkan sebaliknya sudah terjadi involusi dan degenerasi jaringan dan sel-selnya. Timbulnya kerentanan terhadap kondisi gizi disebabkan kondisi fisik baik anatoni maupun fungsional. (Soediaoetama, 2000)

Gangguan kesehatan yang terjadi pada lansia adalah akibat terjadinya perubahan struktur tubuh disamping karena kemunduran fungsi berbagai alat tubuh dan disebut penyakit deneratif. Pada lansia terjadi perubahan-perubahan yang mempengaruhi gizi yaitu :
Menurunnya kebutuhan zat gizi

Penurunan kebutuhan energi disebabkan menurunnya aktifitas fisik pada lansia disamping menurunnya metabolisme basal. Makanan yang mengandung lemak lebih disenangi para usia lanjut selain karena gurih juga makanan lebih empuk. Kondisi demikian itu memicu naiknya masukan lemak makanan yang memicu baiknya kadar lemak dan kolesterol darah yang merupakan awal dari penyakit jantung koroner. Demikian pentingnya pembatasan konsumsi energi pada lansia terbukti dari hasil penelitian Schlenker terhadap sejumlah wanita.
Gangguan kemampuan menikmati cita rasa makanan.

Penelitian oleh Cohen dan Gitman menunjukkan pada usia lanjut 39,9% wanita dan 25,8% pria mengalami kemunduran indera pengecap. Dan indera yang paling banyak terganggu adalah indera pengecap rasa manis dan rasa asin. Karena itu pada usia lanjut, makanan yang bercita rasa atau aroma keras lebih disenangi. Pemakaian garam, gula dan berbagai bumbu penyedap jadi lebih tinggi.

Penurunan fungsi saluran pencernaan
Penurunan fungsi saluran pencernaan pada usia lanjut menyebabnya berkurangnya sekresi getah cerna. Erajat keasaman cairan lambung berkurang dan hal itu menyebabkan terganggunya penyerapan zat kapur, zat besi dan mineral lain. Lembaga Usia Amerika Serikat menduga anemia gizi merupakan salah satu penyebab terjadinya “sindrom otak” pada usia lanjut, seperti mudah lupa, kepikunan dan sebagainya. Gastritis kronis dan konstipasi juga berkenan dengan penurunan fungsi saluran pencernaan.

Gangguan keseimbangan hormonal
Pada usia lanjut produksi berbagai hormon sangat menurun. Produksi hormon tioksin, insuli, adrenalin, glucagon, epinephrin, progesteron, testostero\n, dan hormon lain sangat menurun pada usia lanjut sehingga keseimbangan hormon dalam tubuh terganggu. Hal ini membawa dampak terhadapmetabolisme zat gizi, sehingga penyakit gangguan metabolisme lebih sering trjadi pada lansia. (Moehji, 2003)

Penilaian Status Gizi Lansia
Penilaian status gizi berdasarkan pemeriksaan yang telah lazim tersedia. Namun penilaian antropometris dan baku nilai hanya berlaku bagi mereka yang berusia 55 tahun kebawah. Lebih tua dari itu, sebagian besar indikator menjadi tidak sensitif dan tidak tepat kerna sekuruh aspek fisik dan mental pada lansia ikut melemah dimakan usia. (Perry dan Potter, 2008)

Untuk memantau status gizi orang dewasa, Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah jenis antopometri yang direkomendasikan oleh International Dietary Energi Concultancy Group (1987). Cara ini kemudian diterima oleh WHO dan FAO dan sekarang dipakai di seluruh dunia. Ukuran status gizi orang dewasa menggunakan indeks Massa Tubuh (IMT) dapat dihitung dengan rumus :
IMT = (BB (kg))/(〖TB (m〗^2))
Dengan kategori indeks massa tubuh sebagai berikut :
< 17,00 : Kurus sekali
17,0 – 18,4 : Kurus
18,5 – 25,0 : Normal
25,1 – 27,0 : Gemuk
>27,0 : Gemuk sekali
Mendapatkan angka yang tepat untuk tinggi badan lansia merupakan persoalan yang pelik, karena hilangnya mineralisasi vertebra dan volume diskus invertebralis yang berakibat hilangnya tinggi badan. Namun tulang-tulang panjang, mempertahankan panjang dewasanya. Chumlea, Roche, dan Steinbaugh (1985) memperkirakan tinggi badan berdasarkan tinggi lutut (panjang dari telapak kaki ke paha anterior dengan kedua pergelangan kaki dan lutut tertekuk pada sudut 90 derajat).

Untuk wanita :
Perkiraan TB dalam cm = 84,88 + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) + (-0,24 x Usia dalam tahun)
Untuk pria :
Perkiraan TB dalam cm = 60,65 + (2,04 x tinggi lutut dalam cm)

Tidak mungkin mengukur tinggi lutut secara akurat jika individu tersebut mengalami kontraktur yang parah atau cacat lainnya. Bagi individu-individu ini, haboubi, haudson, dan pathy (1990) telah mengembangkan suatu nomogram untk memperkirakan tinggi badan berdasarkan panjang rentang tangan. Yang dimaksudkan dengan panjang rentang lengan (PRT) yaitu jarak antara incisura jugularis hingga keujung jari tengah dengan rumus sebagai berikut :

TB = [0,73 x (2 x 1⁄2 PRT)] + 0,43
Berat badan lansia berubah seiring dengan proses penuaan akibat penyusutan massa otot. Massa tubuh yang tidak berlemak berkurang sebanyak 6,3% sementara massa lemak meningkat 2% dari berat badan per dekade setelah usia 30 tahun (Forbes dkk, 1991). Penyusutan massa otot ditaksir mencapai 5 kg (untuk wanita) sampai 12 kg (untuk pria) pada usia 25 – 70 tahun, sementara otot mengerut sampai 40%.
Berat badan lansia sebaiknya ditimbang setiap minggu yang dirawat di rumah sakit atau yang diasuh di panti werda, dan cukup 2 – 3 bulan bagi lansia yang sanggup melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk menentukan resiko masalah gizi perubahan berat badan merupakan indikator yang pekamengingat berat badan ideal lansia sangat sulit ditentukan. Cara yang paling sederhana untuk menentukan berat badan lansia yaitu dengan menggunakan rumus Broca yang telah dimodifikasi oleh Katsura.

BBN = TB – 105 (untuk TB < 160 cm)
BBN = TB – 110 (untuk TB > 160 cm)
Untuk memperoleh hasil yang paling mendekati kebenaran, penimbangan sebaiknya diulang sebanyak 3 kali. BBI dan BBn harus dikoreksi dengan perkiraan berat bagian tubuh yang telah di amputasi ,jika pasien atau obyek pemeriksaan pernah di ampuatasi.

Kategori:Tesis Tags: , , , ,
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 855 pengikut lainnya