Arsip

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Tokoh Sul – Sel

LASINRANG

SYECH YUSUF

IMAM LAPEO

JEDRAL M.JUSUF

Kategori:Tokoh Tag:,

LASINRANG

 Pada zaman penjajahan Belanda lahirlah seorang bayi dari kerajaan kecil Sawitto, Sulawesi Selatan yang di beri nama La Sinrang. La Sinrang ini adalah putra La Tamma Addatuang Sawitto dan ibunya I Raima yang berasala dari rakyat jelata.

Sejak lahir La Sinrang itu memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi bulu dengan arah berlawanan yaitu arah keatas dan ke bawah (bulu sussang). Saat dewasa ia gemar menyabung ayam, ayam andalannya yaitu “Manu Bakka” yang tidak terkalahkan oleh ayam lain, berkat kegemarannya menyabung ayam “ manu bakka “(ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah pada bagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang

Karena kegemarannya menyabung ayam “Manu Bakka” maka tersiarlah kabar ini sampai keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto. Julukan ini semakin populer disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.

Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas ke atas (bulu sussang).

Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.

Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang

Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.

Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.

La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.

La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro darihasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.

Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya

La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.

Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.

Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerajaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”.

La Sinrang juga kebal terhadap senjata tajam dan peluru dan ia dapat menghilang saat terkepung oleh pasukan Belanda. Senjata andalannya berupa tombak besar mirip dayung yang disebut “La Salaga” dan sebuah badik yang disebut “JalloE”.

sumber:portalbugis.com

// Profil Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos News Network, yang bermarkas di Surabaya. Ia juga adalah Direktur Utama PLN sejak 23 Desember 2009. Pada tanggal 19 Oktober 2011, berkaitan dengan reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, Dahlan Iskan diangkat sebagai Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara menggantikan Mustafa Abubakar yang sedang sakit.

Dahlan Iskan dibesarkan di lingkungan pedesaan dangan kondisi serba kekurangan. Orangtuanya tidak ingat tanggal berapa Dahlan dilahirkan. Dahlan akhirnya memilih tanggal 17 Agustus dengan alasan mudah diingat karena bertepatan dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dahlan Iskan pernah menulis buku berjudul Ganti Hati (catatan tersebut dapat dibaca di Pengalaman Pribadi Menjalani Tranplantasi Liver) pada tahun 2008. Buku ini berisi tentang penglaman Dahlan Iskan dalam melakukan operasi cangkok hati di Cina.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang.

Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.

Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta.

Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak awal 2009, Dahlan adalah sebagai Komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC)yang akan memulai pembangunan Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pertengahan tahun ini. SKKL ini akan menghubungkan Surabaya di Indonesia dan Hong Kong. Dengan panjang serat optik 4.300 kilometer

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. Semenjak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan diantaranya bebas byar pet se Indonesia dalam waktu 6 bulan, gerakan sehari sejuta sambungan. Dahlan juga berencana membangun PLTS di 100 pulau pada tahun 2011. Sebelumnya, tahun 2010 PLN telah berhasil membangun PLTS di 5 pulau di Indonesia bagian Timur yaitu Pulau Banda, Bunaken Manado, Derawan Kalimantan Timur, Wakatobi Sulawesi Tenggara, dan Citrawangan. Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.

Pada tanggal 17 Oktober 2011, Dahlan Iskan ditunjuk sebagai pengganti Menteri BUMN yang menderita sakit. Ia terisak dan terharu begitu dirinya dipanggil menjadi menteri BUMN karena ia berat meninggalkan PLN yang menurutnya sedang pada puncak semangat untuk melakukan reformasi PLN.

sumber : http://id.wikipedia.org

Kategori:Tokoh

Biografi Prof Dr.Nurkholish Madjid (Cak Nur)

Prof. Dr. Nurcholish Madjid lebih populer dipanggil Cak Nur, adalah seorang pemikir Islam, cendekiawan, dan budayawan Indonesia.. Cak Nur adalah pelopor pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan di masanya, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

Cak Nur dikenal dengan konsep pluralismenya yang mengakomodasi keberagaman ke-bhinneka-an keyakinan di Indonesia. Menurut Cak Nur, keyakinan adalah hak primordial setiap manusia dan keyakinan meyakini keberadaan Tuhan adalah keyakinan yang mendasar. Keyakinan tersebut sangat mungkin berbeda-beda antar manusia satu dengan yang lain, walaupun memeluk agama yang sama. Hal ini berdasar kepada kemampuan nalar manusia yang berbeda-beda, dan dalam hal ini Cak Nur mendukung konsep kebebasan dalam beragama. Bebas dalam konsep Cak Nur tersebut dimaksudkan sebagai kebebasan dalam menjalankan agama tertentu yang disertai dengan tanggung jawab penuh atas apa yang dipilih.

