Arsip

Posts Tagged ‘kerat’

Catatan tentang Kerancuan Makna dan Tujuan Hidup

Ketika Rafly dari Aceh melantunkan lagunya berjudul Do’a,aku bagai tersentak! Persis seperti itulah apa yang dilenguhkan Rab’ia al-Adawiya -Sang Sufi wanita termasyhur- dalam munajatnya kepada Sang Ilahi beratus tahun yang lampau semasa Khilafah Abbasiyah berkuasa di Baghdad.
Coba simak lantunan Rafly berikut ini..

DO’A

Tuhan, apapun karunia-Mu untukku di Dunia
Hibahkan pada-Mu sungguh-sungguh
Dan apapun karunia-Mu untukku di Akhirat
Persembahkan pada Sahabat-sahabat-Mu

Oh, bagiku cukuplah Engkau
Oh, bagiku cukuplah Engkau..

Bila sujudku pada-Mu
Karena takut Neraka
Bakar aku dengan apinya,

Bila sujudku pada-Mu
Karena dapat Surga
Tutup untukku Surga itu..

Namun bila sujudku demi Kau semata
Jangan palingkan wajah-Mu

Aku rindu menatap keindahan-Mu
Aku rindu menatap keindahan-Mu.

Apa yang dapat kita pelajari adalah tentang substansi hidup. Hikmah yang kita renggut adalah tentang tujuan hidup sesungguh-sungguhnya, sebenar-benarnya, se-sejatinya dan seutuhnya. Bahwa kehadiran kita disini pada saat ini dan untuk selanjutnya hanyalah untuk mengabdi kepada-Nya semata. Bukan untuk mengharapkan sekerat-dua kerat balasan bernama pahala ataupun kenikmatan surgawi. Karena itu semua pada hakikatnya hanyalah materi dan materialisme.

Bisakah kita belajar ikhlash dalam mengikhlash-kan sesuatu tanpa tendensi untuk mengharapkan sesuatu? Sesuatu bernama ke-ikhlash-an tanpa merasa perlu menyebut-nyebut kata ‘ikhlash’. Mengapa kita harus selalu mengharap suatu imbalan atas setiap detik perbuatan baik kita jika imbalan terbaik adalah dan hanyalah Allah SWT? Bersediakah kita mengganti Dia dengan sesuatu yang lain yang sama sekali tidak sepadan dan bahkan lebih rendah dari makhluk bernama manusia ini? Itulah hakikat Surat al-Ikhlash bagi yang mengerti.

Maka rangsangan motivasi bernama Surga serta ancaman bernama Neraka tidak akan lebih mengena selain hanya kepada insan-insan yang berpengetahuan lemah. Persis seperti dahulu saat usia kita tujuh atau sepuluh tahun ketika orangtua kita menyuruh melaksanakan Sholat Maghrib dengan tangan kanan memegang bon-bon sementara tangan kiri memegang lidi. Lalu saat kita bersedia ikut sholat kita dihadiahi si bon-bon sementara kalau kita membandel maka si lidi yang beraksi. Dus, setelah kita dewasa si bon-bon bersalin rupa menjadi pahala dengan imbalan Surga, adapun si lidi berganti menjadi dosa dengan konsekwensi Neraka.
Lalu hidup dan kehidupan inipun disederhanakan sekadar mengejar Surga dan menghindari Neraka. Banyak diantara saudara seiman kita yang mengidap ‘penyakit’ dengan gejala seperti itu, sibuk beribadah dan menghitung-hitung amal alias pahala. Sebagian malah seperti kesurupan karena lalu ‘meninggalkan’ dunia yang dianggap sebagai penghambat. Kitapun bertanya, ‘apakah ibadah itu hanya sekadar sholat, puasa atau yang sejenisnya? Apakah menghidupi dan memberi makan keluarga bukan sebuah amal shalih atau ibadah?
Kita terlupa bahwa Surga dan Neraka hanyalah permainan semu, hanya kamuflase, hanya makhlukiyah, hanya materi semata. Kita alpa mengambil makna bahwa semua itu hanyalah ciptaan Ilahi –Tuhan yang tidak diciptakan. Maka pertanyaan utama kita adalah: ‘apakah tidak mencukupi bahwa sebaik-baik tujuan paling hakiki ialah Allah SWT?’.
Maka makna hidup ialah mengabdi (baca: ber-ibadah) dan tujuan hidup adalah Allah azza wajalla. Tidak lebih, tidak kurang.
“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” QS. Al-Dzaariyat/51:56.

Iklan