Arsip

Posts Tagged ‘al qur’

Nasehat untuk diriku dan Sahabatku para Da’i

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Jazakumullah, al ‘ulama al ahibbaa’ fillah..

Arifin mohon maaf lahir batin.

Ikhwah fillah

Persoalan terbesar bagi umat Islam saat ini yang mengalami kekalahan di semua lini, politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, bahkan semua aspek kehidupan karena umat Islam telah meninggalkan Islam, meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, dan sampai puncaknya adalah krisis ukhuwah. Bukan hanya bagi umat Islam, bahkan bagi ulamanya sendiri.

Ikhwah fillah

Kenapa kita tidak punya haibah? prestise di dunia, di negeri sendiri? Pada lingkungan kita sendiri kita tidak punya haibah, karena kita tidak punya al-quwwah, kekuatan. Kenapa tidak punya al-quwwah? karena tidak punya wahdah, kita sejujurnya belum bersatu, tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta… (Al-Hasyr, 59: 14)

Kesannya saja, retorikanya kita bersatu, sebenarnya kita masih ingin eksis dengan jati diri masing-masing, mazhab masing-masing, pendapat, kelompok, organisasi masing-masing.

Kenapa kita gak punya wahdah? ya… karena kita mengalami yang disebut dengan ukhuwah, saling cinta karena Allah, saling tolong karena Allah, saling menghargai karena Allah, saling mendo’akan karena Allah, saling mendukung karena Allah, saling menutupi aib karena Allah.

Kadang tidak perlu duduk bersama, tapi hati bersama itu jauh lebih utama. Dan tentu jauh lebih afdhal duduk bersama dan hati kita bersama seperti shaf shalat berjama’ah.

Nah… kenapa tidak mengalami kekuatan ukhuwah itu? karena kita mengalami krisis iman. Allah, ridha-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, hidayah-Nya, berkah-Nya, Rasul-Nya, akhirat-Nya bukan menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap aktifitas kita.

Maaf, mungkin ini terlalu kasar… Bahasanya agama, tapi hatinya dunia,

…وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ…

(Ali ‘Imran, 3: 152)

Kelumpuhan terjadi bagi umat Islam dan terutama para juru dakwah adalah karena mereka lebih melihat ghanimah ketimbang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ikhwah…

Kalau Allah dan Rasul dan akhirat menjadi tujuan dan orientasi dalam setiap harakah dakwah kita, maka kita akan mengedepankan, mengutamakan dakwah, itu yang menjadi skala prioritas, main goal, dalam semua aktifitas kita, dakwah, dakwah, dakwah, tanpa diundangpun dakwah. Kita menunggu undangan, baru dakwah.

Ulama yang terbaik itu ulama air hujan, yang menghujani siapa pun, minimal ulama mata air yang orang datang rindu kepadanya. Jangan jadi air pam, air pam itu kalau gak diundang, gak keluar dia, kalau gak dibayar gak keluar dia, gak tsiqah dalam dakwah, memilah milih dalam dakwah, akhirnya retorika-retorika saja, intinya dia mencari duit.

Ini ngamen ya ikhwah, atau menjadi juru dakwah air comberan, munafik, dia berbuat maksiat.

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Ash-Shaff, 61: 3)

Nah… dakwah kita utamakan, kita berkumpul karena kita mengutamakan dakwah, kita bisa bersama karena mengutamakan dakwah. Jadi benang tasbih walaupun bijiannya warna warni, kalau benangnya adalah dakwah, kita akan bisa bersama ya ikhwah.

Islam bisa berkembang karena dakwah, Rasul menyebarkan dakwah, lalu dilanjutkan para sahabat. Sahabat wafat, dilanjutkan tabi’ut tabiin, lalu salafus shalih. Dan kita bisa begini pun karena dakwah, maka dakwahlah utamakan.

Dimulai dakwah pada diri sendiri, fardiyah, ahliyah, keluarga kita, lalu sahabat-sahabat kita, lalu khususiah orang-orang penting, lalu ijtima’iyah, tabligh, ta’lim, kemudian ‘umumiyah, siapapun didakwahi tanpa merasa paling suci.

Kemudian kalau dakwah yang menjadi prioritas, maka yang kedua adalah ukhuwah. Nah… buahnya dari orientasi dakwah itu ukhuwah. Banyak kita berbeda paham dengan kawan-kawan.

Misalnya Arifin, ada yang membid’ahkan zikir, Arifin sayang kepada kawan-kawan yang membid’ahkan zikir. Tidak ada masalah, tidak penting perbedaan itu, yang penting ukhuwahnya, yang penting dakwahnya.