Cak Nur berjasa ketika bangsa Indonesia mengalami krisis kepemimpinan pada tahun 1998. Cak Nur bersama Gusdur, Amien Rais, Emha ainun Nadjib dan Tokoh lainnya sering diminta nasihat oleh Presiden Soeharto terutama dalam mengatasi gejolak pasca kerusuhan Mei 1998 di Jakarta setelah Indonesia dilanda krisis hebat yang merupakan imbas krisis 1997. Atas saran Cak Nur, Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya untuk menghindari gejolak politik yang lebih parah.

Biodata: 

Nama Lengkap
Prof.Dr.Nur Kholis Madjid
Nama Penggilan
Cak Nur
Tanggal Lahir
17 Maret 1939
Tempat Lahir
Jombang Jawa Timur
Wafat
29 Agustus 2005
Nama Orang Tua
Kh Abdul Madjid
Pendidikan
  • Pesantren Darul ‘ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, 1955
  • Pesantren Darul Salam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur 1960
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1965 (BA, Sastra Arab)
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1968 (Doktorandus, Sastra Arab)
  • The University of Chicago (Universitas Chicago), Chicago, Illinois, Amerika Serikat, 1984 (Ph.D, Studi Agama Islam) Bidang yang diminati Filsafah dan Pemikiran Islam, Reformasi Islam, Kebudayaan Islam, Politik dan Agama Sosiologi Agama, Politik negara-negara berkembang
Riwayat pekerjaan
  • Peneliti, Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LEKNAS-LIPI), Jakarta 1978–1984
  • Peneliti Senior, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, 1984–2005
  • Guru Besar, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta 1985–2005
  • Ketua Yayasan Paramadina, Jakarta 1985–2005
  • Rektor, Universitas Paramadina, Jakarta, 1998–2005
Aktivitas Organisasi, karir dan penghargaan
  • Aktifis Himpunan Mahasiswa Islam
  • Anggota MPR-RI 1987-1992 dan 1992–1997
  • Anggota Dewan Pers Nasional, 1990–1998
  • Fellow, Eisenhower Fellowship, Philadelphia, Amerika Serikat, 1990
  • Anggota Komnas HAM, 1993-2005
  • Profesor Tamu, Universitas McGill, Montreal, Kanada, 1991–1992
  • Wakil Ketua, Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), 1990–1995
  • Anggota Dewan Penasehat ICM, 1996
  • Penerima Cultural Award ICM, 1995
  • Penerima Bintang Mahaputra, Jakarta 1998
Karya-karya
  • The issue of modernization among Muslim in Indonesia, a participant point of view dalam Gloria Davies, ed. What is Modern Indonesia Culture (Athens, Ohio, Ohio University, 1978)
  • “Islam In Indonesia: Challenges and Opportunities” dalam Cyriac K. Pullabilly, Ed. Islam in Modern World (Bloomington, Indiana: Crossroads, 1982)
  • “Islam Di Indonesia: Tantangan dan Peluang” dalam Cyriac K. Pullapilly, Edisi, Islam dalam Dunia Modern (Bloomington, Indiana: Crossroads, 1982)
  • Khazanah Intelektual Islam (Jakarta, Bulan Bintang, 1982)
  • Islam, Kemoderanan dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987, 1988)
  • Islam, Doktrin dan Peradaban, (Jakarta, Paramadina, 1992)
  • Islam, Kerakyatan dan KeIndonesiaan, (Bandung: Mizan, 1993)
  • Pintu-pintu menuju Tuhan, (Jakarta, Paramdina, 1994)
  • Islam, Agama Kemanusiaan, (Jakarta, Paramadina, 1995)
  • Islam, Agama Peradaban, (Jakarta, Paramadina, 1995)
  • “In Search of Islamic Roots for Modern Pluralism: The Indonesian Experiences” dalam Mark Woodward ed., Toward a new Paradigm, Recent Developments in Indonesian Islamic Thoughts (Tempe, Arizona: Arizona State University, 1996)
  • Dialog Keterbukaan, (Jakarta, Paradima, 1997)
  • Cendekiawan dan Religious Masyarakat, (Jakarta: Paramadina, 1999)
  • Pesan-pesan Takwa (kumpulan khutbah Jumat di Paramadina) (Jakarta:Paramadina, –)
Aktivitas
  • Presenter, Seminar Internasional tentang “Agama Dunia dan Pluralisme”, November 1992, Bellagio, Italia
  • Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Perdamaian Dunia”, April 1993, Wina, Austria
