Archive

Posts Tagged ‘puskesmas’

2017 Seluruh Puskesmas Ditargetkan Terakreditasi

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan melalui Dinas Kesehatan (Diskes) Pelalawan, menargetkan pada 2017 mendatang, semua puskesmas yang ada di daerah ini telah terakreditasi.

Saat ini, Diskes masih dalam taraf sosialisasi pada kepala puskesmas terkait hal ini. Pasalnya, untuk akreditasi puskesmas diperlukan instrumen-instrumen yang mendukung di antaranya gedung yang memadai serta representatif, sumber daya manusia (SDM)-nya dan peralatannya yang menunjang.

��Dan jika bicara soal itu, maka jelas berkaitan dengan anggaran kami di APBD Pelalawan. Tapi kami sendiri mendukung hal ini dengan tahap awal menyosialisasikan akreditasi puskesmas pada kepala puskesmasnya,�� terang Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan Dr Endit Romo Pratiknyo.

Endit menjelaskan, bahwa rencananya setiap tahunnya ada 3-4 puskesmas di daerah ini yang bisa diakreditasikan. Pasalnya, agar sebuah puskesmas bisa mendapatkan status akreditasi, maka puskesmas tersebut harus bisa memenuhi 155 kompetensi dasar atau kasus yang bisa dilayani di Puskesmas itu.

��Karena itu, jika sudah akreditasi, maka pelayanan di puskesmas akan sama dengan di rumah sakit-rumah sakit besar. Sederhananya, jika puskesmas sudah terakreditasi, maka pelayanan puskesmas seperti puskesmas di Kecamatan Kuala Kampar akan sama dengan pelayanan puskesmas di Jakarta. Jadi, untuk mendapatkan akreditasi itu, ya tidak main-main juga, karena banyak persyaratan yang harus dipenuhi,�� paparnya.

Disinggung terkait sanksi yang diberikan oleh Kemenkes jika pada 2015 mendatang suatu daerah belum memberlakukan akreditasi pada puskesmas sehingga BPJS tidak bisa diterapkan, Endit mengungkapkan, bahwa sanksi tersebut memang benar. Namun, tidak sefrontal seperti itu. Pasalnya, akreditasi bertujuan untuk meningkatkan pelayanan dasar pada masyarakat. Jika akreditasi diterapkan dengan serba terburu-buru hanya untuk mengejar target, maka jelas hasilnya akan mengecewakan.

��Apalagi untuk akreditasi itu, hal dasar yang paling utama adalah gedung yang memadai, peralatannya lengkap dan SDM-nya pun memadai. Nantinya, jika puskesmas sudah terakreditasi, maka Rumah Sakit tidak menjadi Puskesmas terbesar lagi. Kalau sekarang kan, masyarakat sakit sedikit lebih banyak ke rumah sakit ketimbang puskesmas. Tapi, jika Puskesmas telah terakreditasi, maka nantinya Rumah Sakit hanya sebagai rujukan saja,�� ujarnya.

Tapi yang pasti, lanjut mantan Direktur RSUD Selasih Pangkalankerinci ini, secara bertahap sampai tahun 2017 mendatang, pihaknya memastikan puskesmas yang ada di Kabupaten Pelalawan telah terakreditasi semua. ��Sehingga dengan begitu, pelayanan dasar pada masyarakat secara otomatis akan meningkat. Untuk itu, kami harap target ini dapat berjalan lancar, sehingga pelayanan kesehatan sesuai program Pelalawan sehat dapat ditingkatkan pula demi kesejahteraan masyarakat di Negeri Bono ini,�� tutupnya.(amn)

PUSKESMAS

ar_PUSKESMAS_07

Kategori:Kesehatan Tag:

Bagaimana gambaran lama pelayanan pada pasien unit rawat jalan berdasarkan ketepatan waktu, keterampilan petugas, serta kelengkapan sarana di unit rawat jalan Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada saat pasien berkunjung ke sebuah lama pelayanan kesehatan, harapan pasien adalah mendapatkan lama pelayanan sebaik-baiknya dengan waktu sesingkat-singkatnya. Organisasi lama pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, puskesmas, klinik swasta maupun dokter praktek sesungguhnya tidak hanya memberikan lama pelayanan medis profesional, namun juga memberikan lama pelayanan umum pada masyarakat (Wijono, 1999).
Sejak masuk ke sebuah tempat lama pelayanan kesehatan, maka pasien, keluarga maupun sahabatnya telah berharap agar mendapatkan lama pelayanan kesehatan yang memuaskan. Pasien menginginkan kenyamanan dan keamanan baik itu dari segi keadaan lingkungan tempat lama pelayanan kesehatan tersebut maupun sumber daya manusia yang bertugas di tempat lama pelayanan kesehatan itu. Selain itu juga pasien mengharapkan lama pelayanan dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya namun tetap memberikan kepuasan dalam diri pasien yang telah mendapatkan lama pelayanan kesehatan. Selain itu juga pasien mengharapakan petugas memberikan informasi yang jelas, petugas loket yang cekatan, kenyamanan ruang tunggu, antrian yang tidak lama, kebersihan toilet, kemudahan administrasi  dan sebagainya (Wijono, 1999).
Sehubungan dengan itu diperlukan lama pelayanan kesehatan yang prima dengan waktu pemeriksaan yang relatif lebih pendek, khususnya di puskesmas mengingat bahwa puskesmas itu merupakan pusat lama pelayanan kesehatan tingkat dasar bagi masyarakat. Namun yang terjadi bahwa lama pemeriksaan kurang diperhatikan oleh petugas kesehatan baik itu dari segi ketepatan waktu lama pelayanan, keterampilan petugas, sarana/fasilitas, serta waktu tunggu untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan yang paripurna. Dari 7.243 puskesmas yang ada di Indonesia sampai akhir tahun 1998, baru sekitar 36,7% yang memperhatikan ketepatan waktu dalam rangka memperpendek waktu pemeriksaan berdasarkan tingkat kebutuhan pasien (Depkes RI, 2001).
Untuk menyikapi proses lama pelayanan yang diberikan kepada pasien, maka dapat dilakukan dengan berbagai strategi yaitu peningkatan sumber daya manusia, analisis waktu tunggu untuk 1 orang pasien, analisis kelengkapan fasilitas/sarana kesehatan serta analisis tingkat kebutuhan masyarakat terhadap lama pelayanan kesehatan (Moekijat, 2002). Menurut laporan United Nasional Development tentang lama pemeriksaan, maka untuk satu orang membutuhkan waktu sekitar 45 menit mulai dari pengurusan administrasi sampai dengan untuk tebus resep di ruang obat.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sedarmayanti (2000) di beberapa Puskesmas di daerah Jawa Timur diketahui bahwa pada umumnya Puskesmas belum memperhatikan ketepatan waktu dalam proses lama pelayanan kesehatan, sehingga masih sering didengarkan keluhan pasien karena terlalu lama menunggu, bahkan ada pasien yang hanya mengurus kartu administrasi dengan waktu lama pelayanan sampai 20 menit. Hal ini juga merupakan salah satu penyebab rendahnya jumlah kunjungan di Puskesmas.
Hasil polling pendapat Pusat Informasi Departemen Kesehatan Jakarta, diketahui bahwa salah satu faktor yang paling sering dikeluhkan oleh pasien adalah lambannya petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, baik itu pada saat pasien masih mendaftar di loket kartu sampai dengan pemeriksaan dan pengambilan resep. Hasil pemantauan Pusat Informasi Kesehatan (PIK) diketahui bahwa untuk 1 orang pasien di puskesmas membutuhkan waktu tunggu di loket 10 menit, di ruang periksa 15 – 20 menit dan di tempat tebus resep bis mencapai 15 menit. Jadi untuk satu kali kunjungan pasien membutuhkan waktu 45 menit sampai dengan 1 jam.
Menurut BPS (Balai Pusat Statistik, 2000) bahwa yang membuat pasien kadang kurang memanfaatkan lama pelayanan puskesmas, adalah karena keterampilan petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan kurang memuaskan. Hal ini juga perlu disikapi oleh pihak Puskesmas untuk melihat dan menganalisis waktu, penyesuaian keterampilan petugas dan melihat kelengkapan sarana dan fasilitas (Sedarmayanti, 2000).
Di Kota Tidore Kepulauan setelah dilakukan analisis waktu lama pelayanan yang dilakukan oleh Zahruli (2001) diketahui bahwa pasien belum merasakan kepuasan terhadap lamanya waktu lama pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk sekali kunjungan di Puskesmas dalam wilayah kerja Kota Tidore Kepulauan. Hal inilah yang merupakan salah satu penyebab sehingga jumlah kunjungan masyarakat di Puskesmas di wilayah Kota Tidore Kepulauan masih rendah. Seperti yang dilaporkan dari Puskesmas Tomalou berdasarkan laporan tri bulanan diketahui bahwa jumlah kunjungan dalam 1 hari rata-rata hanya mencapai angka 21 orang. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang mencapai 23.463 jiwa.
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan, maka diperoleh informasi bahwa yang juga mempengaruhi lama proses lama pelayanan berdasarkan di Puskesmas Tomalou adalah karena kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh petugas untuk melaksanakan semua pekerjaan yang telah dibebankan kepadanya. Selain itu lama proses lama pelayanan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan dipengaruhi karena kurangnya sarana dan fasilitas yang dibutuhkan dalam melayani kebutuhan pasien. Berdasarkan uraian tersebut di atas peneliti tertarik untuk meneliti lama proses lama pelayanan pasien pada unit rawat jalan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.
B.     Batasan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka diketahui beberapa hal yang terkait dengan lama pelayanan, yaitu ketepatan waktu, keterampilan petugas dan kelengkapan sarana/fasilitas, jumlah pasien. Namun dalam penelitian ini dibatasi pada ketepatan waktu, keterampilan petugas dan kelengkapan sarana/fasilitas.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada batasan masalah, maka masalah dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :”Bagaimana gambaran lama pelayanan pada pasien unit rawat jalan berdasarkan ketepatan waktu, keterampilan petugas, serta kelengkapan sarana di unit rawat jalan Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan?”.
D.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran lama pelayanan pada pasien berdasarkan ketepatan waktu, keterampilan petugas, serta kelengkapan sarana di unit rawat jalan Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui lama pelayanan berdasarkan ketepatan waktu pemeriksaan pada unit rawat jalan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan
b.      Untuk mengetahui lama pelayanan berdasarkan keterampilan petugas pada unit rawat jalan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan
c.       Untuk mengetahui lama pelayanan berdasarkan kelengkapan sarana pada unit rawat jalan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.
E.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Praktis
Merupakan pengalaman berharga yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti.
2.      Manfaat Ilmiah
Sebagai salah satu bacaan bagi peneliti selanjutnya, khususnya mengenai lama pemeriksaan untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan di Puskesmas.
3.      Manfaat Institusi Kesehatan
Sebagai bahan masukan bagi pihak Puskesmas dalam mengambil kebijakan dalam rangka pencapaian lama pelayanan kesehatan yang prima.
Bab ii
gambaran umum lokasi
A.    Kondisi Geografis
Luas wilayah kerja Puskesmas Tomalou kurang lebih 196 Km2 dengan kondisi geografisnya yang terdiri dari dataran sekitar 25% dan perbukitan 75% serta Kelurahan ini berada di Kota Tidore Kepulauan yang terletak di pesisir pantai Pulau Tidore.
Pada umumnya wilayah kerja Puskesmas Tomalou dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat.
B.     Kondisi Demografis
Jumlah penduduk dalam wilayah Puskesmas Tomalou 21.765 orang. Yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki 9923 orang dan jenis kelamin perempuan 11.842 orang.
1.      Fasilitas pendidikan
Pendidikan merupakan suatu dasar dan merupakan faktor yang sangat dominan dalam peningkatan sumber daya manusia yang handal. Gambaran umum tingkat pendidikan dalam wilayah kerja Puskesmas Tomalou sebagai berikut :
a.       TK                         :     2 buah