Hanya karena perbedaan qunut… Ndak penting perbedaan itu, yang penting dakwahnya, ukhuwahnya, ndak penting zikir berjama’ah itu, yang penting ummat itu bertaubat dan sebagainya, itu yang penting.

Jadi hal-hal yang kecil yang masih persoalan furu’iyah bukan ushuliyah, kecuali yang sudah difatwakan jelas, bayan, clear, oleh Majelis Ulama Indonesia. Ada yang kita bersama, ada yang tidak bisa kita bersama.

Kemudian yang ketiga.. kalau sudah dakwah yang menjadi prioritas maka ukhuwah. Kalau “iyyaka na’budu wa iyyaka nast’ain” kalau Allah menjadi tujuan kita “na’budu”, kami beribadah bersama, kami mohon pertolongan kepada Allah, kami.. bukan aku.. kami… ‘aku’, ‘kamu’.. lebur menjadi ‘kami’. “shaffan ka annahum bunyaanun marshush” (Ash-Shaff, 61: 4).

Nah, kemudian yang ketiga: maslahah. Kalau sudah ukhuwah, maka ke-maslahah-nya yang dikedepankan. Maslahahnya apa?

Kita di samping masjid Az-Zikra ada mushalla yang berbeda, yang mereka tidak sependapat dengan speaker (aspek) anti-speaker. Mushallanya hancur, bocor, kita bangunkan. Subhanallah… gak ada masalah speaker nggak speaker, maslahahnya untuk ummat biar bisa shalat di mushalla itu. Ya… Allah… ini kemaslahahan yang harus dikedepankan setelah ukhuwah dan prioritas dakwah.

Maka Arifin bahagia sekali, walaupun keadaan hanya bisa melewati ini, tapi Arifin menyayangi semua, ayah, ikhwah fillah, kawan-kawan, juru-juru dakwah.

Ini saatnya bukan lagi retorika-retorikaan, bukan main-main lagi dakwah, bukan lagi eksis-eksis sendirian lagi, ndak perlu lagilah dengan ge-er dengan pujian, ndak perlu lagi sakit hati dengan hinaan.

Saatnya kita menjadi teladan bagi ummat, jadi mata air, jadi cahaya, apa yang di hati itu yang difikirkan, apa yang difikirkan itu yang diucapkan, apa yang diucapkan itu diamalkan, istiqamah, tsiqah, lahir batin ta’at kepada Allah jalla jalaluhu, figur teladan bagi ummat, tidak main-main, tidak lagi menjual-jual, main-main kata, penuh dengan gaya-gaya.

Tidak perlu lagi takut dengan caci maki, hinaan, gosip. Dakwah liyuhiqqal haqqa wayubthilal bathila walau karihal mujrimun… (Al-Anfaal, 8: 8). Keniscayaan akan dicaci maki oleh orang mujrimun itu.

Fitnah itu memang menyakitkan, kotoran, tapi bagi orang beriman dia bisa olah menjadi pupuk yang menyenangkan, pupuk yang menyuburkan keimanannya.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

(Al Furqan, 25: 63)

Ketahuilah ya ikhwah, yang paling pantas berdakwah itu siapa? Hamba Allah yang istiqamah, yang tidak main-main dengan kata-katanya, bukannya surat Fushshilat (menerangkan),

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا…

(Fushshilat, 41: 30)

Lihat setelah itu,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

(Fushshilat, 41: 33)

Mereka yang istiqamah lalu mereka berdakwah,

Ikhwah, al lughah al madzuqah, bahasa itu rasa, ummat itu bisa merasakan mana main-main kata, mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqamah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang benar-benar tulus mencintai ummat.

Maaf ikhwah, kalau Arifin menyampaikan ini. Inilah keadaan sekarang, mudah-mudahan Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridha-Nya, dalam rahmat-Nya, dalam ampunan-Nya, dan hidayah-Nya, dalam berkah-Nya, dalam harakah dakwah-Nya. Kita bersama walaupun tidak harus duduk kita bersama, suatu saat kita duduk bersama lalu kita bersama-sama.

Puncak perjuangan kita adalah tegaknya syari’at Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتْوبُ إِلَيْكَ

Banyak salah Arifin, uhibbukum fillah.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.

(Ukasyah/arrahmah.com)

Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini…

Iklan

Rahasia Kunci Rezeki Yang Harus Kita Ketahui

success-key

Inilah rahasia kunci rezeki yang harus kita ketahui. Paling kurang terdapat 10 kunci pembuka rezeki yang perlu di lakukan secara serius oleh setiap individu Mu’min yang berdasarkan panduanAl-Qur’an dan al-hadits sebagaimana yang tersebut dalam buku ‘Pembuka Kunci-kunci Rezeki Berdasarkan kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah’ oleh Doktor Fadhl llaahi iaitu sebagai berikut:

Kunci Rezeki Yang Pertama: Istighfar dan Taubat
i. Hendaklah dia menahan dari melakukan maksiat (tidak lagi mengulanginya lagi).
ii. Hendaklah dia menyesal terhadap ketelanjurannya.
iii. Hendaklah dia bercita-cita untuk tidak mengulanginya lagi.
iv. Hendaklah dia melepaskan hak tuannya. Hendaklah memulangkan semula harta kepada tuannya atau meminta maaf atau meminta kemaafannya. Tanpa salah satu ciri-ciri ini, menurut para ulama, maka taubatnya adalah tidak sah.