  • Presenter, Seminar Internasional tentang “Islam di Asia Tenggara”, Mei 1993, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat
  • Presenter, Seminar Internasional tentang “Persesuaian aliran Pemikiran Islam”, Mei 1993, Teheran, Iran.
  • Presenter, Seminar internasional tentang “Ekspresi-ekspresi kebudayaan tentang Pluralisme”, Jakarta 1995, Casablanca, Maroko
  • Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, Maret 1995, Bellagio, Italia
  • Presenter, seminar internasional tentang “Kebudayaan Islam di Asia Tenggara”, Juni 1995, Canberra, Australia
  • Presenter, seminar internasional tentang “Islam dan Masyarakat sipil”, September 1995, Melbourne, Australia
  • Presenter, seminar internasional tentang “Agama-agama dan Komunitas Dunia Abad ke-21,” Juni 1996, Leiden, Belanda.
  • Presenter, seminar internasional tentang “Hak-hak Asasi Manusia”, Juni 1996, Tokyo, Jepang
  • Presenter, seminar internasional tentang “Dunia Melayu”, September 1996, Kuala Lumpur, Malaysia
  • Presenter, seminar internasional tentang “Agama dan Masyarakat Sipil”, 1997 Kuala lumpur
  • Pembicara, konferensi USINDO (United States Indonesian Society), Maret 1997, Washington, DC, Amerika Serikat
  • Peserta, Konferensi Internasional tentang “Agama dan Perdamaian Dunia” (Konperensi Kedua), Mei 1997, Wina, Austria
  • Peserta, Seminar tentang “Kebangkitan Islam”, November 1997, Universitas Emory, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat
  • Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Masyarakat Sipil” November 1997, Universitas Georgetown, Washington, DC, Amerika Serikat
  • Pembicara, Seminar tentang “Islam dan Pluralisme”, November 1997, Universitas Washington, Seattle, Washington DC, Amerika Serikat
  • Sarjana Tamu dan Pembicara, Konferensi Tahunan, MESA (Asosiasi Studi tentang Timur Tengah), November 1997, San Francisco, California, Amerika Serikat
  • Sarjana Tamu dan Pembicara, Konferensi Tahunan AAR (American Academy of Religion) Akademi Keagamaan Amerika, November 1997, California, Amerika Serikat
  • Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia”, Oktober 1998, Jenewa, Swiss
  • Presenter, Konferensi Internasional tentang “Agama-agama dan Hak-hak asasi Manusia”, November 1998 State Department (Departemen Luar Negeri Amerika), Washington DC, Amerika Serikat
  • Peserta Presenter “Konferensi Pemimpin-pemimpin Asia”, September 1999, Brisbane, Australia
  • Presenter, Konferensi Internasional tentang “Islam dan Hak-hak Asasi Manusia, pesan-pesan dari Asia Tenggara”, November 1999, Ito, Jepang
  • Peserta, Sidang ke-7 Konferensi Dunia tentang Agama dan Perdamaian (WCRP), November 1999, Amman, Yordania
Kategori:Tokoh

Biografi Jusuf Kalla

Muhammad Jusuf Kalla lebih dikenal dengan panggilan Pak JK. Beliau seorang enterpreuner sukses tidak saja dibidang usaha namun juga dalam dunia politik. Dibidang politik, nama JK bersinar ketika menjabat sebagai ketua umum partai Golkar berdasarkan Munas di Bali Bulan Desember 2004. Puncak karirnya ketika terpilih menjadi wakil prsiden RI periode 2004-2009 mendampingi Presiden SBY.

M Yusuf Kalla kelahiran Wattampoe, Bone Sulawesi Selatan tanggal 15 Mei 1942. Pendidikan tinggi ia tempuh di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar tahun 1967 kemudian melanjutkan ke European Institute of Business Administration Fountainebleu, Prancis tahun 1977. Selama menjadi mahasiswa Pak JK aktif dalam organisasi kemahasiswaan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Makkassar sebagai ketua tahun 1965-1966, ketua Dewan Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) 1965-1966, serta ketua Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) 1967-1969.