b.      SD Inpres/Negeri  :     3 buah
c.       SMP                      :     2 buah
d.      SLTA                    :     1 buah
2.      Fasilitas Lama pelayanan Kesehatan
a.       Fasilitas lama pelayanan kesehatan
1)      Puskesmas                      :        1 buah
2)      Puskesmas Pembantu     :        1 buah
3)      Posyandu                       :        2 buah
b.      Fasilitas lama pelayanan kesehatan swasta
1)      Dokter Praktek Swasta           : 3 Orang
2)      Bidan praktek                         : 1 Orang
3)      Toko obat berizin                    : 1 buah
3.      Tenaga Kesehatan
Untuk meningkatkan kualitas lama pelayanan di Puskesmas Tomalou diperlukan tenaga-tenaga yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam lama pelayanan. Hal ini bertujuan agar pasien mendapatkan kenyamanan dan kepuasan dalam perawatan untuk memulihkan kesehatannya.
Untuk lebih jelasnya distribusi ketenagaan dapat dilihat sebagai berikut :
a.       Dokter Umum                            :     3 orang
b.      Dokter Gigi                                :     1 orang
c.       SKM (S1)                                   :     1 orang
d.      Akper                                         :     3 orang
e.       Bidan                                         :     4 orang
f.       SPK                                            :     7 orang
g.      SPRG                                         :     2 orang
h.      SPAG                                         :     2 orang
i.        SPPH                                         :     1 orang
j.        SMF                                           :     1 orang
k.      SMAK                                       :     1 orang
l.        Pekarya Kesehatan                     :     1 orang
Total                                                 :     27 orang
4.      Mata Pencaharian penduduk
Mata pencaharian penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Tomalou adalah sebagai berikut :
a.       PNS                                            :     2012 orang
b.      ABRI                                         :     75 Orang
c.       Pensiunan ABRI                        :     228 orang
d.      Buruh Bangunan                        :     1466 orang
e.       Wiraswasta                                 :     149 orang
f.       Petani                                         :     768 orang
C.    Sosial Budaya
Sebagian besar penduduk wilayah kerja Puskesmas Tomalou beragama Islam sebanyak 95,8% dan beragama Kristen Protestan 2,72%, Bergama Kristen Katolik 1,63% selebihnya beragama Hindu 0,47%.
D. Derajat Kesehatan Masyarakat
Ada empat aspek yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, yaitu:
1.      Umur harapan hidup waktu lahir (E0)
Meningkatnya umur harapan hidup waktu lahir, sekaligus memberikan gambaran kepada kita bahwa salah satu penyebabnya adalah karena meningkatnya kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Dari estimasi hasil penelitian yang dilakukan oleh BPS, umur harapan hidup waktu lahir (Eo) penduduk Indonesia secara Nasional mengalami peningkatan dari 45,73 tahun pada tahun 1967 menjadi 67 pada tahun 2000. Untuk Kota Tidore Kepulauan belum didapatkan angka yang akurat.
2.      Angka kematian
Tingkat kematian secara umum yang berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab terjadinya kematian. Walaupun penyebab kematian dapat dibedakan menjadi penyebab secara langsung dan tidak langsung, yang sebenarnya terjadi adalah merupakan akulasi proses interaksi dari berbagai faktor-faktor yang lain yang sendiri atau pun bersama-sama pad akhirnya berpengaruh terhadap tingkat kematian dalam masyarakat.
3.      Angka kematian balita (child mortality rate)
Angka kematian balita di Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2002 sebesar 0,67%o (14 kasus kematian), tahun 2001 terdapat 9 kasus kematian (0,27%o). tahun 1998 sebesar 15 kasus (0,71%o), sedangkan untuk tahun 1997 dan 1996 masing-masing 8 kasus (0,42%o) dan 5 kasus (0,28%o).
4.      Angka kematian ibu bersalin/melahirkan (maternal mortality rate)
Angka kematian ibu bersalin/melahirkan di Kota Tidore Kepulauan pada tahun 2002 sebesar 0,22%o atau terdapat 2 kasus kematian ibu bersalin dibandingkan dengan, tahun 2001 terdapat 5 kematian ibu bersalin.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Umum Tentang Lama pelayanan
Lama pelayanan adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan yang dimulai dari pendaftaran di loket, pengurusan kartu di bagian administrasi, waktu tunggu untuk pemeriksaan, dan waktu antri untuk resep obat. Lama pemeriksaan mencerminkan ketepatan waktu lama pelayanan kesehatan dan kesigapan petugas kesehatan dalam memberikan lama pelayanan (Wijono, 1999).
Lama pelayanan kesehatan yang membutuhkan waktu proses pemeriksaan yang lama akan menyebabkan pasien kurang termotivasi untuk menggunakan lama pelayanan kesehatan, apalagi terkadang waktu tunggu itu, petugas kurang berinteraksi dengan pasien yang sedang dalam masa tunggu. Dengan kondisi seperti itu, maka akan menyebabkan lama pelayanan kesehatan dianggao kurang bermutu oleh masyarakat sebagai konsumen dari lama pelayanan kesehatan.
Kondisi perekonomian Indonesia dewasa ini risakan makin tidak stabil. Hal ini ditunjukkan bahwa kemampuan beli masyarakat makin menurun, disertai dengan makin kritisnya masyarakat dalam memilih sebuah barang (product). Situasi semcam ini mulai disadari oleh para manajer perusahaan sehingga sebagai produsen tidak saja mengemban tugas untuk menciptakan hasil-hasil produksi tetapi juga di dalamnya mencari pembeli. Sejak itulah timbul ide-ide tentang bagaimana memasarkan hasil produksinya dengan baik. Dengan perkataan lain bagaimana suatu upaya sanggup memenuhi selera konsumennya. Begitu juga dengan lama pelayanan kesehatan mulai berpikir tentang cara menarik pasien agar mau memanfaatkan lama pelayanan kesehatan maka lahirlah marketing mix (pemasaran bauran) (Aditama, 2002).
Dalam pemasaran bauran yang perlu diperhatikan adalah proses pemberian lama pelayanan kesehatan (physical evidance) yang mana yang dimaksud disini adalah waktu tunggu, keramahan petugas selama proses pemberian lama pelayanan serta proses komunikasi yang terjalin antara petugas dengan pasien (As’ad, 1997).
Secara umum yang dimaksud dengan lama pelayanan kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, kelompok, keluarga, dan ataupun masyarakat (Asrul Aswar , 1996).
Adapun syarat-syarat pokok dari lama pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut (Asrul Aswar , 1996) :
1.      Tersedia dan berkesinambungan, artinya semua jenis lama pelayanan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah setiap saaat yang dibutuhkan.
2.      Dapat diterima dan wajar, artinya lama pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat.
3.      Mudah dicapai yakni dipandang dari sudut lokasi, artinya pengaturan distribusi sarana kesehatan tidak hanya terkonsentrasi di daerah perkotaan saja melainkan juga ditemukan di daerah pedesaan.
4.      Mudah dijangkau yakni dipandang dari sudut biaya yang artinya biaya lama pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
5.      Bermutu artinya yang menunjukkan pada tingkat kesempurnaan lama pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa layanan dan pihak lain tata cara penyelenggaraan sesuatu dengan kode etik serta stándar yang telah ditetapkan.
Selain itu juga mutu lama pelayanan kesehatan yang prima perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut (Wijono, 1999):
1.      Mengupayakan paparan yang jelas melalui papan informasi atau petunjuk yang mudah dipahami dan diperoleh pada setiap tempat/lokasi lama pelayanan sesuai dengan kepentingannya menyangkut prosedur/tata cara lama pelayanan, pendaftaran, pengambilan sampel atau hasil pemeriksaan, biaya/tarif lama pelayanan serta jadwal /waktu lama pelayanan.
2.      Setiap aturan tentang prosedur/tata cara/petunjuk seperti yang tersebut di atas harus dilaksanakan secara tepat, konsisten dan konsekuen sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3.      Hak dan kewajiban pemberi atau penerima lama pelayanan diatur secara jelas setiap persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menerima lama pelayanan harus mudah diperoleh dan berkaitan langsung dengan kepentingan lama pelayanan serta tidak menambah beban masyarakat penerima lama pelayanan.