Kunci Rezeki Yang Ke-2: Taqwa
Memelihara diri dari perkara yang mencetuskan dosa; dan yang demikian di peroleh dengan meninggalkan perkara yang haram. Manakala ketaqwaan itu dapat disempurnakan dengan meninggalkan sebahagian perkara yang harus (mubaah).

Kunci Rezeki Yang Ke-3: Berserah kepada Allah.
Berserah itu tidaklah bermaksud meninggalkan usaha (bekerja keras); dan sungguhnya seseorang Islam perlu bekerja keras, bersungguh dan berusaha mencari sumber pendapatan. Akan tetapi janganlah pula berpegang kepada kerja keras, kesungguhan dan usaha semata-mata (tanpa memohon kepada Allah); malah hendaklah beri’tiqad (mempercayai) bahawa semua perkara itu adalah kepunyaan Allah; dan sesungguhnya segala rezeki itu adalah daripada Allah, Tuhan Yang Maha Tunggal sahaja (tiada lah tuhan yang lain selain Allah).

Kunci Rezeki Yang Ke-4: Bertumpu Ibadah kepada Allah.
Maksudnya bukanlah dengan cara meninggalkan usaha kehidupan dan duduk dalam masjid sewaktu malam dan siang, tetapi apa yang di kehendaki adalah menghadirkan hati dan tubuh di kala beribadah, terasa kusyu’ dan tunduk kepada Allah Yang Maha Tunggal, merasakan Kebesaran Allah Ta’aala dan merasakan bahawa dirinya sedang bermunajat dengan Tuhan maha Agung lagi Maha Berkuasa.

Kunci Rezeki Yang Ke-5: Susul-menyusul antara Haji dan Umrah.
Maksudnya hendaklah menjadikan salah satu antara keduanya ikut-mengikutkan, iaitu apabila kamu telah berhaji, maka hendaklah diikuti dengan umrah; dan apabila kamu telah ber‘umrah, maka hendaklah kamu berhaji; kerana keduanya saling ikut-mengikutkan (jika mampu).

Kunci Rezeki Yang Ke-6: Menghubungi Keluarga
Kata silaturrohim (menghubungi keluarga) adalah menggambarkan berlaku baik kepada keluarga atau kerabat yang mempunyai pertalian keturunan dan sebab hubungan perkahwinan; juga menggambarkan hendaknya bersifat lemah-lembut dan bersimpati kepada mereka dan mengawasi keadaan-keadaan mereka.

Kunci Rezeki Yang Ke-7: Berbelanja Di Jalan Allah
Maksud berbelanja (disini) ialah : Berbelanja yang digalakkan dalam Agama seperti berbelanja kepada orang fakir dan berbelanja di jalan Allah untuk menolong Agama (Islam).

Kunci Rezeki Yang Ke-8: Berbelanja Kepada Penuntut Ilmu Islam.
Berbelanja kepada penuntut atau orang-orang yang menumpukan masanya untuk mencari ilmu Agama Islam (Syara’).

Kunci Rezeki Yang Ke-9: Membantu Orang Yang Lemah (Miskin).
Mencari keridhaan Allah dan Rasulnya dengan membantu dan menolong orang- orang fakir (iaitu amat miskin atau orang yang memperoleh pendapatan yang serba tidak mencukupi). Allah akan menolong bagi sesiapa yang berbuat demikian bagi menentang musuh-musuhnya (di kalangan orang-orang Kaafir) dan juga merezekikannya (sehingga mereka menjadi kaya).

Kunci Rezeki Yang Ke-10: Berhijrah Dijalan Allah.
Maksud hijrah sebagaimana kata Al-Imaam ar-Raaghib Al-Ashfahaani r.a. ialah “jalan keluar dari Negara kufur (syirik) ke Negara beriman (tauhid), sebagaimana perlakuan penghijrah dari kota Mekah ke kota Madinah.’Hijrah itu wajib – sebagaimana kata as-sayyid Muhammad Rasyiid Ridha: “Dimana kewujudan berhijrah di jalan Allah Ta’aala bagi menegakkan AgamaNya sebagaimana yang diwajib dan dikasihi Allah Ta’aala, di mana orang-orang Mu’min di kehendaki menolong orang-orang yang dizalimi orang-orang Kafir.”