Di dunia usaha Pak JK adaah usahawan sukses. Ia mengembangkan usaha warisan orang tuanya berupa perusahaan distributor dan eksportir hasil bumi menjadi holding company. Pak JK juga membangun jarngan bisnis lainnya seperti PT Bumi Karsa (konstruksi), PT Bukaka Teknik Utama (rekayasa industri), PT Kalla Inti Karsa, PT Bumi Sarana Utama, dan PT Bukaka Singtel International. Prestasi JK dalam dunia usaha membuat beliau terpilih mejadi ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) daerah Sulawesi Selatan tahun 1985-1997, ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia (1997-2002), ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Sulsel (1985-1995), wakil ketua ISEI Pusat (1987-2000), dan penasihat ISEI Pusat (2000-sekarang).

JK terjun dalam dunia politik sejak tahun 1965 ketika terpilih menjadi ketua Sekretariat bersama Golkar (Sek Ber Golkar) wulayah Sulsel. Beliau kemudian menjadi anggota DPRD Provinsi Sul-sel periode 1965-1968 mewakili Sekber Golkar. JK terus melaju ke senayan tahun 1982-1987 menjadi anggota MPR utusan Golkar. Setelah itu JK menjadi anggota MPR-RI dari utusan daerah tahun 1997-1999. Setelah terjadi gerakan reformasi tahun 1998 dan 1999, Golkar kemudian mengubah diri menjadi Partai Golkar dan berjuang mempertahankan dominasinya dalam parlemen melalui Pemilu tahun 1999. JK kemudian terpilih menjadi Menperindag merangkap kabulog kurang lebih setahun pada masa presiden Abdurrahman Wahid. Pamor JK terus berkibar selama pemerintahan presiden megawati. JK ditunjuk menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan rakyat (Menko Kesra).

JK kemudian terpilih menjadi ketua umum Partai Golkar berdasarkan Munas di Bali tahun 2004. Menjelang Pemilu Presiden 2004, JK mengundurkan diri dari jabatan Menko Kesra RI dan mengikuti konvensi calon presiden Partai Golkar. Namun, dia mundur karena memilih menjadi calon wakil presiden (cawapres) pendamping Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY-JK terpilih sebagai presiden ke-6 dan wapres ke-10 serta pasangan presiden-wapres pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Kiprah JK bagi Indonesia:

  1. JK menjadi pioneer kerangka perdamaian konflik Poso dan Ambon melalui pertemuan Malino I dan Malino II. Serangkaian pertemuan itu berhasil meredakan dan menyelesaikan konflik di antara komunitas Kristen dan Islam.
  2. JK juga berjasa besar dalam penyelesaian konflik GAM di Aceh melalui perundingan yang diprakarsainya hingga tercapai kesepakatan perdamaian untuk NAD antara wakil pemerintah dan tokoh-tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditandatangani di Helsinki pada 15 Agustus 2005.
  3. Di bidang pendidikan, JK menjadi ketua Yayasan Pendidikan Hadji Kalla yang mewadahi TK, SD, SLTP, SLTA Athirah, ketua Yayasan Pendidikan Al-Ghazali, Universitas Islam Makassar. Selain itu, dia menjabat ketua Dewan Penyantun (trustee) pada beberapa universitas, seperti Unhas Makassar, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Universitas Negeri Makassar (UNM), ketua Dewan Pembina Yayasan Wakaf Paramadina, dan ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unhas.
  4. Dibidang keagamaan JK dikenal sebagai pentolan Nahdlatul Ulama (NU) wilayah Sulsel, melanjutkan tanggung jawab ayahnya yang sepanjang hidupnya menjadi bendahara NU Wilayah Sulsel. Bersama almarhum Jenderal Muhammad Jusuf, mantan Panglima ABRI, JK terpilih menjadi ketua Yayasan Badan Wakaf Masjid Al-Markaz al-Islami. JK juga terpilih sebagai ketua Forum Antaragama Sulsel.
  5. Dibidang olahraga JK menjadi ketua persatuan golf (1980-1990), ketua Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) dan pemilik klub sepak bola Makassar Utama (MU) pada 1985-1992. Setelah pensiun sebagai wapres dan ketua umum Partai Golkar beliau sekarang aktif sebagai ketua PMI.
Kategori:Tokoh

Pancasila Jangan Diperdebatkan, Tapi Diimplementasikan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Mantan Wakil Presiden, M Jusuf Kalla, mengatakan Pancasila tidak boleh diperdebatkan lagi. Namun, Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh elemen masyarakat.