4.      Tersedia loket informasi dan kotak saran bagi penerima lama pelayanan yang mudah dilihat/dijumpai pada setiap tempat lama pelayanan.
5.      Penanganan proses lama pelayanan sedapat mungkin dilakukan oleh petugas yang berwenang atau berkompeten, mampu, terampil dan profesional sesuai dengan spesifikasi tugasnya.
6.      Selalu diupayakan untuk menciptakan pola lama pelayanan yang tepat sesuai dengan sifat dan jenis lama pelayanan yang bersangkutan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaannya.
7.      Biaya/tarif lama pelayanan harus ditetapkan secara wajar dengan memperhitungkan kemampuan masyarakat. Hendaknya diupayakan untuk mengatur mekanisme pungutan biaya yang memudahkan pembayarannya dan tidak menimbulkan biaya tinggi.
8.      Pemberian lama pelayanan dilakukan secara tertib, teratur dan adil dengan tidak membedakan status sosial masyarakat.
9.      Kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat dan fasilitas lama pelayanan harus selalu dijamin  melalui pelaksanaan pembersihan secara rutin.
10.  Selalu diupayakan agar petugas memberikan lama pelayanan dengan sikap yang ramah dan sopan serta berupaya meningkatkan kinerja lama pelayanan kesehatan secara optimal.
Pencapaian lama pelayanan prima bidang kesehatan akan selalu dipantau dan dievaluasi secara rutin dan berkala. Secara bertahap lama pelayanan prima harus dapat dilaksanakan oleh seluruh unit lama pelayanan kesehatan yang ada (Wijono, 1999).
B.     Tinjauan Umum Tentang Puskesmas
1.      Pengertian Puskesmas
Puskesmas adalah merupakan pusat pengembangan, pembinaan, dan lama pelayanan sekaligus merupakan pos lama pelayanan terdepan dalam pembangunan kesehatan masyarakat yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan pada masyarakat yang bertempat tinggal dalam wilayah tertentu (Depkes RI, 1991).
2.         Kedudukan dan Fungsi Puskesmas
a.  Kedudukan
1)      Kedudukan dalam bidang administrasi, puskesmas merupakan perekat Pemda Kota/Kabupaten dan tanggung jawab langsung baik secara teknis medis maupun secara administratif kepada dinas kesehatan Kota/Kabupaten.
2)      Dalam hirarki lama pelayanan kesehatan, sesuai SKN maka puskesmas berkedudukan pada tingkat fasilitas lama pelayanan kesehatan pertama.
b.  Fungsi
1)      Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
2)      Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
3)      Memberikan lama pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
Untuk melaksanakan fungsi tersebut puskesmas melakukan kegiatan
1)      Perencanaan program kesehatan di wilayahnya.
2)      Penggerakan pelaksanaan kegiatan
3)      Pengawasan, pengendalian dan penilaian kegiatan (Depkes RI : 1991).
c.  Upaya lama pelayanan kesehatan puskesmas
Didalam SKN disebutkan bahwa upaya lama pelayanan kesehatan dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan suatu bentuk atau pola upaya lama pelayanan kesehatan puskesmas, peran serta masyarakat dan rujukan upaya kesehatan. Lama pelayanan kesehatan melalui puskesmas di kecamatan merupakan upaya menyeluruh dan terpadu, yang paling dekat dengan masyarakat, pengembangan pemulihan. Pembinaan, pengembangan dan lama pelayanan puskesmas diselenggarakan melalui 18 kegiatan pokok.
3.         Stratifikasi Puskesmas
Adalah upaya untuk melaksanakan penilaian prestasi kerja puskesmas, dalam rangka perkembnagan fungsi puskesmas sehingga pembinaan dalam rangka fungsi puskesmas dapat dilaksanakan lebih terarah. Hal ini diharapkan dapat menimbulkan gairah kerja, rasa tanggung jawab dan keratifitas kerja yang dinamis melalui pengembangan falsafah mawas diri.
a.  Ruang Lingkup stratifikasi puskesmas dikelompokkan dalam 4 aspek             yaitu :
1)      Hasil kegiatan puskesmas dalam bentuk cakupan dari amsing-masing kegiatan
2)      Hasil dan cara pelaksanaan manajemen kesehatan
3)      Sumber daya yang tersedia di puskesmas.
4)      Keadaan lingkungan yang mempengaruhi pencapaian hasil kegiatan puskesmas.
Dalam jangka panjang pola pembinaan melalui stratifikasi puskesmas akan terus ditingkatkan ruang lingkupnya sehingga meliputi seluruh kegiatan yang menajdi tanggung jawab puskesmas dalam wilayah kerjanya, termasuk kegiatan adalah dalam rangka membina usaha kesehatan swasta.
C.    Tinjauan Umum Tentang Pelayanan Rawat Jalan
               Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI, No. 66 Tahun 1987, rawat jalan adalah lama pelayanan terhadap orang yang berkunjung ke institusi kesehatan untuk mendapatkan lama pelayanan secara langsung tanpa perlu perawatan di institusi kesehatan yang dikunjunginya.
               Pelayanan Rawat Jalan merupakan aspek lama pelayanan tingkat pertama dari proses lama pelayanan kesehatan. Pelayanan Rawat Jalan merupakan masa pendiagnosaan penyakit dan pemantauan keadaan, namun tidak terjadi secara kontinyu dan terus menerus (Ulfiya, 1999).
                  Adapun lama pelayanan yang diberikan kepada pasien rawat jalan mencakup:
1.      Pemeriksaan keadaan umum pasien oleh dokter dan perawat untuk mengetahui pengaruh obat – obatan kepada pasien.
2.      Tindakan terapi oleh dokter dan perawat sebagai upaya pengobatan dan perawatan serta penyuluhan.
3.      Lama pelayanan keperawatan berupa pemeliharaan sarana lama pelayanan dan pemenuhan kebutuhan makanan pasien serta kebutuhan lainnya yang dapat memberikan kenyamanan, kesejahteraan dan ketentraman pasien selama dirawat.
D.    Tinjauan Umum Tentang variabel Diteliti
1.  Tinjauan Umum Tentang Keterampilan Petugas
                  Psikologi Industri menyatakan bahwa keterampilan kerja adalah kemampuan seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya (As’ad 1995). Jadi keterampilan kerja dapat diartikan sebagai hasil yang dapat dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan atau tugas yang bersangkutan.
                      Keterampilan kerja antara orang yang satu dengan orang yang lainnya dalam situasi kerja adalah perbedaan karakteristik individual. Disamping itu, orang yang sama dapat membentuk penampilan kerja yang berbeda dalam situasi yang berbeda pula. Dari sinilah dapat disimpulkan bahwa kerja seseorang dipengaruhi oleh faktor situasi (As’ad, 1995). Dalam buku yang sama mengutip pendapat Law Lwer dan Printer 1967 yang menyebutkan bahwa penampilan kerja adalah succeful role astrievement yang diperoleh seseorang dari perbuatan-perbuatannya. Dengan kata lain penampilan kerja sebagai kesuksesan seeorang dapat melaksanakan pekerjaannya. Jadi penampilan kerja dapat diartikan sebagai hasil hanya dicapai oleh seseorang menurut ukuran yang berlaku untuk pekerjaan adalah tugas yang bersangkutan.
                      Menurut Indrawijaya (1986), prestasi kerja seseorang bergantung pada keinginannya (motivasi) untuk berprestasi dan kemampuan untuk melakukannya. Ada tiga variabel yang mempengaruhi perilaku dan penampilan kerja yaitu individu, variabel organisasi dan variabel psikologi. Hasil dari perilaku individu di dalam organisasi tampak dalam bentuk penampilan kerja. Sehingga, didalam organisasi variabel organisasi dan variabel psikologi tidak hanya mempengaruhi prilaku tetapi juga penampilan kerja seseorang. Penampilan kerja adalah prilaku yang berkaitan langsung dengan tugas-tugas pekerjaan dan yang perlu diselesaikan untuk mencapai karakteristik individu ini memerlukan penyesuaian terhadap situasi tempat kerja dan organisasinya dan pada umunya sikap terhadap pekerjaan dapat mempengaruhi kerja atau demikian pula sebaliknya.
                      Sehingga dapat disimpulkan bahwa keterampilan kerja merupakan hasil interaksi antara motivasi dan kemampuan pada diri seseorang. Orang yang tinggi motivasinya, tetapi rendah kemampuannya, Akan menghasilkan penampilan kerja yang rendah pula. Begitu pula orang yang kemampuannya, dan motivasinya rendah dan penampilan kerja tinggi diperlukan adanya orang yang memiliki motivasi dan kemampuan tinggi (Indrawijaya, 1986).
      2.  Tinjauan Umum Tentang Kelengkapan Sarana
Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan SK Menteri Kesehatan RI No. 983/Menkes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Institusi Kesehatan, maka sebuah lama pelayanan kesehatan harus menjalankan beberapa fungsi, salah satu diantaranya adalah fungsi menyelenggarakan lama pelayanan medis dan non medik dengan melengkapi sarana dan pra sarana yang dibutuhkan pada saat bekerja.