Sumber: Ebook Kunci-Kunci Rezeki Menurut Al Quran dan Sunnah. Tags: download, gratis, free, ebook, buku rezeki diantar, kunci rezeki, rizki, kunci rezeki yang hilang, kunci-kunci rezeki, murah rezeki, rezeki berlimpah, rezeki tak terduga, rizki melimpah, rezeki berkah, rahasia rezeki, keajaiban rezeki, rezeki diantar.

Sumber : http://www.sholat-dhuha.info/2012/03/ini-dia-rahasia-kunci-rezeki-yang-harus.html#.UZemD8oxAlg

JANJI ALLAH SWT

( PESAN PENDEK ) JANJI ALLAH SWT – Gak ada yg lebih indah dibanding kehidupan yg yakin dgn Allah, yakin dgn kebenaran janji-Nya. Itulah karunia yg didpt jika kita slalu bersama Allah. Gak semua hati bisa menyambut, kecuali yang cinta kebenaran itu sendiri bagi diri dan saudaranya untuk saling berbagi lezatnya iman. Dibenaknya ia akan selalu tunduk kepada dua petunjuk, dimana Rosulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk dipegang, agar tidak tersesat dalam kehidupan, Dua petunjuk itu ialah Al Qur’an dan Sunnah. Nah apakah keseharian kita selalu dalam aturan dua petunjuk tsb, atau malah kebalikannya ?

Sumber : Yusuf Mansur Network

 

 

 

Kategori:Agama Tag:, ,

I J T I H A D

1. Definisi dan Fungsi Ijtihad

Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan as-Sunnah. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin Mas’ud sebagai berikut : ” Berhukumlah engkau dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya pada dua sumber itu, maka ijtihadlah “. Kepada �Ali bin Abi Thalib beliau pernah menyatakan : ” Apabila engkau berijtihad dan ijtihadmu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi apabila ijtihadmu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu pahala “. Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu mencakup dua pengertian :

a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

b. Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.

Adapun dasar dari keharusan berijtihad ialah antara lain terdapat pada al-Qur’an surat an-Nisa ayat 59.

2. Kedudukan Ijtihad

Berbeda dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, ijtihad terikat dengan ketentuan-ketentuan sebagi berikut :

a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif.

b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain.

c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan � ibadah mahdhah. Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah.

d. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

e. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motifasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.

3. Cara ber-Ijtihad

Dalam melaksanakan ijtihad, para ulama telah membuat methode-methode antara lain sebagai berikut :

a. Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah diterangkan hukumnya oleh al-Qur’an / as-Sunnah, karena ada sebab yang sama. Contoh : Menurut al-Qur’an surat al-Jum’ah 9; seseorang dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum’at. Bagaimana hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang dilakukan pada saat mendengar adzan Jum’at ?  Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits tidak dijelaskan. Maka hendaknya kita berijtihad dengan jalan analogi. Yaitu : kalau jual beli karena dapat mengganggu shalat Jum’at dilarang, maka demikian pula halnya perbuatan-perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum’at, juga dilarang. Contoh lain : Menurut surat al-Isra’ 23; seseorang tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang, atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut. Yaitu ketika � Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw : Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang berpuasa ? Jawab �Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu teruskanlah puasamu.

b. Ijma’ = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu persepakatan ulama-ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika �Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah, maka Rasulullah mengatakan : ” Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan itu sebagai bahan musyawarah “. Yang menjadi persoalan untuk saat sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.

c. Istihsan = preference. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar 18.

d. Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at. Perbedaan antara istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur’an / al-Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang secara tertulis exsplisit dalam al-Qur’an / al-Hadits.


 

 

 

SHALAWAT AN-NUURID DZAT

SHALAWAT AN-NUURID DZAT
(SHALAWAT PERISAI DIRI)

PERISAI DIRI DARI MARABAHAYA,
PERISAI DIRI DARI SEGALA MACAM PENYAKIT
PERISAI DIRI DARI SEGALA SENGKALA JODOH,
PERISAI DIRI DARI SEGALA KESEMPITAN RIZQI,
PERISAI DIRI DARI SEGALA MACAM KESULITAN HIDUP,
MEMBUKA PINTU KESUKSESAN DAN KEBERUNTUNGAN,
MEMPERKUAT KEIMANAN DAN TAQWA

***

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”
QS: (Al Ahzab : 56)

Shalawat adalah permohonan kepada Alloh SWT agar memberikan keberkahan dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya. Apabila Shalawat dijadikan do`a, maka menjadikan do`a tersebut segera naik ke langit.