“Pancasila jangan diperdebatkan lagi. Nanti waktu kita habis hanya untuk berdebat. Yang lebih penting tindakannya,” kata Jusuf Kalla usai menerima Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari, di kediaman Jakarta, Kamis.

Jusuf Kalla menyatakan sosialisasi nilai-nilai Pancasila tidak perlu berpretensi bahwa semua orang akan melaksanakan semua butir-butir Pancasila. Tapi, laksanakan saja apa yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Misalkan dirinya yang menjadi ketua umum PMI, maka dirinya laksanakan saja soal kemanusiaan.

Jusuf Kalla tidak mempersoalkan mengenai metoda sosialisasi Pancasila kepada para siswa yang menggunakan cara cerdas cermat. Dia menilai hal itu biasa saja. Namun, Jusuf Kalla mengingatkan agar hal itu jangan sampai menjadi hal yang utama.

“Saya takutnya nanti Pancasila hanya menjadi bahan cerdas cermat,” kata Jusuf Kalla.

 

Sumber : http://www.republika.co.id

Kategori:Tokoh

Gubernur Imbau Pengelola PT Hadirkan Empati Melalui Pendidikan Karakter

Makassar, –Gubernur Sulsel Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MSi MH, mengimbau agar semua pengelola perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menumbuhkan empati mahasiswa melalui pendidikan karakter. Hal itu dikatakan Syahrul dalam sambutannya, usai membuka Seminar Pendidikan Dalam Rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2012, yang digelar di Ball Room Gedung Graha Pena, Makassar, Senin (30/4).

“Jangan sampai generasi muda kita terdidik tapi egois dan kehilangan empati. Karenanya, pendidikan karakter menjadi penting,” kata Syahrul.

Jika seseorang hanya dibekali ilmu tanpa pendidikan karakter, lanjut Syahrul, ke depannya mereka akan menjadi generasi yang korup. Bahkan, mereka akan menjadi kepribadian yang mudah berubah-ubah ketika dipengaruhi transaksional politik.

“Pendidikan karakter menjadi penting, khususnya dalam membangun nilai-nilai kearifan lokal. Memiliki agama yang bagus, hati yang kuat, karakter yang baik, dan juga kecerdasan serta komitmen,” ujarnya.

Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) itu, mengungkapkan, dari segi perencanaan, pihaknya berharap memposisikan Sulsel sebagai Center Point of Indonesia (CPI) dan pilar utama pembangunan nasional.

“Kita berharap, Sulsel menjadi hub utama pendidikan di Kawasan Timur Indonesia. Inilah yang menjadi visi kita ke depan. Kita harus cerdas memainkan peran, kalau tidak, kita tidak akan dapat apa-apa,” terangnya.

Syahrul menambahkan, dengan pendidikan karakter, Sulsel bisa menjadi contoh nasional. Termasuk dalam pelaksanaan pilkada dan berdemokrasi.

“Kita harus menjadi contoh dengan karakter kita yang tinggi. Inilah yang harus kita dorong dengan menghadirkan empati melalui pendidikan karakter,” imbuhnya.

Sementara, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Nitro, Dr Agus Arman MSi, mengatakan, pendidikan karakter menjadi sesuatu yang penting dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas. Apalagi, jika mampu terintegrasi dengan nilai-nilai kearifan lokal.

“Harapan kita adalah terintegrasinya pendidikan karakter dengan sistem pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Dr Agus juga berterima kasih atau program beasiswa doktoral dari Pemprov Sulsel yang banyak dimanfaatkan perguruan tinggi untuk peningkatan kualitas pendidikan di Sulsel.

“Kami sangat berterima kasih atas beasiswa doktoral yang diprogramkan Pemprov Sulsel untuk peningkatan kualitas pendidikan di daerah ini,” imbuhnya.

Turut hadir dalam acara tersebut, Komisaris Utama Fajar Group HM Alwi Hamu, Ketua Dewan Pendidikan Sulsel Prof Dr Halide, dan pimpinan perguruan tinggi swasta se Sulsel. (Dewi)

Sumber: http://cakrawalaberita.com/provinsi/gubernur-imbau-pengelola-pt-hadirkan-empati-melalui-pendidikan-karakter