Secara umum dalam sebuah instansi kesehatan sarana itu merupakan salah satu bagian dari lingkungan kerja yang akan mempengaruhi mutu lama pelayanan kesehatan yang diberikan. Menurut Yandianto (2000) sarana adalah sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud dan tujuan.
Sarana merupakan aset sebuah organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Dengan adanya sarana yang lengkap, maka tenaga kesehatan akan mudah untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pemberi lama pelayanan kesehatan, selain itu dengan sarana kesehatan yang memadai juga akan mempengaruhi profesional kerja tenaga kesehatan dan mendatangkan kepuasan pada pasien yang datang untuk berobat (Sedarmayanti, 2001).
Untuk sebuah lama pelayanan kesehatan khususnya lama pelayanan kesehatan yang prima di puskesmas sebaiknya memperhatikan kelengkapan sarana medis diagnostic dan penunjang medik terapeutik. Adapaun sarana-sarana tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
Lama pelayanan penunjang medik diagnostik (mendukung penegakan doiagnosa dokter) yang seharusnya ada di sebuah puskesmas, yaitu:
a.       Tersedia lama pelayanan laboratorium: minimal untuk mendiagnosa beberapa penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat misalnya TBC, Kusta, Hepatitis, Typus, jumlah HB bagi ibu hamil dan mengetahui golongan darah.
b.      Lama pelayanan penunjang medik terapeutik (mendukung dalam tindakan dokter dan perawat) yaitu:
1)      Lama pelayanan rawat inap
2)      Lama pelayanan persalinan
3)      Lama pelayanan farmasi
Lama pelayanan penunjang medik di masyarakat umum, yaitu:
1)      Imunisasi
2)      Program screening bagi pasien kusta dan TBC
3)      Keluarga berencana dan KIA
3.  Tinjauan tentang Ketepatan Waktu Pemeriksaan
Waktu pemeriksaan adalah waktu yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan yang dimulai dari pendaftaran di loket, pengurusan kartu di bagian administrasi, waktu tunggu untuk pemeriksaan, dan waktu antri untuk resep obat. Lama pemeriksaan mencerminkan ketepatan waktu lama pelayanan kesehatan dan kesigapan petugas kesehatan dalam memberikan lama pelayanan (Wijono, 1999).
Lama pelayanan kesehatan yang membutuhkan waktu pemeriksaan yang lama akan menyebabkan pasien kurang termotivasi untuk menggunakan lama pelayanan kesehatan, apalagi terkadang waktu tunggu itu, petugas kurang berinteraksi dengan pasien yang sedang dalam masa tunggu. Dengan kondisi seperti itu, maka akan menyebabkan lama pelayanan kesehatan dianggao kurang bermutu oleh masyarakat sebagai konsumen dari lama pelayanan kesehatan.
Lama pelayanan yang bermutu tinggi dan memuaskan pelanggan, faktor perilaku manusia adalah dapat menentukan, selain bentuk isi (content) mutu barang atau jasa yang diberikan. Perilaku yang baik dalam memberikan lama pelayanan menurut De Vriye dalam (Wijono, 1999) adalah sebagai berikut :
a.       Self esteem : penghargaan terhadap diri sendiri, dengan pandai menghargai dirinya sendiri, seorang karyawan akan berpikiran dan bertindak positif terhadap orang lain, sehingga pandai menghargai pelanggan dengan baik.
b.      Exceed expectation : memberikan lama pelayanan dengan melebihi harapan pasien (mematuhi dan melebihi standar) secara konsisten.
c.       Recovery : adanya keluhan pasien jangan dianggap sebagai suatu beban masalah namun suatu peluang untuk memperbaiki atau meningkatkan diri.
d.      vision : lama pelayanan prima sangat berkaitan dengan visi puskesmas atau organisasi yang terkait.
e.       care : perhatian atau perlakuan terhadap pasien dengan baik dan tulus.
f.      Pemberdayaan : memberdayakan agar karyawan mampu bertanggung jawab.
BAB IV
KERANGKA KONSEP
A.    Dasar Pemikiran Variabel Diteliti
Secara sistematis, diketahui ada beberapa variabel yang terkait dengan lama pelayanan petugas pada pasien yang mendapatkan lama pelayanan kesehatan termasuk lama pelayanan pada promosi kesehatan masyarakat, baik itu yang berhubungan langsung maupun yang berhubungan tidak langsung, seperti : ketepatan waktu, keterampilan petugas, serta kelengkapan sarana. Adapun peran masing-masing variabel tersebut terhadap lama pelayanan di puskesmas akan diuraikan sebagai berikut:
1.      Ketepatan Waktu
Menurut Moh As’ad (1997) waktu adalah jumlah angka dalam bentuk jam, menit dan detik yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah jasa yang dibutuhkan oleh konsumen.
Sehubungan dengan hal tersebut ketepatan waktu sangat erat kaitannya dengan lama pelayanan. Jika dalam lama pelayanan kesehatan tidak ada ketepatan waktu, maka waktu lama pelayanan kesehatan juga akan lama. Ketepatan waktu itu berhubungan dengan dalam pemberian baik dalam proses pelaksanaan lama pelayanan kesehatan maupun sampai dengan waktu tunggu.
2.      Keterampilan Petugas
Menurut As’ad bahwa keterampilan petugas merupakan salah faktor yang mempengaruhi lama proses lama pelayanan dalam sebuah institusi kesehatan. Karena, kalau seorang petugas tidak terampil dalam melaksanakan tugas-tugasnya, maka waktu yang dibutuhkan untuk lama pelayanan kesehatan juga akan lama.
3.      Kelengkapan Sarana
Menurut Sedarmayanti (2001) sarana merupakan aset sebuah organisasi dalam rangka pencapaian tujuan. Dengan adanya sarana yang lengkap, maka tenaga kesehatan akan mudah untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pemberi lama pelayanan kesehatan, selain itu dengan sarana kesehatan yang memadai juga akan mempengaruhi lama proses lama pelayanan menjadi lebih pendek jika dibandingkan dengan Puskesmas yang sarana lama pelayanan kesehatannya kurang lengkap (Sedarmayanti, 2001).
B.             Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.      Lama Pelayanan Kesehatan
         Dimaksud dengan lama pelayanan kesehatan adalah kesatuan waktu yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan secara lengkap, mulai dari lama pelayanan di loket, lama pelayanan di bagian administrasi, lama pelayanan pemeriksaan, lama pelayanan laboratorium, lama pelayanan di ruang obat, sampai akhirnya pasien meninggalkan lingkungan Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.
Kriteria Objektif
Cepat         :     jika total waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan secara lengkap sampai meninggalkan wilayah Puskesmas kurang lebih 45 menit (Depkes, 1997).
Lambat      :     jika total waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan secara lengkap lebih dari 45 menit.
2.      Ketepatan Waktu
Dimaksud dengan ketepatan waktu dalam penelitian adalah ketepatan waktu petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan kepada pasien.
Kriteria Objektif :
Tepat waktu            :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di atas median dari sampel.
Tidak tepat              :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di bawah atau sama dengan median.
3.      Keterampilan Petugas
Dimaksud dengan keterampilan petugas dalam penelitian adalah kemampuan petugas untuk memberikan lama pelayanan kesehatan, sehingga baik perawat maupun dokter agar tidak membuat waktu pemeriksaan menjadi lebih lama.
Kriteria Objektif :
Terampil                  :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di atas median dari sampel.
Tidak terampil         :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di bawah atau sama dengan median.
4.      Kelengkapan Sarana
         Dimaksud dengan kelengkapan sarana dalam penelitian adalah tersedianya alat-alat yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas untuk melakukan tindakannya, sehingga tidak membuat pemeriksaan menjadi terhambat. Sarana yang dimaksud diantaranya untuk ruang pemeriksaan yaitu tempat tidur, tensi meter, stetoskop, pengukuran berat badan. Untuk ruang laboratorium adalah alat pengukuran HB, uji sputum, dan untuk test widal. Sementara untuk sarana lama pelayanan terdiri dari apotik, lama pelayanan rawat inap dan lama pelayanan kamar bersalin, dan sarana medik masyarakat umum yang terdiri dari Imunisasi, Program screening bagi pasien kusta dan TBC, dan lama pelayanan Keluarga berencana dan KIA.
Kriteria Objektif:
Lengkap                  :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di atas median dari sampel.
Tidak lengkap         :     jika total skor yang dicapai oleh responden melalui pernyataan berada di bawah atau sama dengan median.
BAB V
METODE PENELITIAN
A.        Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan deskriptif, yang dimaksudkan untuk mengetahui gambaran lama pelayanan pada unit rawat jalan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.