Tidak diragukan lagi bahwasanya shalawat kepada Nabi saw memiliki keutamaan dan fadhilah yang luar biasa bagi orang yang mengamalkannya. Kesimpulan ini didukung oleh dalil-dalil dari al-Qur-an dan as-Sunnah yang shahih. Untuk mendapatkan fadhilah tersebut, maka orang berlomba-lomba memperbanyak shalawat.

Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu Shalawat Nabi SAW, yang disebut dengan Shalawat An-Nuurid Dzat, cukup terkenal di kalangan pesantren dan spiritualis. Banyak sekali manfaat yang dapat dirasakan. Saya yakin andapun akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dalam hidup anda karena ridho Allah swt. Amiien.

Sholawat An Nuuridz Dzaat:

sholawat annurid dzat

“Allohumma sholi wa salim wa barik ala sayidina muhammad. Annurid’dzati was sirris saari fi sairil asmai
wash shifati wa ala alihi wa shobihi wa salim”

(Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada junjungan kami Muhammad, cahaya diri dan rahasia yang beredar dalam seluruh asma dan sifat, juga limpahkan hal yang sama kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya)

ADAPUN CARANYA SEBAGAI BERIKUT:

Kerjakan Puasa 3 hari berturut-turut. Dimulai hari Selasa.
Sebelum mulai tirakat puasa, lakukan pembersihan diri dulu dengan cara mandi jinabat. Dilakukan pada hari Senin sore sebelum Mahgrib. Dengan niat seperti berikut ini : “Hamba berniat mandi jinabat untuk membersihkan diri dari semua kotoran lahir dan bathin karena Allah Ta’ala”.
Selama dalam masa puasa tersebut, perbanyaklah membaca sholawat An Nuuridz Dzaat. Misalnya setiap selesai sholat fardhu dibaca 21 kali dan tengah malam setiap selesai sholat Lail (tahajud / hajat ) dibaca 41 kali.
Dihari terakhir puasa, malam harinya (malam Jumat), jangan tidur sampai terbit matahari. Malam itu gunakan untuk sholat malam dan ber-dzikir membaca sholawat An Nuuridz Dzaat sebanyak 1440 kali.
Setelah selesai membaca shalawat 1440 x, lalu baca doa ini satu kali: “Dengan menyebut Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yaa Allah dengan hikmah-Mu bukakanlah diriku bagaikan terbukanya para ahli makrifat dan bentangkanlah rahmat-Mu terhadapku wahai Zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.”
Ritual selesai setelah matahari terbit di hari Jumat.
Kemudian setelah selesai masa puasanya, bacaan sholawat tersebut harus dibaca secara rutin setiap hari sebanyak 41 kali.

InsyaAllah, dengan selalu memohon ridho dan perlindungan Allah swt, ilmu spiritual ini akan bermanfaat bagi diri pribadi dan orang-orang yang kita sayangi. Semoga dijauhkan dari segala hal yang buruk dan merugikan. Dibukakan segala pintu kebaikan dan kesuksesan. Amiin.
KHASIAT :

Setelah anda melakukan pembangkitan energi spiritual sejati shalawat An-Nuurid Dzat diatas tadi dan tekun membaca wiridnya InsyaAllah ilmu ini sangat bermanfaat dalam kehidupan kita. Berikut ini beberapa manfaat yang pernah saya rasakan.

Antara lain untuk :

1. PERISAI DIRI / BENTENG GHAIB DARI SEGALA MARABAHAYA

Secara otomatis tubuh kita seperti terselimuti energi ghoib yang senantiasa melindungi dari segala ancaman yang bersifat merusak baik dari bangsa ghoib (sihir) maupun ancaman nyata seperti perampok, kerusuhan dan sebagainya. Caranya, biasakanlah sebelum berangkat berpergian membaca doa. Misalnya seperti ini:

“Allohumma sholi wa salim wa barik ala sayidina muhammad. Annurid’dzati was sirris saari fi sairil asmai wash shifati wa ala alihi wa shobihi wa salim”

“Bismillah tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah”
(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).

Maka InsyaAllah anda akan selamat sampai tujuan hingga pulang kembali ke rumah berkat perlindungan Allah swt.

2. KESELAMATAN DARI ANCAMAN SEGALA KEJAHATAN & KERUSUHAN

Apabila anda terdesak atau tiba-tiba dalam keadaan menghadapi marabahaya, kerusuhan massa, maka peganglah / tekan pusar sambil membaca :

Bismillaahil la-dzi laa ya-dhur-ru ma’asmihi syai-un fil ardhi walaa fis-samaa’i wahuwas samii’ul aliim
(Artinya : Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit tidak akan berbahaya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

“Yaa Qowiyu Yaa Matiin (3x)
(Yaa Tuhan Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kokoh)

Allahuma inni as alukas salamata” (3x)
(Yaa Tuhan selamatkanlah diriku)

Berkat perlindunganNYA anda akan selamat dari marabahaya apapun; pengeroyokan, kerusuhan dan tindakan destructif lainnya yang membahayakan keselamatan. InsyaAllah tetap selamat !