B.  Populasi dan Sampel

1.      Populasi
Populasi adalah seluruh pasien yang berobat di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan pada saat penelitian dengan jumlah populasi sebanyak 143 orang.
2.      Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang berobat ke Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan yang berjumlah 98 responden. Teknik penarikan sampel dengan menggunakan purposive sampling, dengan kriteria yaitu: Pasien yang telah menggunakan lama pelayanan kesehatan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan minimal 2 kali, pada saat penelitian berlangsung.
C.  Pengumpulan Data
1.   Data Primer
Diperoleh dengan wawancara langsung terhadap responden dengan menggunakan kuesioner  dan chek list.
2.      Data Sekunder
      Diperoleh data laporan tahunan Puskesmas, Data dari Kecamatan dan juga data dari literatur-literatur pendukung data penelitian.
D.  Pengolahan dan Penyajian Data
Pengolahan   data  dilakukan  dengan   menggunakan   komputerisasi dan manual dengan bantuan kalkulator. Adapun langkah-langkah pengolahan data dilakukan sebagai berikut :
1. Tahap Editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban.
2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan mengolah dan menganalisis data dengan memberikan kode-kode dalam bentuk angka.
3.  Pembuatan/Pemindahan hasil koding kuisioner ke daftar koding (master Tabel).
4. Tabulasi. Pada tahap ini data yang sudah diolah dengan komputer dan manual dengan menggunakan kalkulator disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.
BAB VI
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Penelitian
            Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan. Pengumpulan data mulai dari tanggal 19 Juni sampai dengan tanggal 20 Juli 2006 dengan responden adalah pasien yang berkunjung ke Puskesmas Tomalou minimal 2 kali kunjungan, dan jumlah responden yang berhasil diwawancarai dan dianggap sesuai dengan kriteria sebanyak 98 responden. Untuk menarik sampel digunakan purposive sampling, maka hasil penelitian dapat disajikan sebagai berikut :
1.   Karakteristik Responden
a.  Jenis Kelamin
Tabel 6.1
Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan
Tahun 2006

Jenis Kelamin

Jumlah

Persen

Laki-Laki

Perempuan
33
65
33,7
66,3

Jumlah

98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.1 didapatkan bahwa dari 98 responden, maka jumlah responden dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 33 responden (33,7%) sedangkan jumlah responden perempuan sebanyak 65 responden (66,3%).
     b.   Pekerjaan
Tabel  6.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Responden
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Jenis Pekerjaan
Jumlah
%
IRT
Petani
Wiraswasta
PNS
Buruh
Pensiunan
24
22
19
15
10
8
24,5
22,4
19,4
15,3
10,2
8,2
Jumlah
98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.2 menunjukkan bahwa pekerjaan responden tertinggi adalah IRT yaitu sebanyak 24 responden (24,5%), dan terendah adalah Pensiunan yaitu sebanyak 8 responden (8,2%).
     c.   Pendidikan
Tabel 6.3
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Tingkat Pendidikan
Jumlah
%
Tidak Sekolah
SD/Sederajat
SMP/Sederajat
SMA/Sederajat
Diploma Tiga
Sarjana
15
18
35
21
7
2
15,3
18,4
35,7
21,4
7,1
2,1
Jumlah
98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden dengan distribusi tertinggi ada tingkat pendidikan SMP yaitu sebanyak 35 responden (35,7%) dan distribusi terendah ada pada tingkat pendidikan Sarjana yaitu sebanyak 2 responden (2,1%).
       e.   Kelompok Umur
Tabel 6.4
Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Selatan Tahun 2006
Kelompok Umur
Jumlah
%
 10 – 19
20 – 29
30 – 39
40 – 49
50 – 59
60 – 69
70 – ke atas
15
23
26
18
1
10
5
15,3
23,5
26,5
18,4
1,0
10,2
5,1
Jumlah
98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.4 menunjukkan bahwa kelompok umur dengan distribusi terbanyak ada pada kelompok umur 30 – 39 tahun yaitu sebanyak 26 responden (26,5%), dan distribusi terendah ada pada kelompok umur 50 – 59 tahun yaitu sebanyak 1 orang responden (1,0%).
2.   Variabel Penelitian
a.  Ketepatan waktu lama pelayanan
Tabel 6.5
Distribusi Responden berdasarkan Ketepatan Waktu Lama pelayanan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Ketepatan Waktu Lama pelayanan
Jumlah
Persen
Tepat waktu
Tidak tepat waktu
51
47
52,0
48,0
Jumlah
98
100,0
                   Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.5 menunjukkan bahwa ketepatan waktu lama pelayanan di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori tepat waktu. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 51 responden (52,0%) yang menyatakan tepat waktu, dan sebanyak 47 responden (48,0%) yang menyatakan tidak tepat waktu.
b.  Keterampilan Petugas
Tabel 6.6
Distribusi Responden berdasarkan Keterampilan Petugas
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Keterampilan Petugas
Jumlah
Persen
Terampil
Tidak terampil
54
44
55,1
44,9
Jumlah
98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.6 menunjukkan bahwa keterampilan petugas di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori terampil. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 54 responden (55,1%) yang menyatakan terampil, dan sebanyak 44 responden (44,9%) yang menyatakan tidak terampil.
c.  Kelengkapan Sarana
Tabel 6.7
Distribusi Responden berdasarkan Kelengkapan Sarana
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Kelengkapan Sarana
Jumlah
Persen
Lengkap
Tidak lengkap
47
51
48,0
52,0
Jumlah
98
100,0
                  Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.7 menunjukkan bahwa kelengkapan sarana di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori tidak lengkap. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 51 responden (52,0%) yang menyatakan tidak lengkap, dan sebanyak 47 responden (48,0%) yang menyatakan lengkap.
d.    Lama pelayanan
Tabel 6.8
Distribusi Responden berdasarkan Lama pelayanan
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Lama pelayanan
Jumlah
Persen
Cepat
Lambat
59
39
60,2
39,8
Jumlah
98
100,0
                   Sumber : Data Primer
Pada tabel 6.8 menunjukkan bahwa lama pelayanan kesehatan di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori cepat. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 59 responden (60,2%) yang menyatakan cepat, dan sebanyak 39 responden (39,8%) yang menyatakan lambat.
3.   Deskripsi Variabel Berdasarkan Tujuan Penelitian
a.      Distribusi Ketepatan Waktu dan Lama pelayanan
Tabel 6.9
Distribusi Ketepatan Waktu dan Lama Proses  pelayanan
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan
Tahun 2006