3. KESELAMATAN DARI ANCAMAN SENJATA TAJAM

Amalkanlah shalawat ini secara rutin InsyaAllah, dengan ijin-NYA anda tidak akan terjamah oleh serangan senjata tajam atau jenis senjata apapun selamanya.

4. BENTENG BADAN ANTI PENGEROYOKAN

Amalkanlah shalawat ini secara rutin InsyaAllah, dengan ijin-NYA anda terlindungi dari tindakan pengecut seperti pengeroyokan, ditikam dari belakang, fitnah, selamanya.

5. KEWIBAWAAN GANDA

Atas rahmat Allah setelah anda sering membaca wirid diatas, maka pancaran aura kewibawaan anda akan semakin luar biasa dan berpengaruh terhadap orang disekeliling anda. Sehingga kawan akan menjadi hormat dan lawan akan segan. Cara untuk menumbuhkan kewibawaan tersebut, cukup dengan kontak batin sambil tahan nafas sejenak :

Yaa Qowiyu Yaa Matiin (3x)
Memancarlah Perbawaku. Taklukan sukma orang ini terhadapku !!”

Saat tahan nafas dalam hati ucapkan kalimat diatas sambil membayangkan sinar / aura wibawa luar biasa keluar dari dalam diri memancar mempengaruhi sekitar anda. Lalu lepas nafas dan bernafas seperti biasanya.

Kalimat diatas bisa diganti terserah anda, yang penting niat harus kuat dan yakin. Bila anda tahu nama orangnya kata orang ini dalam setiap kontak batin dapat diganti nama orang tersebut.

6. REJEKI LANCAR DAN BAROKAH

Untuk melancarkan datangnya rejeki, maka bacalah secara rutin setiap habis sholat lima waktu sholawat diatas sebanyak 3 kali. Lakukanlah dengan istiqomah (tekun), insyaAllah rejeki akan datang dengan lancar.

Bila anda betul-betul dalam kondisi yang sangat membutuhkan, maka amalan diatas ada baiknya diiringi dengan puasa sunah selama 7 hari. Dan memohonlah kepada Allah swt Yang Maha Kaya lagi Maha Pemurah dan Maha Pemberi, dengan penuh pengharapan dan kekusyukan.

7. KELUARGA HARMONIS DAN JAUH DARI SEGALA PENYAKIT

Dengan sendirinya bila anda sering dan banyak membaca sholawat atas Nabi saw, seperti diatas, insyaAllah diri atau badan anda sehat dijauhkan dari segala macam penyakit badan dan penyakit hati. Keluarga hidup rukun sejahtera. Amiin.

Dari Abdullah Bin Amru bin Al Ash ra, telah mendengar Rasulullah saw bersabda : Siapa yang membacakan selawat untukku satu kali, Allah akan menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali.

Rahmat Allah swt itu meliputi segala sesuatu kebaikan (rejeki, kesehatan, keselamatan dll), baik untuk diri sendiri maupun orang lain/keluarga.

8. PENGASIHAN SEJATI (BUKA AURA)

Dengan penyelarasan energi kharismatik anda akan mempunyai daya Pengasih untuk menambah kepercayaan diri dan menumbuhkan kharisma, sehingga InsyaAllah akan diperlakukan dengan baik penuh welas asih oleh siapa saja.

Caranya sebelum berangkat pergi menemui seseorang, bacalah sholawat diatas 1 kali. Lalu baca kontak batin dibawah ini untuk menyelaraskan energi karismatik anda dengan orang yang dituju. Lalu tiupkan ke telapak tangan anda dan usapkan ke seluruh wajah.

“Bersinarlah daya pengasihku selimuti seluruh tubuhku.
Semua orang datanglah kepadaku dengan baik penuh
welas asih (cinta kasih) !!”

9. PENYEMBUHAN SEGALA MACAM PENYAKIT

Pengobatan ini bisa digunakan untuk penyembuhan diri sendiri atau orang lain.

Bacakanlah sholawat diatas pada segelas air putih (tawar) sebanyak kemantapan hati anda, bisa 3 kali, 7x atau 21 x atau 41x atau 99 kali. Air putih dalam keadaan sedang-sedang (tidak panas dan bukan air es).
Setelah selesai membaca tiuplah air tersebut.
Niatkan untuk memohon obat (kesembuhan) kepada Allah swt, atas penyakit yang diderita.
Lakukan beberapa kali sampai ada perubahan yang membaik. Lakukan dengan penuh konsentrasi, yakin dan tawakal kepada Allah swt.