Ketepatan Waktu
Lama pelayanan
Total
Cepat
Lambat
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Tepat waktu
Tidak
42
17
82,4
36,2
9
30
17,6
63,8
51
47
100,0
100,0
Total
59
60,2
39
39,8
98
100,0
   Sumber: Data Primer 
     Berdasarkan tabel 6.9 menunjukkan bahwa ketepatan waktu yang tepat waktu dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 42 responden (82,4%), dan ketepatan waktu yang tepat waktu dan lama pelayanan lambat sebanyak 9 responden (17,6%). Sementara ketepatan waktu kurang tepat waktu dan lama pelayanan cepat sebanyak 17 responden (36,2%), dan ketepatan waktu dan lama pelayanan lambat sebanyak 30 responden (63,8%). Hal ini menunjukkan semakin tepat waktu petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat juga proses lama pelayanan akan diterima oleh pasien.
b.      Distribusi Keterampilan Petugas dan Lama pelayanan
Tabel 6.10
Distribusi Keterampilan Petugas dan Lama pelayanan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan
Tahun 2006
Keterampilan Petugas
Lama pelayanan
Total
Cepat
Lambat
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Terampil
Tidak terampil
43
16
79,6
36,4
11
28
20,4
63,6
54
44
100,0
100,0
Total
59
60,2
39
39,8
98
100,0
 Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 6.10 menunjukkan bahwa keterampilan petugas yang terampil dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 43 responden (79,6%), dan keterampilan petugas yang terampil dan lama pelayanan lambat sebanyak 11 responden (20,4%). Sementara keterampilan petugas yang tidak terampil dengan lama pelayanan cepat sebanyak 16 responden (36,4%), dan keterampilan petugas yang tidak terampil dan lama pelayanan lambat sebanyak 28 responden (63,6%). Hal ini menunjukkan semakin terampil petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat juga lama proses lama pelayanan akan diterima oleh pasien.
c.       Distribusi Kelengkapan Sarana dan Lama pelayanan
Tabel 6.11
Distribusi Kelengkapan Sarana dan Lama pelayanan
di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan
Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006
Kelengkapan Sarana
Lama pelayanan
Total
Cepat
Lambat
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Lengkap
Tidak lengkap
39
20
83,0
39,2
8
31
17,0
60,8
47
51
100,0
100,0
Total
59
60,2
39
39,8
98
100,0
                        Sumber: Data Primer 
     Berdasarkan tabel 6.11 menunjukkan bahwa kelengkapan sarana yang lengkap dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 39 responden (83,0%), dan kelengkapan sarana yang lengkap dan lama pelayanan lambat sebanyak 8 responden (17,0%). Sementara kelengkapan sarana yang tidak lengkap dengan lama pelayanan cepat sebanyak 20 responden (39,2%), dan kelengkapan sarana yang tidak lengkap dan lama pelayanan lambat sebanyak 31 responden (60,8%). Hal ini menunjukkan semakin lengkap sarana di puskesmas, maka akan semakin cepat juga proses lama pelayanan akan diterima oleh pasien.
B.     Pembahasan
Hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap pasien di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan Tahun 2006 diperoleh hasil bahwa jenis kelamin responden yang paling banyak diwawancarai adalah perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin yang menggunakan lama pelayanan kesehatan di Puskesmas Tomalou adalah perempuan. Jenis pekerjaan responden yang paling banyak terdistribusi adalah IRT dan tingkat pendidikan responden adalah SMP.
Selain itu juga diperoleh hasil mengenai variabel dependent dan independent, sebagai berikut:
1.      Ketepatan waktu dan Lama proses lama pelayanan kesehatan
Ketepatan waktu adalah waktu yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan  untuk memberikan lama pelayanan kesehatan kepada masyarakat, baik yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan maupun tenaga non medik lainnya yang ada dalam institusi kesehatan. Ketepatan waktu dinilai dari jumlah kumulatif yang dibutuhkan oleh seorang pasien untuk mendapatkan lama pelayanan pengobatan mulai dari pengambilan kartu sampai dengan pengambilan obat dan kembali ke rumah. Ketepatan waktu berpengaruh besar terhadap proses lama pelayanan dan mampu untuk pencapaian peningkatan jumlah kunjungan pasien di Puskesmas.
Hasil penelitian pada tabel 6.5 menunjukkan bahwa ketepatan waktu lama pelayanan di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori tepat waktu. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 51 responden (52,0%) yang menyatakan tepat waktu, dan sebanyak 47 responden (48,0%) yang menyatakan tidak tepat waktu.. Hal ini menunjukkan bahwa di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan ketepatan waktu lama pelayanan sudah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan waktu pasien, karena pasien menganggap bahwa untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan, pasien membutuhkan waktu tunggu yang tidak terlalu lama yaitu hanya 5 menit untuk bertemu dokter, dan jika masih ada tindakan kesehatan lainnya misalnya mendapatkan injeksi dan uji laboratorium, maka pasien biasanya begitu mendaftar akan langsung mendapatkan lama pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhannya. Jadi, untuk mendapatkan seluruh proses lama pelayanan kesehatan pasien membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit saja.
Waktu tunggu merupakan bagian dari proses lama pelayanan kesehatan. Proses lama pelayanan kesehatan yang dimaksud disini adalah interval waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan dan menyelesaikan semua lama pelayanan kesehatan yang berhubungan dengan Puskesmas Tomalou. Dalam rangka mendukung pemberian proses lama pelayanan yang cepat dan memuaskan, selama masa tunggu itu diharapkan petugas menunjukkan sikap bersahabat dan mengajak pasien berkomunikasi agar pasien tidak merasa jenuh dan pulang sebelum mendapatkan lama pelayanan kesehatan.
Tindakan yang diberikan serta tingkah laku petugas dalam mendengarkan keluhan pasien sehingga pasien merasa diperhatikan dan memberikan umpan balik yaitu memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya. Dengan proses lama pelayanan kesehatan yang baik, dimana didukung oleh sikap petugas yang berinteraksi, berkomunikasi dan memperlihatkan empati, maka akan menarik minat pasien untuk memanfaatkan lama pelayanan kesehatan yang sama disaat membutuhkan lama pelayanan kesehatan diperiode berikutnya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi ketepatan waktu dengan proses lama pelayanan kesehatan lama pelayanan prima yang nampak pada tabel 6.9 yang mana menunjukkan bahwa ketepatan waktu dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 42 responden (82,4%), dan ketepatan waktu yang tepat waktu dan lama pelayanan lambat sebanyak 9 responden (17,6%). Sementara ketepatan waktu kurang tepat waktu dengan lama pelayanan cepat sebanyak 17 responden (36,2%), dan ketepatan waktu dan lama pelayanan lambat sebanyak 30 responden (63,8%).
Hal ini menunjukkan semakin tepat waktu petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat proses lama pelayanan kesehatan berjalan dan akhirnya pasien tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan yang prima. Nampak dalam penelitian sebanyak 9 responden (17,6%) menyatakan bahwa ketepatan waktu tepat waktu namun lama pelayanan berjalan lambat. Ini terjadinya karena kadang ada pasien yang begitu banyak tuntutannya, sehingga pasien berikutnya harus menunggu lama untuk mendapatkan lama pelayanan kesehatan. Selain itu juga ada 17 responden yang menyatakan bahwa ketepatan waktu kurang, namun lama pelayanan berjalan cepat. Hal ini bisa dipengaruhi karena lengkapnya sarana yang tersedia di Puskesmas Tomalou dan kemampuan kerja sumber daya manusia. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya ketepatan waktu dalam sebuah institusi kesehatan harus disadari oleh semua pihak yang terlibat dalam lama pelayanan kesehatan tersebut. Karena, walaupun secara umum ketepatan waktu sudah tepat, namun ada saja oknum yang merasa kurang puas terhadap lama pelayanan kesehatan yang diberikan. Hal ini tentu saja berimplikasi pada menurunnya jumlah kunjungan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kalsum Ali (2000) di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan yang mana memperoleh hasil bahwa proses lama pelayanan kesehatan memiliki pengaruh yang sangat penting dalam meningkatkan jumlah kunjungan pasien. Karena pasien yang dirawat dengan proses lama pelayanan kesehatan yang baik akan memiliki keinginan besar untuk memanfaatkan lama pelayanan kesehatan yang sama jika mendapatkan proses lama pelayanan kesehatan yang memuaskan dari petugas kesehatan. Sementara itu dipertegas oleh Notoatmodjo (1997), bahwa kita manusia sebagai individu, maka unsur-unsur yang diperlukan agar bisa melaksanakan tugas yang dibebankan dengan baik, misalnya mampu melaksanakan proses lama pelayanan kesehatan dengan baik dengan ketepatan waktu yang relatif lebih singkat, keyakinan/kepercayaannya tentang manfaat dan kebenaran dari apa yang akan dilakukannya (attitude yang positif), sarana yang diperlukan untuk melakukannya, dan dorongan/motivasi untuk berbuat, yang dilandasi oleh kebutuhan yang dirasakannya.
2.      Keterampilan Petugas dan Lama pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan petugas di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori terampil. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 54 responden (55,1%) yang menyatakan terampil, dan sebanyak 44 responden (44,9%) yang menyatakan tidak terampil. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum petugas-petugas kesehatan yang ada di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan mampu untuk mengerjakan semua pekerjaan pokok yang telah dibebankan kepadanya. Kemampuan seseorang untuk melaksanakan semua pekerjaan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang tingkat pengetahuan yang cukup, pendidikan yang tinggi dan seringnya mendapatkan pelatihan. Hal yang sama juga menyebabkan petugas di Puskesmas Tomalou mampu untuk mengerjakan semua pekerjaannya dengan terampil.
Sebagaimana yang tampak pada tabel 6.10 untuk menggambarkan kondisi keterampilan petugas dengan lama pelayanan kesehatan. Tabel 6.10 menunjukkan bahwa keterampilan petugas yang terampil dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 43 responden (79,6%), dan keterampilan petugas yang terampil dan lama pelayanan lambat sebanyak 11 responden (20,4%). Sementara keterampilan petugas yang tidak terampil dengan lama pelayanan cepat sebanyak 16 responden (36,4%), dan keterampilan petugas yang tidak terampil dan lama pelayanan lambat sebanyak 28 responden (63,6%). Hal ini menunjukkan semakin terampil petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat juga lama pelayanan akan diterima oleh pasien. Sementara itu nampak dalam penelitian bahwa ada 11 responden yang terampil untuk melaksanakan tugas, namun proses lama pelayanan yang diberikan lambat. Hal ini terjadi karena petugas tersebut tidak memiliki motivasi yang tinggi untuk melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya.
Selain itu juga nampak 16 responden (36,4%) yang keterampilan kerjanya kurang namun memiliki lama pelayanan yang cepat, hal ini disebabkan karena petugas ingin mendapatkan promosi meskipun secara umum petugas tersebut tidak mampu memberikan lama pelayanan kesehatan dengan baik. Hal ini terjadi karena kurangnya pelatihan, masih rendahnya pendidikan yang didukung oleh kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang fungsinya dalam membantu pasien untuk merawat pasien yang membutuhkan perawatan dalam usaha untuk membantu penyembuhan pasien dengan pemberian perawatan kesehatan yang maksimal dan secara dan paripurna. Selain itu dalam penelitian juga nampak ada 11 responden (20,4%) yang menyatakan bahwa keterampilan petugas terampil namun dia menganggap bahwa lama pelayanan berjalan lambat. Lambatnya lama pelayanan tersebut disebabkan karena tidak lengkapnya sarana yang dibutuhkan oleh petugas untuk melaksanakan pekerjaannya pada unit-unit tertentu. Hal ini mempengaruhi, karena meskipun petugas terampil namun jika tidak didukung oleh sarana yang lengkap, maka tetap proses lama pelayanan akan berjalan lambat.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurmiah (2002) bahwa semakin terampil petugas dalam menjalankan tugasnya, maka akan semakin cepat proses lama pelayanan berjalan. Aditama (2003) menjelaskan  dalam bukunya “Manajemen Administrasi Rumah Sakit” mengatakan bahwa untuk mendukung keterampilan petugas kesehatan, maka harus dilengkapi dengan peralatan yang lengkap misalnya saja tabung 02 (oksigen) sehingga pada saat pasien sudah membutuhkan tinggal diambil oleh tenaga perawat. Ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurangnya keterampilan kerja tenaga perawat sehingga kinerjanya dinilai kurang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmawati Yunus (1999) di Rumah Sakit Umum Pusat DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar bahwa kurangnya keterampilan tenaga perawat salah satu sebabnya disebabkan karena kurang tersedianya alat-alat kesehatan yang kadang dibutuhkan pada saat pasien dalam keadaan kritis.
3.      Kelengkapan Sarana
Sarana merupakan aset dalam sebuah organisasi dalam rangka pencapaian tujuan, karena dengan sarana yang lengkap, maka tenaga kesehatan akan mudah untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pemberi lama pelayanan kesehatan. Sarana kesehatan yang memadai juga akan mempengaruhi profesional kerja tenaga kesehatan serta akan memberikan kepuasan pada pasien yang dirawat, sehingga juga akan mempengaruhi jumlah kunjungan pasien.
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6.7 menunjukkan bahwa kelengkapan sarana di Puskesmas Tomalou masuk dalam kategori tidak lengkap. Dari 98 pasien yang diwawancarai sebanyak 51 responden (52,0%) yang menyatakan tidak lengkap, dan sebanyak 47 responden (48,0%) yang menyatakan lengkap. Kelengkapan sarana dalam hal ini dapat dilihat dari kelengkapan puskesmas secara fisik misalnya alat-alat yang dibutuhkan oleh tenaga kesehatan pada saat memberikan lama pelayanan kesehatan. Kelengkapan sarana di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan dapat menyebabkan tingginya rasa puas dan cepatnya proses lama pelayanan kesehatan berlangsung, hal ini tentu saja akan berimplikasi pada tingginya permintaan atau jumlah kunjungan di puskesmas tersebut.
Hal lain yang juga dapat disimpulkan bahwa semakin lengkap sarana/fasilitas dalam melaksanakan tindakan perawatan, maka akan semakin puas pasien yang dirawat dan semakin tinggi jumlah kunjungan di Puskesmas Tomalou, bahkan hal ini akan menyebabkan semakin lambatnya proses lama pelayanan kesehatan yang dapat diterima oleh pasien. Sedangkan semakin kurang sarana/fasilitas, maka akan semakin kurang puas pasien terhadap lama pelayanan kesehatan dan akan semakin lambat proses lama pelayanan kesehatan yang diberikan.
Hal ini nampak pada tabel 6.11 yang mana menunjukkan bahwa kelengkapan sarana yang lengkap dengan lama pelayanan yang cepat sebanyak 39 responden (83,0%), dan kelengkapan sarana yang tidak lengkap dan lama pelayanan lambat sebanyak 31 responden (60,8%). Hal ini menunjukkan semakin lengkap sarana di puskesmas, maka akan semakin cepat juga proses lama pelayanan akan diterima oleh pasien.
Adanya 20 (39,2%) orang yang menyatakan bahwa kelengkapan sarana kurang namun proses lama pelayanan kesehatan berjalan cepat disebabkan karena meskipun kadang sarana untuk memberikan lama pelayanan kesehatan tidak memadai, namun karena petugas yang bekerja terampil dan memiliki kemampuan untuk menyikapi sarana yang tidak lengkap menyebabkan proses lama pelayanan kesehatan tetap berjalan cepat. Dalam penelitian juga nampak ada 8 responden yang melihat bahwa sarana lama pelayanan kesehatan lengkap namun proses lama pelayanan berjalan lambat, hal ini disebabkan karena kurangnya tenaga yang bekerja pada unit-unit yang membutuhkan lama pelayanan dengan cepat, misalnya lama pelayanan di ruang suntik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Makrifah (1998) di Puskesmas Barukku yang mana memperoleh hasil bahwa untuk mencapai kepuasan pasien harus didukung oleh kelengkapan sarana/fasilitas di puskesmas.
Sementara itu menurut Wijono (1999) bahwa ada beberapa jenis standarisasi sarana yang ada di Puskesmas yakni: Lama pelayanan penunjang medik diagnostik yaitu: Tersedia lama pelayanan laboratorium: minimal untuk mendiagnosa beberapa penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat misalnya TBC, Kusta, Hepatitis, Typus, jumlah HB bagi ibu hamil dan mengetahui golongan darah. Lama pelayanan penunjang medik terapeutik (mendukung dalam tindakan dokter dan perawat) yaitu: Lama pelayanan rawat inap, Lama pelayanan persalinan, Lama pelayanan farmasi. Lama pelayanan penunjang medik di masyarakat umum, yaitu: Imunisasi, Program screening bagi pasien kusta dan TBC, dan Keluarga berencana dan KIA
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang lama pelayanan kesehatan di Puskesmas Tomalou Kecamatan Tidore Selatan Kota Tidore Kepulauan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Semakin tepat waktu petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat juga  proses lama pelayanan akan diterima oleh pasien.
2.      Semakin terampil petugas dalam memberikan lama pelayanan kesehatan, maka akan semakin cepat juga proses pelayanan akan diterima oleh pasien.
3.      Semakin lengkap sarana di puskesmas, maka akan semakin cepat juga proses palayanan akan diterima oleh pasien.
B.     Saran
 1. Agar proses lama pelayanan kesehatan dapat berjalan lebih cepat lagi, maka sebaiknya waktu tunggu dan waktu pengurusan kartu tidak berbelit-belit agar waktu untuk satu lama pelayanan hanya 10 – 15 menit.
2. Agar pasien mau memanfaatkan lama pelayanan kesehatan, maka sebaiknya petugas memperlihatkan sikap bersahabat pada pasien sebagai wujud empati petugas pada pasien, serta agar keterampilan dapat meningkat, maka sebaiknya petugas kesehatan diberikan pelatihan khusus sesuai dengan unit kerjanya.
3. Untuk dapat meningkatkan lama pelayanan kesehatan yang sebaik-baiknya maka kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung dapat diperbaiki secara terus menerus.