10. MENGISI ENERGI SPIRITUAL (GHAIB) KEDALAM SUATU BENDA

Bila anda ingin mentransfer energi spiritual ke suatu benda misalnya batu cincin / akik, serban, tasbih, keris dan sebagainya agar mengandung energi ghoib untuk tujuan kewibawaan, pengasihan atau tujuan lainnya bagi yang memakainya.

Caranya mudah, cukup rendamkan kedalam air kelapa hijau yang telah dibacakan Shalawat An Nuurid Dzat sebanyak 1440 kali. Lalu agar energi spiritualnya tidak mudah hilang, luntur, menyusut maka bacakan ayat ini 1 kali pada benda yang telah selesai direndam tersebut :

“Bismillahirrohmanirrohim. Innama yastajibul ladziina yasmau’na wal mauta yab’atsuhumul lahu tsuma ilaihi yurjaun” (1x)

Dilanjutkan dengan membaca sholawat An Nuurid Dzat 14 kali.

Nb. Tatacara meritual air kelapa adalah seperti diatas, yaitu Puasa 3 hari, dimulai hari Selasa. Pada malam Jumat, rendamlah benda tersebut kedalam air kelapa kemudian dibacakan shalawat 1440 kali.

11. DAN LAIN-LAIN, SESUAI NIAT DAN KEHENDAK ANDA

Bila anda tekun mewirid atau membaca amalan shalawat ini, insyaAllah dengan ijin-NYA, anda dapat mengembangkan manfaat dari ilmu ini untuk berbagai keperluan sesuai hajat anda, dan dengan metode atau cara-cara yang anda mengerti, selama masih diridhoi Allah swt. Amiin.

 

 

 

Mutiara Makrifat Syekh Abdul Qodir Jailani

Syekh Abdul Qodir Jailani, lahir di Jilan pada tahun 470 Hijriyyah. Tahun 478 H pergi dari Jilan ke kota Baghdad untuk belajar Fiqih Islam Madzab Hambaliyyah serta mengikuti jalan para sufi. Pada tahun 521 H Syekh Abdul Qodir Jailani menjadi da’i dan mulai terkenal. Sejak itu pula Syekh Abdul Qodir Jailani berpakaian ulama’ dan tarikatnya mulai meluas ke berbagai kawasan Islam seperti Yemen, Syria, Mesir, kemudian tersebar sampai ke India, Turkey, Africa, Asia, Indonesia dan menjadi tarikat yang besar. Tariqat Qodiriyyah sampai sekarang tetap diikuti berjuta-juta orang di seluruh dunia. Syekh Abdul Qodir Jailani meninggal pada tahun 561 H dan di makamkan di Baghdad, Iraq. karya-karya Syekh Abdul Qodir Jailani : Tafsir Al Jilani, al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq, Futuhul Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, Jala’ al-Khawathir, Sirr al-Asrar, Asror Al Asror, Malfuzhat, Khamsata “Asyara Maktuban, Ar Rasael, Ad Diwaan, Sholawat wal Aurod, Yawaqitul Hikam, Jalaa al khotir, Amrul muhkam, Usul as Sabaa, Mukhtasar ulumuddin

Syekh Abdul Qodir Jailani seorang faqih yang menguasai ushul fiqh dan fiqh , dan mengaitkan tasawuf dengan al-Qur’an maupun sunnah Nabi Muhammad. Mengenai hal ini Ibnu Taymiyyah memuji Syekh Abdul Qodir Jailani, “…. Selama Anda masih memelihara diri Anda sendiri, maka anda masih terhalang dari Tuhan anda,” dan ucapan lagi, “Tanda cinta kepada akhirat adalah sikap asketis terhadap terhadap hal-hal duniawi. Dan tanda cinta kepada Allah adalah ketidak butuhan terhadap hal-hal selain-Nya.”

Mengenai al-Hallaj, Syekh Abdul Qodir Jailani, ber kata: “Husain al-Hallaj telah keliru. Akibatnya, pada jamannya tidak ada yang menyambut tangannya.”

Syekh Abdul Qodir Jailani berkata, “Aku melihat Rasulallah SAW sebelum dzuhur, beliau berkata kepadaku, “anakku, mengapa engkau tidak berbicara?”. Aku menjawab, “Ayahku, bagaimana aku yang bukan arab ini berbicara di depan orang-orang fasih dari Baghdad?”. Ia berkata, “buka mulutmu”. Lalu, beliau meludah 7 kali ke dalam mulutku kemudian berkata, “bicaralah dan ajak mereka ke jalan Allah dengan hikmah dan peringatan yang baik”. Setelah itu, aku salat dzuhur dan duduk serta mendapati jumlah yang sangat luar biasa banyaknya sehingga membuatku gemetar. Kemudian aku melihat Ali r.a. datang dan berkata, “buka mulutmu”. Ia lalu meludah 6 kali ke dalam mulutku dan ketika aku bertanya kepadanya mengapa beliau tidak meludah 7 kali seperti yang dilakukan Rasulallah SAW, beliau menjawab bahwa beliau melakukan itu karena rasa hormat beliau kepada Rasulallah SAW. Kemudian, aku berkata, “Pikiran, sang penyelam yang mencari mutiara ma’rifah dengan menyelami laut hati, mencampakkannya ke pantai dada , dilelang oleh lidah sang calo, kemudian dibeli dengan permata ketaatan dalam rumah yang diizinkan Allah untuk diangkat”. Ia kemudian menyitir, “Dan untuk wanita seperti Laila, seorang pria dapat membunuh dirinya dan menjadikan maut dan siksaan sebagai sesuatu yang manis.”

Dalam beberapa riwayat didapatkan bahwa Syekh Abdul Qodir Jailani berkata, “Sebuah suara berkata kepadaku saat aku berada di pengasingan diri, “kembali ke Baghdad dan ceramahilah orang-orang”. Aku pun ke Baghdad dan menemukan para penduduknya dalam kondisi yang tidak aku sukai dan karena itulah aku tidak jadi mengikuti mereka”. “Sesungguhnya” kata suara tersebut, “Mereka akan mendapatkan manfaat dari keberadaan dirimu”. “Apa hubungan mereka dengan keselamatan agamaku/keyakinanku” tanyaku. “Kembali (ke Baghdad) dan engkau akan mendapatkan keselamatan agamamu” jawab suara itu.

Suatu ketika, saat Syekh Abdul Qodir Jailani berceramah Syekh Abdul Qodir Jailani melihat sebuah cahaya terang benderang mendatangi Syekh Abdul Qodir Jailani. “Apa ini dan ada apa?” tanya Syekh Abdul Qodir Jailani. “Rasulullah SAW akan datang menemuimu untuk memberikan selamat” jawab sebuah suara. “Sinar tersebut semakin membesar dan aku mulai masuk dalam kondisi spiritual yang membuatku setengah sadar. Lalu, aku melihat Rasulullah SAW di depan mimbar, mengambang di udara dan memanggilku, “Wahai Abdul Qadir”. Begitu gembiranya aku dengan kedatangan Rasulullah SAW, aku melangkah naik ke udara menghampirinya. Ia meludah ke dalam mulutku 7 kali. Kemudian Ali datang dan meludah ke dalam mulutku 3 kali. “Mengapa engkau tidak melakukan seperti yang dilakukan Rasulallah SAW?” tanyaku kepadanya. “Sebagai rasa hormatku kepada Rasalullah SAW” jawab beliau.

Rasulullah SAW kemudian memakaikan jubah kehormatan kepada Syekh Abdul Qodir Jailani. “apa ini?” tanya Syekh Abdul Qodir Jailani. “Ini” jawab Rasulallah, “adalah jubah kewalianmu dan dikhususkan kepada orang-orang yang mendapat derajad Qutb dalam jenjang kewalian”. Setelah itu, Syekh Abdul Qodir Jailani pun tercerahkan dan mulai berceramah.

Syekh Abdul Qodir Jailani mengungkapkan, “Saat Nabi Khidir As. Datang hendak mengujiku dengan ujian yang diberikan kepada para wali sebelumku, Allah membukakan rahasianya dan apa yang akan dikatakannya kepadaku. Aku berkata kepadanya, “Wahai Khidir, apabila engkau berkata kepadaku, “Engkau tidak akan sabar kepadaku”, aku akan berkata kepadamu, “Engkau tidak akan sabar kepadaku”. “Wahai Khidir, Engkau termasuk golongan Israel sedangkan aku termasuk golongan Muhammad, inilah aku dan engkau. Aku dan engkau seperti sebuah bola dan lapangan, yang ini Muhammad dan yang ini ar Rahman, ini kuda berpelana, busur terentang dan pedang terhunus.”

Mengenai Tarikat Qodiriyyah, Sheikh ‘Ali ibn Hiti berkata, ” Tarikatnya adalah tauhid semata, disertai kehadiran dalam sikap sebagai seorang hamba Tuhan.” sedangkan ‘Addi ibn Musafir berkata pula, “Tarikarnya adalah kepasrahan pada alur-alur ketentuan Tuhan denganpersepakatan kalbu dan ruh, penyatuan batin dan lahir, dan penyucian diri dari tabiat-tabiat jiwa.”

Sumber : http://walijo.com